Mom & Baby Room

November 18, 2005

MEMAHAMI BAHASA SI BATITA

Filed under: Asih Asuh

“Bun, num…,” tahukah Anda maksud ucapan si batita ini? Atau ketika ia berkata, “Co jangan mam, Yah…,” apa yang terlintas di kepala Anda?
Memang tak mudah untuk memahami bahasa si batita, tetapi bukan berarti kita tak dapat belajar mengenal maknanya. Asal tahu saja, sejak awal usia batita, anak mulai mampu mengucapkan sebuah kata yang mempunyai arti. Persoalannya, si anak belum bisa mengucapkan kata tersebut dengan artikulasi yang baik seperti halnya orang dewasa. Makanya tak heran jika pengucapannya sering kali sepotong-sepotong, misalnya “minum” jadi “num” atau “pergi” jadi “gi”, dan lainnya.
Kemampuan berbahasa ini dipengaruhi oleh kematangan otak (khususnya limbik otak bahasa) dan pembentukan lingkungan terutama yang paling menentukan adalah orangtua. Semakin banyak orangtua memberikan stimulus kepada anak, maka efeknya akan berbanding lurus, anak akan semakin kaya kosakata. Jadi, semakin sering orangtua menanggapi ajakan anak berkomunikasi dan mengenalkan banyak konsep, juga benda, otomatis perkembangan bahasanya akan semakin maju.
Yang juga penting disadari, dalam rentang perkembangan seorang anak terdapat masa peka, termasuk masa peka perkembangan bahasa. Hanya di masa peka inilah, istilahnya dengan sekali sentuhan saja, apa yang kita tanam langsung berbuah. Sebaliknya, jika masa peka perkembangan bahasa ini terlewatkan begitu saja, maka orangtua akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan anak dengan kemampuan berbahasa yang prima. Lantas, bagaimana cara mengetahui masa peka tersebut? Jawabannya, hanya orangtua yang selalu berinteraksi dan memiliki kedekatan dengan anak yang mengetahuinya.
TAHAPAN PERKEMBANGAN BAHASA
* Usia 1 tahun:
Anak berada pada tahap linguistic speech yang sangat sederhana dan satu kata bisa mewakili banyak pemikiran lengkap. Anak sudah bisa mengucapkan satu atau dua kata, tetapi cuma sepotong, dan sepotong kata itu bisa punya arti panjang. Contoh, saat anak bilang “bun” dengan maksud Bunda, artinya mungkin saja, “Aku ingin digendong,” atau “Aku ingin ikut jalan-jalan bersama bunda.”
* Usia 2 tahun:
Sekalipun masih mirip dengan kemampuan di usia satu tahun, tetapi di usia ini anak sudah mampu menggabungkan dua kata atau lebih menjadi satu kalimat yang bermakna dan berarti. Contohnya, “Minum susu,” atau “Pergi sana,” hingga “Tidak susu. Putih saja.”
* Usia 3 tahun:
Anak sering melakukan hal yang sangat menarik perhatian karena ia tengah memasuki tahap membangkang, yaitu melakukan yang dilarang dan tidak melakukan yang diizinkan. Tak heran jika dalam perkembangan bahasanya, anak senang mengatakan sesuatu yang membuat orangtua cemas dan malu, seperti “bego”, “mampus”, dan kata-kata kasar lainnya. Apalagi jika ditunjang dengan seringnya orangtua melarang anak mengucapkan kata-kata tersebut tanpa penjelasan yang tepat. Belum lagi kosakata yang diperolehnya di usia ini semakin banyak dan tidak melulu hanya dari orangtua.
Selain itu, mulai usia ini juga umumnya anak mengeluarkan kalimat yang kadang terdengar janggal karena susunan kata-katanya tidak tepat alias terbalik-balik, sehingga apa yang diucapkannya tidak sesuai dengan maksud si anak.
Walaupun begitu, orangtua tak perlu cemas. Hal ini wajar terjadi pada batita, karena:
* Anak pertama kali baru bisa bicara menyambungkan lebih dari satu hingga dua kata hingga membentuk sebuah kalimat yang berarti.
* Anak pertama kali baru bisa berkomunikasi dengan orang lain melalui bahasa yang mempunyai arti dan bisa dipahami.
* Anak banyak mempunyai kosakata untuk dijadikan sebuah kalimat yang digunakannya saat berkomunikasi.
* Anak mulai memeroleh banyak informasi kata dan kalimat baru yang menarik.
* Kemampuan mengolah kata dalam bentuk kalimat hingga menjadi sebuah bahasa di otaknya masih sangat terbatas.
* Pengalaman berbahasanya masih sangat minim.
CARA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN BAHASA
Jika cara-cara di bawah ini dilakukan secara terus-menerus dan konsisten, maka anak akan termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya berbahasa dan berkomunikasi dan baik. Inilah beberapa hal yang penting diperhatikan orangtua saat berkomunikasi dengan si batita:
· Gunakan bahasa yang benar, bukan baby talk seperti, “Oh, mau mimi cucu, ya,” tapi, “Oh, mau minum susu, ya?”
· Gunakan kalimat dan kata yang tidak bermakna ganda. Contoh, “Jangan ke sana, bahaya!” Ingat, ke sana itu bisa berarti ke luar rumah, ke tempat cucian, ke dapur, dan ke banyak tempat lainnya. Lebih baik, katakan, “Jangan ke dekat kompor menyala, bahaya!”
· Gunakan selalu kalimat pendek.
· Hindari kata-kata kotor dan kasar jika tak ingin anak menirunya.
· Karena anak masih belajar, orangtua sebaiknya melantunkan bahasa dengan jelas, tidak cepat-cepat dan dengan gerak mulut (bibir dan lidah) yang tegas sehingga mudah dikenali dan diikuti anak.
· Jika menemukan kesalahan pada kata/kalimat dalam bahasa anak, segera luruskan dengan cara mengulang ucapannya secara benar.
5 “MASALAH” BAHASA & SOLUSINYA
1. Bicara terbalik-balik
Contoh, si kecil mengatakan, “Co jangan mam, Yah.” Orangtua tinggal meluruskan dengan mengucapkan kalimat yang sama dan arti yang sama tapi susunannya benar, “Ayah jangan makan bakso ini.” Dilanjutkan dengan memberikan jawaban, “Oke, Ayah tidak makan bakso ini.” Bisa juga dilanjutkan, “Bakso ini punyamu, ya.”
Jangan sekali-kali mengatakan ucapannya itu salah, “Salah itu. Yang benar seperti ini…” misalnya. Ingat, di usia batita, anak “hobi” membangkang (tahap negativistik), sehingga bisa terjadi si kecil malah akan terus mengulang yang salah. “Kenapa juga harus kayak gitu. Intinya, kan bisa dimengerti,” begitu batin si anak.
Jika dibiarkan, bahasa anak akan berkembang ke arah yang tidak tepat, membingungkan, sehingga tidak dipahami lingkungan dan menyulitkannya dalam bersosialisasi. Mungkin juga, anak akan mengalami disleksia, meskipun perjalanan sampai ke situ jauh sekali. Yang pasti, sesuatu yang salah jika dibiarkan akan membawa efek tak baik.
2. Bicara kasar atau jorok
Tak jarang kita mendengar anak batita mengatakan kalimat kasar seperti, “Bego lu” atau “Mampus lu”. Bisa jadi kata-kata kasar itu diperolehnya dari lingkungan bermain. Ketika orangtua tidak dapat mengawasi anak terus-menerus, tentu tak ada jaminan anak terhindar dari contoh kata-kata seperti itu, bukan?
Karenanya, diperlukan perhatian orangtua agar anak mengurangi pengucapan kata-kata tersebut dan tidak menjadikannya kebiasaan. Namun, jangan sekali-kali memvonis bahwa anak kasar, nakal, atau jorok, sekalipun kata-kata tidak sopannya dilontarkan di muka umum. Siapa tahu anak melakukan itu karena senang pada bunyinya, sementara ia belum tahu arti dan maknanya secara pasti.
Hanya saja, tidak tertutup kemungkinan anak mengucapkan kata-kata kasar atau kotor sebagai ungkapan kekesalan atau kemarahan. Bila demikian, orangtua mesti mengajarkan cara menyalurkan rasa marah dan kesal yang dapat diterima orang lain. Jangan lupa, jelaskan alasannya seperti, “Adek, ucapanmu itu bisa membuat orang lain sedih, lo.” Atau, “Kalau dikatain bego, apa kamu juga mau? Sedih enggak? Orang lain juga sama.”
Untuk anak yang belum tahu arti kata kasar dan kotor yang ia ucapkan, jelaskan makna yang sebenarnya, “Ade, tai itu kan kotoran yang keluar kalau kita pup. Jadi tidak baik diungkapkan pada orang lain.”
Tetapi jika ucapannya menggambarkan kondisi nyata apa adanya, semisal, “Enggak mau, Om bau,” karena si om habis berolaraga dan badannya bau keringat, tentu tidak apa-apa dan anak tak bisa disalahkan.
3. Salah makna kata atau kalimat
Sekalipun anak usia ini sudah mampu merangkaikan lebih dari 3 kata menjadi sebuah kalimat, akan tetapi sering kali kalimat tersebut maknanya salah. Bahkan tak jarang, satu kalimat yang diucapkan anak mempunyai arti yang bejibun, seperti “Bun, mam susu, lapar.”
Kondisi ini terjadi karena keterbatasan kemampuan anak untuk menggunakan kosakata yang ada di memorinya menjadi sebuah kalimat seperti yang diinginkannya. Yang harus dilakukan orangtua adalah segera meluruskannya detik itu juga, “Adek haus atau lapar? Setelah mendapat jawaban, katakan lagi, “Oh, Adek lapar. Jadi ingin makan, ya.”
4. Cadel.
Biasanya anak batita cadel saat mengucapkan bunyi: R jadi L, K jadi D, dan S dengan T sering terbalik-balik. Tetapi tiap anak variasinya berbeda-beda, lo.
Cadel terjadi bisa karena kurang matangnya koordinasi bibir dan lidah. Orangtua harus meluruskan dengan cara menuntun anak melafalkan yang benar seperti apa. Tetapi ingat, orangtua tak boleh memaksakan anak harus langsung bisa, apalagi jika saat itu belum tiba waktunya kematangan untuk mampu melakukan hal tersebut. Pemaksaan hanya membuat anak jadi stres, sehingga akhirnya dia malah mogok berusaha meningkatkan kemahiran berbahasanya.
Sebaliknya jika dibiarkan saja, mungkin anak akan terus berada dalam kecadelannya, sehingga akan semakin sulit diluruskan kalau dia sudah lewat masa tune in dalam proses kematangannya.
Sedangkan, cadel karena kelainan fisiologis semisal lidahnya pendek, tak punya anak tekak, atau langit-langitnya cekung. Penanganannya tentu harus dibawa ke dokter.
5. Mengucapkan hanya ekornya saja.
Yang ini memang sering terjadi pada anak batita. Contoh, “minum” jadi “num”, “pergi” jadi “gi”, “minta” jadi “ta”, “mau” jadi “u”, dan seterusnya. Kalau melihat logika dari teori barang masuk ke kotak, di situ jelas terlihat, barang yang masuk terakhir pasti akan jadi terdepan atau lebih dulu yang kita lihat. Nah, seperti itu pula yang terjadi pada seorang anak. Belum lagi, kemampuan otaknya untuk menangkap, mencerna, dan mengeluarkan apa yang dia miliki masih dalam tahap belajar. So, wajar dong kalau masih suka tersendat-sendat.
Gazali Solahuddin. Ilustrator: Pugoeh
Narasumber:
Ira Puspita, MSi.,
Pembantu Dekan I Bidang Akademik,
Universitas Gunadarma, Depok

September 13, 2005

Menu untuk Balita yang Sedang Sakit

Filed under: Baby, Asih Asuh, Food

Penyakit balita secara umum biasanya adalah gejala panas, diare, batuk, muntah. Tindakan terbaik adalah berkonsultasi ke dokter supaya lekas ditangani dengan obat yang tepat, sehingga cepat sembuh. Untuk mempercepat kesembuhan balita, bisa diimbangi dengan pengaturan makanannya.

UNTUK BALITA DENGAN GEJALA PANAS TINGGI

Penderita yang disertai panas tinggi kebutuhan gizinya meningkat. Hal ini disebabkan metabolisme tubuh meningkat, penyerapan zat-zat gizi menurun dan adanya faktor lain yang berhubungan dengan penyakitnya. Nafsu makan pun biasanya menurun.

Makanan hendaknya memenuhi syarat-syarat: (1) Konsistensinya lunak. Makanan pokok seperti nasi tim, kentang pure, bubur dan lain-lain. (2) Kebutuhan kalori meningkat, sebaiknya diberikan porsi kecil dan sering. (3) Sumber protein seperti susu, daging, hati, ikan, telur, tahu, tempe, dan kacang-kacangan diberikan lebih dari porsi normalnya. (4) Kebutuhan air diberikan lebih banyak, karena suhu lebih tinggi dari normal sehingga banyak terjadi penguapan melalui keringat. Sari buah sangat baik karena mengandung air, vitamin dan mineral. Berikan minuman lebih banyak dari biasanya. (5) Makanan minuman tidak boleh diberikan terlalu panas atau terlalu dingin.

UNTUK BALITA DENGAN GEJALA DIARE

Diare diartikan sebagai buang air besar tidak normal atau bentuk tinja encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya.

Penyebab diare ada beberapa faktor, yaitu: (1) Infeksi. Infeksi virus atau infeksi bakteri pada saluran pencernaan merupakan penyebab diare pada anak. (2) Malabsorpsi. Gangguan absorpsi biasanya terhadap zat-zat gizi yaitu karbohidrat (umumnya laktosa), lemak dan protein. (3) Makanan. Makanan basi, beracun, atau alergi terhadap makanan tertentu. (4) Faktor psikologis. Rasa takut, cemas (umumnya jarang terjadi pada anak).

Akibat diare (mencret), anak akan kehilangan banyak air dan elektrolit (dehidrasi) yang menyebabkan tubuh kekurangan cairan, gangguan gizi sebab masukkan makanan kurang sedang pengeluaran bertambah, dan hipoglikemia yaitu kadar gula darah turun di bawah normal.

Pengaturan makanannya secara umum adalah: (1) Cairan harus cukup untuk mengganti cairan yang hilang, baik melalui muntah maupun diare. Setiap kali buang air besar beri minum satu gelas larutan oralit atau larutan gula garam. (2) Berikan makanan yang rendah serat, cukup energi, protein, vitamin dan mineral. (3) Suhu makanan dan minuman lebih baik dalam keadaan hangat, tidak panas atau terlalu dingin. (4) Bentuk makanan lunak.

UNTUK BALITA DENGAN GEJALA PENYAKIT SALURAN PERNAPASAN

Penyakit saluran pernapasan yang dikenal adalah bronchitis, dan umumnya disebabkan virus, misalnya virus influenza. Selain juga karena cuaca dan polusi udara.

Mengatur makanannya dengan: (1) Banyak diberi minum, terutama sari buah-buahan, sebaiknya diberikan dalam keadaan hangat. (2) Makanan diberikan dalam keadaan lunak dan tidak merangsang. (3) Susu dapat diberikan dalam bentuk minuman atau campuran seperti sirup dan lain-lain. Bisa juga dibentuk makanan kecil seperti puding. (4) Hindari makanan yang digoreng.

UNTUK BALITA DENGAN GEJALA MUNTAH

Muntah adalah gejala dari beberapa penyakit antara lain keracunan makanan, infeksi appendiks, gula darah yang sangat rendah, dan lain-lain.

Syarat makanannya: (1) Berikan makanan lunak yang mudah dicerna, dalam porsi kecil tetapi bertahap dan sering. (2) Banyak cairan untuk mengganti cairan yang keluar, seperti sari buah yang segar dan susu campur buah supaya segar. (3) Cukup protein, mengingat karena penyakitnya ia membutuhkan peningkatan protein dibandingkan dengan kebutuhan biasa. Bisa diperoleh dari telur, susu, daging, ayam dan lain-lain. (4) Lemak perlu diberikan, untuk memberi rasa dan meningkatkan kalori. Tetapi berikan makanan yang mudah dicerna dan secukupnya, karena kelebihan lemak akan membuat mual.

UNTUK BALITA DENGAN GEJALA BATUK

Gejala batuk bisa bercampur dengan gejala lain, misalnya pada penyakit bronchitis yang disertai panas, demikian juga penyakit lain seperti flu dan sebagainya.

Pengaturan makanan yang perlu diperhatikan: (1) Kalau ada gejala panas, beri makanan lunak dan banyak cairan atau minum. (2) Nafsu makan yang menurun akibat batuk terus-menerus harus diimbangi makan yang cukup supaya kondisi tubuh membaik. (3) Untuk memudahkan pengaturan makannya, berikan porsi kecil tetapi sering dan bertahap supaya kebutuhan gizinya terpenuhi. (4) Cukup protein karena penyakit dengan gejala batuk membutuhkan protein lebih tinggi dari biasanya. (5) Jangan makan gorengan atau bumbu yang merangsang agar tidak menimbulkan batuk. Kurangi mengonsumsi yang terlalu manis dan bisa menimbulkan batuk seperti cokelat, permen, manisan dan minuman manis. (6) Setelah anak sembuh, kalau berat badannya turun perlu ditingkatkan konsumsi makanannya.

Asuhan: Tuti Soenardi

http://www.kompas.com/swara/index.htm

September 2, 2005

Kesulitan Makan Pada Anak

Filed under: Baby, Asih Asuh, kesehatan, Food

Upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. Optimalisasi tumbuh dan kembang Anak sejak dini adalah menjadi prioritas utama.

Sehingga, kita dapat mencegah atau mengetahui sejak dini gangguan dan kelainan pada anak. Salah satu masalah yang sering dialami adalah kesulitan pemberian makan pada anak yang secara langsung mengganggu tumbuh kembang anak.

Pemberian makan pada anak memang sering menjadi masalah buat orangtua atau pengasuh anak. Keluhan tersebut sering dikeluhkan orang tua kepada dokter yang merawat anaknya. Lama kelamaan hal ini dianggap biasa, sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari
penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut terjadi berkepanjangan. Akhirnya orang tua berpindah-pindah dokter dan berganti-ganti vitamin tapi tampak anak kesulitan makannya tidak membaik. Sering juga terjadi bahwa kesulitan makan tersebut dianggap dan diobati sebagai infeksi tuberkulosis yang belum
tentu benar diderita anak.

Faktor kesulitan makan pada anak inilah yang sering dialami oleh sekitar 25% pada usia anak, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Kesulitan makan pada anak sering membuat masalah tersendiri bagi orang tua, bahkan dokter yang merawatnya. Sebuah klinik perkembangan melaporkan jenis kesulitan makan terbanyak adalah anak yang hanya mau makanan lumat atau cair, kesulitan mengunyah dan menelan dan kebiasaan makan yang aneh dan ganjil.

Penelitian yang dilakukan di Jakarta menyebutkan pada anak prasekolah usia 4-6 tahun, didapatkan prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6%. Sebagian besar 79,2% telah berlangsung lebih dari 3 bulan.

II. DEFINISI

Kesulitan makan adalah merupakan suatu gejala dari berbagai penyakit atau gangguan fungsi tubuh, bukan merupakan suatu bentuk diagnosis atau penyakit tersendiri. Definisi kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau
mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap dipencernaan secara baik
tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.

Palmer mendifinisikan masalah makan atau penolakan terhadap makanan tertentu sebagai akibat disfungsi neuromotorik, gangguan saluran cerna atau factor psikososial yang mempengaruhi makan atau kombinasi dua atau lebih penyebab tersebut.
Peneliti lain membuat definisi bahwa masalah makan terjadi bila anak hanya mampu menghabiskan kurang dari 2/3 jumlah makanannya sehingga kebutuhan nutrien tidak terpenuhi.

Beberapa tampilan klinis kesulitan makan pada anak dapat berupa :

a. Memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk di mulut
anak.
b. Makan berlama-lama dan memainkan makanan.
c. Sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut.
d. Memuntahkan atau menumpahkan makanan
e. Menepis suapan dari orangtua
f. Tidak mengunyah tetapi langsung menelan makanan
g. Kesulitan menelan, sakit bila mengunyah atau menelan makanan

III. PENYEBAB
Penyebab kesulitan makanan itu sangatlah banyak dan luas. Semua gangguan fungsi
organ tubuh dan penyakit bisa berupa adanya kelainan fisik, maupun psikis dapat
dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Kelainan fisik dapat berupa
kelainan organ bawaan atau infeksi bawaan sejak lahir dan infeksi didapat dalam usia anak.

A.GANGGUAN PENCERNAAN

Gangguan pencernaan pada anak tampaknya sebagai penyebab paling penting dalam kesulitan makan. Baik karena gangguan saluran cerna itu sendiri atau karena gangguan fungsi tubuh atau penyakit lainnya yang dapat mengganggu saluran cerna. Gangguan saluran cerna yang dapat terjadi adalah imaturitas saluran cerna, alergi
makanan, intoleransi makanan, gastroesofagial refluks dan sebagainya.

Gastroesofageal refluks adalah masuknya kembali isi lambung ke bagian yang lebih
atas dari saluran cerna. Tampilan klinis yang terjadi adalah muntah yang sering hilang
timbul.

Gangguan pencernaan tersebut kadang tampak ringan seperti tidak ada gangguan.
Tanda dan gejala yang menunjukkan adanya gangguan pencernaan berikut ini yang
dapat menyertai keluhan kesulitan makan pada anak.

Perut kembung, sering “cegukan”, sering buang angin.
Sering muntah atau seperti hendak muntah bila disuapin makan. Gampang timbul muntah terutama bila menangis, berteriak, tertawa, berlari atau bila marah.
Sering nyeri perut sesasaat, bersifat hilang timbul.
Sulit buang air besar (bila buang air besar “ngeden”, tidak setiap hari buang air besar,
atau sebaliknya buang air besar sering (>2 kali/perhari).
Kotoran tinja berwarna hitam atau hijau, berbentuk keras, bulat (seperti kotoran kambing) atau cair disertai bentuk seperti biji lombok, pernah ada riwayat berak darah.
Gangguan tidur malam : malam rewel, kolik, tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur
bolak balik dari ujung ke ujung lain tempat tidur.
Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau

Biasanya disertai gangguan kulit : kulit kering, timbul bintik-bintik dikulit, biang
keringat, bercak warna putih (seperti panu) dan sebagainya

Tanda dan gejala tersebut di atas sering dianggap biasa oleh orang tua bahkan
banyak dokter atau klinisi karena sering terjadi pada anak. Padahal bila di amati secara cermat tanda dan gejala tersebut merupakan manifestasi adanya gangguan pencernaan, yang mungkin berkaitan dengan kesulitan makan pada anak.

B. INFEKSI AKUT

Infeksi akut adalah infeksi yang mengganggu tubuh kita dalam waktu singkat atau kurang dari 7 hingga 14 hari. Infeksi akut yang mengganggu proses menelan dan proses makan di antaranya adalah : Infeksi Saluran napas Akut, infeksi pada rongga mulut (sariawan, jamur dll), infeksi saluran pencernaan, atau penyakit infeksi akut lainnya. Adalah wajar bila anak mengalami infeksi akut seperti tersebut di atas maka terjadi kesulitan makan. Biasanya dengan pemberian vitamin nafsu makanpun tidak banyak membantu masalah kesulitan makan tersebut. Hal tersebut hanya terjadi dalam waktu 5 hingga 7 hari, akan membaik dengan sendirinya setelah infeksi tersebut teratasi. Malahan setelah fase konvalesen atau penyembuhan akan terjadi catch up growth atau mengejar kekurangan sebelumnya. Makanya sehabis sakit biasanya nafsu
makan akan meningkat pesat sekitar 3 sampai 7 hari, tetapi setelah itu nafsu
makan tersebut akan normal lagi.

C. INFEKSI KRONIS

Sedangkan infeksi kronis biasanya berlangsung lebih dari 2 minggu bahkan bisa berbulan-bulan. Pada anak infeksi kronis yang sering dicurigai adalah penyakit Infeksi
Saluran Kencing, Tuberculosis (TBC), infeksi parasit Cacing dan sebagainya.

1. INFEKSI SALURAN KENCING

Gejala yang paling khas adalah bila kencing meringis, geli atau menangis karena nyeri atau rasa kurang enak. Biasanya disertai nafsu makan berkurang, sulit buang air besar atau diare, muntah dan panas badan. Diagnosis pasti infeksi saluran kencing adalah dengan pemeriksaan kultur urine bukan pemeriksaan urine
biasa (sedimen urine).
Pengobatannya tergantung hasil kultur urine dan senitifitas kumannya.

2. INFEKSI PARASIT CACING

Infeksi parasit cacing dapat juga menyebabkan gangguan saluran cerna yang akhirnya dapat mengganggu nafsu makan pada anak. Biasanya terjadi pada anak di
atas usia 3 tahun. Untuk memastikan infeksi parasit cacing ini harus diperiksa melalui pemeriksaan tinja.

3. PENYAKIT TUBERKULOSIS

Penyakit TBC sering dianggap biang keladi penyebab utama kesulitan makan pada
anak. Diagnosis pasti TBC anak sulit oleh karena penemuan kuman Micobacterium
TBC (M.TBC) pada anak tidak mudah. Cara-cara lain untuk pemeriksaan laboratorium darah secara bakteriologis atau serologis masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat dipakai secara praktis - klinis.

Karena kesulitan diagnosis tersebut sering terjadi overdiagnosis atau underdiagnosis. Overdiagnosis artinya diagnosis TBC yang diberikan pada anak oleh dokter terlalu berlebihan atau terlalu cepat mendiagnosis dengan data yang minimal walaupun anak belum tentu menderita TBC. Underdiagnosis artinya penegakkan diagnosis TBC terlambat karena kemiripan gejala TBC dengan penyakit lainnya.

Apabila terjadi overdiagnosis TBC pada anak terdapat konsekuensi yang tidak ringan dihadapi oleh si anak, karena anak harus mengkonsumsi 2 atau 3 obat sekaligus minimal 6 bulan. Bahkan kadangkala diberikan lebih lama apabila dokter
menemukan tidak ada perbaikan klinis. Padahal obat TBC dalam jangka waktu lama beresiko mengganggu fungsi hati,persyarafan telinga dan organ tubuh lainnya.

Sering terjadi anak dengan keluhan alergi pernapasan dan pencernaan yang disertai berat badan yang kurang dan sulit makan diobati sebagai penyakit Tuberkulosis (TBC) paru yang harus minum obat selama 6 bulan hingga 1 tahun. Padahal belum tentu anak tersebut mengidap penyakit tuberculosis. Bahkan orang tua heran saat anaknya divonis dokter mengidap penyakit TBC padahal tidak ada seorangpun di rumah yang mengalami penyakit TBC. Overdiagnosis dan overtreatment pada anak dengan gejala alergi tersebut sering terjadi karena keluhan alergi dan TBC hampir sama, sementara mendiagnosis penyakit TBC tidaklah mudah.

Diagnosis Tuberkulosis anak menurut Pertemuan Dokter Anak pulmunologi tahun 1992 harus dengan pengamatan seksama tentang adanya
Gejala klinis
Kontak erat serumah penderita TBC (dipastikan dengan dengan pemeriksaan dahak positif).
Pemeriksaan yang harus dilakukan adalah Foto polos dada (roentgen)
tes mantouxt (positif : > 15mm bila sudah BCG, Positif > 10 mm bila belum BCG).

Sering terjadi hanya dengan melakukan pemeriksaan satu jenis pemeriksaan saja, anak sudah divonis dengan penyakit TBC. Seharusnya pemeriksaan harus dilakukan secara lengkap dan teliti seperti di atas
Karena sulitnya mendiagnosis TBC pada anak dan kosekuensi lamanya pengobatan
maka bila meragukan lebih baik dikonsultasikan atau dikonfirmasikan ke Dokter
Spesialis Paru Anak (Pulmonologi Anak).

D. ALERGI MAKANAN

Alergi makanan pada anak terutama bila mengganggu pencernaan tampaknya sering mengakibatkan gangguan kesulitan makan pada anak. Meskipun alergi belum banyak diungkapkan oleh para klinisi sebagai penyebab kesulitan makan pada anak, tetapi penulis menganggap alergi adalah sebagai penyebab yang paling
sering dan penting terhadap kesulitan makan pada anak sehingga akan dibahas dalam bab khusus.

Gangguan pencernaan yang disebabkan karena alergi makanan sangatlah bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.

E. GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU

Beberapa gangguan perkembangan dan perilaku tertentu pada anak sering berkaitan dengan gangguan makan atau kesulitan makan. Gangguan tersebut meliputi Autism, ADHD, dan gangguan lainnya. Gangguan perilaku tersebut sering berhubungan dengan gangguan pencernaan. Menurut teori “Gut Brain Axis” gangguan pencernaan akan mengeluarkan zat semacam morfin yang dapat mengganggu otak yang dapat mengakibatkan meningkatnya ganggua Atism, ADHD
dan sebagainya.

Sedangkan gangguan pencernaan itu sendiri dapat menyebabkan kesulitan makan pada anak.

F.KELAINAN BAWAAN

Kelainan bawaan adalah gangguan fungsi organ tubuh atau kelainan anatomis organ tubuh yang terjadi sejak pembentukan organ dalam kehamilan.

Diantaranya adalah kelainan mulut, tenggorok, dan esofagus: sumbing, lidah besar,
tenggorok terbelah, fistula trakeoesofagus, atresia esofagus, Laringomalasia, trakeomalasia, kista laring, tumor, tidak ada lubang hidung, serebral palsi, kelainan paru, jantung, ginjal dan organ lainnya sejak lahir atau sejak dalam kandungan.

G. KELAINAN HORMONAL DAN METABOLIK

Meskipun jarang kelainan metabolik dan hormonal pada anak dapat menyebabkan
gangguan atau kesulitan makan pada anak. Kelainan tersebut meliputi hipotiroid, intoleransi fruktosa heriditer, asidemia organic, gangguan atau kelainan ginjal, gangguan hormonal, gangguan enzim tertentu din pencernaan dan sebagainya.

H. KELAINAN NEUROLOGI ATAU SISTEM SUSUNAN SARAF PUSAT

Bila fungsi otak tersebut terganggu maka kemampuan motorik untuk makan akan terpengaruh. Gangguan fungsi otak tersebut dapat berupa infeksi, kelainan bawaan
atau gangguan lainnya seperti serebral palsi, miastenia gravis, poliomielitis. Bila kelainan susunan saraf pusat ini terjadi karena kelainan bawaan sejak lahir biasanya disertai dengan gangguan motorik atau gangguan perilaku dan perkembangan lainnya.

I. GANGGUAN FUNGSI ORGAN DIDAPAT

Gangguan fungsi fungsi pencernaan dapat terjadi karena gejala sisa akibat sebelumnya terjadi proses atau penyakit seperti infeksi (ensefalitis/infeksi otak), akibat operasi bedah (pemotongan usus) atau trauma atau kecelakaan di organ perut yang berat.

J. GANGGUAN PSIKOLOGIS

Ganguan psikologis sering dianggap sebagai penyebab kesulitan makan pada anak. Hal ini akan dibahas pada bab khusus berikut ini.
Diantara beberapa penyebab kelainan tersebut tampaknya yang paling sering terjadi adalah alergi, infeksi akut dan kronis, gangguan pencernaan dan psikologis,
sedangkan penyebab lainnya sangat jarang terjadi.

IV. GANGGUAN SALURAN CERNA PENYEBAB GANGGUAN PERKEMBANGAN
DAN PERILAKU ANAK

Penyebab tersering kesulitan makan pada Anak tampaknya adalah gangguan saluran cerna. Belakangan terungkap teori “Gut Brain Axis” bahwa gangguan saluran cerna menimbulkan gangguan fungsi otak.
Karena gangguan fungsi otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi, gangguan tidur, ADHD hingga autism

Sehingga sering anak dengan kesulitan makan yang disebabkan karena gangguan saluran cerna tampak timbul gejala gangguian perkembangan dan perilaku seperti di bawah ini :

GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
usia < 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak
berlebihan, usia > 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala ke belakang-membentur benturkan kepala.
Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (”smackdown”},
sering memanjat.

GANGGUAN TIDUR (biasanya MALAM-PAGI) gelisah/bolak-balik ujung ke ujung,
Bila tidur posisi “nungging”, berbicara/tertawa/berteriak dlm tidur, sulit tidur,
malam sering terbangun/duduk,mimpi buruk, “beradu gigi”

AGRESIF sering memukul kepala sendiri,orang atau benda di sekitarnya. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)

GANGGUAN KONSENTRASI/ GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN: cepat bosan thd sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi, sulit belajar lama, sering
tidak teliti, sulit mendengarkankan pelajaran sekolah,

GANGGUAN EMOSI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras
kepala

GANGGUAN KOORDINASI :
BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK tidak sesuai usia. Berjalan sering terjatuh
dan terburu-buru, sering menabrak, jalan jinjit, duduk leter W/kaki ke belakang.

KETERLAMBATAN BICARA
Tidak mengeluarkan kata umur < 15 bulan, hanya 4-5 kata umur 20 bulan, kemampuan bicara hilang dari yang sebelumnya bisa, biasanya > 2 tahun membaik.

IMPULSIF : banyak bicara/tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan
orang lain

HIPERAKTIF (ADHD/ADD)
Memperberat gejala AUTISME (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan
sosialisasi)

V. KOMPLIKASI

Kesulitan makan pada anak yang terjadi dalam jangka waktu lama dan sering berulang dapat menimbulkan pengaruh tidak baik pada berbagai organ dan fungsi
tubuh. Gangguan tersebut dapat mengakibatkan komplikasi beberapa penyakit dan kondisi tertentu, diantaranya Kurang Kalori Protein (KKP), marasmik, kwasiorkor,
gangguan mental dan kecerdasan dan sebagainya.

A. KURANG KALORI PROTEIN (PROTEIN ENERGY MALNUTRITION).

Kesulitan makan pada anak yang berkepanjangan bisa mengakibatkan kekurangan
protein, karbohidrat dan beberapa vitamin dan mineral. Kekurangan beberapa zat gizi tersebut akan membuat anak jatuh dalam keadaan Kurang kalori Protein (KKP). KKP merupakan penyakit gangguan gizi yang cukup penting di Indonesia. Di Indonesia angka kejadiannya cukup tinggi pada anak di bawah 5 tahun. Untuk menentukan klasifikasi berat ringannya KKP dapat menggunakan beberapa cara, yang paling sewring digunakan dan cukup mudah adalah dengan melihat berat badan dan umur anak disesuaiakan dengan grafik KMS (Kartu Menuju Sehat).

Gejala klinis KKP sangat bervariasi tergantung derajat dan lamanya kekurangan energi dan protein, umur pemderita dan adanya gejala kekurangan vitamin dan mineral lainnya. Beberapa bentuk penyakit Kekurangan Kalori Protein pada anak adalah KKP ringan, Marasmik dan kuasiorkor.

KWASHIORKOR

Kwashiorkor adalah gangguan gizi karena kekurangan protein biasa sering disebut usung lapar. Gejala yang timbul diantaranya adalah tangan dan kaki bengkak, perut
buncit, rambut rontok dan patah, gangguan kulit. Terdapat juga gangguan perubahan mental yang sangat mencolok. Pada umumnya penderita sering rewel
dan banyak menangis. Pada stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.

MARASMIK

Marasmik adalah gangguan gizi karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul
diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah dan kemerahan, gangguan kulit, gangguan pencernaan (sering diare), pembesaran hati dan sebagainya. Anak tampak sering rewel dan banyak menangis meskipun setelah makan, karena masih merasa lapar. Pada stadium lanjut yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.

B. KEKURANGAN VITAMIN DAN MINERAL

Kesulitan makan yang berlangsung lama mengakibatkan kekurangan vitamin dan mineral tertentu. Kekurangan zat vitamin dan mineral tertentu mengakibatkan gangguan dan kelainan tertentu pula pada tubuh anak.
Karena begitu banyaknya jenis vitamin dan mineral dan begitu luasnya fungsi dan organ tubuh yang terganggu maka jenis gangguannya sangat banyak dan luas.
Adapun beberapa contoh penyakit kekurangan vitamin dan mineral tersebut adalah:

C. ANEMIA GIZI

Anemia gizi adalah kurangnya kadar Hemoglobin pada anak yang disebabkan karena kurangnya asupan zat Besi (Fe) atau asam Folat. Gejala yang bisa terjadi adalah anak tampak pucat, sering sakit kepala, mudah lelah dan sebagainya.
Keadaan dapat terjadi pada anak dengan kesulitan makan karena kurangnya asupan gizi dan makanan tidak memenuhi gizi seimbang.
Sumber makanan kaya besi yang mudah terserap umumnya banyak terdapat pada
protein hewani seperti hati, daging dan ikan.

V. PENANGANAN

Pendekatan dan penanganan terbaik pada kasus kesulitan makan pada anak bukanlah dengan pemberian vitamin nafsu makan, tetapi harus dilakukan pendekatan yang cermat, teliti dan terpadu.

Pemberian vitamin nafsu makan hanya akan mengaburkan penyebab Kesulitan makan tersebut. Sering terjadi orang tua dalam menghadapi masalah kesulitan makan pada anaknya telah berganti-ganti dokter dan telah mencoba berbagai
vitamin tetapi tidak kunjung membaik.

A. PASTIKAN APAKAH BETUL ANAK MENGALAMI KESULITAN MAKAN

Langkah awal yang harus dilakukan orang tua adalah mendeteksi apakah betul anak telah mengalami kesulitan makan pada anak. Untuk itu orang tua harus memahami apakah kesulitan makan pada anak itu. Hal ini sudah diungkapkan pada bab sebelumnya. Bila memang terjadi kesulitan makan pada anak sebaiknya orang
tua harus segera berkonsultasi dengan dokter.

B. IDENTIFIKASI PENYEBAB

Kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh
anak. Jangan terlalu mudah menganggap penyebabnya karena masalah psikologissebelum kita menyingkirkan penyebab fisik atau organik lainnya. Penyebab fisik atau organic kesulitan makan tampaknya yang sering adalah karena gangguan saluran cerna (alergi makanan , celiac disease, intoleransi makanan, dll),. Sedangkan penyebab yang lain relatif sangat jarang terjadi.
Kesulitan makan kalau tidak cepat di atasi akan menimbulkan komplikasi yang lebih berat baik karena penyebab penyakit tersebut atau karena akibat gangguan
makan itu sendiri. Kesulitan makan yang terjadi sejak lahir atau bayi usia muda maka penyebabnya kemungkinan adalah kelainan bawaan, cacat bawaan atau alergi. Bila Penyebabnya karena alergi makanan maka harus diidentifikasi penyebabnya sedini mungkin. Harus dievaluasi semua jenis makanannya termasuk
susu formula yang diminum.

Bila terdapat kesulitan makan yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu sebaiknya
harus segera berkonsultasi dengan dokter keluarga atau dokter anak yang biasa merawat. Dengan penanganan awal namun kesulitan makan tidak membaik hingga lebih 1 bulan disertai dengan gangguan kenaikkan berat badan dan belum bisa dipastikan penyebabnnya maka sebaiknya dilakukan penanganan beberapa disiplin ilmu. Koordinator penanganannya adalah dokter anak atau dokter tumbuh kembang anak. Dokter anak yang merawat harus mengkonsultasikan ke dokter spesialis anak dengan minat subspesialis tertentu untuk menyingkirkan kelainan organic atau medis sebagai penyebab kesulitan makan tersebut. Bila dicurigai adanya latar belakang psikologis maka kelainan makan tersebut harus dikonsultasikan ada
psikiater atau psikolog anak.

C. TANGANI PENYEBAB UTAMANYA

Penanganan kesulitan makan yang paling baik adalah dengan mengobati atau menangani penyebab tersebut secara langsung. Mengingat penyebabnya demikian luas dan kompleks bila perlu hal tersebut harus ditangani oleh beberapa disiplin ilmu tertentu yang berkaitan dengan kelainannya.

Bila dalam waktu satu bulan kesulitan makan tidak kunjung membaik disertai penurunan atau tidak meningkatnya berat badan dan belum ditemukan penyebabnya kita harus waspada. Sebelum menjadi lebih berat dan timbal komplikasi yang lebih berat maka bila perlu dalam penanganan kesulitan makan tersebut harus melibatkan berbagai disilpin ilmu kedokteran. Dokter spesialis dengan peminatan tertentu yang sering berkaitan dengan hal ini adalah : Dokter Spesialis Anak minat gizi anak, tumbuh kembang anak, alergi anak, neurologi anak
atau psikiater anak, psikolog anak, Rehabilitasi Medis, dan beberapa subspesialis lainnya. Bila masalah gangguan pencernaan cukup menonjol maka sebaiknya berrkonsultasi dengan dokter spesialis anak gastroenterology, bila masalah alergi
yang dominan maka konsultasi ke dokter alergi anak demikian seterusnya.

Amat penting untuk melibatkan semua orang yang berkaitan dengan pemberian makan pada anak seperti orang tua, pengasuh, atau anggota keluarga lainnya, sehingga mereka harus menerima informasi yang jelas dan rinci tentang penanganan masalah tersebut.

Penyebab kesulitan makanan demikian kompleks dan luas, kadang penyebabnya lebih dari satu bahkan satu sama lain saling mempengaruhi dan memberatkan.
Sehingga sering terjadi kebingungan pada orang tua, karena beberapa diagnosis dan penanganannya sangat berbeda atau bertentangan antara dokter satu dengan lainnya. Perbedaan ini terjadi karena kurangnya komunikasi antara dokter yang merawat atau mungkin juga sering terjadi penanganan penyakit anak yang ditangani secara sepotong-sepotong. Paling ideal dalam menangani kasus seperti ini adalah dengan cara holistik, dimana semua yang dicurigai sebagai penyebab dicari dan ditangani secara tuntas secara bersamaan. Dokter yang harus merawat melakukan komunikasi satu sama lainnya, baik melalui rekam medis (catatan penderita) atau hubungan langsung.

Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik, dan lain-lain. Dalam beberapa kasus, kesulitan makan pada anak bisa disembuhkan hanya dengan mengganti peralatan makan seperti dot, botol, sendok, dan sebagainya, yang sesuai dengan kondisi fisiologis anak. Kesulitan makan yang bukan akibat
gangguan fisik, bisa dicegah orangtua sedini mungkin.

Pemberian vitamin tertentu sering dilakukan oleh orang tua atau dokter pada kasus kesulitan makan pada anak. Menurut penulis tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah, bila tidak disertai dengan mencari penyebabnya. Kadangkala pemberian vitamin justru menutupi penyebab gangguan tersebut, kalau penyebabnya tidak tertangani tuntas maka keluhan tersebut terus
berulang. Bila penyebabnya tidak segera terdeteksi maka anak akan tergantung dengan pemberian vitamin tersebut, padahal bila kita tidak waspada terdapat beberapa akibat dari pemberian obat-obatan dan vitamin dalam jangka waktu yang
lama.

D. IDENTIFIKASI KOMPLIKASI YANG TERJADI

Setelah memastikan adanya kesulitan makan pada anak dan mencari penyebabnya,
selanjutnya langkah yang terpenting adalah mendeteksi adakah komplikasi yang ditimbulkan oleh kesulitan makan pada anak tersebut.

Kesulitan makan yang berkepanjangan akan mengakibatkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anak yang diakibatkan adanya kekurangan asupan gizi berupa kekurangan kalori, protein, vitamin dan beberapa mineral. Tahap awal dalam identifikasi tersebut yang paling sensitif adalah memantau berat badan, tinggi badan atau ukuran parameter pemantauan status gizi lainnya seperti lingkar lengan atas, lingkar kepala dan sebagainya.

Bila terdapat gangguan pada kenaikan berat badan maka kasus kesulitan makan tersebut dicegah agar tidak lebih berkepanjangan dan harus segera ke dokter. Selanjutnya orang tua harus mendapat informasi dari dokter apakah sudah terdapat komplikasi pada anak. Untuk memantau komplikasi yang terjadi kita harus
mengetahui tanda dan gejala yang mungkin terjadi pada anak (lihat bab komplikasi).

Berbagai cara dan upaya telah dilakukan oleh orang tua, dokter ataupun klinisi lainnya dalam mengatasi kesulitan makan pada anak. Tindakan paling sering dilakukan adalah pemberian vitamin, obat perangsang nafsu makan bahkan sering
dilakukan pemberian obat tradisional.

VI.PEMBERIAN VITAMIN, OBAT DAN RAMUAN TRADISIONAL

Penanganan kesulitan makanan yang sering terjadi adalah dengan pemberian vitamin, obat atau ramuan tradisional. Pemberian tersebut kadang berhasil tetapi sering juga tidak berpengaruh terhadap perbaikkan kesulitan makan tersebut.

1. Pemberian Vitamin

Para orang tua bahkan beberapa dokter masih mempunyai kebiasaan bahwa untuk mengatasi kesulitan makan pada anak adalah memberikan vitamin penambah nafsu
makan tanpa memperhatikan penyebab kesulitan makan itu sendiri. Cara tersebut
sebenarnya tidak menyelesaikan masalah, karena bila penyebabnya tidak ditangani
dengan benar maka bila vitamin tersebut habis maka anak kembali akan tetap mengalami sulit makan. Bahkan banyak kasus didapatkan dengan berganti-ganti
beberapa vitamin kemampuan makan anak tidak kunjung membaik.
Pemberian vitamin memang berguna dan dibutuhkan bila memang asupan beberapa
vitamin dan mineral tidak mencukupi terutama pada anak dengan berat badan yang
kurang. Hal ini mungkin cukup bermanfaat sehingga mencegah anak mengalami kekurangan vitamin dan mineral tertentu yang dapat menyebabkan gejala tertentu.

Pemberian vitamin pada anak yang sehat dengan berat badan yang bagus dan asupan makanan yang baik tidak terlalu penting, karena kebutuhan terhadp vitamin
dan mineralnya sudah tercukupi dari susu dan makanannya.

Harus dipahami bahaya kelebihan vitamin atau mineral yang sering disebut megavitamin dan megamineral. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi organ tubuh kita terutama pencernaan, hati dan ginjal. Bahkan dilaporkan beberapa kasus
meninggal dunia karena Megavitamin dan megamineral, terutama pada anak. Hal ini terjadi karena kelebihan vitamin dan mineral tertentu, seperti vitamin A, vitamin E atau Magnesium dan sebagainya

Pemberian vitamin tertentu seperti vitamin C dosis tinggi dan vitamin B pada orang tertentu seperti penderita gastritis (sakit lambung/mag), atau penderita alergi dapat menimbulkan efek samping baru atau memperberat penyakit yang ada
sebelumnya. Pernah dilaporkan kasus pada orang tertentu dapat terjadi alergi vitamin B. Sebaiknya memberikan vitamin sesuai dosis yang tertera, tidak menggabungkan sekaligus beberapa vitamin. Lebih baik bila berkonsultasi dengan dokter dalam konsumsi vitamin tersebut, terutama pada anak atau bayi. Lebih ideal bila asupan vitamin tersebut berasal langsung dari bahan makanan sayur atau buah.

2. PENGGUNAAN OBAT PERANGSANG NAFSU MAKAN

Pemberian obat-obatan perangsang nafsu makan pada anak tidak jarang diberikan oleh dokter atau klinisi lain yang diberikan pada anak dengan kesulitan makan.
Terdapat beberapa macam obat penambah nafsu makan yang justru dapat menimbulkan masalah baru, karena malahan dapat mengganggu tubuh dan kesehatan anak. Beberapa obat penambah nafsu makan dapat mengganggu ginjal, hati, pertumbuhan tulang atau dapat menurunkan daya tahan tubuh. Peneliti lainnya menemukan pemberian obat-obatan nafsu makanan pada anak ternyata juga bisa mengubah perilaku anak menjadi hiperaktif, agresif, sangat sensitif dan gampang emosi. Penggunaan obat-obat tersebut dalam jangka waktu lama sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter.

3. PENGGUNAAN RAMUAN TRADISIONAL

Pengobatan tradisional dengan menggunakan zat herbal atau tumbuh-tumbuhan telah diyakini oleh beberapa pakar obat tradisional. Disamping aman bagi tubuh obat tradisional juga relatif lebih murah. Meskipun relatif aman pemberian ramuan tradisional harus hati-hati terutama anak di bawah 1 tahun. Sebaiknya pemberian tersebut harus dikonsultasikan kepada dokter anak yang merawat. Sampai sejauh ini penelitian ilmiah tentang khasiat obat tradisional untuk pengobatan kesulitan makan pada anak masih belum banyak dilakukan. Tetapi terdapat beberapa penelitian yang menunjukkan kandungan dan khasiat dari zat aktif obat tradisional
tersebut yang dapat mempengaruhi fungsi saluran cerna dan fungsim organ tubuh lainnya.

VII. PEDOMAN UMUM PENANGANAN KESULITAN MAKANAN

Selain mengatasi penyebab kesulitan makan sesuai dengan penyebab, harus ditunjang dengan cara pemberian makan yang sesuai untuk anak dengan kesulitan makan pada anak. Karena anak dengan gangguan makan kebiasaan dan perilaku makannya berbeda dengan anak yang sehat lainnya. Di bawah ini terdapat pedoman umum tentang cara penaganan kesulitan makan tersebut.

1. CARA PEMBERIAN MAKAN PADA ANAK DENGAN KESULITAN MAKAN
Cara pemberian makan yang baik dan benar sangat berpengaruh terhadap selera makan pada anak. Berikut ini terdapat beberapa cara dan petunjuk untuk mengatasi kesulitan makan pada anak.

Beri jumlah makanan secara bertahap sedikit demi sedikit tapi sering, jangan terlalu bernafsu untuk memberi sekaligus banyak pada anak dengan masalah pencernaan.

Bila menyuruh makan pada anak harus dengan suara lemah lembut dan dengan pendekatan yang baik tanpa memaksa. Jangan dengan perasaan emosi, marah atau dengan nada tinggi dan bersifat menekan.

Bila sudah tiba saat jam makan tapi anak sedang asyik bermain, jangan langsung dihentikan mendadak permainan si anak. Cobalah anak untuk diingatkan sebelumnya, misalnya berkata dengan lembut : sepuluh menit lagi permainannya harus berhenti ya. karena adik harus makan siang !..

Buatlah suasana makan itu menyenangkan dengan pembicaraan yang menarik bagi
anak. Kurangi pembicaraan mengenai makan itu sendiri. Suasana yang “mencintai
dan mendukung” amat diperlukan. Terimalah bila anak tidak menghendaki suatu jenis makanan tertentu, tetapi jelaskan nutrisi yang terkandung dalam makanan tersebut tanpa terkesan ‘memaksa’.

Sajikan makanan-makanan sederhana, makanan yang mudah dikenali. Anak usia kanak-kanak awal ini biasanya ingin mengetahui apa yang dimakannya dan menolak makanan yang dicampur, sehingga mereka tidak mengenal bentuknya,
misalnya gado-gado.

Jika mungkin sajikan makanan yang dapat dipegang, misalnya kentang goreng, tempe, sate dan sebagainya.

Setiap kali hanya mengenalkan satu jenis makanan baru.

Sajikan dalam porsi kecil, terutama makanan yang baru dikenal atau yang tidak
disenanginya.

Perhatikan penampilan dari bentuk tekstur, warna dan rasa dari makanan. Kreatiflah dalam menyajikan makanan, misalnya membuat dadar telur yang
berwajah, dsb.

Ikut sertakan anak untuk menentukan menu makanan yang hendak dimakan. Jika anak merasa menjadi bagian dari aktivitas, maka biasanya mereka menjadi lebih tertarik. Gunakan lembar berisi informasi tentang makanan beserta gambar, misalnya daging, telur, ayam, ikan sayur-sayuran. Bantu anak merencanakan
makanannya dengan gambar piring yang akan diisi dengan makanan apa yang hendak dimakan hari ini

Berilah contoh makan yang baik bagi anak. Orangtua yang tidak bersemangat untuk makan atau rewel makan akan menjadi contoh yang buruk bagi anak, sebab anak biasa meniru tokoh yang berarti baginya.

Dengan mengetahui bahwa nafsu makan anak digerakkan oleh jumlah makanan yang dibutuhkan tubuh, orangtua seharusnya menjaga nafsu makan anak dan memastikan bahwa anak mendapatkan kebutuhan tubuhnya. Beberapa ahli psikologi perkembangan anak tidak menyarankan anak dipaksa untuk makan apapun penyebabnya, karena semakin dipaksa anak akan semakin memberontak.

Menghidangkan menu yang bervariasi. Sama seperti orang dewasa, jika hampir setiap hari diberikan menu yang sama, maka anak akan bosan (meskipun menu yang diberikan merupakan menu favorit anak tersebut). Oleh karena itu, orangtua harus jeli dan pintar untuk memberikan menu yang bervariasi kepada anak.
Misalnya: jika anak sudah sering diberi ikan cobalah mengganti ikan dengan ayam
Atau daging atau dapat pula diganti cara memasaknya.

Mempercantik tampilan makanan misalnya menghidangkan nasi goreng dengan diberi gambar wajah, mata yang terbuat dari tomat, bibir dari sosis, dan hidung dari ketimun. Penampilan nasi goreng yang seperti ini akan lebih menarik perhatian bagi anak daripada nasi goreng yang terhidang begitu saja di piring tanpa hiasan.

Saat anak sedang merasa sedih, cobalah untuk terlebih dahulu membuat perasaan
anak lebih baik dengan menunjukkan kasih sayang dan mencoba mengerti penyebab mengapa anak merasa sedih. Contoh: anak sedih karena kematian anjing
yang disayanginya, maka bisa dihibur dengan mengatakan bahwa “anjingnya sekarang sudah sembuh, tidak akan pernah sakit lagi di tempat yang baru”.

Biarkan anak makan sendiri. Jangan takut dengan kekotoran yang disebabkan anak makan sendiri, karena yang penting di sini adalah anak merasa mampu, dipercaya oleh orangtua, semakin mandiri dan kemampuan motoriknya juga akan terlatih dan berkembang baik.

Jangan memburu-buru anak agar makan dengan cepat. Anak yang makannya berlama-lama, tidak perlu diburu-buru. Jika semua sudah selesai makan, meja sudah dibersihkan dan anak masih bermain dengan makanannya, maka sebaiknya makanannya disingkirkan. Anak mungkin akan merasa marah, jika hal ini terjadi orangtua tidak perlu berdebat ataupun memarahi anak, berikan perpanjangan waktu yang cukup, jika perpanjangan waktu sudah selesai maka makanan benar-benar ditarik dan tidak diberikan perpanjangan waktu lagi. Dengan demikian anak
akan mengerti ada waktu untuk makan.

Tidak perlu setiap kali mengikuti keinginan anak dengan mengganti menu sesuai keinginannya, karena mungkin saja ketidaksukaannya disebabkan keinginan menentang dominasi orangtua. Sebaiknya tanamkan kesadaran pada anak bahwa makan adalah tugasnya, dengan tidak memuji jika makanan dihabiskan, dan juga tidak memarahi, mengancam, membujuk, menghukum, atau memberi label anak sebagai anak nakal jika makanannya tidak dihabiskan/tidak mau makan.

Jika anak tidak mau makan dan si anak berada dalam keadaan sehat, tidak apa-apa, singkirkan saja makanan dari meja makan, dan anak tidak perlu diberikan kudapan apapun di antara waktu makan utamanya. Dengan demikian, ketika tiba
Waktu makan selanjutnya anak akan merasa lapar (bukan kelaparan) dan ia pasti
akan makan apapun yang dihidangkan.

Tidak perlu memberikan porsi yang banyak kepada anak, sehingga sulit dihabiskan. Lebih baik memberikan porsi yang sedang, jika anak merasa kurang, ia boleh minta tambah.

Berikan makanan secara bertahap sesuai jenis dan kandungan gizi satu persatu, mulai dari yang mengandung banyak zat besi dan protein (misalnya daging), sampai terakhir jenis yang kurang penting (misalnya puding sebagai penutup mulut).

Jika anak merasa sudah kenyang sebelum sampai pada makanan tahap berikutnya, orangtua tidak perlu lagi memaksa anak untuk makan.

Kadangkala ajak anak anda untuk terlibat dalam perencanaan menu makanan sehari-hari, disertai pemahaman bahwa menu makanan bergizi sangat penting untuk kesehatan anak.

Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku anak secara tepat.

Kebiasaan makan orangtua akan menjadi contoh bagi anak, karena itu biasakanlah menyantap makanan beragam. Pastikan hanya makanan sehat dan bergizi yang
tersedia di rumah.

2. KESALAHAN CARA PEMBERIAN MAKAN

Meskipun tampaknya kesalahan pemberian makanan bukan sebagai penyebab utama kesulitan pemberian makanan.

Tetapi perilaku pemberian makanan yang salah sering terjadi malah memperberat
kesulitan makan pada anak, yang sudah ada karena dapat mengurangi selera makannya.

Penurunan jumlah minum pada usia di bawah 2 tahun sering terjadi karena anak mulai dikenalkan pemberian minum air putih di dalam botol. Bila itu terjadi akan mengakibatkan semakin sedikit atau tidak mau minum susu. Karena bagi anak air putih rasanya lebih enak dan segar. Memang air putih tidak berbahaya bagi anak tetapi air putih tidak mempunyai nilai gizi dibandingkan susu. Tidak usah takut kekurangan air putih karena di dalam susu sudah terkandung air putih. Seorang peneliti pernah melaporkan bahwa anak yang sudah mulai dikenalkan air putih sebelum usia 2 tahun sering terjadi anak mengkonsumsi susu lebih sedikit dibandingkan anak yang tidak minum air putih.

Pemberian air putih untuk memperbaiki kesulitan buang air besar anak adalah tindakan yang tidak sepenuhnya benar. Memang dengan pemberian air putih mungkin akan sedikit membantu memperlancar kesulitan buang air besar. Tapi pemberian air putih yang berlebihan akan mengurangi masukan zat gizi lainnya.
Memperbaiki masalah buang air besar adalah mencari penyebabnya, seringkali penyebabnya adalah reaksi dari jenis makanan tertentu misalnya coklat, susu, pisang atau buah tertentu lainnya. Mungkin juga penyebab lainnya adanya infeksi kronik seperti infeksi saluran kencing dll.

Hindari pemberian permen yang manis, kacang-kacangan dan makanan ringan lain
saat menjelang jam makan yang dapat mengurangi selera makan.

Jangan memaksa anak untuk makan dengan cara yang sempurna seperti orang dewasa, misalnya makan tanpa berserakan

Jangan memaksa anak untuk makan lebih banyak dari yang mereka inginkan.

Orangtua yang sering memaksa anak makan tanpa memperhatikan kebutuhan anak
akan makanan, membuat anak tidak pernah dapat membedakan antara rasa lapar dan keharusannya untuk makan, serta menganggap makanan sebagai hukuman bagi anak.

Orangtua atau pengasuh yang sering memaksa anak makan, menyebabkan anak tidak menghargai makanan dan dapat mempermainkan makanan tersebut, sehingga
anak tidak pernah belajar makan dengan benar.

Demikian pula bila makan diberikan bukan dalam situasi makan tetapi bersama aktivitas lain, misalnya sambil bermain berjalan-jalan atau menonton TV

Mengancam, misalnya: kalau makannya tidak habis, nanti kalau ke dokter disuntik
loh”

Memaksa, misalnya anak dipaksa membuka mulut lalu dijejali makanan

Menghukum, misalnya anak yang tidak mau makan langsung dipukul atau diperintahkan masuk kamar

Membolehkan anak untuk memilih menu makanan yang diingininya. Dalam hal ini Orangtua biasanya akan langsung mengganti menu jika anak mengatakan bahwa ia
tidak menyukai menu yang dihidangkan.

F. PENDEKATAN PSIKOLOGIS

Reaksi orangtua akan menentukan arah dan proses pembelajaran anak terhadap berbagai hal sampai mereka menemukan kesadaran dan tanggungjawab secara internal. Jika reaksi orangtua menguatkan perilaku sulit makan, maka yang terjadi kemudian adalah anak menjadi sulit makan. sebaliknya jika reaksi orangtua menguatkan perilaku mudah makan, maka anak mudah makan. Satu hal yang sebaiknya diingat orangtua adalah tidak mudah untuk selalu merespon perilaku
anak secara tepat.

Sulit makan yang terus menerus dapat merupakan suatu proses atau reaksi emosional anak terhadap orangtuanya. Seringnya anak menerima ancaman atau hukuman karena menolak makan atau pengalaman yang tidak menyenangkan saat anak mulai mengenal makanan padat dapat pula berkelanjut menjadi anak dengan
keluhan sulit makan.

Hubungan yang tidak sesuai dan tidak harmonis antara anak dan orang di sekitarnya atau antara anak dengan kondisi lingkungan akan menimbulkan reaksi penolakan secara psikologis berupa gangguan makan pada anak tersebut.

TIPS BAGI ORANG TUA DALAM MENCEGAH KESULITAN MAKAN SECARA PSIKOLOGIS

Bina hubungan antara keluarga (ayah, ibu, saudara dan lainnya) dengan baik dan penuh kasih sayang. Jauhi penggunaan emosi yang berlebihan berupa teriakan, umpatan, membanting sesuatu, memukul atau tindakan kekerasan lainnya.

Hindari stres yang berlebihan pada orang tua, bila sedang mengalami stres sedapat mungkin jangan diungkapkan di depan anak.

Binalah komunikasi terhadap anak dengan sentuhan rasa kasih sayang dengan menggunakan suara yang lemah lembut, jauhi perasaan emosi, marah dan kecemasan.

Buat jadwal secara rutin kebiasaan makan bersama, ciptakan suasana makan yang baik, penuh kasih sayang dan kekekluargaan. Jangan menciptakan suasana penuh kebencian dan kemarahan saat makan bersama.

TIPS UNTUK MENCIPTAKAN VARIASI MAKANAN

Nafsu makan anak-anak berkurang dapat disebabkan oleh kurangnya variasi makanan yang diolah. Hal ini bisa ditanggulangi dengan:

Mencoba dengan bahan yang sama tetapi dengan resep yang berbeda, misalnya :

Jagung selain dibuat sop, bisa juga dimasak untuk dadar jagung, atau makanan selingan seperti kue jagung, jenang jagung dan lain sebagainya.

Menambah makanan selingan dengan bahan yang bergizi diantara makanan utama misalnya Ketela pohon direbus kemudian dihaluskan,kemudian dikepal, di dalamnya diberi gula merah, dicelupkan dalam adukan 1 butir telor lalu digoreng, atau wortel (tambahkan daging bila ada) dicincang, tumis dengan bawang putih dan daun bawang, masukkan bihun yang sudah ditiriskan tambahkan kecap sedikit, gula
dan garam secukupnya.

Berbagai cara dan upaya telah dilakukan oleh orang tua, dokter ataupun klinisi lainnya dalam mengatasi kesulitan makan pada anak. Tindakan paling sering dilakukan adalah pemberian vitamin, obat perangsang nafsu makan bahkan sering dilakukan pemberian obat tradisional.

VIII. KESIMPULAN

Makan dan kebiasaan makan merupakan aspek yang penting dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan, terutama masa kanak-kanak awal.

Kegiatan anak ini sering menjadi masalah baik bagi anak ataupun orang tua, khususnya bila terjadi kesulitan makan pada anak.

Penyebab kesulitan makan pada anak sangat banyak dan luas, yang tersering adalah adanya gangguan pencernaan, alergi, penyakit infeksi, dan gangguan psikologis. Penyebab lainnya seperti kelainan bawaan, gangguan neurologist, gangguan metabolic dan sebagainya sangat jarang terjadi. Jangan mudah memastikan bahwa penyebab kesulitan makan pada anak karena gangguan psikologis, sebelum dipastikan tidak adanya gangguan organ tubuh terutama pencernaan anak.

Pemberian vitamin tanpa mencari penyebab gangguan kesulitan makan pada anak bukan merupakan jalan keluar yang baik. Penanganan kesulitan makan pada anak adalah dengan mencari dan mengatasi penyebabnya secara langsung.

VIII. DAFTAR PUSTAKA
1. Agus Firmansyah.Aspek. Gastroenterology problem makan pada bayi dan anak. PediatricNutrition Update, 2003.
2. Aronson, David. “No Laughing Matter: Young people who are overweight can face a lifetime of discrimination”. Teaching Tolerance Magazine, Fall1997.
3. Berg, Frances., ed. Afraid to Eat: Children and Teens in Weight Crisis. Hettinger, ND: Healthy Weight Institute, 402 S. 14th St., Hettinger, ND 58639, 1996.
4. Carlson, Nancy. I Like Me! New York: Viking/Penguin, 1988.
[Children’s]Upbeat story of a young pig who likes all aspects of herself, including her round belly.
5. Gil, Eliana, PhD. “The Inner World of the Fat Child: Challenge for a Child
Abuse Counselor” Radiance, the Magazine for Large Women, Fall 1987.
6. Hall, Lindsey, and Cohn, Leigh Bulimia: A Guide to Recovery Carlsbad, CA:
Grze Books, 1986.A two-week recovery program and a guide for support
groups.
7. Hirschmann, Jane R., CSW, and Zaphiropoulos, Lela, CSW. Preventing
Childhood Eating Problems: A Practical, Positive Approach to Raising Children Free of Food & Weight Conflicts Carlsbad, CA: G|rze Books, 1993
8. Kubersky, Rachel. Everything You Need to Know about Eating Disorders New York: Rosen Publishing Group, 1992.
9. Levine, Michael, PhD, and Hill, Laura, PhD. A 5-Day Lesson Plan on Eating Disorders: Grades 7-12 Tulsa, OK: NEDO, 1996. Maine, Margo, PhD. Father Hunger: Fathers, Daughters, & Food Carlsbad, CA: G|rze Books, 1991.
10. Judarwanto Widodo, Kesulitan makan pada penderita alergi dengan gastroenteropati Atopi. (tidak dipublikasikan).
11. Satter, Ellyn, RD, ACSW. How to Get Your Kid to Eat…But Not Too Much:
from Birth to Adolescence Palo Alto: Bull Publishing, 1987.
12. Soepardi Soedibyo, Sri Nasar. Feeding problem from nutrition perspective.Pediatric nutrition update,2003.

13. Solihin Pujiadi. Ilmu Gizi Klinis pada Anak. Balai penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta, 1993
14. Agras S., Hammer L., McNicholas F. (1999). A prospective study of the influence of eating-disordered mothers on their children. International Journal
of Eating Disorders, 25(3), 253-62.
15. Bryant-Waugh R., Lask B. Eating Disorders in Children. Journal of Child
Psychology and Psychiatry and Allied Disciplines 36 (3), 191-202, 1995.
16. Kreipe RE. Eating disorders among children and adolescents. Pediatrics in
Review, 16(10), 370-9, 1995.
17. Marchi M., Cohen P. (1990). Early childhood eating behaviors and adolescent
eating disorders. Journal of the American Academy of Child and Adolescent
Psychiatry,29(1), 112-7.
18. Perry LM. Medicinal Plants of East and Southeast Asia. Attributed properties and uses. Copyright by The Masschussets Institute of Technology, 1980
19. Sjamsulhidajat SS, Hutapea JR. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Depkes RI.
Badan penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 1991.

August 12, 2005

Speech & Language Milestones

Filed under: Baby, Asih Asuh

0-6 MONTHS:

Cooing and babbling;

Continual awareness of sound (turns to sound, stops crying when spoken to);

Uses eye gaze to indicate interest.

Talking Tip: Have hearing tested if infant appears unresponsive to environmental or speech sounds. Use lots of intonation with child, and short simple language. When your infant is feeding, take “turns” talking — caregiver talks to infant, then the baby drinks/eats. This is an early form of turn-taking. Start simple speech games such as “peek-a-boo”. The sing-songy speech of a mother to her child is an excellent way of getting and maintaining your baby’s attention. It makes the child more aware of human speech and encourages early social interactions.

7-12 MONTHS:

First true words appear (they are often people, or nouns);

Same syllable is repeated (mama, dada);

Child demonstrates increased understanding of daily routines.

Talking Tip: Respond to your child’s attempt at words (i.e. if child says “mama”, you could respond with “mama, yes, mama’s home”. Talk about your daily routines frequently in simple language (2-3 words at a time). This will help to build receptive language skills. Use lots of speech/routine games such as “Paticake”, “Itsy Bitsy Spider”. Once child is familiar with game, start it, but have the child “finish” the line. (i.e. “The itsy bitsy spider went up the water…”, give a look of anticipation and wait up to 10 seconds for any response. Respond to anything, a smile, movement, vocal attempt, or actual word. If no response, finish the line and go on with song.

12 MONTHS:

Child says 3-5 words;

Child recognizes his/her name;

Understands simple instructions;

Initiates familiar words, gestures, and sounds;

Child understands common objects and actions (e.g., cookie, eat, juice).

Talking Tip: Label items frequently. When child reaches or shows interest in an item or action, label it using 1-2 words. If the child is taking something from the caregiver, briefly hold the item, and label it before releasing to the child (e.g., “juice” while holding a sippy cup and giving to child before releasing to the child). Continue with nursery rhymes, colorful books, “Peek-a-Boo”, “Pat-a-Cake”.

18 MONTHS:

Child uses about 10-20 words at age 18 months including names;

Recognition of pictures of familiar persons, objects’

Early 2-word combinations of words emerge;

Needs are requested verbally such as “more, up”;

Child will point, gesture, follow simple commands, imitate simple actions, hum or sing;

Distinguishes print from non print.

Talking Tip: Sing to your child frequently. Use familiar tunes over and over again during daily activities. Words to the songs can be made up to fit the situation. Talk using simple, clear language. Imitate your child frequently in both action and sound, and model correct language. You do not have to “correct” the child, just model an appropriate response. Discuss what your child is feeling, hearing or doing throughout the day. Don’t forget to praise your child’s efforts to communicate.

24 months (2 years.):

Child understands simple questions and commands;

Identifies familiar actions/activities in pictures (i.e. “sleeping, eating”);

Follows directions to put objects “on, off, in”;

Puts two words together on average;

Sentence length of up to three words;

Child will refer to self by name;

Labels pictures;

Start to use the negative “not go”;

Final “s” is used for plurals;

Vocabulary jumps to 300 words during the year! In fact between the ages of 2 and 4, kids may increase their vocabulary to 2 words per day;

Children will stay with one activity about 6-7 minutes.

Talking Tip: Repeat new words over and over. Use gestures and intonation to highlight information. Talk about what you are doing, and carry on a simple conversation. You can use some questions to stimulate additional thought and language, however limit the use/frequency of questions you use. Too many questions can be demanding, and frustrating if the child is unable to formulate a response. Frequent “commenting” often elicits as much or more language from a child. Give your child time to respond! Waiting as long as 10 seconds for a response is often needed. Read books with simple and repetitive language, and simple colorful pictures (I like the book “Go Away” by Ed Emberley). Play “Simon Says” or other listening/following instruction games to help develop listening skills. Make sure requests are simple (i.e., “touch your nose”).

30 months (2 1/2 years.):

Child has about 450 word vocabulary;

Child is able to give his/her first name;

Child uses past tense, plurals, and combines nouns and verbs;

Begin to identify objects from a group by their function and parts (ie. “which one has wheels?”, “which one can we eat?”);

Begin to use verbs with “ing” endings (i.e. “eating”);

Early concepts such as “big, little” are identified;

Child will use “no, not” and answer “where” questions.

Talking Tip: Model pronouns such as “I, he, she” with short phrases (i.e. “I like cookies”). Read familiar and/or repetitive stories and encourage child to tell what is going to happen, or respond to simple questions about the story. Continue to listen to/sing along with familiar songs (i.e. listen to tapes in the car).

3 years.:

Child will name at least one color;

Child will often talk during play, or when alone;

Child can tell a basic story or idea;

Child can use 3-4 word sentences;

Begins to understand “not”;

Can identify items in a familiar category or group (i.e. “show me the animal”);

Child can have a vocabulary of up to 1000 words;

Children are often able to tell their name and street.

Talking Tip: Encourage vocabulary development. Continue to talk about everything you are doing during activities throughout the day. Use simple sentences of 4-5 words when talking around the child. Child can respond to “wh” questions more readily (what, where). Play with child as if you are a child. (i.e. Model dolls “talking”/carrying out familiar routines. “Drive” toy cars to the “store” to get milk, then “drive home” and put away the groceries or prepare dinner). Children will use a lot of pretend play, and carryout early social sequences. Playing with other children is also a good way to develop social and language skills. A child may not have all the sounds, however he/she should be intelligible by age 3. If a delay is suspected, discuss it with your pediatrician for a possible speech/language evaluation.

4 years:

Child will follow 2-3 step commands;

Child will ask many questions, including “who/why”;

Child talks in 4-5 word sentences;

Understands and verbalizes spatial concepts more readily such as “on, under, next to..”;

Child will talk in the past tense correctly.

Talking Tip: Start to classify objects into bigger categories such as “animals, things to wear, things to eat…”. You can visit the zoo, plan outfits for particular occasions, discuss what you will eat for lunch, dinner, etc. You can talk to your child in longer sentences, and read longer stories. Making up, or tell stories to each other. Speech sounds may not be perfect yet. Model the correct sounds.
5 years:

Child defines objects by their function;

Identifies spatial concepts such as “on, behind”;

Child uses 5-6 word sentences;

Child understands many opposites;

Child can use different tenses (past, present, future), and many sentence types.

Talking Tip: Listen to your child when he/she talks to you, and encourage child to discuss feelings, ideas, or thoughts. Try to stimulate, and carry on a conversation. Comment frequently on what you think your child is feeling/thinking to encourage conversation. Use longer, adult like speech with your 5-year old. They will generally understand more than they can say.

6-7 years:

Child is developing phonological (sound/letter) awareness skills, and sound/word segmentation skills;

Can generate creative sentences;

Understands time/space concepts such as “before/after, first/second/last”.

Talking Tip: Begin phonics work. Look at letters and discuss what they sound like, and vice versa. Discuss spelling of words, and sound of each letter within the word. Break larger words into their component parts (suffixes and prefixes). Discuss what sounds/parts are “first, second, third, last”.

Sumber: http://www.speechdelay.com/

Bayi Demam

Filed under: Baby, Asih Asuh, kesehatan

(Original article written by Dr. Purnamawati S Pujiarto, SpAK, MMPed. Edited by Lulu to be used in Seminat PESAT 2)

Demam, batuk-pilek, radang tenggorokan, diare, merupakan kondisi langganan anak-anak. Pelajarilah, agar dapat bertindak dengan tenang dan rasional, agar tidak tergopoh-gopoh mengambil obat dan mengobati gejala-gejala tersebut. Semoga melalui sharing dan materi ini kita, para orang tua, akan jauh lebih bijak dalam menyikapi masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak.

SLIDE 1. Common Problems in Pediatrics : Title
Peran seorang pasien (tepatnya konsumen medis) sangat berpengaruh dan menentukan dalam kinerja tenaga medis. Konsumen medis yang aktif berpartisipasi dalam menangani masalah kesehatannya, akan sangat membantu kinerja dokter dan tenaga medis lainnya. Terutama kinerja dokter untuk tetap berpegang pada prinsip pola pengobatan yang rasional (Rational Use of Drugs/RUD). Pola pengobatan yang rasional adalah AMAN dan COST EFFECTIVE.
Perlu kita ketahui banyak faktor yang berperan dalam pemberian obat. Paling tidak ada 3 faktor yang dominan berperan kuat, yaitu dokter (penulis resep), konsumen (pasien) dan industri obat. Intinya, konsumen (pasien) yang tidak rasional akan mendorong iklim layanan kesehatan yang tidak rasional pula.Demikian pula sebaliknya.

SLIDE 2. IRRATIONAL USE OF DRUGS (IRUD)
Pola pengobatan yang irrational menjadi concern seluruh dunia. Minimal ada dua masalah utama perihal IRUD yaitu polifarmasi dan pemberian antibiotik yg berlebihan/tidak pada tempatnya. Masalah polifarmasi tanpa disadari sering terjadi, terutama saat anak sakit. Evaluasi kembali buku kesehatan/kartu berobat putra/I bapak/ibu. Perhatikan berapa kali dalam 1 th kita membawa anak berobat karena sakit. Coba jawab pertanyaan berikut :
• Berapa kali dalam kunjungan ke dokter, ibu tidak memperoleh obat ? Tidak juga antibiotik ?
• Apakah setiap kali berobat anak mendapatkan obat puyer ?
• Berapa jumlah obat dalam tiap puyer ?

Umumnya para dokter mengajukan minimal 3 alasan mengapa mereka cenderung abusive, yaitu :
1. LACK OF CONFIDENCE.
Kebanyakan dokter sering tidak yakin atau merasa kurang PEDE untuk menyatakan bahwa pasien tsb sakit akibat infeksi virus, yang tidak membutuhkan antibiotik. Para dokter juga merasa insecure takut pasien pindah ke dokter lain.
2. PATIENT PRESSURE.
Tidak sedikit pasien, tanpa disadari, memilih bersikap pasif dan menganggap dokter tahu yg terbaik. Sehingga obat yang diberikan dokter pasti yang terbaik. Padahal dokter dapat bisa saja salah memberikan obat. Pasien yang irasional, sering menuntut dokter untuk memberikan antibiotik, karena menganggap antibiotik merupakan obat dewa yang bisa menyembuhkan segala kondisi. Pasien irrasional sering menuntut dokter sebagai tukang sihir, yang dapat memberikan obat yang cespleng. DOCTOR is a kind of MAGICIAN sehingga setiap kita ke dokter kita selalu berharap segera sembuh. Hal ini juga menimbulkan beban tersendiri bagi para dokter.
3. COMPANY PRESSURE.
Dalam Doctor-patient partnership, dokter sangat bergantung/membutuhkan pasien sebagaimana pasien bergantung/membutuhkan dokter. Tindakan pasien akan sangat mempengaruhi tindakan sang dokter. Pasien yang irrasional akan mendorong dokter menjadi irrasional. Intinya adalah tanggung jawab atau
kewajiban menyehatkan anak bukan hanya di bahu seorang dokter, tetapi juga orangtua sbg konsumen medis.
SLIDE 3. IMMUNE SYSTEM
Sejak lahir Tuhan telah melengkapi kita dengan sistem imun (daya tahan tubuh) yang sempurna & canggih. Diantaranya ASI. Secara garis besar, sistem imun terdiri atas 2 bagian, yaitu :
1. Bagian yang langsung “membunuh” kuman/virus/parasit, dll yang menyerang tubuh kita dan membuat tameng/proteksi untuk ”serangan” serupa. Sistem imun yang bertugas langsung membasmi ”musuh” tsb adalah Sel Darah Putih atau LEUKOSIT. Leukosit juga membentuk antibodi, suatu zat untuk menetralisir ”musuh” bila suatu saat kita kembali terserang oleh infeksi yang sama.
2. Bagian atau sel-sel yang bertugas membantu sel leukosit sehingga leukosit jauh lebih efektif ”serangan”nya.

SLIDE 4. BACTERIA & VIRUS
Kedua makhluk tersebut amat dangat kecil tetapi memiliki canggih & lihai agar dapat lolos dari serangan sistem imun tubuh kita.

Bakteri.
Bakteri ada dimana-mana, di alam, dan di sekitar kita. Bahkan tubuh kita dipenuhi oleh bakteri. Bahkan ASI mengandung bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas bakteri TIDAK JAHAT, bahkan menguntungkan. Kita justru membutuhkan bakteri tsb di dalam usus seperti untuk:
- Mencernakan makanan menjadi zat-zat bergizi
- Mengolah makanan menjadi vitamin B & K
- Melindungi kita agar tidak terinfeksi oleh kuman yang jahat.
- Membantu pencernaan agar kita tidak sembelit

Berdasarkan sifat kimiawinya, bakteri dibagi dua yaitu bakteri Gram Positif dan bakteri Gram negatif.
1. Bakteri Gram positif
- umumnya lebih mudah ”lawan” dibandingkan bakteri Gram negatif.
- dapat diatasi oleh antibiotik yang ringan (narrow spectrum antibiotik)
- umumnya menyebabkan Infeksi di bagian atas diafragma
2. Bakteri Gram negatif
- menyebabkan infeksi di bagian bawah diafragma.

Broad spectrum antibiotics adalah antibiotik yang menyerang kedua kelompok bakteri di atas INGAT :
- Pemberian antibiotik yang terlalu sering dan terlalu lama akan mematikan kuman yang baik. Hal ini akan menganggu pencernaan misalnya diare akibat munculnya banyak jamur, kekurangan vitamin B & K.
- Semakin sering kita memakan antibiotik, semakin sering kita jatuh sakit.

Virus.
Virus jauh lebih kecil daripada bakteri. Virus tidak dapat dibunuh oleh obat, antibiotik sama sekali tidak bekerja terhadap virus. Virus hanya bisa dibasmi oleh sistem imun atau daya tahan tubuh kita.

SLIDE 5. RADANG / INFLAMMATION – ITIS
Kita sering menyalahartikan istilah radang sebagai suatu keadaan akibat infeksi kuman. Radang atau inflamasi artinya MERAH, BENGKAK, dan SAKIT. Radang tenggorokan, artinya tenggorokannya merah, sakit, dan mungkin agak membengkak (amandelnya).

Radang karena INFEKSI.
Radang akibat infeksi dapat dibagi2, yaitu :
1. Radang karena kuman
2. Radang karena virus.
85% radang tenggorokan pada bayi/anak disebabkan oleh infeksi VIRUS -sehingga tidak perlu antibiotik.

Radang BUKAN INFEKSI.
Biasanya disebabkan oleh kondisi seperti ALERGI, TRAUMA, AUTOIMMUN, TEETHING, dll. Kesemuanya, sekali lagi, tidak dapat diobati dengan antibiotik. Upaya terbaik mengatasi alergi adalah avoidance – mengurangi kemungkinan exposure hal2 yang bisa menimbulkan alergi (debu, karpet, binatang berbulu, mainan berbulu, AC, makanan tertentu dengan pewarna, pengawet, perasa sintetik, permen, sea food, dll).

Demikian halnya dengan DEMAM.
Demam dapat disebabkan oleh infeksi dan juga bukan karena infeksi. Sekali lagi, penyebab demam terbanyak pada anak adalah infeksi virus. Demam itu sendiri merupakan salah senjata tubuh untuk melawan infeksi. Dengan perkataan lain, kalau ada infeksi, tubuh kita memproduksi panas sebagai bagian dari sistem imun untuk melawan infeksinya. Tetapi demam juga bisa dikarenakan hal lain yg tidak ada hubungannya dengan infeksi.

SLIDE 6. FEVER
Demam adalah alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter. Apalagi jika orangtua tidak memiliki ilmu yang cukup mengenai demam, penyebab demam & tatacara merawat anak demam.

Bahayakah demam itu ? Burukkah demam itu ?
Tidak ada sesuatu yang 100% buruk atau 100% baik. Demikian juga dengan demam. Tuhan pasti memiliki maksud dibalik fenomena demam. There is something for many reasons.

Tubuh kita diciptakan oleh Tuhan dengan dilengkapi mekanisme pengaturan yang canggih, termasuk mekanisme pengaturan suhu. Di otak kita terdapat termostat bernama hipotalamus yang mengatur mekanisme ini. Tepatnya terdapat pusat pengaturan suhu disebut juga SET POINT. Pengatur suhu tubuh ini akan memastikan tubuh kita senantiasa pada suhu konstan (sekitar 37C) .
Demam adalah kondisi dimana otak (melalui Set Point) memasag suhu di atas setting normal yaitu > 38C. Namun demikian demam yang sesungguhnya adalah bila suhu >38.5C. Akibat kenaikan setting suhu tubuh tsb, maka tubuh akan memproduksi panas melalui tahapan : menggigil hingga mencapai suhu puncak ïƒ suhu demam stabil ïƒ suhu mulai turun.

Bagaimana dan mengapa timbul demam ?
Peningkatan suhu tubuh ini disebabkan oleh beredarnya molekul kecil dalam tubuh, yaitu PIROGEN ”suatu zat pencetus panas.”

Apa yang menyebabkan terjadinya peningkatan pirogen ?
Penyebabnya antara lain : infeksi, radang, keganasan, alergi. Teething, dll.
Pada saat terserang infeksi, sistem imun tubuh kita akan membasmi infeksi tsb dengan serangan leukosit (sel darah putih).

Agar tugas leukosit tsb efektif dan tepat sasaran, dibutuhkan dukungan banyak pihak termasuk pirogen, yang bertugas :
1. Mengerahkan sel darah putih (leukosit)
2. Menimbulkan demam yang akan membunuh virus. Karena virus tidak dapat hidup di suhu tinggi. Sementara itu virus akan tumbuh subur di suhu rendah.

Perhatikan hal berikut :
1. Selama infeksi masih berlangsung, memang harus ada demam.
2. Demam merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh untuk membasmi infeksi.
3. Prinsip utama adalah cari penyebab timbulnya demam. Dengan mengetahui sumber masalahnya, maka kita dapat bertindak secara rasional. Pada anak penyebab utamanya adalah infeksi virus.
4. Beri minum lebih banyak dari biasanya. Waspadai kemungkinan terjadinya komplikasi dehidrasi.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasi tatacara penanganan demam. Berikut kondisi kapan orang tua harus menghubungi dokter :
- Bila bayi berusia < 3 bulan dengan suhu tubuh > 38C
- Bila bayi berusia 3 – 6 bulan dengan suhu tubuh > 38.3C
- Bayi dan anak berusia > 6 bulan, dengan suhu tubuh > 40C

Konsultasikan juga dengan dokter jika terdapat kondisi berikut :
- Sama sekali tidak mau minum atau sudah dehidrasi; Gelisah, muntah, diare
- Iritabel atau menangis terus menerus, tidak dapat ditenangkan
- Tidur terus menerus, lemas dan sulit dibangunkan (lethargic)
- Kejang; Kaku kuduk leher; Sakit kepala hebat
- Sesak napas
- Gelisah, muntah, daire

SLIDE 7. TREATING FEVER
Point-point utama yang harus diperhatikan selama merawat anak demam adalah:
1. Mencari penyebab demam dan memperhatikan pola perilaku anak. Amati tingkah laku anak. Jika perilaku anak hampir sama seperti biasanya, maka kita tidak perlu khawatir. Karena pada dasarnya demam itu bukan hal yang membahayakan.
2. Cegah dehidrasi.
Demam akan meningkatkan penguapan cairan tubuh. Karenanya bayi dan anak beresiko mengalami dehidrasi. Berikan cairan lebih banyak. Berikan air, air sup, jus buah segar yang dicampur air, es batu, es krim. Bila muntah atau diare, berikan minuman elektrolit : pedialyte, oralit.
3. Ruangan dijaga agar tidak panas, pasang kipas angin. Anak memakai baju yang tipis.
4. Kompres air hangat atau berendam di ari hangat.
5. Biarkan anak memakan apa yang diinginkan. Jangan dipaksa. Hindarkan makanan berlemak, karena sulit dicerna oleh tubuh.
6. Meskipun anak dianjurkan untuk tidak masuk sekolah, bukan berarti ia harus berada di tempat tidur seharian.

Pemberian obat penurun panas mengikuti aturan berikut :
- <102F (<38.3C) : Tidak perlu obat penurun panas, ekstra cairan (minum banyak)
- >102F (38.3C), uncomfortable : Beri obat penurun panas, kompres hangat
- >104 (>40C) : Beri obat penurun panas, kompres hangat, hubungi dokter.

Ingat: DO NOT TREAT LOW GRADE FEVER (< 38.3C)

SLIDE 8. COLDS AND FLU
Penyebabnya infeksi virus. Umumnya berlangsung selama 5 hari (3 - 14 hari rentangnya) tergantung daya tahan tubuh dan tergantung ada tidaknya penderita flu di rumah atau di sekolah. Jika bayi dan anak memiliki saudara kandung yang lebih besar dan sudah bersekolah, maka ia sangat potensial sering mengalami colds & flu Tidak ada obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh anak terhadap infeksi virus flu akan meningkat sejalan dengan waktu

Tatalaksana:
- Yang paling dibutuhkan adalah cairan, sering minum meski sedikit2.
- Supaya ”ingus” tidak kental dan menyumbat jalan nafas, berikan air garam steril sebagai tetes hidung. Air garam steril ini tidak akan menimbulkan efek samping. Menghirup uap air panas juga banyak membantu saat mengalami colds & flu.
- Apabila pada malam hari tiak dapat tidur karena hidung tersumbat, beri tetes hidung untuk menghilangkan pembengkakan di dalam hidung (Iliadin, Otrivin).
- Humid environment, jangan kering seperti dalam ruangan berAC. Kalau perlu, taruh satu ember berisi air mendidih setelah anak tidur. ”Paracetamol” bila bayi/anak uncomfortable atau high fever (>38.5)
- Di lain pihak, kita sering mengacaukan alergi dengan flu. Pada alergi yang mengenai hidung, anak juga akan ”meler” tetapi anak tidak demam, tetap aktif bermain. Bukan berarti juga anak menderita infeksi virus flu.

Pencegahan:
- Sering cuci tangan
- Hindari kontak erat dengan penderita flu
- Jaga kebersihan rumah seperti di kamar mandi, dapur, dsb.

Kapan menghubungi dokter?
- Persistent cough, fever > 72 hours
- Sesak nafas, kuku dan bibir tampak biru
- Luar biasa rewel, atau luar biasa mengantuk (sangat sulit dibangunkan) Ingat: Tidak ada obat pilek yang efektif untuk bayi dan anak.

SLIDE 9. SORE THROAT / PHARYNGITIS (Radang tenggorokan & infeksi amandel)
Umumnya disebabkan oleh infeksi virus. ARTINYA: akan sembuh sendiri – self limiting; dan samasekali tidak memerlukan antibiotik. Hanya sekitar 15% saja yg infeksinya disebabkan oleh kuman Streptococcus dan umumnya menyerang anak usia 4 - 7 tahun. Dengan catatan, diagnosisnya harus berdasarkan biakan usap tenggorokan.

Tatalaksana
a. Banyak minum; minuman yg hangat akan memberikan rasa nyaman di tenggorokan.
b. Untuk anak yg lebih besar, bisa diajarkan untuk kumur2 atau mengisap lozenges.
c. Kalau panas atau kesakitan, berikan paracetamol (seperti panadol atau tempra).
d. Kalau hidung tersumbat, dapat diberikan tetes hidung NaCl dan menghirup uap panas. Kalau anak sangat terganggu, dapat diberikan Nasal decongestant.

SLIDE 10. COUGHS
Jika kita membaca literaratur kedokteran, sering diungkapkan bahwa batuk merupakan suatu mekanisme tubuh untuk mengeluarkan sesuatu yang mengganggu saluran nafas kita, seperti dahak, riak, benda asing (kacang, dsb). Batuk sebagai anugerah terindah dari Tuhan sering disikapi dengan tidak bijak oleh mereka yang tidak memahaminya. Andaikan kita perhatikan sejenak para pada penderita stroke misalnya. Karena adanya gangguan dalam otak, refleks batuknya terganggu. Akibatnya dahak menumpuk di paru2 dan ybs umumnya mengalami pneumonia. Hingga berefek fatal kematian pada penderita tsb.

Batuk bukanlah momok. Melalui batuk, kita tetap dapat bernafas, karena lendir yang mengganggu saluran nafas akan dikeluarkan saat batuk. Dengan batuk, kita terhindari dari bahaya tersedak benda asing yang masuk ke saluran nafas kita.
Yang terpenting yang harus kita lakukan adalah mencari tahu apa penyebab batuk. Infeksi kah atau bukan infeksi. Pada anak, batuk umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau oleh alergi. Batuk akibat infeksi virus flu misalnya bisa berlangsung sd 2 minggu. Bahkan lebih lama lagi bila anak kita sensitif atau alergi, atau bila di rumah ada anak lain yang lebih besar yang juga sedang sakit. Batuk karena alergi juga bisa berlangsung lama atau hilang timbul selama pencetus alerginya tidak diatasi. Alergi yang dimaksud bisa dalam bentuk alergi hidung (Allergic rhinitis), asma, alergi suatu zat dari lingkungan. Penyebab lainnya adalah sinusitis, reflux, pneumonia.

Tatalaksana :
Cari PENYEBAB batuk.
Jika batuk disebabkan oleh produksi dahak yang berlebihan, maka upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi produksi lendir. Melalui cara :
- Minum banyak yang hangat misalnya lemon
- Jangan ada asap rokok
- Ruangan jangan kering (Moist air - kamar mandi - buka keran air panas biarkan beberapa lama sehingga ruangan, atau taruh satu ember air panas mendidih, atau pasang humidifier)
- Agar anak lebih nyaman, tidurkan dengan bantal agak tinggi
- NO ANTIBIOTICS. Ingat ! Kebanyakan batuk tidak memerlukan antibiotik
- NO cough suppressant. Jangan mengkonsumsi obat penekan refleks batuk (seperti DMP). Anehnya, anak kita sering mendapatkan obat racikan/puyer yang salah satu kandungannya codein (sejenis narkotika) yang tidak diketahui manfaatnya.

Pada dasarnya, TIDAK ADA yang namanya obat batuk itu. Juga tidak ada obat pencair dahak. Cari pencetusnya !

SLIDE 11. BRONCHITIS (INFEKSI SALURAN NAFAS)
Penyebab banyak, tetapi yang tersering adalah alergi (Allergic rhinitis, asthma, environmental exposures). Bisa juga karena sinusitis, refluks, reaksi obat, kelainan bawaan saluran napas, tersedak ”benda asing”, pneumonia (virus, jamur). Mohon diingat pneumonia belum tentu karena infeksi bakteri. Jadi - belum tentu perlu antibiotik. Biasanya ditandai dengan batuk lama.

Tatalaksana :
- Mencari penyebab. Bila karena alergi, modifikasi lingkungan sekitar untuk mengurangi eksposur pada anak
- Humidifikasi
Ekstra cairan, dll

Jika anak kita dinyatakan menderita bronkitis, maka kita harus segera berpikir bahwa -itis di sini artinya radang inflamasi. Penyebabnya belum tentu infeksi bakteri - mayoritas bronkitis pada anak tidak perlu antibiotik.

SLIDE 12. EAR INFECTION
Penyebab :
Umumnya karena infeksi virus Pasca infeksi hidung atau radang tenggorokan seperti cold/flu, Tooth problem

Gejala:
- Sakit telinga (biasanya 1 sisi), demam, pilek dengan hidung buntu, rewel, telinga di-tarik2, nafsu makan menurun
- Kadang2 tampak cairan kuning keluar dari telinga, kadang2 juga anak mengalami sedikit gangguan pendengaran
- Rata-rata setiap anak mengalami infeksi minimal 1 x sebelum usia 5 tahun.

Tatalaksana :
- Penghilang rasa sakit
- Posisi tegak/upright position,
- Jangan ada yang merokok
- Jangan minum susu dari dot-botol sambil tiduran
- Air hangat di botol, bungkus kain perca, taruh di atas telinga
- Kalau perlu minum obat decongestant (mengurangi hidung buntu)

Pencegahan:
- berikan ASI selama mungkin
- Hubungi DOKTER / penggunaan ANTIBIOTIK :
* Bila berkepanjangan, lebih dari 2 minggu atau
* Bila infeksi berat dan anak kesakitan hebat

SLIDE 13. DIARRHEA – VOMITING
Hampir serupa dengan batuk, diare & muntah adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan pada manusia. Diare & muntah adalah mekanisme alami tubuhuntuk mengeluarkan racun, virus/kuman yang masuk ke dalam tubuh. Diare & muntah itu ibarat alarm tubuh untuk memberitahukan bahwa ada sesuatu yg tidak beres dalam tubuh kita. Yang perlu dilakukan adalah mencari PENYEBAB nya. Tidak perlu diberikan obat anti muntah atau obat untuk ”mampet”kan diarenya.
Obat-obat tsb memang akan mengurangi/menghentikan diare/muntah, tetapi
tidak mengobati penyakitnya. Perbaikan tersebut bersifat ”semu”. Ibarat bom waktu. Kita terkecoh seolah anak membaik, padahal penyakitnya masih terus berlangsung. Selain itu, obat2 tersebut juga bukan tanpa risiko/efek samping.

PENYEBAB:
- >80% penyebabnya pada anak, terutama bayi, adalah virus. Dikenal juga dengan ROTAVIRUS.
- Food poisoning
Alergi makanan,
Pemakaian antibiotik.

TATALAKSANA
CEGAH DEHIDRASI
- Minum banyak
- ASI diteruskan, campur dg Oral rehydration Solution (ORS) seperti pedialit atau oralit.
- Perbanyak minum.
- Bila diare hebat, fokus pada upaya rehidrasi (menjaga agar tidak dehidrasi). Kalau perlu, untuk sementara waktu tidak perlu makan sampai dehidrasi teratasi

Kapan menghubungi dokter?
- Ada darah di tinja atau tinja berwarna hitam
- Tanda-tanda dehidrasi berat : tidak buang air kecil > 8 jam, bibir kering, air mata kering ketika menangis, skin turgor menurun (jika tangan dicubit, tidak akan kembali seperti semula), mata cekung, abdomen (sekitar perut) cekung, fontanelle (ubun-ubun) pada bayi cekung.
- Luar biasa mengantuk, sulit dibangunkan
- Luar biasa lemas, layu

PRINSIP:
Umumnya tidak perlu diberi antibiotik, antibiotik hanya bila tinja berdarah (butuh evidence/lab). Pada banyak kasus, antibiotik justru akan memperparah diarenya. Belum lagi pemakaian antibiotik tidak pada tempatnya akan menyebabkan infeksi tambahan oleh jamur/fungus/candida.

Jangan minum obat untuk menghentikan diare seperti primperan, motilium, juga tidak perlu minum Kaopectate, smecta, ensim, dsb. Pada diare biasa, tidak perlu mengganti susu formula.
- INGAT - Jangan memberikan obat anti muntah!!!!

SLIDE 14. KONSTIPASI
PENYEBAB:
Penyebab utama biasanya pola perilaku, khususnya pola konsumsi makanan yang low-fiber, high-fat & high-sugar. Pola makan kita dulu sarat dengan sayur dan buah (serat), sekarang beralih ke fast food yang bukan hanya rendah serat, tetapi juga tinggi garam dan lemak. Penyebab lainnya adalah:
- Kurang minum
- Ignoring the urge (anak mengacuhkan rasa ingin buang air besar dan justru menahannya)
- Kurang gerak/olah raga, banyak duduk
- Penyakit: Hypothyroidism (kelenjar gondok kurang berfungsi, jarang, ada gejala lain sejak bayi seperti retardasi mental), retardasi mental

GEJALA:
- Sakit perut, melilit, mules, kembung
- Nafsu makan menurun
- Rewel
- Celana dalam ada berkas tinja (Soiled underwear)
- Tinja keras, tinja ada goresan/bercak darah (Large/blood streaked stools)
- Sering buang air kecil

TATALAKSANA :
- Minum banyak
- Pola makan yang kaya serat
- Lebih memperhatikan bowel habit dari anak.
- Melatih anak akan kebersihan.
- Berbicara & diskusi dengan anak.

Hubungi dokter jika terjadi hal berikut :
- Tidak BAB > 10 hari
- Sering / rutin mengalami konstipasi sejak lahir.
- Aktivitas sehari-hari menurun.
- Terdapat anal tears atau hemorrhoids
- Sulit mengejan saat BAB
- Ada darah di tinja

SLIDE 15. TYPHOID
Sebenarnya, tifus tdk tergolong kondisi yang sering terjadi pada anak. Namun demikian, kondisi ini sering sekali didiagnosis (gejala tifus/verdacht typhus). Padahal seharusnya untuk mendiagnosa suatu penyakit harus jelas dan tegas : TIFUS atau BUKAN.

Bagaimana dan kapan kita menegakkan diagnosis tifus?
- Curigai bila ANAK demam > 7 hari. Mengapa anak, bukan bayi ? Karena tifus
ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar. Sementara bayi masih mengkonsumsi ASI, susu formula, makanan rumah.
- Diagnosis: pemeriksaan laboratorium biakan empedu (GAL CULTURE) bukan
pemeriksaan widal. Di negara endemis seperti Indonesia, pemeriksaan widal
hampir pasti akan positif tetapi tidak otomatis menyatakan yang bersangkutan sedang menderita infeksi tifus.
- Be critical !

TBC.
Kondisi serupa yang juga sering salah diagnosa adalah TBC. Angka kejadian infeksi TBC di Indonesia memang tinggi, tetapi itu bukan berarti sedikit-sedikit TBC.
- Anak yang kurus, yang kurang nafsu makan, anak yang batuk-batuk, sering dicap ”ada vlek” di paru2nya. Padahal mendiagnosis TB tidak sesederhana ini.
- Di lain pihak, kalau memang anak kita TBC, perlu diterapi dengan benar agar kuman TBC benar-benar bisa dieradikasi dari tubuh kita. Yang sering terjadi: Anak mendapat obat TBC tanpa dasar diagnosis yang jelas.
- Obat TBC tersebut tidak diberikan dengan benar (jenis obat, jumlah obat, dosis, lama pemberian).

Selalu mencari second opinion ! Karena mendiagnosis TBC tidak mudah. Dan sekali anak didiagnosis TBC - konsekuensinya banyak harus mengkonsumsi obat-obatan untuk jangka waktu panjang. Padahal obat-obatan tersebut sangat berat`- berpotensi menimbulkan gangguan hati.

Again, be critical !

SLIDE 16. HOSPITALIZATION
Indikasi rawat inap harus kuat, seperti :
- Kehilangan kesadaran
- Kejang berulang
- Sesak napas
- Dehidrasi berat
- Membutuhkan obat yang harus diberikan ke pembuluh darah (IV medication)

Bagi anak, rawat inap di RS bukan hanya menyebabkan trauma kejiwaan, tetapi juga menghadapkan anak kepada risiko tertular INFEKSI NOSOKOMIAL. Yaitu infeksi akibat kuman rumah sakit, dari pasien lain. Sementara itu kuman di RS jauh lebih GANAS dibandingkan kuman di rumah. Mengapa? Coba cermati kalimat-kalimat berikut. Di RS, kita terlalu banyak mempergunakan antibiotik dan umumnya yang dipergunakan adalah antibiotik yang kuat. Dengan demikian, kuman di rumah sakit banyak yang sudah resisten (kebal) terhadap berbagai macam antibiotik (superbugs). Kuman di rumah jauh lebih jinak.

Perawatan di RS dapat memperbesar potensi terkena infeksi tambahan(nokosomial) ini. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita harus memahami betul kondisi emergency (kapan anak harus dirawat di RS). Sehingga kondisi-kondisi yang tidak memerlukan perawatan RS, maka anak tidak perlu dirawat di RS.

SLIDE 17. THE LIVER AND THE DRUGS
Apa yang terjadi dengan obat yang kita konsumsi? Obat harus menjalani serangkaian proses metabolisme di hati. Prosesnya dua tahap. Di antara kedua tahapan tersebut, dihasilkan suatu zat antara yang bersifat toksik (beracun). Hal inilah yang dapat menyebabkan timbulnya kemungkinan kerusakan hati akibat obat. Makin banyak obat, makin besar kemungkinan efek sampingnya (termasuk kerusakan hati).

Sebagai contoh adalah gabungan beberapa obat dalam satu puyer. Ibu umumnya tidak menyadari bahwa puyer tersebut terdiri dari beberapa obat. Tidak tertutup kemungkinan obat-obat tersebut saling berinteraksi.

Pertanyaan yang seharusnya selalu ada di benak kita sebelum mengkonsumsi obat atau menerima resep obat adalah :
- Apakah anak kita benar-benar membutuhkan obat ?
- Apakah memang benar anak kita membutuhkan sekian banyak obat dan bukan hanya 1 atau 2 obat saja ? Ada baiknya kita mencari second opinion atau mencari informasi tentang penyakit & obat-obat tsb. Manfaatkan teknologi terkini yaitu internet untuk mencari informasi.

Siapa yang potensial terkena efek samping obat?
- Mereka yang berusia sangat muda
- Mereka yang lanjut usia

Sekarang mari kita evaluasi kembali kartu berobat anak kita. Coba perhatikan & hitung berapa banyak obat dalam setiap puyer/racikan. Bagaimana mengurangi risiko terkena efek samping obat?
1. Pada dasarnya, obat itu racun, sehingga potensial menimbulkan efek samping. Konsumsi obat hanya bilamana benar-benar diperlukan. Hindari polypharmacy.
2. Antibiotik bukan obat ”dewa’ yang dapat menyembuhkan semua penyakit, atau menyembuhkan semua gejala (mulai dari demam, diare, batuk, pilek, radang tenggorokan, alergi, dll)

SLIDE 18. WHAT ARE ANTIBIOTICS
Antibiotik adalah obat untuk membunuh infeksi bakteri. ANTIBIOTIK TIDAK DAPAT MEMATIKAN VIRUS. After their discovery in the early 20th century, they transformed medical care and dramatically reduced illness and death infectious diseases. Indeed, antibiotics are among the most powerful and important medicines known because when they are used properly, they can save lives.
Antibiotics = Against Life. Artinya antibiotik adalah suatu zat yang sifatnya mematikan kehidupan dalam hal ini, mematikan kuman. Berdasarkan konsep ”against life” tsb, beberapa ahli menyatakan bahwa penggunaan antibiotik dapat dikatakan sebagai penggunaan PESTISIDA bagi manusia (pesticide used on people).

APA BAHAYA PEMBERIAN ANTIBIOTIK YANG MEMBABI BUTA?
Setelah pemakaian antibiotik selama beberapa dekade, ternyata bermunculan banyak bakteri yang resisten (kebal) terhadap antibiotik. Hal ini membuktikan bahwa pemakaian antibiotik yang tidak rasional/membabi buta, justru akan merugikan pasien dan khalayak luas. Antibiotik merupakan satu2nya obat yang memiliki dampak sosial yang besar.

Contoh. Anak X sering memakan antibiotik setiap kali demam atau pilek.batuk, diare. Cepat atau lambat, kuman-kuman di sekitar X menjadi kebal terhadap berbagai antibiotik. Bila kuman yang resisten terhadap antibiotik tersebut menyerang anak Y, maka anak Y otomatis juga tiurut dirugikan, bukan hanya anak X.

Antibiotic resistance dapat membahayakan jiwa dan memperberat kondisi dan penderitaan si pasien yang mungkin infeksinya sebenarnya tidak berat tetapi kumannya tidak dapat dibunuh oleh berbagai antibiotik (padahal sebelumnya, infeksi kuman ni dengan mudah dapat diatasi). Kuman yang kebal terhadap antibiotik ini ”berkembang biak dengan cepat, menyerang anggota keluarga lainnya, tetangga, teman sekolah, teman kerja“ mengancam seluruh komunitas.
Lingkungan terancam infeksi oleh kuman jenis baru, yang sudah berubah bentuk, yang lebih ganas, kuman yang sulit dibunuh oleh antibiotik.

SLIDE 19. THE TROUBLE WITH ANTIBIOTICS
1. Pemberian antibiotik yang berlebihan menyebabkan kuman yang tidak terbunuh mengubah diri (mutasi) menjadi kuman yang tidak mempan dilawan dengan antibiotik. Kuman itu disebut juga ”superbug”. Superbugs ini juga dapat lolos dari serangan sistem imun tubuh kita, karena perubahan dirinya. Sistem imun tubuh kita tidak mengenalinya.
2. Superbugs ini memerlukan antibiotik yang jauh lebih kuat, pasien harus di rawat di rumah sakit karena antibiotik harus diberikan melalui selang infus. Antibiotik super kuat ini berisiko menimbulkan efek samping yang lebih berat. Selain itu dalam waktu cepat, bakteri tsb juga menjadi kebal terhadap antibiotik yang super kuat. Pada kondisi ini, tenaga medis/dokter seperti berlari di treadmill, terus mengejar, mencari antibiotik yang lebih kuat dan lebih baru.
3. Dampak negatif kedua dari pemberian antibiotik yang berlebihan dan tidak bijak adalah terbunuhnya ”kuman baik” di dalam tubuh kita. Tempat yang semula dipakai oleh kuman2 ini menjadi vakum dan kekosongan ini diisi oleh kuman ”jahat” atau jamur. Kondisi infeksi ini disebut sebagai ”superinfection”.
4. Semakin lama/sering makan antibiotik semakin besar risiko terbentuknya superbugs, dan superinfection. Akibatnya SEMAKIN SERING KITA MENGKONSUMSI ANTIBIOTIK, SEMAKIN SERING KITA SAKIT.
5. Antibiotik adalah sumber alam, karunia Tuhan yang harus dipergunakan secara
bijaksana. Antibiotik menyelamatkan kita, kita harus ”menyelamatkan” mereka.

SLIDE 20. APPROPRIATE ANTIBIOTIC USE
Penelitian membuktikan setiap harinya, telah diresepkan jutaan antibiotik bagi pasien infeksi virus. Suatu kekeliruan yang sangat besar. Beberapa alasannya:
1. Pasien meminta obat yang cespleng “apa saja“ termasuk antibiotik kalauperlu antibiotik yang superkuat
2. Bagi dokter, jauh lebih mudah menulis resep dibandingkan harus bersusah payah memberi penjelasan, menenangkan orang tua.

Pada tabel tertera beberapa kondisi yang umumnya disebabkan infeksi virus dan tidak memerlukan antibiotik.

ILLNESS ANTIBIOTICS ?
1 Cold “ Flu No
2 Runny nose “ green yellow No
3 Sore throat * No
4 Sinusitis* No, some yes
5 Bronchitis* No
6 Fluid in the middle ear No

SLIDE 21. HOW TO BE A GOOD HEALTH CONSUMER
Selalu pertanyakan: Does MY child really need the drug? Hal lain yang selanjutnya perlu dilakukan adalah:
1. Hitung jumlah obat yang diberikan kepada anak. Bila dalam bentuk puyer, hitung jumlah baris dipuyer yang mencerminkan jumlah obat (bila bingung, tanya ke ahli farmasinya)
2. Selalu membuat foto kopi resep dan diarsip dengan baik.
3. Konsultasi ahli farmasi. Tanyakan obat apa saja (minta agar ditulis nama obat satu persatu), apa mekanisme kerja obat2 tersebut, apakah ada antibiotik, berapa antibiotik yang diberikan, bagaimana interaksi obat sebanyak itu.
4. Beritahu dokter bila anak anda sedang mengkonsumsi produk herbal, suplemen, obat tradisional. Obat-obataan tsb mungkin saja berinteraksi dengan zat2 tambahan tersebut.

Intinya:
1. Hindarkan polifarmasi, mengkonsumsi obat sesedikit mungkin.
2. Antibiotik bukan magic saver. Hanya keadaan tertentu saja yang memerlukan
antibiotik. Dan Mayoritas penyakit pada anak disebabkan oleh infeksi virus, yang samasekali tidak membutuhkan antibiotik.

Toilet Training

Filed under: Baby, Asih Asuh

Kapankah harus memulai toilet training.

Pertama-tama perlu digarisbawahi bahwa kami hanya berupaya mempersembahkan
informasi terkini mengenai pengasuhan dan pendidikan anak.
Informasi yang kami dapatkan bukanlah dari pendapat atau pun pengalaman pribadi,
melainkan sedapat mungkin kami ambil dari situs web dan buku yang dapat ditelusuri penulis aslinya
sehingga kami berharap -insyaa Allah- dapat dipertanggungjawabkan isinya.

Dari 2 jilid buku yang kami jadikan referensi, yaitu
Go!Go!トイレトレーニング-スムーズにおむつとサヨナラしようね!(Toilet Training, Mari ber-Sayonara dengan Popok), Juni 2003, Penerbit Shufu No Tomo
わたしの赤ちゃんトイレ・トレーニング百科 (Ensiklopedi Toilet Training Bayiku), 1994, Penerbit Shufu No Tomo
memang tertulis juga tentang kebiasaan lama orang tua Jepang melakukan latihan toilet sebelum usia 1 tahun.

Sedangkan Tracy Hogg dalam bukunya “Secrets of The Bab Whisperer For Toddlers” heran karena sering menjumpai anak-anak Amerika yang masih pakai popok di usia 3-4 tahun.

Di bagian akhir e-mail ini semoga menjadi tambahan masukan untuk pertanyaan kapan sebaiknya memulai latihan toilet?

Berikut rincian referensi dari internet.
Maaf jadinya panjang sekali ^ ^

1. Dari situs popok kertas Pampers. Silakan periksa di : http://us.pampers.com/en_US/content/type/101/contentId/2313.do

“Toilet Training Do’s and Don’ts (Hal-hal yang Sebaiknya Dilakukan dan yang Jangan Dilakukan)
Lakukan: Tunggu sampai anak Anda siap
Tidak ada usia yang tertentu untuk melatih toilet anak.
Walaupun anak-anak mulai menguasai sebagian besar kemampuan yang mereka butuhkan antara usia 18 dan 30 bulan,
toddler (bayi 1 tahun ke atas) Anda mungkin saja belum siap menguasai latihan toilet sampai akhir usia 4 tahun.
Semakin siap anak Anda ketika Anda memulainya (catatan: bukan semakin awal) maka semakin cepat latihan selesai.

Anak Anda mungkin telah siap jika ia:
Dapat meniru tingkah laku Anda, termasuk kebiasaan Anda di kamar mandid an memakai celana dalam
Telah mulai meletakkan barang-barang di tempatnya dan tertarik merapikan dunia di sekitarnya
Menunjukkan kemandirian dengan menunjukkan tanda ingin mengendalikan dirinya sendiri dibandingkan dikendalikan (misalnya dengan mengatakan: ‘tidak’)
Dapat menunjukkan minat pada latihan toilet dan suka mengikuti Anda ke kamar mandi
Aktivitas lambung (buang air)nya dapat diperkirakan
Dapat menarik/turunkan celananya.
dan seterusnya…
Artikel ini ditulis oleh T. Berry Burazelton (doktor ilmu kedokteran), Ann C. Studdler (doktor ilmu keperawatan), dicantumkan dengan huruf katakana di:
http://jp.pampers.com/ja_JP/content.do?type=101&contentId=2313&currentid=ar1012313
Harap maklum kalau salah eja.

2. Mengenai penjelasan singkat dari segi fisik anak, dalam bahasa Jepang dapat dibaca di: http://www.unicharm.co.jp/trepanman/omutsuhazure2.html

“Tentunya Anda tahu bahwa air kencing dibuat di ginjal.
Air kencing yang dibuat di ginjal itu, lalu dikumpulkan dalam kandung kemih, jika penuh, kandung kemih akan mengkerut dan mengeluarkannya.
Selama bayi baru lahir, kandung kemihnya sangat kecil, sehingga air kencing yang ditampung segera dikeluarkan ‘tanpa sadar.’
Jadi air kencing keluar sebagai ‘gerakan reflek’. tetapi, kencing tidak keluar dengan hanya penyusutan kandung kemih saja.
Sebenarnya, jika kandung kemih menjadi penuh, datang pengumuman pada otak, sehingga otak mengeluarkan perintah ‘mari kencing=mari menyusutkan kandung kemih.’
Bersamaan dengan pertumbuhan badan, sensasi bahwa kandung kemih sudah penuh menjadi dapat dirasakan.
Jika anak tumbuh, kerja otak semakin berkembang, sehingga walaupun kandung kemihnya penuh, ia akan dapat mengontrol kerja kandung kemih
yaitu menahan pipis sampai di toilet.
Jadi, sebelum lepas dari popok, anak perlu bisa menahan pipis.”

Penulisan artikel ini diawasi oleh Gono Koono, doktor ilmu kedokteran yang sudah banyak menerbitkan buku pengasuhan anak.
Silakan lihat profilnya di http://www.unicharm.co.jp/trepanman/kanshu.html.

3. Mengenai tujuan dari latihan toilet, dapat dibaca di: http://pigeon.info/kosodate/shukan/toire.htm

“Tujuan akhir dari latihan toilet, yaitu anak mengerti sensasi keluarnya pipis dan kotoran, dapat pergi ke toilet dan menahan buang air sampai membuka celana dalam.
Tetapi, meskipun latihan dimulai dini, tidak berarti dapat cepat terbebas dari popok. Untuk sampai ke sana, erat kaitannya dengan sistem syaraf, perkembangan fungsi pembuangan bayi.

Sekitar usia 1 tahun, anak dapat mengerti sensasi penuhnya kandung kemih, tetapi sistem syarafnya belum berkembang atau belum bisa menahan buang air secara sadar.
Saat usia 1,5 tahun, jarak pipisnya jadi sekitar 2 jam, ia semakin memahami kata-kata orang, sehingga persyaratan untuk mengajarkan bahwa ‘pipis harus di toilet’ telah terpenuhi.
Jika sampai usia ini, boleh memulai latihan sedikit demi sedikit.’”

Di situs yang sama di bagian Tanya Jawab yaitu :http://pigeon.info/kosodate/q_a/36.htm
“Tanya: Kapan memulai melepaskan popok/latihan toilet?
Jawab: Lewat usia 1 tahun, ketika anak dapat berjalan, ia mulai mengerti sensasi keluarnya pipis, dan menunjukkannya misalnya dengan menekan-nekan bagian depan popok. Jika kondisi ini terlihat, sudah boleh memulai. Tetapi, pada masa ini, kandung kemih masih berukuran kecil sehingga anak belum bisa menahan pipis. Lewat usia 1.5 tahun, kandung kemih menjadi besar, sehingga dapat menampung air kencing, dan sedikit demi sedikit anak mampu menahan keluarnya kencing.
Setelah mengalami proses menahan kencing dan rasa lega ketika mengeluarkannya di toilet, anak akhirnya mengerti hubungan sebab akibat bahwa ‘kalau ingin pipis harus pergi ke toilet’”

Tim dokter yang menyusun isi situs tersebut dapat dilihat di: http://pigeon.info/soudan/index.cgi

4. Pertanyaan dan jawaban apakah lebih baik memulai latihan toilet lebih cepat ada di: http://www.kao.co.jp/merries/babycare/qa/06/a01.html

“Tanya: Jika bayi sudah bisa duduk sendiri, apakah ia akan lebih cepat lulus dari popoknya jika didudukkan di toilet? (Hiroshi-Mama, 5 bulan)
Tanya: Di katalog peralatan toilet untuk bayi, ditulis bahwa latihan toilet dimulai sejak 6 bulan. Anak saya belum bisa duduk. Kapan harus memulai latihan? Saya khawatir terlambat. (Sakura-Mama, 6 bulan)

Jawaban:

… Meskipun memulai sejak dini sekali, tidak berarti anak akan cepat lulus dari popok. Kemampuan anak untuk duduk sama sekali tidak ada hubungannya dengan harus dimulainya latihan toilet. Umumnya anak bisa duduk usia 6-7 bulan, tetapi meskipun anak didudukkan di toilet pada masa itu, hampir tidak ada artinya. @
@Kenapa demikian? Karena, agar anak lepas dari popok, sebelum ia terbiasa dengan toilet, anak harus memenuhi beberapa persyaratan. Yaitu:

1. dapat menampung kencing dalam kandung kemih
2. dapat mengetahui/merasakan sensasi keluarnya pipis
3. dapat merasakan sensasi kotoran atau pipis sudah akan keluar

Pengasuh ruang tanya jawab situs tersebut adalah Kazue Kawakami, doktor ilmu kedokteran. Profilnya ada di: http://www.kao.co.jp/merries/babycare/qa/profile.html

5. Di situs surat kabar Yomiuri yaitu http://www.yomiuri.co.jp/komachi/baby/ba451001.htm juga tertulis pendapat pakar yang isinya kurang lebih sama dengan situs-situs di atas.

Sumber: Millist Fahima

July 11, 2005

TIDURLAH YANG NYENYAK SAYANG

Filed under: Asih Asuh

Tidur yang cukup memungkinkan otak dan organ tubuh lainnya berkembang serta bekerja optimal.

Tidur memang tak berpengaruh langsung terhadap kecerdasan anak. Maksudnya,
tidur cukup saja tidak otomatis membuat anak pintar. Yang benar, tidur cukup membuat fisik dan mental anak menjadi lebih kondusif. Nah, kondisi inilah yang berpengaruh pada kecerdasan anak.

Berdasarkan penelitian, selama tidur semua sel tubuh, termasuk sel otot, hati, ginjal, tulang sumsum, dan sel otak mengalami pemulihan. Bermodalkan tubuh yang bugar inilah anak diasumsikan akan lebih semangat melakukan sesuatu. Apalagi didukung oleh otak yang berfungsi dengan baik. Selain itu, hormon-hormon pun lebih aktif diproduksi selagi tidur. Hal ini penting untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi kerja otak dan melancarkan pengangkutan asam amino dari darah ke otak. Dengan demikian sel-sel saraf semakin berkemungkinan memiliki pengetahuan yang permanen sifatnya.

Produksi kortisol sebagai salah satu hormon penting, mencapai titik tertinggi sejak tengah malam hingga pagi dini hari. Hormon ini berperan membantu anak dalam menghadapi stres yang dihadapinya setiap hari, disamping mengurangi kepenatan dan peradangan. Jadi, teramat wajar bila tidur malamnya kurang, anak jadi kelihatan loyo alias kurang vitalitas dan gampang uring-uringan. Ini karena minimnya produksi kortisol maupun rendahnya pemulihan sel-sel yang akhirnya membuat kemampuan tubuhnya jadi terbatas untuk melakukan berbagai kegiatan.

UNTUK KONSENTRASI DAN EKSPLORASI

Ketika energi berkurang dan tubuhnya mulai letih, si balita yang seolah tidak pernah capek bermain seringkali menjadi rewel, bukan? Kondisi itu juga menyebabkan anak tak lagi bisa berkonsentrasi menjalani aktivitasnya. Inilah saatnya si kecil perlu tidur. Dijamin, bila tidurnya cukup, anak akan segar kembali dan dapat bermain-main sambil berkonsentrasi dan bereksplorasi. Jadi bisa disimpulkan, tidur sangat mendukung perkembangan kecerdasan anak.

Sama halnya dengan anak yang bersekolah dari pagi hingga siang hari. Sepulang sekolah dalam keadaan letih dia pasti akan sulit berkonsentrasi ketika diminta mengulang pelajaran. Bila dipaksakan mungkin hasilnya nihil. Lebih baik berikan kesempatan pada anak untuk beristirahat agar energinya kembali.

KEBUTUHAN TIDUR PER USIA ANAK

Meski penting, beri tahu anak untuk tidur secukupnya saja. Porsi tidur yang berlebihan justru akan membuat tubuh malas beraktivitas dan pikiran tidak kreatif. Porsi tidur yang cukup bagi anak berbeda-beda tergantung usianya. Selain dari terpenuhinya porsi ini, kecukupan tidur bisa dilihat dari lelapnya tidur anak, kebugaran, dan apakah ia mengantuk atau tidak di siang hari. Inilah perinciannya:

* Bayi

Setidaknya 75 persen dalam sehari dipakai bayi untuk tidur, yaitu sekitar 20 jam. Ini wajar karena bayi butuh waktu lebih banyak bagi proses tumbuh kembang fisiknya atau belum menjurus ke arah perkembangan psikomotorik, pengetahuan dan sebagainya. Baru setelah berusia 6 bulan, kebutuhan tidurnya sedikit berkurang, yakni sekitar 12-15 jam per hari. Kenapa begitu? Karena di usia ini bayi mulai asyik dengan berbagai kemampuan barunya seperti memandangi obyek yang jadi pusat perhatiannya, menggerak-gerakkan tangan dan kakinya.

* Balita

Memasuki usia setahun dan seterusnya, jam tidur anak semakin berkurang atau menjadi sekitar 10-12 jam. Separuh hari si balita dihabiskan untuk menjajal kemampuan yang semakin meningkat, terutama dalam hal berinteraksi/bersosialisasi.

* Anak usia sekolah

Sesuai tahap perkembangannya, begitu menginjak usia 5 tahun, maka kebutuhan tidur anak semakin berkurang menjadi 8-10 jam per hari (usia 6 tahun butuh 10 jam, anak 12 tahun 9 jam). Di usia ini ada berbagai aktivitas yang mesti mulai dijalaninya secara teratur, seperti sekolah, les, bermain dengan teman, dan sebagainya. Apalagi di usia ini, anak umumnya kian dituntut untuk mengembangkan kemampuannya bersosialisasi. Agar antara kebutuhan tidur dan beraktivitas seimbang, sedari kecil latihlah anak tidur dengan jadwal teratur.

ANAK AKTIF TIDUR LEBIH SEDIKIT

Selain usia, waktu tidur juga tergantung pada tipe anak. Maksudnya, anak yang memiliki mobilitas tinggi atau terbilang sangat aktif mungkin saja di usia 6 tahun hanya tidur 6-7 jam, sama dengan waktu tidur orang dewasa. Soalnya, anak tipe ini memiliki energi “melimpah” sehingga membutuhkan penyaluran yang lebih leluasa pula. Meski begitu, jangan terlalu khawatir karena ia tetap bisa berkembang optimal kok.

Bedanya, anak dengan gangguan hiperaktif umumnya memiliki kebutuhan tidur sangat sedikit. Selain memiliki energi berlimpah, anak ini pun tak memiliki kemampuan membagi waktu. Tak heran kalau sejak pagi sampai sore ia habiskan dengan beraktivitas. Tidur hanya bisa dijalani kalau energinya benar-benar menipis. Mungkin secara umum aktivitas tidurnya tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan fisiknya. Namun untuk perkembangan mentalnya, anak seperti ini harus mendapat penanganan intensif mengingat anak hiperaktif mengalami gangguan fungsi otak.

AGAR BISA TIDUR NYENYAK

* Ajaklah anak berolahraga secara teratur. Bisa dengan berjalan kaki ringan sambil menghirup udara segar di pagi hari atau melakukan olahraga kesenangannya. Semakin bugar tubuh anak, semakin mudah pula baginya untuk bisa tidur nyenyak.

* Lakukan pembiasaan menetapkan waktu tidur, baik tidur siang maupun malam. Konsistensi soal waktu tidur ini selain memudahkan anak tidur nyenyak juga membantu melatih anak disiplin.

* Jangan biasakan anak makan menjelang tidur atau makan terlalu malam. Kebiasaan buruk ini hanya akan membuat sistem pencernaannya bekerja lebih berat sewaktu tidur. Akibatnya, tidurnya pun jadi tidak tenang. Sangat baik bila makan ditetapkan sore hari menjelang malam, yakni 3-4 jam sebelum tidur.

* Pilihkan tayangan teve yang menghibur dan hindari tayangan yang menyeramkan/menegangkan.

* Di waktu-waktu tertentu menjelang tidur tak ada salahnya mandi dengan air hangat yang membuat tubuhnya lebih relaks dan nyaman.

* Perhatikan kamar tidurnya. Suasana hening, udara sejuk dan segar jelas akan membantunya terlelap.

* Bila anak terlihat resah, cobalah untuk menenangkannya. Misalnya dengan menceritakan sesuatu yang menghibur, menguatkan keberaniannya, menanyakan apakah ada masalah yang sedang dipikirkannya sekaligus membantunya mencarikan solusi.

Irfan Hasuki. Foto: Iman/nakita

Konsultan Ahli:
Any Reputrawati, Psi.,
dari RSUP Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.

sumber: www.nakita.com

June 25, 2005

KOK, NGOMONGNYA KASAR?”

Filed under: Asih Asuh

“Ari jelek, gendut, bau!” jerit Rika (5) dengan wajah marah. Ari pun tak mau kalah. Dengan mata berkaca-kaca menahan tangis karena disebut “jelek”, ia balas berteriak, “Rika bego, ompong!”

Suka atau tidak, kebiasaan memaki pada anak-anak adalah suatu kenyataan. Cepat atau lambat, anak-anak akan belajar bahwa kata-kata memiliki kekuatan. Jadi?

Tenang! Ini normal, kok. Pada usia balita ke atas, anak tengah belajar dan menggali berbagai bentuk situasi sosial serta hubungan pertemanan. Sayangnya, proses penggalian ini tidak selalu diimbangi dengan keterampilan sosial mereka. Dengan ketus, misalnya, balita Anda bisa saja berkata pada temannya, “Aku enggak mau main sama kamu lagi!”atau “Ih, kok, sepatumu jelek!”. Padahal, bukan itu pesan yang sebenarnya hendak disampaikan anak. Masalahnya, anak belum mengembangkan keterampilan berkomunikasi kompleks yang dibutuhkannya untuk mengungkapkan perasaannya.

MENYONTEK SEKITAR
Saat Rika menyebut Ari “jelek”, misalnya, bisa jadi itu merupakan cetusan sakit hati karena si Ari yang sebelum-nya selalu bermain dengannya, kini memilih main dengan teman yang lain. Umumnya anak memaki dengan kata-kata yang mengejek kecerdasan atau fisik, seperti “bego” dan “jelek”, tapi mereka juga sering menjadikan atribut yang dikenakan oleh lawan bicaranya sebagai obyek makian, seperti, “Sepatu busuk!” atau “Boneka dekil!”

Bentuk lain dari “makian” mereka adalah dengan mengasingkan lawan bicaranya dari pergaulan, “Sana pergi! Kami enggak mau main dengan kamu!” Selain ketidakmampuan berkomunikasi, kebiasaan berkata kasar juga dapat terjadi karena melihat orang-orang di sekitarnya. Orang-orang dewasa dalam keluarga, teman-teman sebaya, saudara, tetangga, dan tontonan televisi yang kerap melontarkan berbagai bentuk umpatan serta makian, dapat membuat anak-anak merasa, memaki adalah hal yang wajar.

HARUS APA, DONG?
Sebagai orang tua, mungkin kita bisa melarang dan mengajari anak untuk tidak berkata-kata kasar. Namun kita tak dapat mencegah anak-anak lain dari kebiasaan omong kasar atau memaki. Meski begitu, Anda bisa, kok, mengajari anak bagaimana harus bersikap saat menghadapi makian dari teman-temannya.

* Rasakan kepedihan hatinya
Katakan pada anak, diejek, diolok, dan dimaki adalah hal menyakitkan. Perlihatkan Anda memahami perasaannya. “Kamu sedih dan kesal, kan, waktu Didi memanggilmu si cengeng?”. Sarankan pada si kecil untuk mengatakan pada Didi bahwa ia sakit hati.

Jangan sampai anak Anda kapok bergaul. Sebaliknya, pompa terus semangatnya untuk terus membangun persahabatan baru dengan teman-teman yang lebih baik dan membuatnya merasa lebih baik.

* Dampingi
Dengan bahasa sederhana, jelaskan pada si kecil, kita tidak dapat mengatur apa yang akan dikatakan oleh orang lain, namun kita dapat memutuskan bagaimana kita akan bereaksi. Tanyakan padanya, apakah ia punya ide untuk menghadapi kata-kata kasar dari teman-temannya? Jika ia kelihatan kehabisan akal, beri beberapa pilihan padanya.

Agar ia dapat memahami perkataan Anda, ajaklah ia bermain sandiwara dengan Anda berperan sebagai si kecil dan anak menjadi si pengejek. Misalnya ia berkata, “Kamu tidak boleh main sama kita soalnya kamu bego!” Maka jawablah, “Saya enggak bego, kok. Saya juga punya teman main lain.”

Pilihan lain yang dapat diberikan adalah mengajari anak untuk cuek pada kata-kata kasar temannya. Makian tidak akan menunjukkan kekuatannya bila si korban tidak termakan oleh makian tersebut. Sarankan si kecil untuk tetap melakukan aktivitas yang sedang dikerjakannya atau meninggalkan si teman yang berbicara kasar.

* Ajari meminta pertolongan
Dibutuhkan kedewasaan yang cukup untuk menghadapi makian atau kata-kata kasar yang bertubi-tubi. Sulit juga untuk mengharapkan anak-anak kita mampu mengendalikan emosi dan tidak menyerang balik. Wajar, ia hanya anak-anak! Karena itu, ajarilah anak untuk minta bantuan pada diri Anda atau guru sekolah. Guru dapat membantu anak Anda di sekolah dengan menjadi penengah dan mengajari mereka keterampilan sosial yang positif dalam menyelesaikan masalah.
HINDARI KATA-KATA KASAR!
Bisa jadi, lo, kata-kata kasar dan makian yang dilontarkan si kecil bukan dipelajari dari teman-temannya melainkan dari Anda sendiri. Tentu saja, hal itu Anda lakukan tanpa sadar.
Menggoda anak-anak memang bisa menimbulkan suasana lucu dan humoris dalam keluarga. Misalnya dengan mengatakan, “Kalau kamu terlalu banyak makan, nanti perutnya gendut kayak tong sampah di depan rumah’. Nah, berilah pengertian bahwa perumpamaan itu hanya untuk seloroh atau gurauan. Bila ia tidak memberi reaksi yang sewajarnya terhadap gurauan Anda, mungkin anak benar-benar merasa terisnggung karena menganggap Anda serius.

Jadi, hati-hati saat bergurau. Terutama mengenai hal-hal yang kurang dikuasainya atau kelemahannya. Misalnya, ketakutannya akan gelap atau kecenderungannya untuk menjadi gagap saat belajar membaca. Semua ini hanya akan membuat si kecil merasa malu! Tak perlu menyebarluaskan julukan “Si Tembem” atau “Si Konyil” di depan teman-teman anak Anda. Sebaliknya, ajari dan kenalkanlah anak Anda bentuk-bentuk candaan yang tidak menghina atau menyakiti orang lain.

KALAU SI KECIL MEMAKI
* Tenang
Jangan memberi reaksi berlebihan. Meski Anda kesal mendengar anak Anda menggunakan kata-kata kasar, tetaplah tenang. Kenapa? Anak-anak kadang memaki untuk memperoleh reaksi tertentu atau perhatian.

Lantas apa yang harus Anda lakukan? Pertama, beri respons yang tenang dan ingatkan ia, memaki dapat menyakitkan hati orang lain. “Hayo, kamu ingat, kan, betapa sakit hatinya kamu ketika diejek dulu? Apakah kamu mau temanmu sakit hati karena kata-katamu?”

* Tanamkan Empati
Walau ia baru berusia 5-6 tahun, tapi memperkenalkannya dengan dampak kata-katanya terhadap orang lain, dapat membantu ia berempati pada sesamanya. Ingatkan ia bahwa ia pun pernah merasa sedih karena orang lain mengejeknya. Beri ia pengertian, menyadari bahwa orang lain tampak berbeda adalah wajar, namun mengatakannya secara langsung belum tentu sopan.

Tekankan untuk tidak memberi penilaian terhadap orang lain dari penampilan fisik mereka. Pastikan pula anak Anda tidak membuat komentar negatif terhadap penampilan orang-orang di sekitarnya.

* Kurangi Persaingan Antar Saudara
Jika balita Anda mengejek kakak atau adiknya, belum tentu itu disebabkan oleh kemarahannya pada saudara-saudaranya. Bisa jadi ia hanya mencari perhatian Anda. Untuk meredakan kebiasaan ini, pastikan setiap anak memperoleh waktu pribadi mereka bersama Anda.

Jika anak Anda cemburu pada adiknya, misalnya, cobalah untuk melibatkan ia dalam tugas-tugas merawat si adik. Ceritakan betapa lucunya ia ketika ia masih bayi, ajari ia mengajak adiknya bermain, bernyanyi, dan sebagainya. Jika ia berhasil membuat adiknya tertawa, pasti ia akan merasa penting dan berharga.

Sumber: Tabloid Nova Juni 2005

June 24, 2005

Mengapa Anakku Tidak Bicara?

Filed under: Asih Asuh

Mengapa Anakku Tidak Bicara?
Kemampuan bicara tumbuh dan berkembang berbeda-beda tergantung pada masing-masing anak.
Walaupun demikian, ibu tentulah khawatir jika anak tidak kunjung bicara seperti kawan-kawan sebayanya.
Jika ibu sudah memeriksakan anak ke dokter dan dinyatakan tidak ada masalah pada indra pendengarnya,
barangkali ada kesalahan pada cara ibu berinteraksi dengannya.
Berikut ini lima kesalahan ibu -baik disadari atau tidak - yang menghambat kemampuan bicara anak.

1. Ibu malas mengajak anak bercakap-cakap.

Jika ibu telaten mengajak anak bercakap-cakap, pada saatnya anak pasti bisa bicara.
Jadi jangan malas-malas berbicara dengan anak.
Ibu mungkin berpikir anak tidak paham, tetapi sebenarnya anak mengerti lebih banyak lho dari yang ibu sangka.
Bicaralah apa saja seolah sedang bercakap-cakap dengan teman.
Apa saja yang terlintas di pikiran ibu saat itu.
Tanyakan pada anak apakah makanannya enak, apakah ia siap mandi,
apakah ia mau ikut pergi ke supermarket.
Tunggulah reaksinya.
Anak mungkin menanggapi, mungkin juga tidak.
Tetapi percayalah, dia mengerti.
Terjemahkanlah perasaan anak dengan kata-kata Ibu sendiri.
‘Oh ya, enak ya.’ ‘Kamu suka ya mandi.’ ‘Senang ya jalan-jalan.’
Ibu jadi punya teman ngobrol di rumah bukan?
Jika Ibu harus beraktivitas di luar rumah dan terpaksa menitipkan anak kepada orang lain, pastikan bahwa pengasuh tersebut banyak bercakap-cakap dengan anak. Jika ibu menemukan pengasuh tidak banyak bicara pada anak, cari orang lain.

2. Ibu sering membiarkan anak menonton TV sendirian.

Memang lebih enak ya membiarkan anak melongo sendirian menonton acara NHK yang ditargetkan untuk anak di bawah 3 tahun.
Sementara anak tenang, ibu bisa melakukan apa saja.
Tetapi bukan tanpa alasan acara anak-anak tersebut dijuduli Okaasan to Issho (Bersama Ibu).
Penelitian dari Perkumpulan Dokter Anak Jepang membuktikan bahwa anak yang ‘ditelantarkan’ ibu di depan TV pasti terlambat bicara.
Berbagai dampak buruk TV dan TV-game terhadap perkembangan otak anak juga sering diperkenalkan.
Walaupun demikian, rasanya tidak mungkin hidup tanpa TV di zaman sekarang. Lalu bagaimana dong cara memperlihatkan TV?
Dampingi anak dan ajaklah dia bicara tentang acara TV tersebut.
Perhatikan baik-baik. Bukankah ia selalu menoleh untuk menatap wajah Ibu?
Juga matikan TV pada waktu makan.
Waktu makan merupakan kesempatan berharga bagi ibu untuk mengajak anak bercakap-cakap.
Mudah-mudahan ibu tidak tergoda untuk mengomeli anak ketika ia makan ya.
Nanti ia jadi rendah diri dan malas bicara.

3. Ibu selalu berbicara dengan suara keras dan nada membentak.

Anak-anak sangat halus dan peka perasaannya.
Anak-anak senantiasa membaca perasaan ibu.
Jika ibu selalu senyum dan tampak bahagia, insyaa Allah anak bisa tumbuh jiwa raganya secara sehat.
Sebaliknya jika ibu selalu galak dan marah-marah,
anak akan senantiasa takut bertindak, kalau-kalau ia akan membuat ibu marah.
Anak jadi murung dan tidak mau bicara, terutama pada ibu.
Ketika ia menerima santapan sehari-hari, yaitu kemarahan ibu,
mungkin ia menunduk dan menangis saja, tanpa bicara sepatah kata pun.
Ibu, berhentilah bicara “Ayo yang cepat sarapan!” “Ayo cepat pakai bajunya!” “Lambat amat sih kamu!” “Buruan! Kamu telat nanti!”
Jangan marahi anak jika ia tidak bisa, tetapi berilah contoh supaya ia bisa.
Sabarlah. Sabarlah. Sabarlah.
Banyaklah tersenyum padanya.
Lihatlah perubahan pada diri anak.
Jika ibu pandai menahan diri, anak yang semula penakut dan pendiam akan ceria dan berani berbicara.

4. Ibu mencela ketika anak tidak pandai mengucapkan sesuatu.

“Salah. Bukan begitu.” “Ngomong yang jelas dong.”
Jika ibu banyak mencela anak ketika ia tidak jelas mengucapkan sesuatu,
ia kehilangan semangat untuk bicara.
Bagaimana jika anak kurang pandai mengucapkan sesuatu?
Ulangi saja kata-katanya seperti burung beo, tentu saja dengan ucapan yang benar.
Usahakan agar ia sering mendengar pengucapan yang jelas.
karena sebenarnya ia sedang menyimpan memori dalam gudang kata-katanya.
Tentu saja ia tidak sengaja menjadi cadel atau salah bicara,
karena struktur fisiknya -gigi, mulut- sendiri belum sempurna.
Lambat laun anak pasti bicara, jika ibu menyemangati untuk bicara dengan banyak memujinya.

5. Ibu tidak memberikan kesempatan untuk bicara.

Mungkin ibu sibuk, ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, sehingga tidak sempat menunggu jawaban anak.
Berhentilah ‘nyerocos’ sendirian tanpa memperhatikan reaksinya.

Setiap kali bertanya, tatap wajahnya dan tunggu jawaban (beri waktu kurang lebih 15 detik).
.Dorong anak untuk bicara lebih banyak dalam percakapan yang riang dan menyenangkan.

Ibu adalah orang terdekat yang paling pandai menerka kemauan anak.
Sehingga anak tinggal bilang ‘itu’ saja, ibu sudah tahu anaknya ingin makan kue.
Jika Ibu menilai bahwa anak sebenarnya sudah mampu bicara lebih banyak,
cobalah mengatakan padanya ‘Kalau adik cuma bilang itu, Ibu tidak mengerti.’
Anak mungkin akan menjawab, ‘Minta kue.’
Tanggapi ia dengan berkata, ‘Rupanya adik lapar ya.’
Lain kali ia akan bisa mengatakan, ‘Minta kue. Adik lapar.’

Kadang, anak lebih tua atau kakaknya mampu dan terbiasa menerjemahkan kata-kata adik yang kurang jelas.
Mintalah kakak untuk menahan diri karena adik jadi tidak bisa berlatih bicara untuk dirinya sendiri.
Dengan kata lain, upayakan kondisi di mana anak mempunyai kesempatan dan kebutuhan untuk berkomunikasi.

Tentu saja kelima kondisi di atas berlaku pula untuk semua anggota keluarga yang berinteraksi dengan anak. Ayah yang bersemangat untuk mendisiplinkan anak sejak dini pun namun dengan cara yang keliru -membentak-bentak, memukul-, juga bisa menimbulkan masalah perkembangan bahasa anak. Misalnya ia pendiam jika di depan ayah yang keras, tetapi mendadak tidak bisa berhenti mengoceh ketika ayah tidak ada.

Mari waspada terhadap cara kita berkomunikasi dengan anak-anak. Cara kita berinteraksi setiap hari menentukan perkembangan jiwa dan mentalnya. Seperti kita ketahui, kemampuan berbicara sangat menentukan dalam petualangan anak menjelajahi dunia di luar lingkungan rumahnya. Mari persiapkan anak sebaik mungkin dengan orientasi mendukung kemandirian dan rasa percaya dirinya. ***

Sumber : Millist Fahima

Hal-hal yang menakjubkan pada ANAK LAKI-LAKI:

Filed under: Asih Asuh

1. Hal paling sukar pada anak laki-laki adalah duduk diam.
2. Makanan apapun yang tidak disukai anak laki-laki, tidak akan pernah
dicobanya untuk kedua kali.
3. Anak laki-laki anda mungkin tidak mau mencangkul kebun anda tapi ia akan
mencangkul kebun tetangga bahkan tanpa diminta.
4. Setelah anak laki-laki membersihkan kamar tidurnya, dia tidak mau masuk
kesana lagi selama mungkin karena kamar itu sudah tidak nyaman lagi baginya.
5. Tidak ada yang dapat menjelaskan hubungan istimewa antara anak laki-laki
dengan sebuah bola.
6. Anak laki-laki bisa bermain sepanjang hari, setiap hari, dalam cuaca
apapun dan baru letih setelah anda menyuruhnya berhenti.
7. Musuh terbesar bagi anak laki-laki adalah kebosanan.
8. Anak laki-laki bisa bersahabat lama sekali bahkan dengan teman
berkelahinya.
9. Tidak ada tantangan yang lebih besar seperti pergi ke sekolah bagi anak
laki-laki yang tidak ingin pergi dan tidak ada yang lebih berani daripada
guru yang ingin merubah pikirannya.
10. Anak laki-laki bisa memikirkan sangat banyak hal yang lebih penting
untuk dikerjakan daripada pekerjaan rumahnya.
11. Anak laki-laki mengangap hal yang terbaik dari uang adalah bunyi
gemerincingnya di dalam kantung.
12. Perlu waktu lama untuk membuat anak laki-laki marah dan hanya beberapa
detik untuk melupakannya.
13. Tidak ada yang lebih kesepian daripada anak laki-laki yang sahabatnya
pindah ke kota lain.
14. Anak laki-laki harus tahu bagaimana cara kerja sesuatu dan satu satunya
cara mencari tahu adalah membongkarnya.
15. Anak laki-laki senang cerita horor dan semua rincian seramnya.Mereka
merasa berani kalau anda takut.
16. Anak laki-laki berkata “Nanti” ketika anda menyuruhnya melakukan sesuatu
yang mereka tidak ingin lakukan. Mereka juga berkata “Nanti” bahkan ketika
mereka tidak berniat mengerjakannya.
17. “Mengapa ?” adalah kesayangan anak laki-laki, begitu anda menjawab, ia
akan bertanya lagi.
18. Anak laki-laki merasa kecil ketika sedang sakit dan merasa besar ketika
anda sakit.
19. Anak laki-laki membuka hadiah mereka perlahan-lahan karena mereka takut
tidak suka isinya dan tidak tahu harus berkata apa.
20. Kecuali anda sangat tangkas, semua photo anak laki-laki memperlihatkan
dia sedang menjulurkan lidah atau menjulingkan matanya.
21. Jangan buang koleksi berharga anak laki-laki anda seperti paku
bengkok, kunci yang tidak membuka apa-apa dan lain lain.
22. Anak laki-laki lebih suka mobil, monster, mobil, serangga, mobil, motor
dan mobil.
23. Tidak ada pujian yang paling manis daripada seorang anak laki-laki
melakukan sesuatu persis seperti cara anda.
24. Kalau anda selalu menuruti keinginan seorang anak laki-laki, anda
mencoba menciptakan seorang monster.
25. Anak laki-laki senang simpul, mereka mengikat segala sesuatu kecuali
tali sepatu mereka.
26. Anak laki-laki akan meniup semua lilin ulang tahunnya dengan satu nafas
walaupun harus kehabisan nafas.
27. Anak laki-laki bisa mentertawakan apa saja kecuali dirinya sendiri.
28. Anak laki-laki perlu tahu anda selalu menjaga mereka tapi mereka tidak
mau anda mengatakannya.
29. Anak laki-laki mungkin tahu perbedaan antara salah dan benar tapi
kadang kadang mereka terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan.
30. Kepercayaan seorang anak laki-laki adalah kehormatan terbesar yang bisa
dia berikan pada anda.
31. Seorang anak laki-laki mempunyai cara sendiri untuk mengatakan dia
sayang pada anda.
32. Sukar memarahi anak laki-laki yang meringis lebar kepada anda.

Sumber: Millist Funky Mom






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here