Mom & Baby Room

September 2, 2005

Kesulitan Makan Pada Anak

Filed under: Baby, Asih Asuh, kesehatan, Food

Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. Optimalisasi tumbuh dan kembang Anak sejak dini adalah menjadi prioritas utama.

Sehingga, kita dapat mencegah atau mengetahui sejak dini gangguan dan kelainan pada anak. Salah satu masalah yang sering dialami adalah kesulitan pemberian makan pada anak yang secara langsung mengganggu tumbuh kembang anak.

Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Lama kelamaan hal ini dianggap biasa, sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari
penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum
tentu benar diderita anak.

Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Kesulitan makan pada anak sering membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya. Sebuah klinik perkembangan melaporkan jenis kesulitan makan terbanyak adalah anak yang hanya mau makanan lumat atau cair, kesulitan mengunyah dan menelan dan kebiasaan makan yang aneh dan ganjil.

Penelitian yang dilakukan di Jakarta menyebutkan pada anak prasekolah usia 4-6 tahun, didapatkan prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6%. Sebagian besar 79,2% telah berlangsung lebih dari 3 bulan.

II. DEFINISI

Kesulitan makan adalah merupakan suatu gejala dari berbagai penyakit atau gangguan fungsi tubuh, bukan merupakan suatu bentuk diagnosis atau penyakit tersendiri. Definisi kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau
mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik
tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.

Palmer mendifinisikan masalah makan atau penolakan terhadap makanan tertentu sebagai akibat disfungsi neuromotorik, gangguan saluran cerna atau factor psikososial yang mempengaruhi makan atau kombinasi dua atau lebih penyebab tersebut.
Peneliti lain membuat definisi bahwa masalah makan terjadi bila anak hanya mampu menghabiskan kurang dari 2/3 jumlah makanannya sehingga kebutuhan nutrien tidak terpenuhi.

Beberapa tampilan klinis kesulitan makan pada anak dapat berupa :

a. Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut
anak.
b. Makan berlama-lama dan memainkan makanan.
c. Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut.
d. Memuntahkan atau menumpahkan makanan
e. Menepis suapan dari orangtua
f. Tidak mengunyah tetapi langsung menelan makanan
g. Kesulitan menelan, sakit bila mengunyah atau menelan makanan

III. PENYEBAB
Penyebab kesulitan makanan itu sangatlah banyak dan luas. Semua gangguan fungsi
organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat
dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat berupa
kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi didapat dalam usia anak.

A.GANGGUAN PENCERNAAN

Gangguan pencernaan pada anak tampaknya sebagai penyebab paling penting dalam kesulitan makan. Baik karena gangguan saluran cerna itu sendiri atau karena gangguan fungsi tubuh atau penyakit lainnya yang dapat mengganggu saluran cerna. Gangguan saluran cerna yang dapat terjadi adalah imaturitas saluran cerna, alergi
makanan, intoleransi makanan, gastroesofagial refluks dan sebagainya.

Gastroesofageal refluks adalah masuknya kembali isi lambung ke bagian yang lebih
atas dari saluran cerna. Tampilan klinis yang terjadi adalah muntah yang sering hilang
timbul.

Gangguan pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada gangguan.
Tanda dan gejala yang menunjukkan adanya gangguan pencernaan berikut ini yang
dapat menyertai keluhan kesulitan makan pada anak.

Perut kembung, sering “cegukan”, sering buang angin.
Sering muntah atau seperti hendak muntah bila disuapin makan. Gampang timbul muntah terutama bila menangis, berteriak, tertawa, berlari atau bila marah.
Sering nyeri perut sesasaat, bersifat hilang timbul.
Sulit buang air besar (bila buang air besar “ngeden”, tidak setiap hari buang air besar,
atau sebaliknya buang air besar sering (>2 kali/perhari).
Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras, bulat (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok, pernah ada riwayat berak darah.
Gangguan tidur malam : malam rewel, kolik, tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur
bolak balik dari ujung ke ujung lain tempat tidur.
Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau

Biasanya disertai gangguan kulit : kulit kering, timbul bintik-bintik dikulit, biang
keringat, bercak warna putih (seperti panu) dan sebagainya

Tanda dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa oleh orang tua bahkan
banyak dokter atau klinisi karena sering terjadi pada anak. Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala tersebut merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang mungkin berkaitan dengan kesulitan makan pada anak.

B. INFEKSI AKUT

Infeksi akut adalah infeksi yang mengganggu tubuh kita dalam waktu singkat atau kurang dari 7 hingga 14 hari. Infeksi akut yang mengganggu proses menelan dan proses makan di antaranya adalah : Infeksi Saluran napas Akut, infeksi pada rongga mulut (sariawan, jamur dll), infeksi saluran pencernaan, atau penyakit infeksi akut lainnya. Adalah wajar bila anak mengalami infeksi akut seperti tersebut di atas maka terjadi kesulitan makan. Biasanya dengan pemberian vitamin nafsu makanpun tidak banyak membantu masalah kesulitan makan tersebut. Hal tersebut hanya terjadi dalam waktu 5 hingga 7 hari, akan membaik dengan sendirinya setelah infeksi tersebut teratasi. Malahan setelah fase konvalesen atau penyembuhan akan terjadi catch up growth atau mengejar kekurangan sebelumnya. Makanya sehabis sakit biasanya nafsu
makan akan meningkat pesat sekitar 3 sampai 7 hari, tetapi setelah itu nafsu
makan tersebut akan normal lagi.

C. INFEKSI KRONIS

Sedangkan infeksi kronis biasanya berlangsung lebih dari 2 minggu bahkan bisa berbulan-bulan. Pada anak infeksi kronis yang sering dicurigai adalah penyakit Infeksi
Saluran Kencing, Tuberculosis (TBC), infeksi parasit Cacing dan sebagainya.

1. INFEKSI SALURAN KENCING

Gejala yang paling khas adalah bila kencing meringis, geli atau menangis karena nyeri atau rasa kurang enak. Biasanya disertai nafsu makan berkurang, sulit buang air besar atau diare, muntah dan panas badan. Diagnosis pasti infeksi saluran kencing adalah dengan pemeriksaan kultur urine bukan pemeriksaan urine
biasa (sedimen urine).
Pengobatannya tergantung hasil kultur urine dan senitifitas kumannya.

2. INFEKSI PARASIT CACING

Infeksi parasit cacing dapat juga menyebabkan gangguan saluran cerna yang akhirnya dapat mengganggu nafsu makan pada anak. Biasanya terjadi pada anak di
atas usia 3 tahun. Untuk memastikan infeksi parasit cacing ini harus diperiksa melalui pemeriksaan tinja.

3. PENYAKIT TUBERKULOSIS

Penyakit TBC sering dianggap biang keladi penyebab utama kesulitan makan pada
anak. Diagnosis pasti TBC anak sulit oleh karena penemuan kuman Micobacterium
TBC (M.TBC) pada anak tidak mudah. Cara-cara lain untuk pemeriksaan laboratorium darah secara bakteriologis atau serologis masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat dipakai secara praktis - klinis.

Karena kesulitan diagnosis tersebut sering terjadi overdiagnosis atau underdiagnosis. Overdiagnosis artinya diagnosis TBC yang diberikan pada anak oleh dokter terlalu berlebihan atau terlalu cepat mendiagnosis dengan data yang minimal walaupun anak belum tentu menderita TBC. Underdiagnosis artinya penegakkan diagnosis TBC terlambat karena kemiripan gejala TBC dengan penyakit lainnya.

Apabila terjadi overdiagnosis TBC pada anak terdapat konsekuensi yang tidak ringan dihadapi oleh si anak, karena anak harus mengkonsumsi 2 atau 3 obat sekaligus minimal 6 bulan. Bahkan kadangkala diberikan lebih lama apabila dokter
menemukan tidak ada perbaikan klinis. Padahal obat TBC dalam jangka waktu lama beresiko mengganggu fungsi hati,persyarafan telinga dan organ tubuh lainnya.

Sering terjadi anak dengan keluhan alergi pernapasan dan pencernaan yang disertai berat badan yang kurang dan sulit makan diobati sebagai penyakit Tuberkulosis (TBC) paru yang harus minum obat selama 6 bulan hingga 1 tahun. Padahal belum tentu anak tersebut mengidap penyakit tuberculosis. Bahkan orang tua heran saat anaknya divonis dokter mengidap penyakit TBC padahal tidak ada seorangpun di rumah yang mengalami penyakit TBC. Overdiagnosis dan overtreatment pada anak dengan gejala alergi tersebut sering terjadi karena keluhan alergi dan TBC hampir sama, sementara mendiagnosis penyakit TBC tidaklah mudah.

Diagnosis Tuberkulosis anak menurut Pertemuan Dokter Anak pulmunologi tahun 1992 harus dengan pengamatan seksama tentang adanya
Gejala klinis
Kontak erat serumah penderita TBC (dipastikan dengan dengan pemeriksaan dahak positif).
Pemeriksaan yang harus dilakukan adalah Foto polos dada (roentgen)
tes mantouxt (positif : > 15mm bila sudah BCG, Positif > 10 mm bila belum BCG).

Sering terjadi hanya dengan melakukan pemeriksaan satu jenis pemeriksaan saja, anak sudah divonis dengan penyakit TBC. Seharusnya pemeriksaan harus dilakukan secara lengkap dan teliti seperti di atas
Karena sulitnya mendiagnosis TBC pada anak dan kosekuensi lamanya pengobatan
maka bila meragukan lebih baik dikonsultasikan atau dikonfirmasikan ke Dokter
Spesialis Paru Anak (Pulmonologi Anak).

D. ALERGI MAKANAN

Alergi makanan pada anak terutama bila mengganggu pencernaan tampaknya sering mengakibatkan gangguan kesulitan makan pada anak. Meskipun alergi belum banyak diungkapkan oleh para klinisi sebagai penyebab kesulitan makan pada anak, tetapi penulis menganggap alergi adalah sebagai penyebab yang paling
sering dan penting terhadap kesulitan makan pada anak sehingga akan dibahas dalam bab khusus.

Gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi makanan sangatlah bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.

E. GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU

Beberapa gangguan perkembangan dan perilaku tertentu pada anak sering berkaitan dengan gangguan makan atau kesulitan makan. Gangguan tersebut meliputi Autism, ADHD, dan gangguan lainnya. Gangguan perilaku tersebut sering berhubungan dengan gangguan pencernaan. Menurut teori “Gut Brain Axis” gangguan pencernaan akan mengeluarkan zat semacam morfin yang dapat mengganggu otak yang dapat mengakibatkan meningkatnya ganggua Atism, ADHD
dan sebagainya.

Sedangkan gangguan pencernaan itu sendiri dapat menyebabkan kesulitan makan pada anak.

F.KELAINAN BAWAAN

Kelainan bawaan adalah gangguan fungsi organ tubuh atau kelainan anatomis organ tubuh yang terjadi sejak pembentukan organ dalam kehamilan.

Diantaranya adalah kelainan mulut, tenggorok, dan esofagus: sumbing, lidah besar,
tenggorok terbelah, fistula trakeoesofagus, atresia esofagus, Laringomalasia, trakeomalasia, kista laring, tumor, tidak ada lubang hidung, serebral palsi, kelainan paru, jantung, ginjal dan organ lainnya sejak lahir atau sejak dalam kandungan.

G. KELAINAN HORMONAL DAN METABOLIK

Meskipun jarang kelainan metabolik dan hormonal pada anak dapat menyebabkan
gangguan atau kesulitan makan pada anak. Kelainan tersebut meliputi hipotiroid, intoleransi fruktosa heriditer, asidemia organic, gangguan atau kelainan ginjal, gangguan hormonal, gangguan enzim tertentu din pencernaan dan sebagainya.

H. KELAINAN NEUROLOGI ATAU SISTEM SUSUNAN SARAF PUSAT

Bila fungsi otak tersebut terganggu maka kemampuan motorik untuk makan akan terpengaruh. Gangguan fungsi otak tersebut dapat berupa infeksi, kelainan bawaan
atau gangguan lainnya seperti serebral palsi, miastenia gravis, poliomielitis. Bila kelainan susunan saraf pusat ini terjadi karena kelainan bawaan sejak lahir biasanya disertai dengan gangguan motorik atau gangguan perilaku dan perkembangan lainnya.

I. GANGGUAN FUNGSI ORGAN DIDAPAT

Gangguan fungsi fungsi pencernaan dapat terjadi karena gejala sisa akibat sebelumnya terjadi proses atau penyakit seperti infeksi (ensefalitis/infeksi otak), akibat operasi bedah (pemotongan usus) atau trauma atau kecelakaan di organ perut yang berat.

J. GANGGUAN PSIKOLOGIS

Ganguan psikologis sering dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Hal ini akan dibahas pada bab khusus berikut ini.
Diantara beberapa penyebab kelainan tersebut tampaknya yang paling sering terjadi adalah alergi, infeksi akut dan kronis, gangguan pencernaan dan psikologis,
sedangkan penyebab lainnya sangat jarang terjadi.

IV. GANGGUAN SALURAN CERNA PENYEBAB GANGGUAN PERKEMBANGAN
DAN PERILAKU ANAK

Penyebab tersering kesulitan makan pada Anak tampaknya adalah gangguan saluran cerna. Belakangan terungkap teori “Gut Brain Axis” bahwa gangguan saluran cerna menimbulkan gangguan fungsi otak.
Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, ADHD hingga autism

Sehingga sering anak dengan kesulitan makan yang disebabkan karena gangguan saluran cerna tampak timbul gejala gangguian perkembangan dan perilaku seperti di bawah ini :

GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak
berlebihan, usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala ke belakang-membentur benturkan kepala.
Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (”smackdown”},
sering memanjat.

GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah/bolak-balik ujung ke ujung,
Bila tidur posisi “nungging”, berbicara/tertawa/berteriak dlm tidur, sulit tidur,
malam sering terbangun/duduk,mimpi buruk, “beradu gigi”

AGRESIF sering memukul kepala sendiri,orang atau benda di sekitarnya. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)

GANGGUAN KONSENTRASI/ GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN: cepat bosan thd sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi, sulit belajar lama, sering
tidak teliti, sulit mendengarkankan pelajaran sekolah,

GANGGUAN EMOSI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras
kepala

GANGGUAN KOORDINASI :
BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK tidak sesuai usia. Berjalan sering terjatuh
dan terburu-buru, sering menabrak, jalan jinjit, duduk leter W/kaki ke belakang.

KETERLAMBATAN BICARA
Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, hanya 4-5 kata umur 20 bulan, kemampuan bicara hilang dari yang sebelumnya bisa, biasanya > 2 tahun membaik.

IMPULSIF : banyak bicara/tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan
orang lain

HIPERAKTIF (ADHD/ADD)
Memperberat gejala AUTISME (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan
sosialisasi)

V. KOMPLIKASI

Kesulitan makan pada anak yang terjadi dalam jangka waktu lama dan sering berulang dapat menimbulkan pengaruh tidak baik pada berbagai organ dan fungsi
tubuh. Gangguan tersebut dapat mengakibatkan komplikasi beberapa penyakit dan kondisi tertentu, diantaranya Kurang Kalori Protein (KKP), marasmik, kwasiorkor,
gangguan mental dan kecerdasan dan sebagainya.

A. KURANG KALORI PROTEIN (PROTEIN ENERGY MALNUTRITION).

Kesulitan makan pada anak yang berkepanjangan bisa mengakibatkan kekurangan
protein, karbohidrat dan beberapa vitamin dan mineral. Kekurangan beberapa zat gizi tersebut akan membuat anak jatuh dalam keadaan Kurang kalori Protein (KKP). KKP merupakan penyakit gangguan gizi yang cukup penting di Indonesia. Di Indonesia angka kejadiannya cukup tinggi pada anak di bawah 5 tahun. Untuk menentukan klasifikasi berat ringannya KKP dapat menggunakan beberapa cara, yang paling sewring digunakan dan cukup mudah adalah dengan melihat berat badan dan umur anak disesuaiakan dengan grafik KMS (Kartu Menuju Sehat).

Gejala klinis KKP sangat bervariasi tergantung derajat dan lamanya kekurangan energi dan protein, umur pemderita dan adanya gejala kekurangan vitamin dan mineral lainnya. Beberapa bentuk penyakit Kekurangan Kalori Protein pada anak adalah KKP ringan, Marasmik dan kuasiorkor.

KWASHIORKOR

Kwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa sering disebut usung lapar. Gejala yang timbul diantaranya adalah tangan dan kaki bengkak, perut
buncit, rambut rontok dan patah, gangguan kulit. Terdapat juga gangguan perubahan mental yang sangat mencolok. Pada umumnya penderita sering rewel
dan banyak menangis. Pada stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.

MARASMIK

Marasmik adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul
diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Pada stadium lanjut yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.

B. KEKURANGAN VITAMIN DAN MINERAL

Kesulitan makan yang berlangsung lama mengakibatkan kekurangan vitamin dan mineral tertentu. Kekurangan zat vitamin dan mineral tertentu mengakibatkan gangguan dan kelainan tertentu pula pada tubuh anak.
Karena begitu banyaknya jenis vitamin dan mineral dan begitu luasnya fungsi dan organ tubuh yang terganggu maka jenis gangguannya sangat banyak dan luas.
Adapun beberapa contoh penyakit kekurangan vitamin dan mineral tersebut adalah:

C. ANEMIA GIZI

Anemia gizi adalah kurangnya kadar Hemoglobin pada anak yang disebabkan karena kurangnya asupan zat Besi (Fe) atau asam Folat. Gejala yang bisa terjadi adalah anak tampak pucat, sering sakit kepala, mudah lelah dan sebagainya.
Keadaan dapat terjadi pada anak dengan kesulitan makan karena kurangnya asupan gizi dan makanan tidak memenuhi gizi seimbang.
Sumber makanan kaya besi yang mudah terserap umumnya banyak terdapat pada
protein hewani seperti hati, daging dan ikan.

V. PENANGANAN

Pendekatan dan penanganan terbaik pada kasus kesulitan makan pada anak bukanlah dengan pemberian vitamin nafsu makan, tetapi harus dilakukan pendekatan yang cermat, teliti dan terpadu.

Pemberian vitamin nafsu makan hanya akan mengaburkan penyebab Kesulitan makan tersebut. Sering terjadi orang tua dalam menghadapi masalah kesulitan makan pada anaknya telah berganti-ganti dokter dan telah mencoba berbagai
vitamin tetapi tidak kunjung membaik.

A. PASTIKAN APAKAH BETUL ANAK MENGALAMI KESULITAN MAKAN

Langkah awal yang harus dilakukan orang tua adalah mendeteksi apakah betul anak telah mengalami kesulitan makan pada anak. Untuk itu orang tua harus memahami apakah kesulitan makan pada anak itu. Hal ini sudah diungkapkan pada bab sebelumnya. Bila memang terjadi kesulitan makan pada anak sebaiknya orang
tua harus segera berkonsultasi dengan dokter.

B. IDENTIFIKASI PENYEBAB

Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh
anak. Jangan terlalu mudah menganggap penyebabnya karena masalah psikologissebelum kita menyingkirkan penyebab fisik atau organik lainnya. Penyebab fisik atau organic kesulitan makan tampaknya yang sering adalah karena gangguan saluran cerna (alergi makanan , celiac disease, intoleransi makanan, dll),. Sedangkan penyebab yang lain relatif sangat jarang terjadi.
Kesulitan makan kalau tidak cepat di atasi akan menimbulkan komplikasi yang lebih berat baik karena penyebab penyakit tersebut atau karena akibat gangguan
makan itu sendiri. Kesulitan makan yang terjadi sejak lahir atau bayi usia muda maka penyebabnya kemungkinan adalah kelainan bawaan, cacat bawaan atau alergi. Bila Penyebabnya karena alergi makanan maka harus diidentifikasi penyebabnya sedini mungkin. Harus dievaluasi semua jenis makanannya termasuk
susu formula yang diminum.

Bila terdapat kesulitan makan yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu sebaiknya
harus segera berkonsultasi dengan dokter keluarga atau dokter anak yang biasa merawat. Dengan penanganan awal namun kesulitan makan tidak membaik hingga lebih 1 bulan disertai dengan gangguan kenaikkan berat badan dan belum bisa dipastikan penyebabnnya maka sebaiknya dilakukan penanganan beberapa disiplin ilmu. Koordinator penanganannya adalah dokter anak atau dokter tumbuh kembang anak. Dokter anak yang merawat harus mengkonsultasikan ke dokter spesialis anak dengan minat subspesialis tertentu untuk menyingkirkan kelainan organic atau medis sebagai penyebab kesulitan makan tersebut. Bila dicurigai adanya latar belakang psikologis maka kelainan makan tersebut harus dikonsultasikan ada
psikiater atau psikolog anak.

C. TANGANI PENYEBAB UTAMANYA

Penanganan kesulitan makan yang paling baik adalah dengan mengobati atau menangani penyebab tersebut secara langsung. Mengingat penyebabnya demikian luas dan kompleks bila perlu hal tersebut harus ditangani oleh beberapa disiplin ilmu tertentu yang berkaitan dengan kelainannya.

Bila dalam waktu satu bulan kesulitan makan tidak kunjung membaik disertai penurunan atau tidak meningkatnya berat badan dan belum ditemukan penyebabnya kita harus waspada. Sebelum menjadi lebih berat dan timbal komplikasi yang lebih berat maka bila perlu dalam penanganan kesulitan makan tersebut harus melibatkan berbagai disilpin ilmu kedokteran. Dokter spesialis dengan peminatan tertentu yang sering berkaitan dengan hal ini adalah : Dokter Spesialis Anak minat gizi anak, tumbuh kembang anak, alergi anak, neurologi anak
atau psikiater anak, psikolog anak, Rehabilitasi Medis, dan beberapa subspesialis lainnya. Bila masalah gangguan pencernaan cukup menonjol maka sebaiknya berrkonsultasi dengan dokter spesialis anak gastroenterology, bila masalah alergi
yang dominan maka konsultasi ke dokter alergi anak demikian seterusnya.

Amat penting untuk melibatkan semua orang yang berkaitan dengan pemberian makan pada anak seperti orang tua, pengasuh, atau anggota keluarga lainnya, sehingga mereka harus menerima informasi yang jelas dan rinci tentang penanganan masalah tersebut.

Penyebab kesulitan makanan demikian kompleks dan luas, kadang penyebabnya lebih dari satu bahkan satu sama lain saling mempengaruhi dan memberatkan.
Sehingga sering terjadi kebingungan pada orang tua, karena beberapa diagnosis dan penanganannya sangat berbeda atau bertentangan antara dokter satu dengan lainnya. Perbedaan ini terjadi karena kurangnya komunikasi antara dokter yang merawat atau mungkin juga sering terjadi penanganan penyakit anak yang ditangani secara sepotong-sepotong. Paling ideal dalam menangani kasus seperti ini adalah dengan cara holistik, dimana semua yang dicurigai sebagai penyebab dicari dan ditangani secara tuntas secara bersamaan. Dokter yang harus merawat melakukan komunikasi satu sama lainnya, baik melalui rekam medis (catatan penderita) atau hubungan langsung.

Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik, dan lain-lain. Dalam beberapa kasus, kesulitan makan pada anak bisa disembuhkan hanya dengan mengganti peralatan makan seperti dot, botol, sendok, dan sebagainya, yang sesuai dengan kondisi fisiologis anak. Kesulitan makan yang bukan akibat
gangguan fisik, bisa dicegah orangtua sedini mungkin.

Pemberian vitamin tertentu sering dilakukan oleh orang tua atau dokter pada kasus kesulitan makan pada anak. Menurut penulis tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari penyebabnya. Kadangkala pemberian vitamin justru menutupi penyebab gangguan tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus
berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung dengan pemberian vitamin tersebut, padahal bila kita tidak waspada terdapat beberapa akibat dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang
lama.

D. IDENTIFIKASI KOMPLIKASI YANG TERJADI

Setelah memastikan adanya kesulitan makan pada anak dan mencari penyebabnya,
selanjutnya langkah yang terpenting adalah mendeteksi adakah komplikasi yang ditimbulkan oleh kesulitan makan pada anak tersebut.

Kesulitan makan yang berkepanjangan akan mengakibatkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anak yang diakibatkan adanya kekurangan asupan gizi berupa kekurangan kalori, protein, vitamin dan beberapa mineral. Tahap awal dalam identifikasi tersebut yang paling sensitif adalah memantau berat badan, tinggi badan atau ukuran parameter pemantauan status gizi lainnya seperti lingkar lengan atas, lingkar kepala dan sebagainya.

Bila terdapat gangguan pada kenaikan berat badan maka kasus kesulitan makan tersebut dicegah agar tidak lebih berkepanjangan dan harus segera ke dokter. Selanjutnya orang tua harus mendapat informasi dari dokter apakah sudah terdapat komplikasi pada anak. Untuk memantau komplikasi yang terjadi kita harus
mengetahui tanda dan gejala yang mungkin terjadi pada anak (lihat bab komplikasi).

Berbagai cara dan upaya telah dilakukan oleh orang tua, dokter ataupun klinisi lainnya dalam mengatasi kesulitan makan pada anak. Tindakan paling sering dilakukan adalah pemberian vitamin, obat perangsang nafsu makan bahkan sering
dilakukan pemberian obat tradisional.

VI.PEMBERIAN VITAMIN, OBAT DAN RAMUAN TRADISIONAL

Penanganan kesulitan makanan yang sering terjadi adalah dengan pemberian vitamin, obat atau ramuan tradisional. Pemberian tersebut kadang berhasil tetapi sering juga tidak berpengaruh terhadap perbaikkan kesulitan makan tersebut.

1. Pemberian Vitamin

Para orang tua bahkan beberapa dokter masih mempunyai kebiasaan bahwa untuk mengatasi kesulitan makan pada anak adalah memberikan vitamin penambah nafsu
makan tanpa memperhatikan penyebab kesulitan makan itu sendiri. Cara tersebut
sebenarnya tidak menyelesaikan masalah, karena bila penyebabnya tidak ditangani
dengan benar maka bila vitamin tersebut habis maka anak kembali akan tetap mengalami sulit makan. Bahkan banyak kasus didapatkan dengan berganti-ganti
beberapa vitamin kemampuan makan anak tidak kunjung membaik.
Pemberian vitamin memang berguna dan dibutuhkan bila memang asupan beberapa
vitamin dan mineral tidak mencukupi terutama pada anak dengan berat badan yang
kurang. Hal ini mungkin cukup bermanfaat sehingga mencegah anak mengalami kekurangan vitamin dan mineral tertentu yang dapat menyebabkan gejala tertentu.

Pemberian vitamin pada anak yang sehat dengan berat badan yang bagus dan asupan makanan yang baik tidak terlalu penting, karena kebutuhan terhadp vitamin
dan mineralnya sudah tercukupi dari susu dan makanannya.

Harus dipahami bahaya kelebihan vitamin atau mineral yang sering disebut megavitamin dan megamineral. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi organ tubuh kita terutama pencernaan, hati dan ginjal. Bahkan dilaporkan beberapa kasus
meninggal dunia karena Megavitamin dan megamineral, terutama pada anak. Hal ini terjadi karena kelebihan vitamin dan mineral tertentu, seperti vitamin A, vitamin E atau Magnesium dan sebagainya

Pemberian vitamin tertentu seperti vitamin C dosis tinggi dan vitamin B pada orang tertentu seperti penderita gastritis (sakit lambung/mag), atau penderita alergi dapat menimbulkan efek samping baru atau memperberat penyakit yang ada
sebelumnya. Pernah dilaporkan kasus pada orang tertentu dapat terjadi alergi vitamin B. Sebaiknya memberikan vitamin sesuai dosis yang tertera, tidak menggabungkan sekaligus beberapa vitamin. Lebih baik bila berkonsultasi dengan dokter dalam konsumsi vitamin tersebut, terutama pada anak atau bayi. Lebih ideal bila asupan vitamin tersebut berasal langsung dari bahan makanan sayur atau buah.

2. PENGGUNAAN OBAT PERANGSANG NAFSU MAKAN

Pemberian obat-obatan perangsang nafsu makan pada anak tidak jarang diberikan oleh dokter atau klinisi lain yang diberikan pada anak dengan kesulitan makan.
Terdapat beberapa macam obat penambah nafsu makan yang justru dapat menimbulkan masalah baru, karena malahan dapat mengganggu tubuh dan kesehatan anak. Beberapa obat penambah nafsu makan dapat mengganggu ginjal, hati, pertumbuhan tulang atau dapat menurunkan daya tahan tubuh. Peneliti lainnya menemukan pemberian obat-obatan nafsu makanan pada anak ternyata juga bisa mengubah perilaku anak menjadi hiperaktif, agresif, sangat sensitif dan gampang emosi. Penggunaan obat-obat tersebut dalam jangka waktu lama sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter.

3. PENGGUNAAN RAMUAN TRADISIONAL

Pengobatan tradisional dengan menggunakan zat herbal atau tumbuh-tumbuhan telah diyakini oleh beberapa pakar obat tradisional. Disamping aman bagi tubuh obat tradisional juga relatif lebih murah. Meskipun relatif aman pemberian ramuan tradisional harus hati-hati terutama anak di bawah 1 tahun. Sebaiknya pemberian tersebut harus dikonsultasikan kepada dokter anak yang merawat. Sampai sejauh ini penelitian ilmiah tentang khasiat obat tradisional untuk pengobatan kesulitan makan pada anak masih belum banyak dilakukan. Tetapi terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan kandungan dan khasiat dari zat aktif obat tradisional
tersebut yang dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna dan fungsim organ tubuh lainnya.

VII. PEDOMAN UMUM PENANGANAN KESULITAN MAKANAN

Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak dengan kesulitan makan pada anak. Karena anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Di bawah ini terdapat pedoman umum tentang cara penaganan kesulitan makan tersebut.

1. CARA PEMBERIAN MAKAN PADA ANAK DENGAN KESULITAN MAKAN
Cara pemberian makan yang baik dan benar sangat berpengaruh terhadap selera makan pada anak. Berikut ini terdapat beberapa cara dan petunjuk untuk mengatasi kesulitan makan pada anak.

Beri jumlah makanan secara bertahap sedikit demi sedikit tapi sering, jangan terlalu bernafsu untuk memberi sekaligus banyak pada anak dengan masalah pencernaan.

Bila menyuruh makan pada anak harus dengan suara lemah lembut dan dengan pendekatan yang baik tanpa memaksa. Jangan dengan perasaan emosi, marah atau dengan nada tinggi dan bersifat menekan.

Bila sudah tiba saat jam makan tapi anak sedang asyik bermain, jangan langsung dihentikan mendadak permainan si anak. Cobalah anak untuk diingatkan sebelumnya, misalnya berkata dengan lembut : sepuluh menit lagi permainannya harus berhenti ya. karena adik harus makan siang !..

Buatlah suasana makan itu menyenangkan dengan pembicaraan yang menarik bagi
anak. Kurangi pembicaraan mengenai makan itu sendiri. Suasana yang “mencintai
dan mendukung” amat diperlukan. Terimalah bila anak tidak menghendaki suatu jenis makanan tertentu, tetapi jelaskan nutrisi yang terkandung dalam makanan tersebut tanpa terkesan ‘memaksa’.

Sajikan makanan-makanan sederhana, makanan yang mudah dikenali. Anak usia kanak-kanak awal ini biasanya ingin mengetahui apa yang dimakannya dan menolak makanan yang dicampur, sehingga mereka tidak mengenal bentuknya,
misalnya gado-gado.

Jika mungkin sajikan makanan yang dapat dipegang, misalnya kentang goreng, tempe, sate dan sebagainya.

Setiap kali hanya mengenalkan satu jenis makanan baru.

Sajikan dalam porsi kecil, terutama makanan yang baru dikenal atau yang tidak
disenanginya.

Perhatikan penampilan dari bentuk tekstur, warna dan rasa dari makanan. Kreatiflah dalam menyajikan makanan, misalnya membuat dadar telur yang
berwajah, dsb.

Ikut sertakan anak untuk menentukan menu makanan yang hendak dimakan. Jika anak merasa menjadi bagian dari aktivitas, maka biasanya mereka menjadi lebih tertarik. Gunakan lembar berisi informasi tentang makanan beserta gambar, misalnya daging, telur, ayam, ikan sayur-sayuran. Bantu anak merencanakan
makanannya dengan gambar piring yang akan diisi dengan makanan apa yang hendak dimakan hari ini

Berilah contoh makan yang baik bagi anak. Orangtua yang tidak bersemangat untuk makan atau rewel makan akan menjadi contoh yang buruk bagi anak, sebab anak biasa meniru tokoh yang berarti baginya.

Dengan mengetahui bahwa nafsu makan anak digerakkan oleh jumlah makanan yang dibutuhkan tubuh, orangtua seharusnya menjaga nafsu makan anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan kebutuhan tubuhnya. Beberapa ahli psikologi perkembangan anak tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.

Menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak.
Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam
Atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.

Mempercantik tampilan makanan misalnya menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.

Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan
anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing
yang disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa “anjingnya sekarang sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru”.

Biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.

Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak
akan mengerti ada waktu untuk makan.

Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginannya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.

Jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat, tidak apa-apa, singkirkan saja makanan dari meja makan, dan anak tidak perlu diberikan kudapan apapun di antara waktu makan utamanya. Dengan demikian, ketika tiba
Waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti
akan makan apapun yang dihidangkan.

Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.

Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan kandungan gizi satu persatu, mulai dari yang mengandung banyak zat besi dan protein (misalnya daging), sampai terakhir jenis yang kurang penting (misalnya puding sebagai penutup mulut).

Jika anak merasa sudah kenyang sebelum sampai pada makanan tahap berikutnya, orangtua tidak perlu lagi memaksa anak untuk makan.

Kadangkala ajak anak anda untuk terlibat dalam perencanaan menu makanan sehari-hari, disertai pemahaman bahwa menu makanan bergizi sangat penting untuk kesehatan anak.

Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat.

Kebiasaan makan orangtua akan menjadi contoh bagi anak, karena itu biasakanlah menyantap makanan beragam. Pastikan hanya makanan sehat dan bergizi yang
tersedia di rumah.

2. KESALAHAN CARA PEMBERIAN MAKAN

Meskipun tampaknya kesalahan pemberian makanan bukan sebagai penyebab utama kesulitan pemberian makanan.

Tetapi perilaku pemberian makanan yang salah sering terjadi malah memperberat
kesulitan makan pada anak, yang sudah ada karena dapat mengurangi selera makannya.

Penurunan jumlah minum pada usia di bawah 2 tahun sering terjadi karena anak mulai dikenalkan pemberian minum air putih di dalam botol. Bila itu terjadi akan mengakibatkan semakin sedikit atau tidak mau minum susu. Karena bagi anak air putih rasanya lebih enak dan segar. Memang air putih tidak berbahaya bagi anak tetapi air putih tidak mempunyai nilai gizi dibandingkan susu. Tidak usah takut kekurangan air putih karena di dalam susu sudah terkandung air putih. Seorang peneliti pernah melaporkan bahwa anak yang sudah mulai dikenalkan air putih sebelum usia 2 tahun sering terjadi anak mengkonsumsi susu lebih sedikit dibandingkan anak yang tidak minum air putih.

Pemberian air putih untuk memperbaiki kesulitan buang air besar anak adalah tindakan yang tidak sepenuhnya benar. Memang dengan pemberian air putih mungkin akan sedikit membantu memperlancar kesulitan buang air besar. Tapi pemberian air putih yang berlebihan akan mengurangi masukan zat gizi lainnya.
Memperbaiki masalah buang air besar adalah mencari penyebabnya, seringkali penyebabnya adalah reaksi dari jenis makanan tertentu misalnya coklat, susu, pisang atau buah tertentu lainnya. Mungkin juga penyebab lainnya adanya infeksi kronik seperti infeksi saluran kencing dll.

Hindari pemberian permen yang manis, kacang-kacangan dan makanan ringan lain
saat menjelang jam makan yang dapat mengurangi selera makan.

Jangan memaksa anak untuk makan dengan cara yang sempurna seperti orang dewasa, misalnya makan tanpa berserakan

Jangan memaksa anak untuk makan lebih banyak dari yang mereka inginkan.

Orangtua yang sering memaksa anak makan tanpa memperhatikan kebutuhan anak
akan makanan, membuat anak tidak pernah dapat membedakan antara rasa lapar dan keharusannya untuk makan, serta menganggap makanan sebagai hukuman bagi anak.

Orangtua atau pengasuh yang sering memaksa anak makan, menyebabkan anak tidak menghargai makanan dan dapat mempermainkan makanan tersebut, sehingga
anak tidak pernah belajar makan dengan benar.

Demikian pula bila makan diberikan bukan dalam situasi makan tetapi bersama aktivitas lain, misalnya sambil bermain berjalan-jalan atau menonton TV

Mengancam, misalnya: kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik
loh”

Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan

Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar

Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya. Dalam hal ini Orangtua biasanya akan langsung mengganti menu jika anak mengatakan bahwa ia
tidak menyukai menu yang dihidangkan.

F. PENDEKATAN PSIKOLOGIS

Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku
anak secara tepat.

Sulit makan yang terus menerus dapat merupakan suatu proses atau reaksi emosional anak terhadap orangtuanya. Seringnya anak menerima ancaman atau hukuman karena menolak makan atau pengalaman yang tidak menyenangkan saat anak mulai mengenal makanan padat dapat pula berkelanjut menjadi anak dengan
keluhan sulit makan.

Hubungan yang tidak sesuai dan tidak harmonis antara anak dan orang di sekitarnya atau antara anak dengan kondisi lingkungan akan menimbulkan reaksi penolakan secara psikologis berupa gangguan makan pada anak tersebut.

TIPS BAGI ORANG TUA DALAM MENCEGAH KESULITAN MAKAN SECARA PSIKOLOGIS

Bina hubungan antara keluarga (ayah, ibu, saudara dan lainnya) dengan baik dan penuh kasih sayang. Jauhi penggunaan emosi yang berlebihan berupa teriakan, umpatan, membanting sesuatu, memukul atau tindakan kekerasan lainnya.

Hindari stres yang berlebihan pada orang tua, bila sedang mengalami stres sedapat mungkin jangan diungkapkan di depan anak.

Binalah komunikasi terhadap anak dengan sentuhan rasa kasih sayang dengan menggunakan suara yang lemah lembut, jauhi perasaan emosi, marah dan kecemasan.

Buat jadwal secara rutin kebiasaan makan bersama, ciptakan suasana makan yang baik, penuh kasih sayang dan kekekluargaan. Jangan menciptakan suasana penuh kebencian dan kemarahan saat makan bersama.

TIPS UNTUK MENCIPTAKAN VARIASI MAKANAN

Nafsu makan anak-anak berkurang dapat disebabkan oleh kurangnya variasi makanan yang diolah. Hal ini bisa ditanggulangi dengan:

Mencoba dengan bahan yang sama tetapi dengan resep yang berbeda, misalnya :

Jagung selain dibuat sop, bisa juga dimasak untuk dadar jagung, atau makanan selingan seperti kue jagung, jenang jagung dan lain sebagainya.

Menambah makanan selingan dengan bahan yang bergizi diantara makanan utama misalnya Ketela pohon direbus kemudian dihaluskan,kemudian dikepal, di dalamnya diberi gula merah, dicelupkan dalam adukan 1 butir telor lalu digoreng, atau wortel (tambahkan daging bila ada) dicincang, tumis dengan bawang putih dan daun bawang, masukkan bihun yang sudah ditiriskan tambahkan kecap sedikit, gula
dan garam secukupnya.

Berbagai cara dan upaya telah dilakukan oleh orang tua, dokter ataupun klinisi lainnya dalam mengatasi kesulitan makan pada anak. Tindakan paling sering dilakukan adalah pemberian vitamin, obat perangsang nafsu makan bahkan sering dilakukan pemberian obat tradisional.

VIII. KESIMPULAN

Makan dan kebiasaan makan merupakan aspek yang penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan, terutama masa kanak-kanak awal.

Kegiatan anak ini sering menjadi masalah baik bagi anak ataupun orang tua, khususnya bila terjadi kesulitan makan pada anak.

Penyebab kesulitan makan pada anak sangat banyak dan luas, yang tersering adalah adanya gangguan pencernaan, alergi, penyakit infeksi, dan gangguan psikologis. Penyebab lainnya seperti kelainan bawaan, gangguan neurologist, gangguan metabolic dan sebagainya sangat jarang terjadi. Jangan mudah memastikan bahwa penyebab kesulitan makan pada anak karena gangguan psikologis, sebelum dipastikan tidak adanya gangguan organ tubuh terutama pencernaan anak.

Pemberian vitamin tanpa mencari penyebab gangguan kesulitan makan pada anak bukan merupakan jalan keluar yang baik. Penanganan kesulitan makan pada anak adalah dengan mencari dan mengatasi penyebabnya secara langsung.

VIII. DAFTAR PUSTAKA
1. Agus Firmansyah.Aspek. Gastroenterology problem makan pada bayi dan anak. PediatricNutrition Update, 2003.
2. Aronson, David. “No Laughing Matter: Young people who are overweight can face a lifetime of discrimination”. Teaching Tolerance Magazine, Fall1997.
3. Berg, Frances., ed. Afraid to Eat: Children and Teens in Weight Crisis. Hettinger, ND: Healthy Weight Institute, 402 S. 14th St., Hettinger, ND 58639, 1996.
4. Carlson, Nancy. I Like Me! New York: Viking/Penguin, 1988.
[Children’s]Upbeat story of a young pig who likes all aspects of herself, including her round belly.
5. Gil, Eliana, PhD. “The Inner World of the Fat Child: Challenge for a Child
Abuse Counselor” Radiance, the Magazine for Large Women, Fall 1987.
6. Hall, Lindsey, and Cohn, Leigh Bulimia: A Guide to Recovery Carlsbad, CA:
Grze Books, 1986.A two-week recovery program and a guide for support
groups.
7. Hirschmann, Jane R., CSW, and Zaphiropoulos, Lela, CSW. Preventing
Childhood Eating Problems: A Practical, Positive Approach to Raising Children Free of Food & Weight Conflicts Carlsbad, CA: G|rze Books, 1993
8. Kubersky, Rachel. Everything You Need to Know about Eating Disorders New York: Rosen Publishing Group, 1992.
9. Levine, Michael, PhD, and Hill, Laura, PhD. A 5-Day Lesson Plan on Eating Disorders: Grades 7-12 Tulsa, OK: NEDO, 1996. Maine, Margo, PhD. Father Hunger: Fathers, Daughters, & Food Carlsbad, CA: G|rze Books, 1991.
10. Judarwanto Widodo, Kesulitan makan pada penderita alergi dengan gastroenteropati Atopi. (tidak dipublikasikan).
11. Satter, Ellyn, RD, ACSW. How to Get Your Kid to Eat…But Not Too Much:
from Birth to Adolescence Palo Alto: Bull Publishing, 1987.
12. Soepardi Soedibyo, Sri Nasar. Feeding problem from nutrition perspective.Pediatric nutrition update,2003.

13. Solihin Pujiadi. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Balai penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta, 1993
14. Agras S., Hammer L., McNicholas F. (1999). A prospective study of the influence of eating-disordered mothers on their children. International Journal
of Eating Disorders, 25(3), 253-62.
15. Bryant-Waugh R., Lask B. Eating Disorders in Children. Journal of Child
Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines 36 (3), 191-202, 1995.
16. Kreipe RE. Eating disorders among children and adolescents. Pediatrics in
Review, 16(10), 370-9, 1995.
17. Marchi M., Cohen P. (1990). Early childhood eating behaviors and adolescent
eating disorders. Journal of the American Academy of Child and Adolescent
Psychiatry,29(1), 112-7.
18. Perry LM. Medicinal Plants of East and Southeast Asia. Attributed properties and uses. Copyright by The Masschussets Institute of Technology, 1980
19. Sjamsulhidajat SS, Hutapea JR. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Depkes RI.
Badan penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 1991.

August 12, 2005

Bayi Demam

Filed under: Baby, Asih Asuh, kesehatan

(Original article written by Dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed. Edited by Lulu to be used in Seminat PESAT 2)

Demam, batuk-pilek, radang tenggorokan, diare, merupakan kondisi langganan anak-anak. Pelajarilah, agar dapat bertindak dengan tenang dan rasional, agar tidak tergopoh-gopoh mengambil obat dan mengobati gejala-gejala tersebut. Semoga melalui sharing dan materi ini kita, para orang tua, akan jauh lebih bijak dalam menyikapi masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak.

SLIDE 1. Common Problems in Pediatrics : Title
Peran seorang pasien (tepatnya konsumen medis) sangat berpengaruh dan menentukan dalam kinerja tenaga medis. Konsumen medis yang aktif berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya, akan sangat membantu kinerja dokter dan tenaga medis lainnya. Terutama kinerja dokter untuk tetap berpegang pada prinsip pola pengobatan yang rasional (Rational Use of Drugs/RUD). Pola pengobatan yang rasional adalah AMAN dan COST EFFECTIVE.
Perlu kita ketahui banyak faktor yang berperan dalam pemberian obat. Paling tidak ada 3 faktor yang dominan berperan kuat, yaitu dokter (penulis resep), konsumen (pasien) dan industri obat. Intinya, konsumen (pasien) yang tidak rasional akan mendorong iklim layanan kesehatan yang tidak rasional pula.Demikian pula sebaliknya.

SLIDE 2. IRRATIONAL USE OF DRUGS (IRUD)
Pola pengobatan yang irrational menjadi concern seluruh dunia. Minimal ada dua masalah utama perihal IRUD yaitu polifarmasi dan pemberian antibiotik yg berlebihan/tidak pada tempatnya. Masalah polifarmasi tanpa disadari sering terjadi, terutama saat anak sakit. Evaluasi kembali buku kesehatan/kartu berobat putra/I bapak/ibu. Perhatikan berapa kali dalam 1 th kita membawa anak berobat karena sakit. Coba jawab pertanyaan berikut :
• Berapa kali dalam kunjungan ke dokter, ibu tidak memperoleh obat ? Tidak juga antibiotik ?
• Apakah setiap kali berobat anak mendapatkan obat puyer ?
• Berapa jumlah obat dalam tiap puyer ?

Umumnya para dokter mengajukan minimal 3 alasan mengapa mereka cenderung abusive, yaitu :
1. LACK OF CONFIDENCE.
Kebanyakan dokter sering tidak yakin atau merasa kurang PEDE untuk menyatakan bahwa pasien tsb sakit akibat infeksi virus, yang tidak membutuhkan antibiotik. Para dokter juga merasa insecure takut pasien pindah ke dokter lain.
2. PATIENT PRESSURE.
Tidak sedikit pasien, tanpa disadari, memilih bersikap pasif dan menganggap dokter tahu yg terbaik. Sehingga obat yang diberikan dokter pasti yang terbaik. Padahal dokter dapat bisa saja salah memberikan obat. Pasien yang irasional, sering menuntut dokter untuk memberikan antibiotik, karena menganggap antibiotik merupakan obat dewa yang bisa menyembuhkan segala kondisi. Pasien irrasional sering menuntut dokter sebagai tukang sihir, yang dapat memberikan obat yang cespleng. DOCTOR is a kind of MAGICIAN sehingga setiap kita ke dokter kita selalu berharap segera sembuh. Hal ini juga menimbulkan beban tersendiri bagi para dokter.
3. COMPANY PRESSURE.
Dalam Doctor-patient partnership, dokter sangat bergantung/membutuhkan pasien sebagaimana pasien bergantung/membutuhkan dokter. Tindakan pasien akan sangat mempengaruhi tindakan sang dokter. Pasien yang irrasional akan mendorong dokter menjadi irrasional. Intinya adalah tanggung jawab atau
kewajiban menyehatkan anak bukan hanya di bahu seorang dokter, tetapi juga orangtua sbg konsumen medis.
SLIDE 3. IMMUNE SYSTEM
Sejak lahir Tuhan telah melengkapi kita dengan sistem imun (daya tahan tubuh) yang sempurna & canggih. Diantaranya ASI. Secara garis besar, sistem imun terdiri atas 2 bagian, yaitu :
1. Bagian yang langsung “membunuh” kuman/virus/parasit, dll yang menyerang tubuh kita dan membuat tameng/proteksi untuk ”serangan” serupa. Sistem imun yang bertugas langsung membasmi ”musuh” tsb adalah Sel Darah Putih atau LEUKOSIT. Leukosit juga membentuk antibodi, suatu zat untuk menetralisir ”musuh” bila suatu saat kita kembali terserang oleh infeksi yang sama.
2. Bagian atau sel-sel yang bertugas membantu sel leukosit sehingga leukosit jauh lebih efektif ”serangan”nya.

SLIDE 4. BACTERIA & VIRUS
Kedua makhluk tersebut amat dangat kecil tetapi memiliki canggih & lihai agar dapat lolos dari serangan sistem imun tubuh kita.

Bakteri.
Bakteri ada dimana-mana, di alam, dan di sekitar kita. Bahkan tubuh kita dipenuhi oleh bakteri. Bahkan ASI mengandung bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri TIDAK JAHAT, bahkan menguntungkan. Kita justru membutuhkan bakteri tsb di dalam usus seperti untuk:
- Mencernakan makanan menjadi zat-zat bergizi
- Mengolah makanan menjadi vitamin B & K
- Melindungi kita agar tidak terinfeksi oleh kuman yang jahat.
- Membantu pencernaan agar kita tidak sembelit

Berdasarkan sifat kimiawinya, bakteri dibagi dua yaitu bakteri Gram Positif dan bakteri Gram negatif.
1. Bakteri Gram positif
- umumnya lebih mudah ”lawan” dibandingkan bakteri Gram negatif.
- dapat diatasi oleh antibiotik yang ringan (narrow spectrum antibiotik)
- umumnya menyebabkan Infeksi di bagian atas diafragma
2. Bakteri Gram negatif
- menyebabkan infeksi di bagian bawah diafragma.

Broad spectrum antibiotics adalah antibiotik yang menyerang kedua kelompok bakteri di atas INGAT :
- Pemberian antibiotik yang terlalu sering dan terlalu lama akan mematikan kuman yang baik. Hal ini akan menganggu pencernaan misalnya diare akibat munculnya banyak jamur, kekurangan vitamin B & K.
- Semakin sering kita memakan antibiotik, semakin sering kita jatuh sakit.

Virus.
Virus jauh lebih kecil daripada bakteri. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat, antibiotik sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita.

SLIDE 5. RADANG / INFLAMMATION – ITIS
Kita sering menyalahartikan istilah radang sebagai suatu keadaan akibat infeksi kuman. Radang atau inflamasi artinya MERAH, BENGKAK, dan SAKIT. Radang tenggorokan, artinya tenggorokannya merah, sakit, dan mungkin agak membengkak (amandelnya).

Radang karena INFEKSI.
Radang akibat infeksi dapat dibagi2, yaitu :
1. Radang karena kuman
2. Radang karena virus.
85% radang tenggorokan pada bayi/anak disebabkan oleh infeksi VIRUS -sehingga tidak perlu antibiotik.

Radang BUKAN INFEKSI.
Biasanya disebabkan oleh kondisi seperti ALERGI, TRAUMA, AUTOIMMUN, TEETHING, dll. Kesemuanya, sekali lagi, tidak dapat diobati dengan antibiotik. Upaya terbaik mengatasi alergi adalah avoidance – mengurangi kemungkinan exposure hal2 yang bisa menimbulkan alergi (debu, karpet, binatang berbulu, mainan berbulu, AC, makanan tertentu dengan pewarna, pengawet, perasa sintetik, permen, sea food, dll).

Demikian halnya dengan DEMAM.
Demam dapat disebabkan oleh infeksi dan juga bukan karena infeksi. Sekali lagi, penyebab demam terbanyak pada anak adalah infeksi virus. Demam itu sendiri merupakan salah senjata tubuh untuk melawan infeksi. Dengan perkataan lain, kalau ada infeksi, tubuh kita memproduksi panas sebagai bagian dari sistem imun untuk melawan infeksinya. Tetapi demam juga bisa dikarenakan hal lain yg tidak ada hubungannya dengan infeksi.

SLIDE 6. FEVER
Demam adalah alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter. Apalagi jika orangtua tidak memiliki ilmu yang cukup mengenai demam, penyebab demam & tatacara merawat anak demam.

Bahayakah demam itu ? Burukkah demam itu ?
Tidak ada sesuatu yang 100% buruk atau 100% baik. Demikian juga dengan demam. Tuhan pasti memiliki maksud dibalik fenomena demam. There is something for many reasons.

Tubuh kita diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi mekanisme pengaturan yang canggih, termasuk mekanisme pengaturan suhu. Di otak kita terdapat termostat bernama hipotalamus yang mengatur mekanisme ini. Tepatnya terdapat pusat pengaturan suhu disebut juga SET POINT. Pengatur suhu tubuh ini akan memastikan tubuh kita senantiasa pada suhu konstan (sekitar 37C) .
Demam adalah kondisi dimana otak (melalui Set Point) memasag suhu di atas setting normal yaitu > 38C. Namun demikian demam yang sesungguhnya adalah bila suhu >38.5C. Akibat kenaikan setting suhu tubuh tsb, maka tubuh akan memproduksi panas melalui tahapan : menggigil hingga mencapai suhu puncak ïƒ suhu demam stabil ïƒ suhu mulai turun.

Bagaimana dan mengapa timbul demam ?
Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya molekul kecil dalam tubuh, yaitu PIROGEN ”suatu zat pencetus panas.”

Apa yang menyebabkan terjadinya peningkatan pirogen ?
Penyebabnya antara lain : infeksi, radang, keganasan, alergi. Teething, dll.
Pada saat terserang infeksi, sistem imun tubuh kita akan membasmi infeksi tsb dengan serangan leukosit (sel darah putih).

Agar tugas leukosit tsb efektif dan tepat sasaran, dibutuhkan dukungan banyak pihak termasuk pirogen, yang bertugas :
1. Mengerahkan sel darah putih (leukosit)
2. Menimbulkan demam yang akan membunuh virus. Karena virus tidak dapat hidup di suhu tinggi. Sementara itu virus akan tumbuh subur di suhu rendah.

Perhatikan hal berikut :
1. Selama infeksi masih berlangsung, memang harus ada demam.
2. Demam merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh untuk membasmi infeksi.
3. Prinsip utama adalah cari penyebab timbulnya demam. Dengan mengetahui sumber masalahnya, maka kita dapat bertindak secara rasional. Pada anak penyebab utamanya adalah infeksi virus.
4. Beri minum lebih banyak dari biasanya. Waspadai kemungkinan terjadinya komplikasi dehidrasi.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasi tatacara penanganan demam. Berikut kondisi kapan orang tua harus menghubungi dokter :
- Bila bayi berusia < 3 bulan dengan suhu tubuh > 38C
- Bila bayi berusia 3 – 6 bulan dengan suhu tubuh > 38.3C
- Bayi dan anak berusia > 6 bulan, dengan suhu tubuh > 40C

Konsultasikan juga dengan dokter jika terdapat kondisi berikut :
- Sama sekali tidak mau minum atau sudah dehidrasi; Gelisah, muntah, diare
- Iritabel atau menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan
- Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan (lethargic)
- Kejang; Kaku kuduk leher; Sakit kepala hebat
- Sesak napas
- Gelisah, muntah, daire

SLIDE 7. TREATING FEVER
Point-point utama yang harus diperhatikan selama merawat anak demam adalah:
1. Mencari penyebab demam dan memperhatikan pola perilaku anak. Amati tingkah laku anak. Jika perilaku anak hampir sama seperti biasanya, maka kita tidak perlu khawatir. Karena pada dasarnya demam itu bukan hal yang membahayakan.
2. Cegah dehidrasi.
Demam akan meningkatkan penguapan cairan tubuh. Karenanya bayi dan anak beresiko mengalami dehidrasi. Berikan cairan lebih banyak. Berikan air, air sup, jus buah segar yang dicampur air, es batu, es krim. Bila muntah atau diare, berikan minuman elektrolit : pedialyte, oralit.
3. Ruangan dijaga agar tidak panas, pasang kipas angin. Anak memakai baju yang tipis.
4. Kompres air hangat atau berendam di ari hangat.
5. Biarkan anak memakan apa yang diinginkan. Jangan dipaksa. Hindarkan makanan berlemak, karena sulit dicerna oleh tubuh.
6. Meskipun anak dianjurkan untuk tidak masuk sekolah, bukan berarti ia harus berada di tempat tidur seharian.

Pemberian obat penurun panas mengikuti aturan berikut :
- <102F (<38.3C) : Tidak perlu obat penurun panas, ekstra cairan (minum banyak)
- >102F (38.3C), uncomfortable : Beri obat penurun panas, kompres hangat
- >104 (>40C) : Beri obat penurun panas, kompres hangat, hubungi dokter.

Ingat: DO NOT TREAT LOW GRADE FEVER (< 38.3C)

SLIDE 8. COLDS AND FLU
Penyebabnya infeksi virus. Umumnya berlangsung selama 5 hari (3 - 14 hari rentangnya) tergantung daya tahan tubuh dan tergantung ada tidaknya penderita flu di rumah atau di sekolah. Jika bayi dan anak memiliki saudara kandung yang lebih besar dan sudah bersekolah, maka ia sangat potensial sering mengalami colds & flu Tidak ada obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh anak terhadap infeksi virus flu akan meningkat sejalan dengan waktu

Tatalaksana:
- Yang paling dibutuhkan adalah cairan, sering minum meski sedikit2.
- Supaya ”ingus” tidak kental dan menyumbat jalan nafas, berikan air garam steril sebagai tetes hidung. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga banyak membantu saat mengalami colds & flu.
- Apabila pada malam hari tiak dapat tidur karena hidung tersumbat, beri tetes hidung untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung (Iliadin, Otrivin).
- Humid environment, jangan kering seperti dalam ruangan berAC. Kalau perlu, taruh satu ember berisi air mendidih setelah anak tidur. ”Paracetamol” bila bayi/anak uncomfortable atau high fever (>38.5)
- Di lain pihak, kita sering mengacaukan alergi dengan flu. Pada alergi yang mengenai hidung, anak juga akan ”meler” tetapi anak tidak demam, tetap aktif bermain. Bukan berarti juga anak menderita infeksi virus flu.

Pencegahan:
- Sering cuci tangan
- Hindari kontak erat dengan penderita flu
- Jaga kebersihan rumah seperti di kamar mandi, dapur, dsb.

Kapan menghubungi dokter?
- Persistent cough, fever > 72 hours
- Sesak nafas, kuku dan bibir tampak biru
- Luar biasa rewel, atau luar biasa mengantuk (sangat sulit dibangunkan) Ingat: Tidak ada obat pilek yang efektif untuk bayi dan anak.

SLIDE 9. SORE THROAT / PHARYNGITIS (Radang tenggorokan & infeksi amandel)
Umumnya disebabkan oleh infeksi virus. ARTINYA: akan sembuh sendiri – self limiting; dan samasekali tidak memerlukan antibiotik. Hanya sekitar 15% saja yg infeksinya disebabkan oleh kuman Streptococcus dan umumnya menyerang anak usia 4 - 7 tahun. Dengan catatan, diagnosisnya harus berdasarkan biakan usap tenggorokan.

Tatalaksana
a. Banyak minum; minuman yg hangat akan memberikan rasa nyaman di tenggorokan.
b. Untuk anak yg lebih besar, bisa diajarkan untuk kumur2 atau mengisap lozenges.
c. Kalau panas atau kesakitan, berikan paracetamol (seperti panadol atau tempra).
d. Kalau hidung tersumbat, dapat diberikan tetes hidung NaCl dan menghirup uap panas. Kalau anak sangat terganggu, dapat diberikan Nasal decongestant.

SLIDE 10. COUGHS
Jika kita membaca literaratur kedokteran, sering diungkapkan bahwa batuk merupakan suatu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganggu saluran nafas kita, seperti dahak, riak, benda asing (kacang, dsb). Batuk sebagai anugerah terindah dari Tuhan sering disikapi dengan tidak bijak oleh mereka yang tidak memahaminya. Andaikan kita perhatikan sejenak para pada penderita stroke misalnya. Karena adanya gangguan dalam otak, refleks batuknya terganggu. Akibatnya dahak menumpuk di paru2 dan ybs umumnya mengalami pneumonia. Hingga berefek fatal kematian pada penderita tsb.

Batuk bukanlah momok. Melalui batuk, kita tetap dapat bernafas, karena lendir yang mengganggu saluran nafas akan dikeluarkan saat batuk. Dengan batuk, kita terhindari dari bahaya tersedak benda asing yang masuk ke saluran nafas kita.
Yang terpenting yang harus kita lakukan adalah mencari tahu apa penyebab batuk. Infeksi kah atau bukan infeksi. Pada anak, batuk umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau oleh alergi. Batuk akibat infeksi virus flu misalnya bisa berlangsung sd 2 minggu. Bahkan lebih lama lagi bila anak kita sensitif atau alergi, atau bila di rumah ada anak lain yang lebih besar yang juga sedang sakit. Batuk karena alergi juga bisa berlangsung lama atau hilang timbul selama pencetus alerginya tidak diatasi. Alergi yang dimaksud bisa dalam bentuk alergi hidung (Allergic rhinitis), asma, alergi suatu zat dari lingkungan. Penyebab lainnya adalah sinusitis, reflux, pneumonia.

Tatalaksana :
Cari PENYEBAB batuk.
Jika batuk disebabkan oleh produksi dahak yang berlebihan, maka upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi produksi lendir. Melalui cara :
- Minum banyak yang hangat misalnya lemon
- Jangan ada asap rokok
- Ruangan jangan kering (Moist air - kamar mandi - buka keran air panas biarkan beberapa lama sehingga ruangan, atau taruh satu ember air panas mendidih, atau pasang humidifier)
- Agar anak lebih nyaman, tidurkan dengan bantal agak tinggi
- NO ANTIBIOTICS. Ingat ! Kebanyakan batuk tidak memerlukan antibiotik
- NO cough suppressant. Jangan mengkonsumsi obat penekan refleks batuk (seperti DMP). Anehnya, anak kita sering mendapatkan obat racikan/puyer yang salah satu kandungannya codein (sejenis narkotika) yang tidak diketahui manfaatnya.

Pada dasarnya, TIDAK ADA yang namanya obat batuk itu. Juga tidak ada obat pencair dahak. Cari pencetusnya !

SLIDE 11. BRONCHITIS (INFEKSI SALURAN NAFAS)
Penyebab banyak, tetapi yang tersering adalah alergi (Allergic rhinitis, asthma, environmental exposures). Bisa juga karena sinusitis, refluks, reaksi obat, kelainan bawaan saluran napas, tersedak ”benda asing”, pneumonia (virus, jamur). Mohon diingat pneumonia belum tentu karena infeksi bakteri. Jadi - belum tentu perlu antibiotik. Biasanya ditandai dengan batuk lama.

Tatalaksana :
- Mencari penyebab. Bila karena alergi, modifikasi lingkungan sekitar untuk mengurangi eksposur pada anak
- Humidifikasi
Ekstra cairan, dll

Jika anak kita dinyatakan menderita bronkitis, maka kita harus segera berpikir bahwa -itis di sini artinya radang inflamasi. Penyebabnya belum tentu infeksi bakteri - mayoritas bronkitis pada anak tidak perlu antibiotik.

SLIDE 12. EAR INFECTION
Penyebab :
Umumnya karena infeksi virus Pasca infeksi hidung atau radang tenggorokan seperti cold/flu, Tooth problem

Gejala:
- Sakit telinga (biasanya 1 sisi), demam, pilek dengan hidung buntu, rewel, telinga di-tarik2, nafsu makan menurun
- Kadang2 tampak cairan kuning keluar dari telinga, kadang2 juga anak mengalami sedikit gangguan pendengaran
- Rata-rata setiap anak mengalami infeksi minimal 1 x sebelum usia 5 tahun.

Tatalaksana :
- Penghilang rasa sakit
- Posisi tegak/upright position,
- Jangan ada yang merokok
- Jangan minum susu dari dot-botol sambil tiduran
- Air hangat di botol, bungkus kain perca, taruh di atas telinga
- Kalau perlu minum obat decongestant (mengurangi hidung buntu)

Pencegahan:
- berikan ASI selama mungkin
- Hubungi DOKTER / penggunaan ANTIBIOTIK :
* Bila berkepanjangan, lebih dari 2 minggu atau
* Bila infeksi berat dan anak kesakitan hebat

SLIDE 13. DIARRHEA – VOMITING
Hampir serupa dengan batuk, diare & muntah adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada manusia. Diare & muntah adalah mekanisme alami tubuhuntuk mengeluarkan racun, virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh. Diare & muntah itu ibarat alarm tubuh untuk memberitahukan bahwa ada sesuatu yg tidak beres dalam tubuh kita. Yang perlu dilakukan adalah mencari PENYEBAB nya. Tidak perlu diberikan obat anti muntah atau obat untuk ”mampet”kan diarenya.
Obat-obat tsb memang akan mengurangi/menghentikan diare/muntah, tetapi
tidak mengobati penyakitnya. Perbaikan tersebut bersifat ”semu”. Ibarat bom waktu. Kita terkecoh seolah anak membaik, padahal penyakitnya masih terus berlangsung. Selain itu, obat2 tersebut juga bukan tanpa risiko/efek samping.

PENYEBAB:
- >80% penyebabnya pada anak, terutama bayi, adalah virus. Dikenal juga dengan ROTAVIRUS.
- Food poisoning
Alergi makanan,
Pemakaian antibiotik.

TATALAKSANA
CEGAH DEHIDRASI
- Minum banyak
- ASI diteruskan, campur dg Oral rehydration Solution (ORS) seperti pedialit atau oralit.
- Perbanyak minum.
- Bila diare hebat, fokus pada upaya rehidrasi (menjaga agar tidak dehidrasi). Kalau perlu, untuk sementara waktu tidak perlu makan sampai dehidrasi teratasi

Kapan menghubungi dokter?
- Ada darah di tinja atau tinja berwarna hitam
- Tanda-tanda dehidrasi berat : tidak buang air kecil > 8 jam, bibir kering, air mata kering ketika menangis, skin turgor menurun (jika tangan dicubit, tidak akan kembali seperti semula), mata cekung, abdomen (sekitar perut) cekung, fontanelle (ubun-ubun) pada bayi cekung.
- Luar biasa mengantuk, sulit dibangunkan
- Luar biasa lemas, layu

PRINSIP:
Umumnya tidak perlu diberi antibiotik, antibiotik hanya bila tinja berdarah (butuh evidence/lab). Pada banyak kasus, antibiotik justru akan memperparah diarenya. Belum lagi pemakaian antibiotik tidak pada tempatnya akan menyebabkan infeksi tambahan oleh jamur/fungus/candida.

Jangan minum obat untuk menghentikan diare seperti primperan, motilium, juga tidak perlu minum Kaopectate, smecta, ensim, dsb. Pada diare biasa, tidak perlu mengganti susu formula.
- INGAT - Jangan memberikan obat anti muntah!!!!

SLIDE 14. KONSTIPASI
PENYEBAB:
Penyebab utama biasanya pola perilaku, khususnya pola konsumsi makanan yang low-fiber, high-fat & high-sugar. Pola makan kita dulu sarat dengan sayur dan buah (serat), sekarang beralih ke fast food yang bukan hanya rendah serat, tetapi juga tinggi garam dan lemak. Penyebab lainnya adalah:
- Kurang minum
- Ignoring the urge (anak mengacuhkan rasa ingin buang air besar dan justru menahannya)
- Kurang gerak/olah raga, banyak duduk
- Penyakit: Hypothyroidism (kelenjar gondok kurang berfungsi, jarang, ada gejala lain sejak bayi seperti retardasi mental), retardasi mental

GEJALA:
- Sakit perut, melilit, mules, kembung
- Nafsu makan menurun
- Rewel
- Celana dalam ada berkas tinja (Soiled underwear)
- Tinja keras, tinja ada goresan/bercak darah (Large/blood streaked stools)
- Sering buang air kecil

TATALAKSANA :
- Minum banyak
- Pola makan yang kaya serat
- Lebih memperhatikan bowel habit dari anak.
- Melatih anak akan kebersihan.
- Berbicara & diskusi dengan anak.

Hubungi dokter jika terjadi hal berikut :
- Tidak BAB > 10 hari
- Sering / rutin mengalami konstipasi sejak lahir.
- Aktivitas sehari-hari menurun.
- Terdapat anal tears atau hemorrhoids
- Sulit mengejan saat BAB
- Ada darah di tinja

SLIDE 15. TYPHOID
Sebenarnya, tifus tdk tergolong kondisi yang sering terjadi pada anak. Namun demikian, kondisi ini sering sekali didiagnosis (gejala tifus/verdacht typhus). Padahal seharusnya untuk mendiagnosa suatu penyakit harus jelas dan tegas : TIFUS atau BUKAN.

Bagaimana dan kapan kita menegakkan diagnosis tifus?
- Curigai bila ANAK demam > 7 hari. Mengapa anak, bukan bayi ? Karena tifus
ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar. Sementara bayi masih mengkonsumsi ASI, susu formula, makanan rumah.
- Diagnosis: pemeriksaan laboratorium biakan empedu (GAL CULTURE) bukan
pemeriksaan widal. Di negara endemis seperti Indonesia, pemeriksaan widal
hampir pasti akan positif tetapi tidak otomatis menyatakan yang bersangkutan sedang menderita infeksi tifus.
- Be critical !

TBC.
Kondisi serupa yang juga sering salah diagnosa adalah TBC. Angka kejadian infeksi TBC di Indonesia memang tinggi, tetapi itu bukan berarti sedikit-sedikit TBC.
- Anak yang kurus, yang kurang nafsu makan, anak yang batuk-batuk, sering dicap ”ada vlek” di paru2nya. Padahal mendiagnosis TB tidak sesederhana ini.
- Di lain pihak, kalau memang anak kita TBC, perlu diterapi dengan benar agar kuman TBC benar-benar bisa dieradikasi dari tubuh kita. Yang sering terjadi: Anak mendapat obat TBC tanpa dasar diagnosis yang jelas.
- Obat TBC tersebut tidak diberikan dengan benar (jenis obat, jumlah obat, dosis, lama pemberian).

Selalu mencari second opinion ! Karena mendiagnosis TBC tidak mudah. Dan sekali anak didiagnosis TBC - konsekuensinya banyak harus mengkonsumsi obat-obatan untuk jangka waktu panjang. Padahal obat-obatan tersebut sangat berat`- berpotensi menimbulkan gangguan hati.

Again, be critical !

SLIDE 16. HOSPITALIZATION
Indikasi rawat inap harus kuat, seperti :
- Kehilangan kesadaran
- Kejang berulang
- Sesak napas
- Dehidrasi berat
- Membutuhkan obat yang harus diberikan ke pembuluh darah (IV medication)

Bagi anak, rawat inap di RS bukan hanya menyebabkan trauma kejiwaan, tetapi juga menghadapkan anak kepada risiko tertular INFEKSI NOSOKOMIAL. Yaitu infeksi akibat kuman rumah sakit, dari pasien lain. Sementara itu kuman di RS jauh lebih GANAS dibandingkan kuman di rumah. Mengapa? Coba cermati kalimat-kalimat berikut. Di RS, kita terlalu banyak mempergunakan antibiotik dan umumnya yang dipergunakan adalah antibiotik yang kuat. Dengan demikian, kuman di rumah sakit banyak yang sudah resisten (kebal) terhadap berbagai macam antibiotik (superbugs). Kuman di rumah jauh lebih jinak.

Perawatan di RS dapat memperbesar potensi terkena infeksi tambahan(nokosomial) ini. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita harus memahami betul kondisi emergency (kapan anak harus dirawat di RS). Sehingga kondisi-kondisi yang tidak memerlukan perawatan RS, maka anak tidak perlu dirawat di RS.

SLIDE 17. THE LIVER AND THE DRUGS
Apa yang terjadi dengan obat yang kita konsumsi? Obat harus menjalani serangkaian proses metabolisme di hati. Prosesnya dua tahap. Di antara kedua tahapan tersebut, dihasilkan suatu zat antara yang bersifat toksik (beracun). Hal inilah yang dapat menyebabkan timbulnya kemungkinan kerusakan hati akibat obat. Makin banyak obat, makin besar kemungkinan efek sampingnya (termasuk kerusakan hati).

Sebagai contoh adalah gabungan beberapa obat dalam satu puyer. Ibu umumnya tidak menyadari bahwa puyer tersebut terdiri dari beberapa obat. Tidak tertutup kemungkinan obat-obat tersebut saling berinteraksi.

Pertanyaan yang seharusnya selalu ada di benak kita sebelum mengkonsumsi obat atau menerima resep obat adalah :
- Apakah anak kita benar-benar membutuhkan obat ?
- Apakah memang benar anak kita membutuhkan sekian banyak obat dan bukan hanya 1 atau 2 obat saja ? Ada baiknya kita mencari second opinion atau mencari informasi tentang penyakit & obat-obat tsb. Manfaatkan teknologi terkini yaitu internet untuk mencari informasi.

Siapa yang potensial terkena efek samping obat?
- Mereka yang berusia sangat muda
- Mereka yang lanjut usia

Sekarang mari kita evaluasi kembali kartu berobat anak kita. Coba perhatikan & hitung berapa banyak obat dalam setiap puyer/racikan. Bagaimana mengurangi risiko terkena efek samping obat?
1. Pada dasarnya, obat itu racun, sehingga potensial menimbulkan efek samping. Konsumsi obat hanya bilamana benar-benar diperlukan. Hindari polypharmacy.
2. Antibiotik bukan obat ”dewa’ yang dapat menyembuhkan semua penyakit, atau menyembuhkan semua gejala (mulai dari demam, diare, batuk, pilek, radang tenggorokan, alergi, dll)

SLIDE 18. WHAT ARE ANTIBIOTICS
Antibiotik adalah obat untuk membunuh infeksi bakteri. ANTIBIOTIK TIDAK DAPAT MEMATIKAN VIRUS. After their discovery in the early 20th century, they transformed medical care and dramatically reduced illness and death infectious diseases. Indeed, antibiotics are among the most powerful and important medicines known because when they are used properly, they can save lives.
Antibiotics = Against Life. Artinya antibiotik adalah suatu zat yang sifatnya mematikan kehidupan dalam hal ini, mematikan kuman. Berdasarkan konsep ”against life” tsb, beberapa ahli menyatakan bahwa penggunaan antibiotik dapat dikatakan sebagai penggunaan PESTISIDA bagi manusia (pesticide used on people).

APA BAHAYA PEMBERIAN ANTIBIOTIK YANG MEMBABI BUTA?
Setelah pemakaian antibiotik selama beberapa dekade, ternyata bermunculan banyak bakteri yang resisten (kebal) terhadap antibiotik. Hal ini membuktikan bahwa pemakaian antibiotik yang tidak rasional/membabi buta, justru akan merugikan pasien dan khalayak luas. Antibiotik merupakan satu2nya obat yang memiliki dampak sosial yang besar.

Contoh. Anak X sering memakan antibiotik setiap kali demam atau pilek.batuk, diare. Cepat atau lambat, kuman-kuman di sekitar X menjadi kebal terhadap berbagai antibiotik. Bila kuman yang resisten terhadap antibiotik tersebut menyerang anak Y, maka anak Y otomatis juga tiurut dirugikan, bukan hanya anak X.

Antibiotic resistance dapat membahayakan jiwa dan memperberat kondisi dan penderitaan si pasien yang mungkin infeksinya sebenarnya tidak berat tetapi kumannya tidak dapat dibunuh oleh berbagai antibiotik (padahal sebelumnya, infeksi kuman ni dengan mudah dapat diatasi). Kuman yang kebal terhadap antibiotik ini ”berkembang biak dengan cepat, menyerang anggota keluarga lainnya, tetangga, teman sekolah, teman kerja“ mengancam seluruh komunitas.
Lingkungan terancam infeksi oleh kuman jenis baru, yang sudah berubah bentuk, yang lebih ganas, kuman yang sulit dibunuh oleh antibiotik.

SLIDE 19. THE TROUBLE WITH ANTIBIOTICS
1. Pemberian antibiotik yang berlebihan menyebabkan kuman yang tidak terbunuh mengubah diri (mutasi) menjadi kuman yang tidak mempan dilawan dengan antibiotik. Kuman itu disebut juga ”superbug”. Superbugs ini juga dapat lolos dari serangan sistem imun tubuh kita, karena perubahan dirinya. Sistem imun tubuh kita tidak mengenalinya.
2. Superbugs ini memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat, pasien harus di rawat di rumah sakit karena antibiotik harus diberikan melalui selang infus. Antibiotik super kuat ini berisiko menimbulkan efek samping yang lebih berat. Selain itu dalam waktu cepat, bakteri tsb juga menjadi kebal terhadap antibiotik yang super kuat. Pada kondisi ini, tenaga medis/dokter seperti berlari di treadmill, terus mengejar, mencari antibiotik yang lebih kuat dan lebih baru.
3. Dampak negatif kedua dari pemberian antibiotik yang berlebihan dan tidak bijak adalah terbunuhnya ”kuman baik” di dalam tubuh kita. Tempat yang semula dipakai oleh kuman2 ini menjadi vakum dan kekosongan ini diisi oleh kuman ”jahat” atau jamur. Kondisi infeksi ini disebut sebagai ”superinfection”.
4. Semakin lama/sering makan antibiotik semakin besar risiko terbentuknya superbugs, dan superinfection. Akibatnya SEMAKIN SERING KITA MENGKONSUMSI ANTIBIOTIK, SEMAKIN SERING KITA SAKIT.
5. Antibiotik adalah sumber alam, karunia Tuhan yang harus dipergunakan secara
bijaksana. Antibiotik menyelamatkan kita, kita harus ”menyelamatkan” mereka.

SLIDE 20. APPROPRIATE ANTIBIOTIC USE
Penelitian membuktikan setiap harinya, telah diresepkan jutaan antibiotik bagi pasien infeksi virus. Suatu kekeliruan yang sangat besar. Beberapa alasannya:
1. Pasien meminta obat yang cespleng “apa saja“ termasuk antibiotik kalauperlu antibiotik yang superkuat
2. Bagi dokter, jauh lebih mudah menulis resep dibandingkan harus bersusah payah memberi penjelasan, menenangkan orang tua.

Pada tabel tertera beberapa kondisi yang umumnya disebabkan infeksi virus dan tidak memerlukan antibiotik.

ILLNESS ANTIBIOTICS ?
1 Cold “ Flu No
2 Runny nose “ green yellow No
3 Sore throat * No
4 Sinusitis* No, some yes
5 Bronchitis* No
6 Fluid in the middle ear No

SLIDE 21. HOW TO BE A GOOD HEALTH CONSUMER
Selalu pertanyakan: Does MY child really need the drug? Hal lain yang selanjutnya perlu dilakukan adalah:
1. Hitung jumlah obat yang diberikan kepada anak. Bila dalam bentuk puyer, hitung jumlah baris dipuyer yang mencerminkan jumlah obat (bila bingung, tanya ke ahli farmasinya)
2. Selalu membuat foto kopi resep dan diarsip dengan baik.
3. Konsultasi ahli farmasi. Tanyakan obat apa saja (minta agar ditulis nama obat satu persatu), apa mekanisme kerja obat2 tersebut, apakah ada antibiotik, berapa antibiotik yang diberikan, bagaimana interaksi obat sebanyak itu.
4. Beritahu dokter bila anak anda sedang mengkonsumsi produk herbal, suplemen, obat tradisional. Obat-obataan tsb mungkin saja berinteraksi dengan zat2 tambahan tersebut.

Intinya:
1. Hindarkan polifarmasi, mengkonsumsi obat sesedikit mungkin.
2. Antibiotik bukan magic saver. Hanya keadaan tertentu saja yang memerlukan
antibiotik. Dan Mayoritas penyakit pada anak disebabkan oleh infeksi virus, yang samasekali tidak membutuhkan antibiotik.

July 4, 2005

Diare

Filed under: kesehatan

Diare merupakan gangguan pencernaan yang sering dialami oleh semua orang, termasuk anak-anak. Namun pada anak-anak, diare dapat menjadi keadaan yang mengancam jiwa karena mereka lebih rentan mengalami dehidrasi dibandingkan orang dewasa. Selain itu diare juga merupakan penyebab utama terjadinya malanutrisi pada anak-anak.

Keadaan-keadaan yang menjadi penyebab utama terjadinya diare adalah higiene yang buruk, sumber air yang tidak bersih dan sehat, lingkungan tempat tinggal yang padat, dan kecenderungan orang tua untuk memberikan susu formula daripada ASI. Padahal anak yang mendapat ASI eksklusif jarang menderita diare.

Diare adalah gangguan usus yang ditandai dengan abnormalitas kandungan air dan konsistensi feses yang dikeluarkan. Diare juga berarti buang air besar dengan feses yang cair, minimal 3 kali dalam 24 jam. Diare dapat disebabkan infeksi oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, ataupun parasit. Penyebab lainnya adalah konsumsi obat-obatan, terutama antibiotika, dan pemakaian pemanis buatan.

Diare biasanya akan berlangsung dalam 1 minggu (3 sampai 6 hari) dan kemudian akan sembuh dengan sendirinya. Diare kronis berlangsung lebih lama dari diare akut, dan biasanya merupakan petanda terdapat gangguan kesehatan yang lebih serius seperti infeksi kronis, gangguan absorpsi makanan/nutrien (malaabsorpsi) ataupun disebabkan oleh penyakit yang disebut sebagai Irritable Bowel Syndrome.

Untuk kemudahan tata laksana, secara klinis diare dibagi menjadi 4 tipe. Pembagian tersebut dengan mudah dapat dilakukan pada saat melakukan pemeriksaan fisis dan tidak diperlukan pemerksaan laboratorium. Selain itu tiap tipe diare merefleksikan proses patologi dan perubahan fisiologis yang terjadi. Empat tipe tersebuat adalah:

1. Diare Berair Akut
Termasuk dalam kelompok ini adalah kolera. Berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari. Dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan.

2. Diare Berdarah Akut
Selain menyebabkan dehidrasi, juga menyebabkan kerusakan usus, sepsis, dan malanutrisi.

3. Diare Persisten
Berlangsung selama 14 hari atau lebih. Selain dehidrasi, dapat juga terjadi malanutrisi dan infeksi non-usus.

4. Diare Dengan Malanutrisi Berat (marasmus dan kwashiorkor)
Selain dehidrasi, keadaan ini dapat menyebabkan infeksi sitemik yang berat, gagal jantung, serta defisiensi mineral dan vitamin.

Tata laksana setiap tipe diare terutama bertujuan untuk mencegah dan mengatasi komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi

Diare yang disebabkan oleh infeksi biasanya ditandai dengan gejala awal berupa demam dan muntah, setelah itu baru timbul diare. Biasanya anak akan merasa “tidak nyaman” tapi tidak merasa sakit. Infeksi oleh bakteri ataupun parasit biasanya menyebabkan fesesnya bercampur darah.

Penyebab Diare

Penyebab paling sering diare antara lain:

- Virus.
Penyebab paling sering pada anak adalah Rotavirus dan Adenovirus. Biasanya tertular akibat kontak langsung. Misalnya tangan kita menyentuh anak yang sedang sakit diare, lalu tanpa mencuci tangan kita memegang makanan atau minuman, sehingga makanan atau minuman tersebut telah mengandung virus yang jika termakan dapat menimbulkan penyakit.

- Bakteri.
Penyebab paling sering antara lain Campylobacter, Salmonella, Shigella, dan Escherichia coli. Biasanya tertular dari makanan ataupun minuman yang terkontaminasi bakteri. Beberapa bakteri menghasilkan zat toksin yang menyebabkan sel usus halus memproduksi cairan melebihi kemampuan usus besar untuk menyerap cairan, keadaaan tersebut yang menyebabkan terjadinya diare.

- Parasit.
Antara lain Giardia lamblia dan Cryptosporidium. Biasanya tertular dari makanan ataupun minuman yang terkontaminasi parasit.

Laktosa, salah satu jenis gula yang terdapat dalam susu atupun produk yang terbuat dari susu juga dapat menyebabkan diare pada beberapa orang (Intoleransi laktosa).

Diare juga dapat terjadi akibat efek samping obat-obatan yang dikonsumsi, terutama antibiotika. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional (misalnya pemberian antibiotika pada infeksi virus) justru dapat mematikan kuman “baik” yang terdapat di dalam usus yang berfungsi dalam proses pencernaan dan menyebabkan suatu keadaan yang disebut sebagai Kolitis Pseudomembranosa, keadaan di mana lapisan mukosa usus besar dilapisi oleh suatu selaput yang menghalangi fungsi usus besar untuk mengabsorpsi cairan.

Diagnosis Diare

Dokter akan menanyakan beberapa hal mengenai gejala-gejala yang terjadi dan menentukan apakah telah terjadi dehidrasi. Beritahu dokter obat-obatan yang sedang dikonsumsi, termasuk obat yang dibeli bebas.

Dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan perut untuk melokalisasi nyeri yang dirasakan, mendengarkan suara perut (bising usus) dengan menggunakan stetoskop, dan melakukan pemeriksaan melalui anus jika diperlukan. Jika diarenya berat ataupun telah kronik, biasanya akan dilakukan pemeriksaan feses.

Tata Laksana Diare

Untuk anak yang menderita diare dengan dehidrasi ringan, pemberian makanan maupun susu dapat diteruskan seperti biasa, tapi mungkin dengan jumlah yang lebih sedikit namun dengan frekuensi yang lebih sering. Pemberian ASI harus diteruskan. Jika anak terlihat kembung ataupun sering flatus setelah minum susu sapi ataupun susu formula, segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengubah pola makan sementara waktu.

Untuk anak dengan diare sedang masih dapat dirawat di rumah dengan observasi ketat, pemberian cairan khusus, dan konsultasi dokter. Dokter akan merekomendasikan jumlah dan lamanya penggunaan cairan khusus yang diperlukan. Nantinya anak dapat kembali memulai pola makannya seperti biasa lagi. Beberapa anak yang sedang menderita diare tidak dapa mentoleransi susu sapi sehingga dokter menganjurkan untuk menghentikan sementara pemberiannya. Pemberian ASI terus diberikan.

Berbagai CRO telah dibuat oleh pabrik obat untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit selama terjadinya diare. Cairan tersebut sangat membantu dalam tata laksana diare. Utamakan menggunakan yang generik, karena selain lebih murah, efektivitasnya sama dengan yang paten. Selain itu orang tua dapat membuat sendiri CRO dengan cara mencampurkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok teh gula kedalam 1 liter air matang.

Cara Menyiapkan Cairan Rehidrasi Oral
1. Cuci tangan sebelum mambuat CRO.
2. Campurkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok teh gula atau 1 paket CRO dengan air matang.
3. Cuci tangan anda dan anak anda sebelum memberikan CRO.
4. Berikan anak CRO sesuai kebutuhan, sedikit-sedikit namun sering.
5. Berikan juga cairan pengganti lainnya, seperti ASI dan jus buah.
6. CRO tidak menghentikan diare, tapi mencegah terjadinya dehidrasi. Diare akan berhenti sesuai perjalanan penyakitnya.
7. Jika anak muntah, tunggu 10 menit baru berikan CRO, biasanya muntah akan berhenti.

Jika anak tidak muntah, pemberian CRO dapat diberikan hingga frekuensi buang air kecil anak normal kembali. Jika anak mengalami diare dengan dehidrasi berat, cairan pengganti mungkin diberikan melalui selang infus di ruang gawat darurat selama beberpa jam untuk memperbaiki keadaan dehidrasi. Biasanya tidak diperlukan perawatan di rumah sakit.

Pemberian antibiotika tidak akan menyembuhkan diare yang disebabkan oleh virus yang merupakan penyebab tersering terjadinya diare. Pemberian anti diare sebaiknya tidak digunakan karena justru menyebabkan perjalanan penyakit berlangsung lebih lama dan pasien menjadi karier yang dapat menularkan ke orang lain.

Selama penyakit ini berjalan secara alamiah berikut beberapa hal yang harus dan yang tidak boleh dilakukan.

Harus dilakukan:
- Memperhatikan apakah terdapat tanda-tanda dehidrasi seperti, berkurangnya frekuensi buang air kecil, tidak ada air mata saat menangis, demam tinggi, mulut kering, berat badan turun, anak terlihat sangat kehausan,lesu tidak bergairah, kelopak mata cekung.
- Laporkan dokter jika terdapat darah pada fesesnya ataupun demam tinggi (lebih dari 390C).
- Teruskan pemberian makan seperti biasa jika anak tidak muntah. Namun berikanlah dalam jumlah yang lebih sedikit ataupun berikan makanan yang tidak membuat perut anak merasa tidak enak.
- Berikan cairan pengganti khusus jika anak haus.

Tidak boleh dilakukan:
- Membuat sendiri cairan pengganti di rumah tanpa panduan yang benar.
- Tidak memberikan anak makan saat lapar.
- Memberikan susu yang direbus, ataupun kaldu daging maupun sup yang asin.
- Memberikan obat-obat “anti-diare”.

Konsultasi Dokter

Orang tua harus segera berkonsultasi dengan dokter apabila anak berusia kurang dari 6 bulan atau memiliki gejala-gejala:
- Diare berlangsung lebih dari 1 minggu.
- Terdapat darah pada fesesnya.
- Muntah yang sering.
- Nyeri perut.
- Demam tinggi.
- Terlihat sangat lemah.
- Tanda-tanda dehidrasi, seperti:
- Frekuensi buang air kecil berkurang (kurang dari 6 popok/hari).
- Tidak ada air mata ketika menangis.
- Tidak mau minum.
- Mulut kering.
- Berat badan turun.
- Terlihat sangat kehausan.
- Terlihat mengantuk dan tidak responsif.

Sedangkan orang tua tidak perlu terburu-buru berkonsultasi dengan DOKTER jika anak terlihat baik-baik saja meskipun disertai dengan gejala-gejala:
- Frekuensi buang air besar yang sering ddan dengan feses yang banyak.
- Sering flatus.
- Feses berwarna kuning ataupun hijau.

Pencegahan Diare

Beberapa hal dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya diare, antara lain:
- ASI eksklusif selama 6 bulan
- Sumber air bersih dan sanitasi yang baik.
- Imunisasi campak, terutama sebelum menyentuh makanan.
- Mencuci tangan.
- Buang air besar di kakus.
- Gunakan produk terbuat dari susu yang telah dipasteurisasi untuk membunuh bakteri.
- Jangan biarkan makanan pada suhu ruangan oleh karena dapat merangsang pertumbuhan bakteri.
- Masaklah makanan dan air minuman hingga matang.

Muntah

Pada anak-anak, muntah biasanya terjadi karena berbagai rangsangan, antara lain, sakit, menelan bahan toksik, ataupun stres emosional akibat tekanan di lingkungan sekolah maupun rumah.

Muntah yang hanya terjadi satu kali tidak perlu dikhawatirkan. Sedangkan muntah yang berlangsung berulang kali dapat merupakan petanda bahwa anak memerlukan bantuan medis. Terutama apabila disertai dengan gejala-gejala seperti nyeri perut, demam, ataupun sakit kepala.

Segera berkonsiltasi dengan dokter apabila muntah yang terjadi disertai dengan gejala-gejala:
- Nyeri perut.
- Terdapat darah ataupun cairan empedu (berwarna hijau) pada muntah.
- Anak terlihat linglung, apatis, dan menjadi cengeng.
- Telah mengalami diare lebih dari 12 jam.
- Terdapat tanda-tanda dehidrasi.
- Selalu muntah setiap sehabis diberi makan dalam 12 jam terakhir.

Tata Laksana Muntah

Muntah biasa terjadi pada anak dan sering membuat rasa tidak nyaman. Walaupun begitu, biasanya mintah yang terjadi tidak berbahaya dan segera berakhir. Selama muntah, harus diperhatikan jangan sampai terjadi dehidrasi akibat kehilangan cairan, terutama apabila disertai dengan gejala demam dan diare. Biasanya anak tidak akan napsu makan, maka teruslah mendorong anak untuk selalu minum. Biarkan anak memilih minuman yang disukainya. Hindari pemberian minuman yang kadar gula dan kafeinnya tinggi karena justru akan membuat anak menjadi sering buang air kecil dan memperburuk terjadinya kehilangan cairan.

Ketika muntahnya telah berhenti selama beberapa jam dan tidak terjadi lagi kehilangan cairan, mulailah memberinya makanan yang ia suka. Beberapa pilihan antara lain roti panngang, bubur gandum, pisang, saus apel, ataupun telur rebus. Sebaiknya jangan berikan makanan yang terbuat dari susu maupun makanan yang mengadung serat tidak larut dalam air seperti sayuran dan buah berserat, serta sereal kulit padi hingga perut anak terasa sudah lebih nyaman. Segera berikan pola makan seperti biasa kembali jika keadaan anak sudah membaik.

Dehidrasi

Dehidrasi adalah keadaan dimana tubuh kehilangan cairan dan elektrolit. Padahal cairan dan elektrolit sangat dibutuhkan oleh tubuh agar dapat berfungsi dengan baik. Anak-anak, terutama usia dibawah 1 tahun adalah kelompok yang rentan mengalami dehidrasi. Penyebab paling sering terjadinya dehidrasi pada anak adalah diare dan muntah, serta kurang minum pada saat sedang demam.

Derajat dehidrasi diklasifikasikan berdasarkan gejala dan tanda yang timbul yang merefleksikan jumlah cairan dan elektrolit yang hilang. Pada tahap awal dehidrasi, biasanya tidak ada gejala dan tanda yang khas selain rongga mulut yang kering dan rasa haus, sehingga tahap ini sulit dideteksi. Dengan semakin beratnya dehidrasi yang terjadi, maka akan tampak gejala dan tanda antara lain, kehausan, gelisah dan cengeng, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, kelopak mata cekung, ubun-ubun cekung (pada bayi), dan tidak adanya air mata saat anak menangis.

Berdasarkan gejala dan tanda, dehidrasi dibagi menjadi:

Dehidrasi ringan:
- Muka memerah.
- Rasa haus yang sangat.
- Kulit yang hangat dan kering.
- Tidak buang air kecil atau berkurangnya volume urin dan berwarna lebih gelap.
- Pusing dan lemah.
- Kram pada otot kaki dan tangan.
- Menangis dengan sedikit atau tidak ada air mata.
- Mengantuk.
- Mulut dan lidah kering disertai berkurangnya air liur.

Dehidrasi sedang:

- Tekanan darah menurun.
- Pingsan.
- Kontraksi yang kuat pada otot lengan, kaki, perut, dan punggung.
- Kejang.
- Perut kembung.
- Gagal jantung.
- Ubun-ubun cekung.
- Kelopak mata cekung.
- Kulit menjadi keriput dan tidak elastis (ketika kulit dicubit tidak cepat kembali ke posisi semula).
- Bernapas cepat dan dalam.
- Denyut nadi yang cepat dan lemah.

Dehidrasi berat
Gejala-gejala pada dehidrasi ringan makin jelas terlihat. Dan kemudian dapat mengalami keadaan yang lebih berat berupa syok hipovolemik dengan gejala-gejala berkurangnya kesadaran, tidak buang air kecil, tangan dan kaki teraba dingin dan lembab, denyut nadi yang semakin cepat dan lemah hingga tidak teraba, tekanan darah yang menurun hingga tidak dapat diukur, serta kebiruan pada ujung kuku, mulut, dan lidah. Jika tidak segera diatasi, keadaan ini dapat mengancam jiwa.

Tata Laksana Dehidrasi

Pada dehidrasi ringan, berikan 100-200 ml cairan rehidrasi oral (CRO) setiap habis diare (50-100 ml untuk anak dibawa 2 tahun). Pada dehidrasi sedang, selain pemberian CRO setiap habis diare, dalam 4 hingga 6 jam pertama harus diberikan CRO yang kebutuhannya disesuaikan dengan berat badan dan usia anak (lihat table). Pada dehidrasi berat, pemberian CRO harus diberikan melalui infus.

Plan A: for No Dehydration *
The health worker should discuss home drinks with the mother feeding during diarrhoea and proper home hygiene. The mother should be given enough ORS packets for two days if:
- Her child has been on Plan B.
- it is national policy to give ORS solution to all children who visit a health centre for diarrhoea treatment.
- the mother cannot come back if the diarrhoea gets worse.

Mothers given ORS packets to use at home must be carefully shown how to use them. The amount of ORS solution she should give is:

After Each Loose Stool:
50-100 ml (¼ - ½ cup) of ORS solution for a child less than 2 years old.
100-200 ml for older children. Adults can take as much as they want.

NOTE: Children receiving ORS solution must also be given the usual amount of ordinary drinks they take each day. They should not also be given salt and sugar solution.

Plan B: for Some Dehydration *
1. If the patient wants more ORS solution, five more. If the eyelids become puffy, stop and give other fluids. Use ORS solution again when the puffiness is gone.If the child vomits, wait 10 minutes and then continue slowly giving small amounts of ORS solution.

2. If the mother can remain at the health centre
- tell her how much ORS solution to give her child
- show her how to give it
- watch her give it

3. After 4-6 hours reassess the child. Then choose the suitable treatment plan.
NOTE: For children under 12 months continuing treatment plan B after 4-6 hours, tell the mother to give:
a. breastmilk feeds between drinks of the ORS solution, or
b. 100-200 mls of clean water before continuing ORS if she does not breastfeed her child.

4. If the mother must leave any time before completing treatment plan B, tell here:
- to finish the 4-6 hours treatment as in 1. above
- to give the child as much ORS solution as he wants after the treatment
- to look for the signs of dehydration and, if the child has any, to return the next morning.

Give her enough ORS packets for 2 days and show her how to prepare ORS solution.
Explain briefly how to prevent diarrhoea.

Kesimpulan

- Diare pada anak paling banyak disebabkan oleh virus (Rotavirus) dan akan sembuh sendiri dalam waktu 1 minggu.
- Anak tertular diare terutama melalui kontak langsung.
- Selama diare, teruskan pemberian ASI dan pola makan seperti biasa.
- Pengobatan utama adalah rehidrasi untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang serta mencegah terjadinya dehidrasi.
- Antibiotika tidak diperlukan untuk mengobati diare yang disebabkan oleh virus.
- Anti diare juga tidak boleh diberikan karena justru dapat memperpanjang perjalanan penyakit dan membuat virus penyebab masih ada di dalam tubuh sehingga pasien menjadi karier yang dapat menularkan ke orang lain.

Sumber: Materi Pesat (Sehat Group)

June 22, 2005

Pengenalan Dini Demam Berdarah Dengue

Filed under: kesehatan

Diasuh Oleh : dr. Syafruddin Mapata, Sp.A
(Dokter Spesialis Anak Klinik Anakku Bekasi)

Pendahuluan

Demam Berdarah Dengue atau lazim disebut Demam Berdarah menjadi pembicaraan yang
hangat belakangan ini. Di tempat umum, seperti di pasar, di perkantoran, di rumah
sakit lebih lebih lagi. Orang membicarakan kengerian akan demam berdarah. Umumnya
mereka membicarakan tentang keluarga atau sanak kerabatnya yang menderita demam
berdarah, sudah beberapa hari dirawat, berapa botol infus dihabisan, berapa biaya
sudah dikeluarkan bahkan kesedihan karena semua usahanya sia-sia bila keluarga atau
kerabatnya harus direlakan pergi selama-lamanya.

Memang penyakit Demam Berdarah ini mengalami kenaikan insiden dalam bulan-bulan
terakhir ini sehingga dimasukkan ke dalam kategori Kejadian Luar Biasa. Karena itu
penulis merasa belum terlambat untuk memberikan pemahaman tentang beberapa hal
menyangkut demam berdarah.

Selama hampir dua abad, penyakit dengue digolongkan sejajar dengan demam, pilek,
atau diare, yaitu sebagai penyesuaian diri seseorang terhadap iklim tropis. Namun
sejak timbulnya wabah Dengue di Filipina pada tahun 1953-1954 yang disertai renjatan,
perdarahan saluran cerna, dan berakhir dengan meninggalnya penderita, maka pandangan
ini pun berubah. Dan sejak itulah istilah Haemorrhagic Fever atau Demam Berdarah
digunakan. Kenyataan sekarang ialah bahwa penyakit ini menempati urutan kedelapan
kesakitan Asia Tenggara dan Pasifik Barat.

Penyebab

Penyakit Demam Berdarah termasuk golongan penyakit Arbovirus, singkatan dari
Arthropod-borne viruses, artinya virus yang ditularkan melalui gigitan binatang
arthropoda. Dalam hal ini Demam Berdarah ditularkan oleh sejenis nyamuk yang disebut
Aedes Aegypti. Nyamuk betina menghisap darah untuk kebutuhan reproduksi. Tiga hari
setelah menghisap darah maka ia akan sanggup bertelur sebanyak 100 butir. Selanjutnya
mulai menghisap lagi dan bertelur lagi. Nyamuk Aedes tergolong antropofilik yaitu
paling doyan darah manusia. Berbeda dengan species nyamuk lain yang biasanya sudah
cukup puas dengan menggigit / menghisap darah satu orang saja, maka nyamuk Aedes
mempunyai kebiasaan menggigit berulang, yaitu menggigit beberapa orang secara
bergantian dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan karena nyamuk Aedes sangat sensitif
dan mudah terganggu.

Nyamuk Aedes aegypti diduga berasal dari benua Afrika terutama Etiopia, kemudian
terbawa oleh kapal dagang ke daerah pesisir Asia Tenggara dan kemudian masuk ke
pedalaman. Bila nyamuk betina menggigit / menghisap darah orang yang menderita Demam
Berdarah maka virus akan masuk ke dalam tubuh nyamuk. Selanjutnya diperlukan waktu
sekitar 9 hari agar nyamuk menjadi infeksius dan dapat menularkan kepada korban yang
lain. Walaupun umur nyamuk dewasa hanya kira-kira 10 hari, namun dengan sifat
menggigit berulang maka cukup banyak korban yang bisa terinfeksi.

Nyamuk betina biasanya menggigit di dalam rumah pada waktu siang hari, di tempat
yang agak redup. Nyamuk betina meletakan telurnya di permukaan air yang jernih dan
terlindung dari sinar matahari langsung. Lebih disukai tempat air di dalam atau dekat
rumah, terutama tempat air yang bertutup longgar atau jarang dikuras.

perjalanan penyakit

Setelah nyamuk infeksius menggigit korban maka virus akan berkembang biak dalam
tubuh korban. Setelah waktu 4-6 hari atau yang disebut juga masa inkubasi maka
penderita mulai demam tinggi. Pada hari ketiga penderita mengalami resiko syok dan
kalau bisa diatasi maka fase penyembuhan dimulai setelah hari sakit ketujuh.

Pada fase awal demam ditandai dengan demam mendadak tinggi disertai muka kemerahan
dan sakit kepala. Kehilangan nafsu makan, muntah dan nyeri di ulu hati sering
dikeluhkan. Selanjutnya timbul bintik merah di kulit yang mirip gigitan nyamuk.

Fase berikut dari perjalanan penyakit demam berdarah ialah fase syok, yang merupakan
fase kritis penyakit demam berdarah. Pada saat ini suhu badan cenderung turun.
Penderita terlihat lemah , gelisah dan berkeringat. Kaki tangan terasa dingin, denyut
nadi sukar diraba. Dapat terjadi mimisan , muntah darah, atau berak darah. Pada saat
ini bila penderita tidak segera diobati dengan pemberian cairan infus maka kondisi
penderita akan terus memburuk dan terjadi syok yang berakhir dengan kematian.

gejala dan tata laksana

Bagaimana penatalaksanaan selanjutnya dari Demam Berdarah Dengue (DBD) ? Sebelumnya
perlu dikenal dahulu gejala dini Demam Berdarah. DBD merupakan penyakit akut yang
ditandai dengan 4 gejala klinik, yaitu demam tinggi, fenomena perdarahan, hepatomegali
dan seringkali kegagalan sirkulasi darah.

Bila seorang anak menderita demam tinggi mendadak, muka kemerahan, tidak ada gejala
infeksi saluran nafas (misalnya batuk, pilek, sakit tenggorokan), ditambah bintik
merah di kulit, sebaiknya penderita segera dibawa ke dokter. Dokter akan melakukan uji
Torniquet, yang akan sangat membantu diagnosis awal DBD.

Uji Torniquet dilakukan dengan memasang tensimeter pada lengan atas anak, memberi
tekanan tertentu dan bila positif, maka dalam waktu ± 3 menit akan timbul
bintik-bintik merah di bagian bawah.

Langkah selanjutnya adalah pemeriksaan laboratorium dua fenomena penting yang selalu
dicermati di pemeriksaan laboratorium, yaitu penurunan jumlah thrombocyte di darah
(thrombocytopenia) dan kenaikan konsentrasi plasma darah (hemokonsentrasi). Kadar
thrombocyte darah normal berkisar sekitar 150.000 - 400.000/mm3 . Kadar thrombocyte
penderita DBD akan turun < 100.00/mm3 .

Seorang tersangka menderita demam berdarah sebaiknya dirawat di Puskesmas atau di
Rumah Sakit. Lebih baik mencurigai dan merawat sebagai demam berdarah walaupun
akhirnya ternyata bukan, daripada menyesal kemudian. Sebelumnya penderita dianjurkan
minum banyak, beri obat penurun panas, dan kalau perlu dikompres dengan air hangat.
Obat panas yang dianjurkan adalah dari golongan parasetamol dan jangan dari aspirin
atau asetosal karena memperparah resiko perdarahan. Golongan metamizole secara umum
dilarang penggunaannya pada anak karena efek samping yang ditakuti berupa
agranulositosis, anemia aplastik, dan thrombocytopenia.

Syok pada demam berdarah terjadi karena kebocoran pipa pembuluh darah sehingga
cairan plasma darah merembes keluar dari pembuluh darah dan berkumpul di rongga-rongga
tubuh yaitu rongga perut dan rongga dada. Akibatnya pipa pembuluh darah menjadi kolaps
dan jalan mengatasinya ialah dengan infus. Begitu masa kritis dilewati maka kebocoran
pipa pembuluh darah akan membaik, cairan plasma kembali masuk ke pembuluh darah
.Keadaan umum penderita membaik yang ditandai dengan penderita mulai minta / mau makan.

Keadaan fatal pada DB terjadi bila syok tidak segera diatasi, atau bisa terjadi
perdarahan masif saluran cerna berupa muntah darah dan berak darah. Keadaan fatal
lainnya ialah encephalopatia, yang ditandai dengan penurunan kesadaran dan
kejang-kejang.`

Kesimpulan

Disimpulkan bahwa perlunya masyarakat awam mengenal tanda-tanda DB, kapan anak harus
dibawa ke dokter / Puskesmas, untuk mencegah terjadinya hal - hal fatal yang tidak
diinginkan.

Sumber: Millist Fahima

June 21, 2005

KIAT SEHAT ALA RASULULLAH

Filed under: kesehatan

Rasulullah bersabda :
“Mu’min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintai
Allah daripada mu’min yang lemah …..”(HR Muslim)

Bagaimana agar senantiasa sehat seperti Rasulullah?
Ikuti resep berikut :

1. SELALU BANGUN SEBELUM SHUBUH
Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelum
shubuh, melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu,
sholat shubuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah yg
mendalam antara lain :
- Berlimpah pahala dari Allah
- Kesegaran udara shubuh yg bagus u/ kesehatan mis u/
terapi penyakit TBC
- Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan

2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN
Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamis
atau Jum疸 beliau mencuci rambut2 halus di pipi,
selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi.
“Mandi pada hari JUm疸 adalah wajib bagi setiap orang2
dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakai
harum-haruman”(HR Muslim)

3. TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN
Sabda Rasul :
“Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelum
lapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidak
sampai kekenyangan)”(Muttafaq Alaih)

Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda :
Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dan
sepertiga lainnya untuk makanan. Bahkan ada satu
tarbiyyah khusus bagi ummat Islam dg adanya Puasa
Ramadhan untuk menyeimbangkan kesehatan

4. GEMAR BERJALAN KAKI
Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan
jihad, mengunjungi rumah sahabat, dan sebagainya.
Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir, pori2
terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Ini
penting untuk mencegah penyakit jantung

5. TIDAK PEMARAH
Nasihat Rasulullah : “Jangan Marah” diulangi smapai 3
kali. Ini menunujukkan hakikat kesehatan dan kekuatan
Muslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapi
lebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dan
kesehatan jiwa.
Ada terapi yang tepat untuk menahan marah :
- Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri maka
duduk, dan bila duduk maka berbaring
- Membaca Ta ‘awwudz, karena marah itu dari Syaithon
- Segeralah berwudhu
- Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan dan
menghilangkan kegundahan hati

6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA
Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yang
mendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar,
istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepada
Allah SWT

7. TAK PERNAH IRI HATI
Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa,
mentalitas maka menjauhi iri hati merupakan tindakan
preventif yang sangat tepat.

Sumber: Millist Muslim Blog

DIARE

Filed under: kesehatan

Oleh: dr Purnamawati Sp A (K), MM Ped

Diare merupakan gangguan pencernaan yang sering dialami oleh semua orang, termasuk anak-anak. Namun pada anak-anak, diare dapat menjadi keadaan yang mengancam jiwa karena mereka lebih rentan mengalami
dehidrasi dibandingkan orang dewasa. Selain itu diare juga merupakan penyebab utama terjadinya malanutrisi pada anak-anak.

Keadan-keadaan yang menjadi penyebab utama terjadinya diare adalah higiene yang buruk, sumber air yang tidak bersih dan sehat, lingkungan tempat tinggal yang padat, dan kecenderungan orang tua untuk
memberikan susu formula daripada ASI. Padahal anak yang mendapat ASI eksklusif jarang menderita diare.

Diare adalah gangguan usus yang ditandai dengan abnormalitas kandungan air dan konsistensi feses yang dikeluarkan. Diare juga berarti buang air besar dengan feses yang cair, minimal 3 kali dalam 24 jam. Diare
dapat disebabkan infeksi oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, ataupun parasit. Penyebab lainnya adalah konsumsi obat-obatan, terutama antibiotika, dan pemakaian pemanis buatan.

Diare biasanya akan berlangsung dalam 1 minggu (3 sampai 6 hari) dan kemudian akan sembuh dengan sendirinya. Diare kronis berlangsung lebih lama dari diare akut, dan biasanya merupakan petanda terdapat gangguan kesehatan yang lebih serius seperti infeksi kronis, gangguan absorpsi makanan/nutrien (malaabsorpsi) ataupun disebabkan oleh penyakit yang disebut sebagai Irritable Bowel Syndrome.

A. Macam - macam diare

secara klinis diare dibagi menjadi 4 tipe. Pembagian tersebut dengan
mudah dapat dilakukan pada saat melakukan pemeriksaan fisis dan tidak
diperlukan pemerksaan laboratorium. Selain itu tiap tipe diare
merefleksikan proses patologi dan perubahan fisiologis yang terjadi. 4
tipe tersebuat adalah:

1. Diare Berair Akut

Termasuk dalam kelompok ini adalah kolera. Berlangsung selama beberapa
jam hingga beberapa hari. Dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan
berat badan.

2. Diare Berdarah Akut

Selain menyebabkan dehidrasi, juga menyebabkan kerusakan usus,sepsis,

dan malnutrisi.

3. Diare Persisten

Berlangsung selama 14 hari atau lebih. Selain dehidrasi, dapat juga
terjadi malanutrisi dan infeksi non-usus.

4. Diare Dengan Malanutrisi Berat (marasmus dan kwashiorkor)

Selain dehidrasi, keadaan ini dapat menyebabkan infeksi sitemik yang
berat, gagal jantung, serta defisiensi mineral dan vitamin.

Tata laksana setiap tipe diare terutama bertujuan untuk mencegah dan
mengatasi komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi

Diare yang disebabkan oleh infeksi biasanya ditandai dengan gejala
awal berupa demam dan muntah, setelah itu baru timbul diare. Biasanya
anak akan merasa “tidak nyaman” tap! tidak merasa sakit. Infeksi oleh
bakteri ataupun parasit biasanya menyebabkan fesesnya bercampur darah.

Penyebab Diare

Penyebab paling sering diare antara lain:

• Virus.

Penyebab paling sering pada anak adalah Rotavirus dan Adenovirus.
Biasanya tertular akibat kontak langsung. Misalnya tangan kita
menyentuh anak yang sedang sakit diare, lalu tanpa mencuci tangan kita
memegang makanan atau minuman, sehingga makanan atau minuman tersebut
telah mengandung virus yang jika termakan dapat menimbulkan penyakit.

• Bakteri.

Penyebab paling sering antara Iain Campylobacter, Salmonella,
Shigella, dan Escherichia coli. Biasanya tertular dari makanan ataupun
minuman yang terkontaminasi bakteri. Beberapa bakteri menghasilkan zat
toksin yang menyebabkan sel usus halus memproduksi cairan melebihi
kemampuan usus besar untuk menyerap cairan, keadaaan tersebut yang
menyebabkan terjadinya diare.

• Parasit.

Antara Iain Giardia lamblia dan Cryptosporidium. Biasanya tertular
dari makanan ataupun minuman yang terkontaminasi parasit.

Laktosa, salah satu jenis gula yang terdapat dalam susu atupun produk
yang terbuat dari susu juga dapat menyebabkan diare pada beberapa
orang (Intoleransi laktosa).

Diare juga dapat terjadi akibat efek samping obat-obatan yang
dikonsumsi, terutama antibiotika. Penggunaan antibiotika yang tidak
rasional (misalnya pemberian antibiotika pada infeksi virus) justru
dapat mematikan kuman “baik” yang terdapat di dalam usus yang
berfungsi dalam proses pencernaan dan menyebabkan suatu keadaan yang
disebut sebagai Kolitis Pseudomembranosa, keadaan di mana lapisan
mukosa usus besar dilapisi oleh suatu selaput yang menghalangi fungsi
usus besar untuk mengabsorpsi cairan.

C. Diagnosis Diare

Dokter akan menanyakan beberapa hal mengenai gejala-gejala yang
terjadi dan menentukan apakah telah terjadi dehidrasi. Beritahu dokter
obat-obatan yang sedang dikonsumsi, termasuk obat yang dibeli bebas.

Dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan perut untuk melokalisasi
nyeri yang dirasakan, mendengarkan suara perut (bising usus) dengan
menggunakan stetoskop, dan melakukan pemeriksaan melalui anus jika
diperlukan. ]ika diarenya berat ataupun telah kronik, biasanya akan
dilakukan pemeriksaan feses.

D. Tata Laksana Diare

Untuk anak yang menderita diare dengan dehidrasi ringan, pemberian
makanan maupun susu dapat diteruskan seperti biasa, tapi mungkin
dengan jumlah yang lebih sedikit namun dengan frekuensi yang lebih
sering. Pemberian ASI harus diteruskan. Jika anak terlihat kembung
ataupun sering flatus setelah minum susu sapi ataupun susu formula,
segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengubah pola makan sementara
waktu.

Untuk anak dengan diare sedang masih dapat dirawat di rumah dengan
observasi ketat, pemberian cairan khusus, dan konsultasi dokter.
Dokter akan merekomendasikan jumlah dan lamanya penggunaan cairan
khusus yang diperlukan. Nantinya anak dapat kembali memulai pola
makannya seperti biasa lagi. Beberapa anak yang sedang menderita diare
tidak dapta mentoleransi susu sapi sehingga dokter menganjurkan untuk
menghentikan sementara pemberiannya. Pemberian AS! terus diberikan.

Berbagai CRO telah dibuat oleh pabrik obat untuk mengganti kehilangan
cairan dan elektrolit selama terjadinya diare. Cairan tersebut sangat
membantu dalam tata laksana diare. Utamakan menggunakan yang generik,
karena selain lebih murah, efektivitasnya sama dengan yang paten.
Selain itu orang tua dapat membuat sendiri CRO dengan cara
mencampurkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok teh gula kedalam 1 liter
air matang.

Cara Menyiapkan Cairan Rehidrasi Oral

1. Cuci tangan sebelum mambuat CRO.

2. Campurkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok teh gula atau 1
paket CRO dengan air matang.

3. Cuci tangan anda dan anak anda sebelum memberikan CRO.

4. Berikan anak CRO sesuai kebutuhan, sedikit-sedikit namun sering.

5. Berikan juga cairan pengganti lainnya, seperti ASI dan jus buah.

6. CRO tidak menghentikan diare, tapi mencegah terjadinya
dehidrasi. Diare akan berhenti sesuai perjalanan penyakitnya.

7. Jika anak muntah, tunggu 10 menit baru berikan CRO, biasanya
muntah akan berhenti.

Jika anak tidak muntah, pemberian CRO dapat diberikan hingga frekuensi
buang air kecil anak normal kembali.

Jika anak mengalarni diare dengan dehidrasi berat, cairan pengganti
mungkin diberikan melalui selang infus di ruang gawat darurat selama
beberpa jam untuk memperbaiki keadaan dehidrasi. Biasanya tidak
diperlukan perawatan di rumah sakit.

Pemberian antibiotika tidak akan menyembuhkan diare yang disebabkan
oleh virus yang merupakan penyebab tersering terjadinya diare.
Pemberian anti diare sebaiknya tidak digunakan karena justru
menyebabkan perjalanan penyakit berlangsung lebih lama dan pasien
menjadi carier yang dapat menularkan ke orang lain.

Selama penyakit ini berjalan secara alamiah berikut beberapa hal yang
harus dan yang tidak boleh dilakukan.

Harus dilakukan:

• Memperhatikan apakah terdapat tanda-tanda dehidrasi seperti,
berkurangnya frekuensi buang air kecil, tidak ada air mata saat
menangis, demam tinggi, mulut kering, berat badan turun, anak terlihat
sangat kehausan, lesu tidak bergairah, kelopak mata cekung.

• Laporkan dokter jika terdapat darah pada fesesnya ataupun
demam tinggi (> 39°C).

• Teruskan pemberian makan seperti biasa jika anak tidak
muntah. Namun berikanlah dalam jumlah yang lebih sedikit ataupun
berikan makanan yang tidak membuat perut anak merasa tidak enak.

• Berikan cairan pengganti khusus jika anak haus.

Tidak boleh dilakukan:

• Membuat sendiri cairan pengganti di rumah tanpa panduan yang
benar.

• Tidak memberikan anak makan saat lapar.

• Memberikan susu yang direbus, ataupun kaldu daging maupun
sup yang asin.

• Memberikan obat-obat “anti-diare”.

E. Konsultasi Dokter

Orang tua harus segera berkonsultasi dengan dokter apabila anak
berusia kurang dari 6 bulan atau memiliki gejala-gejala:

• Diare berlangsung lebih dari 1 minggu.

• Terdapat darah pada fesesnya.

• Muntah yang sering.

• Nyeri perut.

• Demam tinggi.

• Terlihat sangat lemah.

• Tanda-tanda dehidrasi, seperti:

* Frekuensi buang air kecil berkurang (kurang dari 6 popok/hari).

* Tidak ada air mata ketika menangis.

* Tidak mau minum.

* Mulut kering.

* Berat badan turun.

* Terlihat sangat kehausan.

* Terlihat mengantuk dan tidak responsif.

Sedangkan orang tua tidak perlu terburu-buru berkonsultasi dengan
DOKTER jika anak terlihat baik-baik saja meskipun disertai dengan
gejala-gejala:

• Frekuensi buang air besar yang sering ddan dengan feses yang
banyak.

• Sering flatus.

• Feses berwarna kuning ataupun hijau.

F. Pencegahan Diare

Beberapa hal dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya diare, antara lain:

• ASI eksklusif selama 6 bulan

• Sumber air bersih dan sanitasi yang baik.

• Imunisasi campak

• Mencuci tangan,. terutama sebelum menyentuh makanan
« Buang air besar di kakus.

• Gunakan produk terbuat dari susu yang telah dipasteurisasi
untuk membunuh bakteri.

• Jangan biarkan makanan pada suhu ruangan oleh karena dapat
merangsang pertumbuhan bakteri.

• Masaklah makanan dan air minuman hingga matang.

Sumber: Millist Ayah Bunda






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here