Children Learn What They Live
Bab 4. Jika Anak-Anak Dibesarkan Dengan Rasa Kasihan, Mereka Belajar Mengasihani Diri
Mengasihani diri ibarat terjerumus dalam rawa-rawa penghisap. Kekuatan misterius menarikmu ke bawah sampai kamu merasa kewalahan dan tidak berdaya. Harapan satu-satunya adalah jika seseorang datang dan menolongmu.
Ini bukanlah resep untuk berhasil. Jika kita merasa kasihan pada anak-anak atau kita selalu mengasihani diri sendiri, kita mengajari mereka bahwa boleh saja mengasihani diri. Ini tidak mengajari mereka berinisiatif, kuat hati, atau bersikap antusias. Sebaliknya, merasa kasihan pada diri sendiri merontokkan semangat dan sering kali mencerminkan ketidakberdayaan dan ketidakmampuan.
Kita ingin anak-anak kita tumbuh berpotensi, mampu menemukan kekuatan dalam diri mereka sendiri, dan dapat meminta pertolongan pada orang lain ketika dibutuhkan. Untuk memberikan contoh baik pada mereka, kita perlu mempraktekkannya dalam hidup kita sendiri. Mungkin kita tidak bisa sempurna dan tidak bisa setiap saat, tetapi cukup sehingga anak-anak kita belajar menggali kekuatan dalam diri guna tantangan yang mereka hadapi. Ini berarti kita harus menemukan kekuatan dalam diri kita untuk menghadapi tantangan di depan mata dalam hidup kita. Kita juga harus memiliki keyakinan pada anak-anak kita. Kita yakin anak-anak mampu menyelesaikan masalah ketika menemukan halangan dalam hidup mereka.
Memanfaatkan Imajinasi
Kita semua mengalami saat-saat ketika kita ingin mengasihani diri. Kita merasa bekerja terlalu keras, tidak cukup dihargai, seolah hidup tidak sesuai keinginan kita. “Mengapa hal ini menimpa aku?” begitulah kita mengeluh. Jika kita tidak hati-hati, mengasihani diri dapat berubah menjadi pola berpikir, yang mengarah dari menangis sesekali menjadi rasa tidak berdaya yang parah. Persepsi kita menyempit menjadi hanya menerima informasi yang mendukung asumsi “kasihan aku”, dan kita terjebak dalam pemikiran memutar yang berulang menjadi lingkaran setan mengasihani diri dan tidak berdaya.
Jika kita menemukan diri dalam situasi semacam ini, berhentilah berpikir tentang masalah kita dan lakukan sesuatu - apa saja! Naik sepeda di gym, berjalan kaki, atau membayangkan tamasya ke tempat favorit. Murid saya Kate, bercerita tentang kegiatan yang menyelesaikan masalahnya. “Saya merasa seperti keset tua, rombengan dan tidak dihargai, “katanya. “Ketiga anak saya melelahkan saya, suami bekerja sepanjang waktu dan kelelahan ketika ia pulang. Saya merasa amrah dan sedih, tetapi saya juga tidak suka merasa seperti itu. Jadi saya memutuskan untuk mencoba membayangkan seperti pelajaran kita di kelas. Saya menutup mata dan hal pertama yang muncul adalah bahwa saya butuh tepukan tangan. Jadi saya membayangkan diri saya berdiri di sebuah stadium yang penuh dengan orang. Orang-orang itu berteriak dan bertepuk tangan.”Kate Hebat!” Kemudian saya mulai bertepuk tangan. Saya berteriak pada tembok-tembok dapur.”
“Saya menyadari saya butuh kedekatan lebih dengan suami dan saya ingin anak-anak menghargai apa yang saya lakukan untuk mereka. Saya ingin perhatian. Jadi saya memanggang kue pencuci mulut kesukaan keluarga, dan meletakkannya di rak perabotan dengan tulisan besar: ‘Ibu hebat. Jika kamu setuju, peluklah aku.’ Tentu saja ini langsung menjadi topik pembicaraan kami. Saya mendapatkan pelukan yang saya butuhkan, dan suami saya membuat rencana menitipkan anak-anak pada tante saya untuk kencan berdua saja akhir pekan itu. Saya tidak bilang hidup saya berubah, tetapi saya berhasil keluar dari lingkaran mengasihani diri.”
Tidak saja Kate telah mampu memanfaatkan daya kreatifnya, ia juga menunjukkan pada anak-anaknya bagaimana bertindak kreatif untuk menyelesaikan masalah. Tambahan, ia mendapatkan waktu berdua dengan suami yang ia butuhkan. Penting sekali bagi suami istri untuk memperkaya dan menggairahkan kembali hubungan mereka. Semua anggota keluarga mengambil manfaat dari penghargaan terhadap sesama.
Kamu Tidak Tahu Betapa Beruntungnya Kamu
Di antara salah satu tema paling umum bagi orang tua yang terjebak dalam pola “kasihan aku” misalnya membanding-bandingkan kehidupan anak dengan kenangan tentang masa kanak-kanak orang tua. Judith langsung tahu jika ibunya mulai bicara ke arah ini karena ibu akan mulai bercerita tentang masa kecilnya ketika seumur Judit, lalu berlanjut ke bagaimana beruntungnya Judith punya banyak barang, dan bahwa ia tidak menyadari betapa giatnya orang tua bekerja untuknya. Percakapan ini biasanya terjadi di dalam mobil sehingga Judith tidak bisa melarikan diri.
Ibu akan mulai dengan komentar seperti, “Anak-anak zaman sekarang berpikir sepatu ratusan ribu rupiah tumbuh dari pohon.”
Judith tidak tahu harus bilang apa, jadi dia cuma menggumam, “He-eh,” merosotkan badannya di kursi mobil. Tetapi ibu baru mulai, yang tadi belum apa-apa.
“Kamu nggak tahu bahwa ketika ibu seumurmu, ibu harus bekerja menjaga anak orang 3 hari seminggu dan hari Minggu. Ibu nggak terus-terusan keluyuran sama teman-teman.”
Pada saat ini, Judith akan memutar bola matanya dan mengeluh, tetapi ia sudah tidak sabar, “Bu, aku nggak terus-terusan keluyuran kok. Dan aku juga mengerjakan banyak PR dari sekolah.” Ia berhenti sejenak. “Mungkin lebih banyak dari yang ibu kerjakan dulu.”
Keadaan ini menciptakan kontes mengasihani diri antara ibu dan anak. Ibu tidak bermaksud memulai kompetisi semacam ini, atau pun mengekspresikan kasihan pada diri sendiri. Maksudnya adalah mengajari Judith untuk lebih bersyukur dan berterima kasih atas apa yang dimilikinya. Tetapi pesan yang ditekankannya malahan, “Ibu iri dan kecewa bahwa ibu tidak seberuntung kamu” sekaligus pesan yang lebih halus, “Kamu berhutang segalanya pada ibu.” Tidak heran Judith menghela napas sebal setiap kali ibu mulai dengan kebiasaan ini.
Tidak salah menyatakan kebutuhan kita untuk dihargai secara terang-terangan. Ketika menjemputnya di sekolah, ibu Judith dapat mengatakan, “Ibu senang menjemput kamu, dan Ibu akan lebih senang kalau tahu kamu berterima kasih.” Ibu tidak perlu terjatuh pada tindakan mengasihani diri sebagai ganti permintaan yang jelas akan penghargaan. Tentu saja, kita tidak bisa menjamin bagaimana tanggapan anak, tetapi kita lebih mungkin mendapatkan keinginan kita dari mereka jika pesan kita jelas, langsung, dan bebas dari “kenangan buruk masa lalu.”
“Perutku sakit”
Anak-anak dapat menjadi ahli mengasihani diri sendiri dan memanfaatkan rasa kasihan dari orang tua serta semua keuntungan tambahannya, seperti diperhatikan, dipeluk, dan dibujuk-bujuk.
“Perutku sakit,” Tracy mengeluh ketika ibunya mencoba menyiapkannya pergi ke TK. “Aku nggak mau pergi sekolah.” Ia memegangi perutnya dengan wajah kesakitan.
Tidak ada orang tua yang terlepas dari dilema ini. Apakah Tracy benar-benar sakit? Haruskah ia istirahat di rumah? Apakah ia membutuhkan lebih banyak perhatian dari orang tua? Atau apakah ia membutuhkan liburan sehari untuk tinggal di rumah bersama ibu dan ayah?
Ibu Tracy harus menilai keadaan ini dan menebak sebaik mungkin. Yang paling penting adalah Tracy tidak belajar bahwa rasa kasihan pada dirinya tidak akan membuat kebutuhannya terpenuhi.
Jika ibu menduga bahwa sakit perut itu hanya alasan untuk menghindari pergi sekolah, ia dapat menanyai Tracy pertanyaan seperti, “Kalau kamu sekolah apa ada hal buruk yang bisa terjadi?” “Kalau kamu libur, apa yang ingin kamu kerjakan?” atau “Apa yang bisa kamu lakukan untuk membuat hari ini seperti yang kamu inginkan?”
Jawaban Tracy dapat membantunya menyadari apa yang ia butuhkan, tanpa mendorong tindakan mengasihani dirinya. Ibu juga jadi tahu tentang pikiran dan hidup Tracy. Kadang-kadang anak-anak pura-pura sakit sebagai ungkapan minta perhatian. Kita perlu bertanya pada diri sendiri jika kita akhir-akhir ini sibuk dan terburu-buru. Kita mungkin perlu berhenti sejenak, berpikir serius, dan menghabiskan waktu ekstra dengan anak-anak kita.
Anak-anak bisa juga mengasihani diri sendiri dengan mengatakan, “Aku tidak bisa.” Ucapan ini bisa menjadi alasan dan pertahanan ampuh terhadap penguasaan keahlian baru. Anak mengatakan, “Ibu tidak bisa mengharapkan aku melakukannya. Aku nggak bisa.” Tetapi sebenarnya yang ia maksud adalah, “Aku tidak mau.” atau lebih keras lagi,”Aku tidak akan melakukannya.”
Jika kita menyerah pada strategi ini kita pada dasarnya menyetujui bahwa anak kita tidak mampu. Kita tidak ingin memberikan pesan semacam ini pada anak. Meskipun memang sulit, ada saat-saat kita perlu menantang anak kita, tidak mengindahkan alasan mereka dan tetap mempertahankan harapan positif kita terhadap mereka. Pada saat bersamaan, kita harus menolong mereka mendefinisikan dan mengakui perasaan tidak aman mereka.
Ben, 8 tahun, frustrasi dengan pe-er matematikanya. “Aku tidak bisa,” keluhnya. “Terlalu sulit untukku.”
Ayah menganggap serius perasaan Ben, tetapi mengabaikan permintaannya agar dikasihani. Ayah mendorongnya untuk tetap mencoba. “Ingat nggak tahun lalu, ketika kamu kesulitan dengan matematika?” kata ayah. “Kamu minta tolong ke guru dan kita mengerjakan beberapa soal bersama-sama kan? Kamu berhasil mengerjakannya waktu itu, dan pasti sekarang juga bisa. Mari kita lihat lagi bersama-sama.”
Kita sering tergoda untuk memberikan simpati ketika anak merasa tidak mampu, tetapi sebenarnya hal ini hanya mendorong mereka untuk mengasihani diri padahal saat itu mereka perlu mengembangkan sifat pantang menyerah. Jika ayahnya menjawab dengan, “OK, Ben. Ayah tahu matematika sulit. Kenapa kamu tidak istirahat saja malam ini?” Ben akan mulai berpikir ia memang tidak bisa matematika. Kita ingin mendorong anak-anak kita untuk tetap menjaga cakrawala mereka terbuka dengan menolong mereka mencapai kemampuan dalam berbagai disiplin dan kegiatan. Terutama penting sekali untuk tidak membiarkan kekurangan kita sendiri mengaburkan perspektif terhadap anak. Jika ayah Ben sendiri kesulitan dengan matematika, ia mungkin lunak terhadap masalah Ben. Tetapi ini bukan hal yang terbaik bagi anaknya.
Sangat sulit bagi orang tua kapan harus menolong anak mereka dan kapan harus mundur. Acap kali, pertolongan malah menjadi hambatan. Anak-anak perlu menyelesaikan proyek sendiri guna membangun rasa percaya diri. Tetapi pada situasi berbeda, anak akan terluka jika tidak ditolong. ketika anak sedang bermasalah dan kewalahan, orang tua perlu masuk, menolong dengan cara yang meningkatkan percaya diri anak, dan bukan meremehkannya. Kadang-kadang hal terbaik untuk dilakukan adalah menolong anak untuk mulai, dan membiarkannya, sambil memberinya semangat guna menemukan caranya sendiri.
Sebagai orang tua, keputusan tentang bagaimana, kapan, dan apakah harus menawarkan bantuan atau menahan diri haruslah selalu dinilai ulang setiap kali. Kebutuhan dan kemampuan anak berubah dengan dewasanya mereka -bantuan bagi anak 3 tahun bisa menghambat bagi anak 5 tahun. Kita perlu pandai-pandai menilai kapan harus ikut campur dan kapan harus minggir, sambil senantiasa memberikan semangat dan dorongan. Penting sekali mengingat bahwa sejumlah perjuangan tidak dapat dielakkan dan menolong sekali dalam proses pembelajaran.
Saat-saat Terburuk
Bahkan ketika tragedi menimpa, rasa kasihan tidak menolong. Rasa kasihan merupakan emosi yang memberikan jarak. Kita merasa kasihan pada korban, sementara pada saat yang sama bersyukur, bahkan merasa tinggi karena kita tidak mengalaminya. Empati, di lain pihak, merupakan perasaan kedekatan, mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi korban. Empati melibatkan kasih sayang, dan mengarah secara alami pada pertanyaan: bagaimana saya bisa menolong?
Salah satu hal-hal yang luar biasa tentang tragedi adalah caranya memunculkan kualitas terbaik dari manusia. Korban malapetaka sering kali bangkit dengan kekuatan dan keberanian yang menakjubkan. Anak-anak cacat sering kali mengajari orang tua mereka tentang bagaimana cara menjalani hidup daripada yang orang tua mereka dapat ajarkan. Bahkan anak-anak dengan penyakit mematikan seringkali mampu bangkit melampaui perasaan mengasihani diri. Mereka mungkin merasa lemah sesekali, tetapi mereka tidak terjebak di sana.
Sue, 10 tahun, menderita kanker. Ia sering bolak-balik antara ruangan kelas limanya dan ruangan anak untuk kanker di rumah sakit. Semua rambutnya yang panjang dan pirang rontok. Ia bisa saja menghabiskan waktu mengurung diri dan mengasihani diri sendiri. Namun, dengan bantuan keluarganya, ia sedapat mungkin mempertahankan gaya hidup yang normal seperti layaknya anak 10 tahun. Ia mengikatkan syal di kepala dan terus pergi ke sekolah, mengerjakan pe-er, dan bertemu teman-teman. Ketika ia masih memiliki energi untuk menikmati hidupnya, ia mengadakan pesta untuk teman-teman sekelasnya. Anak-anak bersenang-senang di pesta itu, demikian juga Sue.
Jika teman-teman tenggelam dalam rasa kasihan pada Sue, mereka tidak mungkin bisa bermain kejar-kejaran dengannya seperti dengan anak sehat. Bukannya mereka tidak sadar dengan penyakit Sue, dan mereka sama sekali tidak berkurang simpati padanya. Mereka membicarakan situasi itu dengan guru dan membayangkan bagaimana perasaan Sue. Karena mereka telah membahas penyakitnya secara terbuka, mereka mampu memahami akibatnya. Mereka mampu bersikap mendukung, dan mengajaknya ikut dalam kegiatan mereka ketimbang mengasingkannya dalam upaya yang salah untuk melindunginya.
Solusi, Bukan Simpati
Janice, 10 tahun, membantingkan tubuh ke atas sofa di sebelah Ibu dan mengeluh, “Aku satu-satunya yang nggak diundang ke pesta Melisa.”
Ibu segera tahu ke mana percakapan ini mengarah. Ia menggandeng bahu Janice yang sedih dan bertanya, “Satu-satunya yang nggak diundang?”
“Hmm…,” Janice mengaku,”beberapa anak lain juga ada sih.”
“Kamu ingin melakukan apa hari itu?” tanya Ibu.
“Aku bisa tinggal di rumah dan bersedih, ” Janice menjawab, setengah serius, tetapi sambil melirik ibunya dengan penuh minat.
“Ya, itu satu,” jawab ibunya., tidak terjebak dalam perasaan kasihan pada putrinya.
“Bolehkah aku mengajak teman-teman yang juga tidak diundang untuk menginap?”tanya Janice.
“Kedengarannya asyik,”jawab Ibu. “Kamu juga bisa bikin kue brownies yang kamu suka.”
Kita memiliki kesempatan untuk membantu anak-anak kita membuat pilihan yang baik ketika kita berbicara kepada mereka tentang krisis-krisis kecil seperti ini. Dengan mendengarkan perasaan mereka dan menyarankan solusi yang mungkin, atau lebih baik, mengarahkan mereka untuk menciptakan solusi mereka sendiri, kita menjauhkan mereka dari mengasihani diri sendiri dan menuju penentuan jati diri. Keyakinan kita pada kekuatan dalam anak-anak kita akan membantu memberikan keyakinan yang mereka butuhkan untuk percaya dan mengandalkan diri sendiri. Itu lebih penting daripada “simpati” ekstra di saat bagaimana pun!
Sumber : Millist Fahima
