Children Learn What They Live (Terjemahan Buku) 5
Bab 5. Jika Anak-Anak Dibesarkan Dengan Olok-Olok,
Ia Belajar Menjadi Pemalu
Mengolok-olok orang itu kejam. Tetapi orang malah menganggapnya menyenangkan. “Ah, ayo dong, kan aku cuma bercanda. Masa kamu gak bisa diajak bercanda?” Melumrahkan olok-olok seperti ini menyalahkan korban atas reaksi apa pun yang akan dia perlihatkan. Orang yang diolok-olok ditempatkan pada posisi pasti kalah. Jika ia bersikap tidak senang, ia mungkin lebih diejek lagi. Jika ia menerima ejekan itu, rasa percaya dirinya runtuh.
Seorang anak yang diolok-olok sering tidak mengetahui apakah paling baik mengalah saja atau menghindari orang yang mempermainkannya. Kebingungan ini menghasilkan pertentangan perasaan, kemacetan, seperti menginjak rem dan gas mobil sekaligus. Terjebak dalam konflik ini, anak itu mungkin menjadi malu dan menarik diri, mengambil pelajaran dari pengalaman tidak enak itu, dan menghindari menarik perhatian pada dirinya.
Jenis anak pemalu sebagai akibat olok-olok berbeda dengan sifat pendiam bawaan alami yang ditunjukkan sementara anak. Anak-anak introvert tampak membutuhkan waktu lebih lama untuk berhubungan dengan orang-orang dalam situasi baru dan kita perlu menerima bagian kepribadian ini. Tetapi, anak-anak yang menjadi pemalu dan menarik diri sebagai upaya menghindari olok-olok membutuhkan pertolongan kita. Tugas kitalah untuk mendengarkan, mengetahui apa yang terjadi, dan membantu mereka mencari jalan keluar situasi tersebut.
Sorakan atau Olokan?
Olok-olok dan gelak tawa sering muncul bersamaan, tetapi kedua hal ini bukan kawan yang alami. Sesungguhnya, olok-olok bisa merusak gelak tawa. Gelak tawa bersama yang sehat dan murni, dapat mengalirkan perasaan senang dan santai melalui tubuh kita dan membantu mengikat persahabatan. Sementara, olok-olok berarti mempermainkan orang lain. Gelak tawa dari olok-olok mengorbankan seseorang. Menarik perbedaan antara tertawa yang sehat dan menertawakan orang yang diolok-olok, membingungkan bagi anak-anak, terutama karena kita tertawa kalau melihat kesialan orang dalam film kartun, komik, atau film. Jika seorang badut berjalan menabrak tembok, kita cekikikan. Kita perlu menjelaskan pada anak-anak bahwa komedi berbeda dengan kehidupan nyata, dan bahwa dalam kehidupan nyata kita tidak tertawa ketika orang lain jatuh atau gagal, tetapi malahan kita harus menolongnya. Kalau tidak, anak mungkin tidak mengerti bahwa salah menertawakan kesulitan orang, dan ketika ada orang-orang yang senang pada kesialan orang lain, anak-anak kita akan ikut tertawa pula.
Supri, 10 tahun, yang tidak berbakat olahraga, sedang mendapat giliran memukul dalam permainan kasti. Anak-anak tim lawan mulai memanggil-manggil namanya seolah memberikan semangat. “Supri, Supri, Supri,” kata mereka. Irama sorakan semakin bersemangat.
Awalnya Supri senang dengan perhatian itu. Tetapi begitu ia mengayunkan tongkat dan gagal memukul satu bola, kemudian dua, ia menyadari anak-anak itu sedang mengolok-oloknya. Ia menjadi bingung, lalu geram. Ia memukul lagi dan gagal. Ejekan itu mengikutinya begitu timnya bergerak keluar ke lapangan. Sekarang Supri merah padam dan merasa dipermalukan. Ia tidak tahu apakah harus berhenti main atau mengacuhkan anak-anak itu dan terus bermain.
Mengolok-olok menodai gelak tawa dengan penghinaan. Ini dapat membingungkan bagi anak-anak, baik kecil atau besar. Supri tidak langsung menyadari ia sedang diejek. Anak-anak cenderung untuk ikutan dalam peristiwa menyenangkan yang dilakukan orang-orang lain. Ketika ia menyadari mereka menertawakannya, muncul rasa malu. Hinaan pada awalnya, terlalu halus bagi Supri untuk dipahami, sehingga ia merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.
Jika hinaan semacam ini diarahkan padanya berulang kali, Supri dapat dengan mudah patah semangat dan menarik diri dari permainan anak-anak di lingkungannya. Hanya rasa takut diolok-olok sudah cukup mendorong anak menyendiri di pojok, dan bisa saja akhirnya ia menjadi selalu pemalu dan pendiam. Ketika seorang anak menjadi penakut berlebihan, muncullah lingkaran destruktif. Anak-anak lain mencium kerapuhan si anak tadi dan mungkin semakin mengejeknya. Ini peran berat yang dijalankan anak sekaligus harga mahal supaya ia tetap dimasukkan dalam pergaulan. Namun, kadang pilihan lainnya adalah kesepian dan pengasingan dari teman-temannya.
Anak-anak mungkin tidak selalu bisa menceritakan pengalaman semacam ini kepada kita. Mereka bisa saja merasa malu mengakui mereka menjadi bulan-bulanan olokan. Atau mereka merasa kita tidak bisa menolong mereka. Dan memang benar, kita tidak bisa melindungi anak-anak dari intimidasi anak-anak lain karena campur tangan orang tua cenderung akan memperburuk keadaan. Tetapi kita bisa mendukung anak-anak dengan memberikan semangat untuk menemukan kekuatan mengatasi ejekan dan mencari teman-teman lain.
Kadang-kadang kita harus mengenali bahwa anak-anak kita mengolok-olok temannya. Tidak selalu mudah bersikap jujur pada diri kita sendiri dan menghadapi kenyataan bahwa anak-anak kita juga bisa bertindak kejam. Peringatan mudah, “Jangan bilang begitu,” atau “Nggak sopan ah” — tidak cukup memberikan penekanan pentingnya masalah ini. Anak mungkin hanya akan lebih hati-hati memastikan bahwa kita tidak mendengarkan komentar buruknya lain kali. Kita dapat meningkatkan kepekaannya terhadap perasaan orang, dengan mengatakan, “Bayangkan bagaimana perasaanmu jika temanmu mengatakan begitu kepadamu.” atau “Kamu lihat wajahnya ketika kamu bilang begitu nggak? Bagaimana ya perasaaannya.” Kita perlu mengajarkan kepada anak-anak kita kepekaan terhadap perasaan orang dan kebaikan hati. Cara terbaik adalah berada di pihak mereka, memberi tahu bahwa kita bersama mereka dan kita memahami. Jika anak-anak mengalami empati dalam hidup mereka, lebih mudah untuk memahami kebutuhan orang lain dan memperlakukan orang lain dengan baik.
Dukungan dari Lingkungan
Meskipun kita tidak bisa mengendalikan bagaimana anak-anak lain memperlakukan anak kita, kita bisa menolong dalam cara lain. Kita bisa peka terhadap tanda-tanda bahwa anak mungkin menjadi korban olok-olok dengan memperhatikan jika ia tiba-tiba menjadi pendiam, menarik diri, atau tidak nyaman. Jika ia mengatakan bahwa anak-anak lain mengejeknya, menghina, atau mengancamnya, anggaplah serius. Mengatakan, “Ah, itu sih nggak pa-pa,” “Nggak usah dipikirin.,” “Mereka cuma main-main” tidaklah menolong. Langkah pertama anda haruslah mendengarkan dan menyemangati anak untuk membahas rasa bingung dan sakit hatinya. Jika anak bersekolah di TK atau SD, Anda mungkin ingin membicarakan hal ini pada guru, guna mencari sumber pertolongan lain. Tujuan percakapan ini bukanlah menyalahkan anak-anak lain, atau untuk mencari perlindungan untuk anak Anda, melainkan untuk merencanakan suatu kerja sama untuk menolongnya.
Clare, 9 tahun, diejek dan ditolak masuk kelompok anak-anak perempuan di kelas empat. Gurunya memperhatikan bahwa ia menjadi pemalu dan menarik diri, yang malahan tambah membuatnya menjadi sasaran olok-olok. Ibu Claire menelepon gurunya karena Clare menangis setiap malam di tempat tidur dan tidak mau pergi sekolah di pagi harinya. Orang tua dan guru bertemu untuk mendiskusikan bagaimana Claire dapat menangani situasi ini dengan lebih baik.
Bersama-sama mereka membuat rencana terkoordinir. Ketika Clare dan anak-anak yang mengejeknya terlihat berada dalam jarak yang dekat, guru akan pelan-pelan datang dan sehalus mungkin mengajak Clare menjauh dari mereka menuju kelompok anak yang lebih terbuka. Di rumah, orang tua Clare membicarakan dengannya tentang bagaimana cara pergaulan teman-teman yang sejati, dan juga tentang bagaimana Claire bisa mencari lingkungan pergaulan yang baru. Dengan bantuan dari guru dan orang tuanya, Clare belajar bagaimana mencari teman yang sungguh-sungguh bersahabat, dan bagaimana bertindak jika ada anak yang tidak baik padanya.
Ketika Kitalah Yang Bersalah
Kadang-kadang, sering tanpa berpikir, kitalah yang mengejek orang lain. Kita mungkin membuat komentar buruk tentang seorang yang lewat atau kenalan atau bercanda dengan niat menjelek-jelekkan teman. Kita tidak merasa berbuat salah karena kita membicarakan orang asing atau seseorang yang sedang tidak ada, tetapi jika anak-anak kita mendengarkan, mereka akan berpikir bahwa boleh saja membicarakan keburukan orang.
Seorang ibu bercerita, “Di pusat perbelanjaan dekat rumah kami, ada seorang wanita yang kadang-kadang berdiri di pinggir jalan dan melambai ke arah-arah mobil yang lewat. Ia selalu tersenyum atau bernyanyi ketika ia lewat. Suatu hari, ia terlihat keluar dari pasar. Seorang wanita di depan saya mengatakan kepada putrinya, yang sekitar tujuh tahun, “Itu tuh ada ibu-ibu sinting.”
“Bu, nggak baik bilang begitu,” kata anak kecil tadi, jelas sekali ia tidak senang. “Bagaimana rasanya jika ada orang bilang Ibu sinting?”
“Saya ikut bicara sambil melewati mereka, ‘Kalau saya sih menyebutnya wanita yang bahagia.’ Anak tadi kelihatan lega.
Ibu itu tersenyum malu dan mengatakan, ‘Ibu rasa memang dia kelihatan bahagia.’”
Kadang-kadang anak memberikan pelajaran berharga buat kita.
Olok-olok Dalam Keluarga
Sebagai orang tua, kita terkadang terperangkap mengolok-olok atau menggoda anak-anak kita, dengan maksud untuk menguatkan mental mereka. Sudah jelas sekali, olok-olok bukan metode baik guna mengembangkan kekuatan karakter anak. Paling-paling, anak akan belajar berpura-pura berani, sebagai upaya melindungi dirinya. Jangan salah anggap bahwa inilah kekuatan mental sejati.
Ayah Pete, 12 tahun, pernah menjadi pemain sepak bola unggulan pada masanya, dan sekarang Pete masuk anggota tim lokal yang tengah bersiap bertanding dalam musim kejuaraan. Ayah merasa Pete tidak cukup agresif di lapangan, jadi Ayah mencoba memotivasi Pete. Malang bagi Pete, motivasi itu dilakukan Ayah dalam bentuk mengolok-oloknya selama latihan di depan teman-temannya.
“Ngapain sih kamu pelanga-pelongo di situ? Nunggu dikasih duit? Ayo cepat! Sana kejar bola!” Demikian teriakan Ayah dari sisi lapangan. Pete akan mengangguk dan lari ke lapangan dengan perasaan marah, mengeraskan gerahamnya, terlalu kesal dan frustrasi untuk berkonsentrasi pada permainan.
Ayah Pete bermaksud baik. Ia mungkin tidak menyadari bahwa kata-katanya kejam dan mempermalukan. Ia hanya mengulangi kata-kata yang dilontarkan padanya ketika ia dulu bermain sepak bola. Tetapi sayang sekali, ia sama sekali tidak menolong Pete dalam permainan bola, tetapi ia telah merusak hubungan baik dengan anaknya.
Pola lebih keji dari olok-olok sering ditemukan antara saudara kandung, yang bisa jadi ahli menyakiti hati saudaranya melalui sarkasme, nama ejekan, dan taktik kejam lainnya. Saudara kandung mengetahui kelemahan masing-masing dan pandai menjadikannya target.
Jill tahu adik laki-lakinya ingin menjadi teman dengan anak baru di sebelah rumah. Kedua anak laki-laki itu sama-sama senang bermain skateboard dan berumur setara. Jadi, setiap Jill melihat keduanya bermain, ia akan naik sepeda dan meneriakkan, “Hai, Tukang Ngompol. Apakah kamu pipis di celana tadi malam?”
Ini bukanlah olokan tidak berbahaya, ejekan begini kejam dan berakibat buruk. Jika anak terpaksa selalu menghadapi olok-olok dalam keluarga, ia akan terluka, menjadi ragu-ragu dan pemalu untuk berpartisipasi dalam hidupnya sendiri. Orang tua perlu sadar tentang apa yang sedang berlangsung di antara kakak adik, terutama ketika orang tua tidak ada. Orang tua perlu masuk dan menentukan batasan jelas dan konsekuensi yang konsisten, sehingga semua anak dalam keluarga bisa merasa aman dan nyaman dalam rumah mereka sendiri.
Kenyamanan Dalam Rumah
Setiap orang kadang menjadi bahan candaan atau cercaan orang lain, dan tidak ada cara bagi kita untuk 100 % melindungi anak dari porsi tertentu pengalaman tidak enak semacam ini. Tetapi jika kita menciptakan suasana rumah tangga yang aman, anak-anak dapat percaya bahwa di rumah mereka bisa menjadi diri sendiri, dengan tekanan seminimal mungkin. Tambahan, orang tua yang menerima bahwa mereka sendiri juga tidak bebas dari kesalahan dan secara aktif mencoba belajar dari kesalahan, akan menciptakan lingkungan yang lebih hangat, lebih santai bagi pertumbuhan anak-anak. Anak-anak akan belajar melalui contoh bahwa dunia tidak berakhir ketika mereka berbuat salah. Orang dewasa juga dalam proses belajar, dan bahkan bisa menertawakan diri sendiri. Ketika anggota keluarga dapat tertawa bersama-sama, dan bukannya saling menertawakan, sifat malu akan mencair pergi.
Sumber ; Millist Fahima Juni 2005
