Mom & Baby Room

June 23, 2005

Bersahabat dengan Anak

Filed under: Asih Asuh

Oleh : KH Abdullah Gymnastiar

Setiap anak pasti pasti akan berbuat salah. Tugas orangtua bukan
untuk menyalahkan, tapi menyemangati agar mereka bisa bangkit dan
memperbaiki kesalahannya.

Suatu hari Aa dan istri sempat dibuat cemas. Sebabnya, salah seorang
anak laki-laki kami yang sudah beranjak remaja tidak pulang tepat
waktu seperti biasanya. Padahal saat itu hari sudah malam. Tidak ada
seorang pun orang rumah yang tahu ke mana ia pergi, termasuk para
santri. Biasanya anak itu selalu meminta izin atau memberitahukan
terlebih dulu bila hendak bepergian.

Alhamdulillah, beberapa saat setelah itu ia datang. Selidik punya
selidik ternyata anak saya itu pergi bersama teman-temannya ke pasar
Inpres untuk membeli makanan. Ingin rasanya saya marah. Tapi saya
sadar bahwa marah tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan
membuat masalah makin rumit.

Akhirnya saya mengajak dia berdialog. Ternyata dengan dialog yang
dikemas secara santun dan tidak menghakimi, permasalahan bisa
diselesaikan dengan baik. Anak mau terbuka, mau mengakui kesalahan,
bahkan dengan kesadaran sendiri ia mau mempertanggungjawabkan
kesalahannya.

Saudaraku, kita harus selalu berlaku bijak dalam menyikapi perilaku
anak-anak kita. Sebabnya, setiap fase pertumbuhan anak membutuhkan
cara mendidik dan cara mengarahkan yang berbeda. Fase bayi tidak bisa
didekati dengan pola pendidikan untuk usia tiga tahun. Begitupula
pola pendidikan untuk anak usai tiga tahun tidak bisa dipakai untuk
anak usia lima atau enam tahun. Demikian pula ketika mengadapi anak
yang sudah remaja alias ABG.

Sebenarnya ada peran-peran tertentu yang harus dimainkan orangtua
dalam mendidik anaknya. Menghadapi anak yang telah remaja misalnya,
orangtua harus bisa memposisikan dirinya sebagai teman. Jalin
komunikasi dengan mereka layaknya kepada teman, karena anak seusia
itu membutuhkan teman untuk berkomunikasi dan tempat curhat.

Bagaimana memulainya? Pertama, terapkanlah prinsip Aku Bukan Ancaman
Bagimu saat berhubungan dengan anak. Hal ini sangat penting, karena
seseorang berubah karena paham. Paham itu datang karena adanya
komunikasi. Dan komunikasi itu akan baik kalau ada rasa aman. Bila
anak sudah merasa aman atau nyaman berkomunikasi dengan kita, maka ia
akan lebih terbuka. Ketika melakukan kesalahan, biasanya ia akan
dengan sukarela mengaku pada orangtuanya. Sebaliknya, kalau mereka
sudah takut dan merasa terancam, maka komunikasi pun tidak akan
berlangsung baik. Karena itu, bertanyalah selalu, apakah anak-anak
merasa aman berkomunikasi dengan kita atau tidak?

Kedua, ciptakan komunikasi suportif, menyemangati, dan tidak
melemahkan. Setiap anak pasti akan berbuat salah. Dalam kondisi
seperti ini posisi orangtua, idealnya, bukan sebagai pihak yang
menyalahkan, tapi sebagai pihak yang menyemangati si anak agar bisa
bangkit dan memperbaiki kesalahannya. Ingat kisah seorang anak yang
mengadu pada bapaknya, “Maaf Pak, nilai saya empat”. Lalu dijawab
oleh Bapaknya, “Hah, empat? Hebat dong, Bapak dulu dapat 3,5. Bapak
malu, tapi setelah itu jadi rajin belajar, berusaha belajar mati-
matian. Eh setelah itu jadi bintang kelas. Ayo bangkit, belajar
sunggung-sungguh!”.

Ketiga, terbuka dan suka dikoreksi. Jangan malu mengakui kesalahan
atau kekurangan diri. Jangan ragu untuk belajar pada anak, jika
memang mereka memiliki ilmu yang belum kita miliki. “Ayo Nak, kasih
masukan pada Bapak!”. Maka, di sinilah pentingnya kita mengembangkan
dialog yang jujur.

Tidak sedikit orangtua yang memaksakan anaknya untuk selalu menerima
pendapat atau jalan pikiran sendiri. Bila berkomunikasi, tanpa sadar
mereka menerapkan komunikasi satu arah; “saya bicara, kamu
mendengar”. Yang lebih tepat justru “kamu bicara, saya mendengar”.

Sikap otoriter berpotensi menghancurkan harga diri anak. Bila
dibiarkan berlarut-larut si anak akan memiliki pandangan negatif
terhadap diri dan orangtuanya. Lebih fatal lagi, mereka bisa
menunjukkan sikap melawan, baik secara terselubung maupun terang-
terangan. Anak pun menjadi takut untuk mengambil keputusan, kurang
percaya diri, mudah sakit, dan menjadi emosional akibat tekanan
perasaan.

Dengan demikian, jika terjadi perbedaan pendapat, pendekatan
demokratis dan terbuka jauh lebih bijaksana. Salah satu caranya
adalah dengan membangun rasa saling pengertian, di mana masing-masing
pihak berusaha memahami sudut pandang pihak lain. Di sini, lagi-lagi
orangtua yang harus mengawali. Wallahu a’lam bish-shawab

sumber: http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=7&id=200946&kat_id=105&kat_id1=232&kat_id2=234

Berkorban Itu Indah

Filed under: Asih Asuh

Telah dua bulan musim hujan berlalu sehingga di mana-mana pepohonan nampak menghijau. Kelihatan seekor ulat di antara dedaun menghijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.

“Apa khabar daun hijau,” katanya.

Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang

“Oh, kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?” tanya daun hijau.

“Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bolehkah engkau membantuku sahabat?” kata ulat kecil.

“Tentu.. tentu.. dekatlah kemari.” Daun hijau berfikir, “Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya sahaja aku akan kelihatan berlubang-lubang. Tapi tak apalah.”

“Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau.

Setelah makan dengan kenyang ulat berterimakasih kepada daun hijau yang telah merelakan bahagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana-sini namun ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.

Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.

Moral:
Apa yang terlalu bererti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit sahaja bagi sesama? Nah… akhirnya semua yang ada akan “mati” bagi sesamanya yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesukaran. Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak meminta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.

Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita, kita akan tetap hijau, Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita.

Bagi “daun hijau”, berkorban merupakan sesuatu perkara yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya dapat tersenyum kerana pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya kerana menyedari bahawa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai “daun hijau”. Suatu hari ia akan kering dan jatuh.

Demikianlah kehidupan kita. Hidup ini hanya sementara, kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik, kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Kita dapat berkorban dalam banyak perkara.
Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka,memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang dapat kita lakukan.

Yang mana yang sering kita lakukan? Menjadi ulat kecil yang menerima kebaikan orang atau menjadi “daun hijau” yang senang memberi.

Sumber: Home Page ANA ABADI (AZDRIANA)

Nilai Kasih Ibu

Filed under: Asih Asuh

Ini adalah mengenai Nilai kasih Ibu

Seorang anak mendapatkan ibunya yang sedang sibuk menyediakan makan malam di dapur lalu menghulurkan sekeping kertas yang bertulis sesuatu.

Si ibu segera mengesatkan tangan di apron menyambut kertas yang dihulurkan oleh si anak lalu membacanya.

Kos upah membantu ibu:

Tolong pergi kedai Rp 40.000

Tolong jaga adik Rp 40.000

Tolong buang sampah Rp 10.000

Tolong kemas bilik Rp 20.000

Tolong siram bunga Rp 30.000

Tolong sapu sampah Rp 30.000

Jumlah : Rp 170.000

Selesai membaca, si ibu tersenyum memandang si anak sambil sesuatu membelai kepala sang anak. Si ibu mengambil sebatang pena dan menulis sesuatu di belakang kertas yang sama.

Ongkos mengandungkanmu selama 9 bulan - TIDAK ADA

Ongkos berjaga malam kerana menjagamu - TIDAK ADA

Ongkos air mata yang menitis keranamu - TIDAK ADA

Ongkos kerunsingan kerana bimbangkanmu - TIDAK ADA

Ongkos menyediakan makan minum, pakaian, dan keperluanmu - TIDAK ADA

Jumlah Keseluruhan Nilai Kasihku - GRATIS

Air mata si anak berlinang setelah membaca apa yang dituliskan oleh si ibu. Si anak menatap wajah ibu,memeluknya dan berkata, “Saya Sayangkan Ibu”.

Kemudian si anak mengambil pen dan menulis ‘LUNAS’ pada mukasurat yang ditulisnya.

Sumber : Home Page ANA ABADI (AZDRIANA)

Doa

Filed under: Syariah

1.Doa Menolak Bencana

Laa ilaaha illalaahul kariimul ‘azhiimu. Subhaanahu tabaarakalaahu rabbul ‘arsyil ‘azhiimi. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiina. Allaahumma rabbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanatan wa fil aakhirati hasanatan wa qinaa ‘adzaaban naari.

Artinya : Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung. Maha Suci Dia, Maha Berkat Allah Tuhannya ‘arasy yang agung. Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam. (HR. Nasa’i)

Ya Allah, ya Tuhan kami, berilah kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka. (HR. Bukhari dan Muslim)

2.Doa Kesembuhan/Kesehatan Diri

Allahumma ‘aafinii fii badanii. Allaahuma ‘aafinii fi sam’ii. Allaahumma ‘aafinii fii basharii. Allaahumma innii a’uudzu bika minal kufri wal faqri. Allahumma innii a’uudzu bika min ‘adzaabil qabri laa illaaha illaa anta.

Artinya : Ya Allah, sembuhkanlah badanku. Ya Allah, sembuhkanlah pendengaranku. Ya Allah sembuhkanlah penglihatanku. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Tuhan selain-Mu. (HR. Abu Daud)

3.Doa Dilindungi Dari Rupa-rupa Penyakit

Allahumma innii a’uudzubka minal barashi wal junuuni wal judzaani wa sayyi’il aswqaami

Artinya : Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari penyakit celup, penyakit gila, penyakit kusta dan penyakit-penyakit buruk lainnya.

4.Doa Menjenguk Orang Sakit/Kecelakaan

Allahumma rabban naasi adzhibil ba’sa asyfi antasy syaafii laa syifaa’a illaa syifaa’uka syifaa’an laa yughaadiru saqaman. Imsahil ba’sa rabban naasi biyadikasy syifaa’u, laa aasyifa lahu illaa anta, as’alullaahal ‘azhiima, rabbal ‘ arsyil ‘azhiimi an-yasfiyaka.

Artinya : Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah kesukaran/penyakit itu dan sembuhkanlah ia, Engkaulah yang menyembuhkan,tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi. Hilangkan lah penyakit itu, wahai Tuhan pengurus manusia. Hanya padamulah obat itu. Tak ada yang dapat menghilangkan penyakit selain Engkau, aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhannya ‘arasy yang agung, semoga Dia menyembuhkan anda. (HR. Bukhari dan Muslim)

5.Doa Mengobati Orang Sakit

Bismillahirrahmaanirrahiimi. A’uudzu bi’izzatillahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhadziru

Artinya : Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku berlindung dengan keperkasaan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejahatan apa yang kuperoleh dan yang kutakuti. (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmi-dzi dan Nasai).

6.Doa Menghadapi Musibah

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uuna. Allaahumma ajirnii fii mushiibatii wakhluf lii khairan minhaa.

Artinya : Sesungguhnya kami memiliki Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya. Ya Allah berilah kami pahala dalam misibahku in dan berilah pengganti yang lebih baik. (HR. Muslim)

7.Doa Membimbing Orang Sekarat

Astaghfirullaahal ‘azhiimaa …… Laa Ilaaha Illallaahu muhammadun rasuulullaahi ….

Artinya : Aku mohon ampun pada Allah Yang Maha Agung Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. (dibaca terus-menerus istighfar dan syahadat tersebut pada telinga orang yang hampir wafat itu). (Tertunjuk dalam HR. Muslim, Abu Daud dan Hakim).

8.Doa di Sisi Orang Yang Telah Wafat

Allaahummaghfirlii wa lahu wa’aqibnii minhu ‘uqbaa hasanatan.

Artinya : Ya Allah, ampunilah aku dan orang ini dan berilah aku ganti yang baik daripadanya. (HR. Muslim)

9.Doa Masuk Pekuburan Muslim

Assalamu ‘alaykum ahlad diyaari minal my’miniina wa innaa insyaa’allaahu bikum laahiquuna. As’alullaaha lanaa wa lakumul ‘aafiyata.

Artinya : Salam sejahtera bagimu wahai penghuni kampung orang-orang mu’min. Kami in insya Allah akan bertemu dengan anda sekalian. Kumohonkan pada Allah kesejahteraan bagi kami dan bagi anda sekalian. (HR. Muslim)

10. Doa Terhindar dari Kesulitan dan Penderitaan

Biismillaahi ‘alaa nafsii wa maalii wa diinii, allaahumma radhinii biqadhaa’ika wa baarik lii fiimaa quddiralii hatta laauhibbaa\ ta’jiila maa akhkharta wa ta’khiira maa ‘ajjalta

Artinya : Dengan nama Allah atas diriku, hartaku dan agamaku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusku. Ya Allah, berilah aku rasa ridha terhadap putusan-Mu dan berkatilah segala apa yang Engkau berikan ubun-ubunku dalam tangan-Mu, berlakulah atasku hukum keputusan-Mu dan adillah atasku segala taqdirmu. Aku mohon pada-Mu dengan segala nama yang jadi milik-Mu yang Engkau namakan dengannya diri-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluq-Mu, atau yang Kau simpan dalam perbendaharaan ghaib di sisi-Mu kiranya Engkau jadikan kitab al-Quran jadi kesuburan hatiku dan cahaya dadaku serta menjadi tempat melepaskan segala kesusahanku dan menghilangkan dukacitaku. (HR. Ahmad dan Ibnu Gibban)

11. Doa Menghadapi Kesedihan, Kelemahan, Kemalasan, Takut, Kikir, Banyak Hutang Dan Penindasan

Allaahumma innii a’uudzu bika minal hammi wal hazani wa a’uudzu bika minal ‘ajzi wal kasali wa a’uudzu bika minal jubni wal bukhli wa a’uudzu bika min ghalabatid dayni wa qahrir rijaali.

Artinya : Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari kemurungan dan kesusahan, aku berlindung pada-Mu dari kemalasan dan aku berlindung pada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku berlindung pada-Mu dari tekanan utang dan paksaan orang lain.

12. Doa Ketenangan Jiwa

Rabhanaa afrigh ‘alaynaa shabran wa tsabbit aqdaamanaa wahshurnaa ‘alal qawmil kaafirina. Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaytana wa hablanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhaabu. Allaahumma tsabbitnii an azilla wahdinii an adhilla. Allahumma kamaa hulta baynii wa bayna qalbii, fahul baynii wa baynasy syaythaani wa ‘amalihi. Allaahumma innii as-aluka nafsan muthma ‘innatan tu’minu biliqaa’ika wa tardhaa biqadhaa’ika wa taqna’u bi’athaa’ika

Artinya : Ya Tuhan kami, curahkanlah kesabaran atas kami dan teguhkanlah pendirian kami serta tolonglah kami terhadap golongan yang kafir.

Ya Tuhan kami, janganlah kau palingkan hati kami setelah Engkau tunjuki dan berilah kami dari hadhirat-Mu rahmat karena Engkau adalah Yang Maha Pemberi.

Ya Allah kokohkanlah aku dari kemungkinan terpelesetnya iman, dan berilah aku petunjuk dari kemungkinan sesat.

Ya Allah sebagaimana Engkau telah memberi penghalang antara aku dan hatiku, maka berilah penghalang antaraku dan antara syaitan serta perbuatannya.

Ya Allah aku mohonkan pada-Mu jiwa yang tenang tenteram, yang percaya pada pertemuan dengan-Mu dan ridha atas keputusan-Mu serta merasa cukup puas dengan pemberian-Mu.

13. Doa Mohon Ketenangan Dalam Menghadapi Musibah

Allahummarzuqnii nafsan muthma’innatan tu’minu biliqaa’ika wa tardhaa biqadhaa’ika

Artinya ; Ya Allah, berilah kami hati yang tenang, yang beriman akan saat perjumpaan dengan-Mu dan ridiha menerima segala ketetapan-Mu

14. Doa Ketika Menghadapi Kesulitan

Allahumma Laa shla illaa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan

Artinya : Ya Allah, tiada yang mudah selain yang kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah. (HR. Ibnu Hibban)

15. Doa Dimudahkan Segala Urusan

Allaahumma innii as-aluka tamaaman ni’mati fil asy-yaa’I kullihaa wasy syukra laka ‘alayhaa hattaa tardhaa wa ba’dar ridhaa, wal khiyarata fii jamii’I maa yakuunu fiihil khiyaratu wa bijamii’I masyuuril umuuri kullihaa laa bima’suurihaa yaa kariimu.

Artinya : Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu kesempurnaan ni’mat pada segala perkara dan mensyukuri-Mu atasnya, sehingga Engkau ridha dan sesudah ridha itu lalu aku mohonkan pula kepada-Mu untuk memilih segala apa yang boleh dipilih dan dengan segala kemudahannya, bukan yang sulit lagi sukar dikerjakannya. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia.

16. Doa Mohon Husnul Khatimah

Allaahummaj’al khayra ‘umrii aakhirahu wa khayra ‘amalii khawaatiimahu wa khayra ayyaamii yawma lliqaa’ika

Artinya : Ya Allah, jadikanlah sebaik-baiknya umurku pada ujungnya dan sebaik-baiknya amalku adalah pada ujung akhirnya, dan sebaik-baiknya hariku adalah pada saat aku menemui-Mu. (Disebutkan oleh an-Nawawi)

17. Doa Waktu Bersin dan Jawaban yang Mendengarnya

Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiina. (segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam),

kemudian dijawab oleh orang yang mendengarnya :

Yarhamukallahu (Semoga Allah merahmati anda), lalu orang yang yang bersin itu menjawabnya pula dengan : Yahdiikumullaahu wa yushlihu baalaku (Semoga Allah memberi hidayat bagi anda dan membaguskan keadaan anda). (HR. Bukhari)

18. Doa Diberi Kesenangan Hidup

Allahumma ashlih lii fii diiniil ladzii huwa ‘ishmatu amrii wa ashlih lii dun-yaayal latii fiihaa ma’aasyi wa shlih lii aakhiratil latii fiihaa ma’aadii waj’alil hayaata ziyaadata lii fii kulli khayrin wajalil mawta raahatan lii min kulli syarrin.

Artinya : Ya Allah, baguskanlah untukku agamaku yang jadi pangkal urusanku, baguskan pula duniaku yang jadi tempat penghidupanku, dan baguskanlah akhiratku yang padanya tempat kembaliku nanti, jadikanlah hidup tu menjadi bekal/tambahan bagiku dalam segala kebaikan, serta jadikanlah mati itu pelepas segala keburukan bagiku. (HR. Muslimin)

19. Doa Berlindung Dari Mahluk Jahat

A’uudzu bikalimaatillaahit taammati min syarri maa khalaqa

Artinya : Aku berlindung dengan menyebut kalimat-kalimat Allah Yang Maha sempurna dari segala kejahatan apa yang telah diciptakan-Nya.

20. Doa Dapat Bersyukur, Bersabar dan Tidak Menonjolkan Jasa

Allahummaj’alnii syakuuran waj’alnii fii ‘aynii shaghiiran wa fii a’yunin naasi kabiiran.

Artinya : Ya allah, jadikanlah aku orang yang berterimaksih pada-Mu, jadikanlah aku orang yang shabar, jadikanlah aku kecil dalam pandanganku tapi orang yang besar dalam pandangan orang lain.

21. Doa Mengunjungi Pengantin Baru

Baarakallahu likulli waahidin minkumaa fii shaahibihii wa jama’a baynakumaa fi khayrin

Artinya : Semoga allah memberkati masing-masing kamu berdua (mempelai) terhadap temannya, dan semoga Allah mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majalah)

Baarakallahu laka wa baaraka ‘alayka wa jama’a baynakumaa fi khayrin

Artinya : Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik ketika senang maupun susah, dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan. (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)

22. Doa Ketika Melihat Bayi Baru Lahir

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin.

Artinya : Aku berlindung untuk anak ini dengan kalimat Allah Yang Sempurna dari segala gangguan syaitan dan gangguan binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat buruk bagi apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

23. Doa Mohon Putera yang Shalih

Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinna qurrata a’yunin waj’alnaa limuttaqiina imaaman.

Artinya : Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan anak-cucu kami yang menyenangkan kami dan jadikanlah kami sebagai ikutan bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-Furqan, 74)

24. Doa Mohon Dianugerahi Rizki yang Berkah

Allahummarzuqnii rizqan halaalan thayyiban wasta’milnii thayyiban. Allahummaj’al awsa’a rizqika ‘alayya ‘inda kibari sinnii wanqithaa’i umrii.Allaahummakfinii bihalaalika ‘an haraamika wa aghninii bifadhlika ‘am-man siwaaka.Allaahumma in nii as-aluka rizqan waasi’an naafi’an. Allaahumma innii as-alukan na’iimal muqiinal ladzii laa yahuulu wa laa yazuulu.

Artinya : Ya Allah, berilah padaku rezki yang halal dan baik, serta pakaikanlah padaku segala perbuatan yang baik.

Ya Tuhanku, jadikanlah oleh-Mu rezekiku itu paling luas ketika tuaku dan ketika lemahku.

Ya Allah, cukupkanlah bagiku segala rezki-Mu yang halal daripada yang haram dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari yang lainnya.

Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu rezki yang luas dan berguna.

Ya Allah, aku mohonkan pada-Mu ni’mat yang kekal yang tidak putus-putus dan tidak akan hilang.

25. Doa Bagi Kedua Orangtua

Rabbighfirlii waliwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaanii shaghiiran.

Artinya : Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah dan ibuku serta kasihilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil.

Sumber: Melasayang.com

99 NAMA-NAMA TUHAN & FADHILATNYA

Filed under: Syariah

AR-RAHMAN : Yang Dermawan - Pemberi rahmat dan kemakmuran kepada makhluknya tanpa perbezaan .
Fadhilat-nya : Sesiapa menyebut namaNya 100 kali selepas sembahyang fardhu, insyaALLAH akan mempunyai ingatan baik, fiikiran tegas serta murah hati .

AR-RAHIM : Yang Pengampun -Terutama kepada mereka yang menggunakan hadiah-hadiah sebagai kehendak Tuhan yang maha pengampun dihari kemudian .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya 100 kali selepas fajar, insyaAllah akan menemui orang-orang yang baik hati .

AL-MALIK : Maharaja Teragung - Ialah Raja yang paling agung diseluruh dunia .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang, insyaAllah akan dihormati dengan sebaik-baiknya oleh orang lain .

AL-QUDDIS : Yang Suci - Ia bebas dari segala kesilapan,kelupaan dan tidak keupayaan atau kurang kesempurnaan,
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya 100 kali setiap hari , insyaAllah akan bebas daripada kebimbangan .

AS-SALAM : Punca Keamanan - Dialah penyelamat hamba-hamba -Nya dari bahaya serta rintangan serta memberi tahniah kepada mereka yang di dalam syurga .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya 160 kali berulang-ulang ditempat orang yang sakit,boleh membantu mengurangkan kesakitan dan insyaALLAH dengan pertolongan-Nya dapat menyembuhkan si pesakit.

AL-MU’MIN : Wali Kepercayaan -Barang siapa menempatkan kepercayaan pada hamba-Nya,peliharalah mereka yang mencari perlindungan pada-Nya , kemudian berikanlah ketenteraman .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang kali, insyaALLAH akan jauh dari bahaya .

AL-MUHAYMIN : Penjaga - Ialah menjaga dan memerhatikan segala harta benda .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang selepas mengambil air sembahyang , insyaAllah cahaya perasaan mereka akan bersinar .

AL’AZIZ : Maha Perkasa - Ialah yang tak dapat ditaklukkan .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang kali selepas fajar menyinsing selama 40 hari , insyaALLAH akan bebas daripada bantuan orang lain.

AL-JABBAR : Pemaksa - Ia memperbaiki serta menyelesaikan yang belum lengkap dan mempunyai kebolehan dan menyuruh dengan kekerasan atas diri mereka supaya melakukan mengikut kehendak-Nya .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang kali , tidak akan berbuat sesuatu yang ditegah dirinya , ataupun terdedah oleh bahaya , kesukaran mahupun kekerasan .

AL-MUTAKABBIR :Yang Mulia - Ia menunjukkan kebesaran- Nya sebelum bersetubuh dengan isterinya , insyaALLAH Allah akan menganugerahkan olehnya anak yang salih.

AL-KHALIQ :P embuat - Ia yang menjadikan segala-galanya tanpa sesuatu apa pun dan tahu pula apa akan terjadi keatas semuanya .

AL-BARI’ :P enjadi -Ia menjadikan segala-galanya sempurna .

AL-MUSAWWIR :P ereka - Ia reka segala-galanya .
Fadhilatnya :Jika seseorang ibu atau bakal ibu hendak melahirkan anak tetapi tiada berdaya , hendaklah ia berpuasa selama 7 hari , dan sewaktu berbuka hendaklah ia menyebut YA-KHALIQ,YA-BARI’,YA-MUSSAWIR (pembuat , penjadi dan pereka ) sebanyak tiga kali sebelum ia meminum air . InsyaALLAH permintaannya akan dikabulkan .

AL-GHAFFAR :P engampun - Ia sangat pengampun .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang tiga kali , insyaALLAH akan diampunkan dosa yang telah dilakukannya .

AL-QAHHAR :P enakluk - Ia berjaya dan berkuasa menurut dan menakluk kehendaknya .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang kali , insyaALLAH akan mengatasi kehendaknya , dan akan mengalami jiwa yang tenang serta bebas dari segala perbuatan maksiat yang dilakukan oleh orang lain .

AL-WAHHAB :P enganugerah - Ia sentiasa menganugerah hamba-hambaNya .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang kali insyaALLAH akan dimurahkan rezeki .

AL-FATTAH :P embuka - Ia memberi penyelesaian kepada kemushkilan atau masalah serta mengurangkan rintangan .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang kali , InsyaALLAH akan terbuka hatinya untuk berjaya .

AL-’ALIM :Yang Maha Mengetahui - Ia mengetahui segala-galanya.
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang kali , InsyaALLAH akan bersinar hatinya dengan cahaya suci .

AL-QABID :P engekang - Ia mengekang .
Fadhilatnya :Sesiapa menulis nama-Nya pada lima puluh jenis makanan atau buah-buahan sepanjang 40 hari , insyaALLAH ia tidak akan kebuluran .

AL-BASIT :P embesar - Ia berkuasa membesarkan .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang kali sewaktu fajar dengan mendedahkan kedua-dua tapak tangannya keatas dan kemudiannya menyapu tapak tangan kemukaNya , insyaALLAH ia tidak akan perlukan bantuan orang lain .

AL-KHAFID :P erendah diri - Yang mengurangkan .
Fadhilatnya :Sesiapa yang berkuasa selama tiga hari , hendaklah menyebut nama-Nya pada hari keempat sebanyak 70,000 kali ,
insyaALLAH ia akan dipelihara daripa musuhnya .

AR-RAFI’ :P eninggi - Yang meninggikan .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya 100 kali berulang-ulang kali pada waktu siang dan malam,insyaALLAH Allah akan meninggikan martabatnya , kekayaannya serta darjatnya .

AL-MU’IZZ :P enghormat - Ia mashyur serta mulia dan dihormati oleh sesiapa jua pun.
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya 140 kali selepas sembahyang isya’ setiap hari isnin dan jumaat , insyaALLAH Allah akan menjadikan ianya dihormati oleh orang lain .

AL-MUZILL :P enguji -Ia akan menjatuhkan seseorang kelembah kehinaan.
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya 75 kali berulang-ulang , insyaALLAH akan terjatuh daripada aniaya orang-orang yang dengki kepadanya.Allah akan memeliharanya .

AS-SAMI’ :Maha Mendengar - Ia mendengar segala-galanya .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya 100 kali berulang-ulang tanpa bercakap dengan sesiapapun pada hari khamis selepas
sembahyang zohor ( tengah hari ) , insyaALLAH Allah akan mengkhabulkan apa sahaja kehendaknya .

AL-BASIR :Yang Maha Melihat - Ia melihat segala-galanya .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya 100 kali berulang-ulang antara sembahyang fardhu dan yang pertama setelah sembahyang Jumaat , InsyaALLAH Allah akan menjadikan dirinya mulia dikhalayak ramai .

AL-HAKKAM :Ia mengadili serta memberikan sesuatu dengan sepatutnya.

AL-’ADL :P engadil - Sesungguhnya adil .
Fadhilatnya :Jika sesiapa menulis nama-Nya pada malam jumaat pada sekeping roti dan memakannya, insyaALLAH orang akan
mengikut kehendaknya .

AL-LATIF :P elemah Lembut - Ia mengetahui apa sahaja erti yang lembut serta menjadikan segala-galanya yang lembut atau halus walaupun tidak diketahui manusia . Ia memberi kebahagiaan sehalus-halusnya kepada manusia .
Fadhilatnya :Jika seseorang ditimpa kemiskinan dan keseorangan , sebutlah nama-Nya 100 kali selepas dua rakaat selepas sembahyang (tambahan),insyaALLAH niatnya akan dikabulkan .

AL-KHABIR :Maha Mengetahui - Ia mengetahui apa sahaja yang sulit dan maksud atau tujuannya .
Fadhilatnya :Sesiapa mempunyai kebiasaan yang tidak baik dan tidak disukainya pula , sebutlah nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH kebiasaan itu akan ditinggalkannya kemudian .

AL-HALIM :P enyabar - Ianya berkuasa .
Fadhilatnya :Apabila seseorang menulis nama-Nya atas kertas , setelah itu menanamkannya ke dalam tanah di mana sebutir benih ditanam , insyaALLAH bahaya atau malapetaka tidak akan menimpa .

AL- ‘AZIM :Yang Maha Besar - Ia mulia .
Fadhilatnya :Mereka yang menyebut nama-Nya berulang-ulang, insyaALLAH akan dihormati .

AL-GHAFUR :Maha Pengampun - Ia mengampuni semua hambaNya .
Fadhilatnya :Sesiapa dihidapi penyakit kepala , demam atau dukacita , sebutlah nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan
sembuh .

ASH-SHAKUR :Yang Bersyukur - Sesiapa yang bersyukur akan diberi hadiah kerana jasa untukNya .
Fadhilatnya :Sesiapa berasa hatinya berat dan kemudian menyebut nama-Nya 41 kali , diikuti dengan bernafas ke dalam gelas berisi
air dan membasuh mukanya , insyaALLAH hatinya akan menjadi lapang atau lega .

AL-’ALI :Yang Termulia - Ianya yang paling mulia .
Fadhilatnya :Sesiapa mempunyai keyakinan yang lemah tetapi menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH keyakinannya akan teguh .

AL-KABIR :Yang Maha Besar - Ialah yang paling besar .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya 100 kali setiap hari , insyaALLAH ia akan memperolehi kemuliaan.

AL-HAFIZ :P emelihara - Ia memelihara segala-galanya serba lengkap dan pada suatu ketika menghindarkannya dari kehilangan dan malapetaka .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya 16 kali sehari insya ALLAH ia akan diselamatkan dari malapetaka.

AL-MUQIT :P enjaga - Ia menjaga .
Fadhilatnya :Sesiapa mempunyai anak yang kurang sopan , menyebut nama-Nya.

AL-HASIB :Maha Penghitung - Ia mengetahui apa sahaja sebenarnya berkenaan perniagaan seseorang sepanjang hayat .
Fadhilatnya :Apabila seseorang takut dirompak,maupun akibat dengki musuhnya , mulakan menyebut ………..atau membaca
nama-Nya 70 kali pada hari khamis - siang atau malam . Bila tiba hari ke 71 sebutlah bahawa Allah Maha Penghitung atau Habiyallah-ul-Hasib.InsyaALLAH ia akan selamat.

AL-JALIL :Maha Tinggi - Ianya maha kaya serba berkuasa .
Fadhilatnya :Sesiapa menulis nama-Nya pada kertas dengan membubuh kasturi dan kunyit , kemudian membasuhnya dan akhirnya meminum air tersebut dari sebuah tembikar , insyaALLAH ia akan dimuliakan oleh manusia .

AL-KARIM :Yang Maha Pemurah - Ianya sangat pemurah .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH ia akan menerima kemuliaan di dunia serta akhirat.

AR-RAQIB :Maha Waspada - Ianya memperhatikan apa jua hamba-hambaNya lakukan di dunia ini .

AL-MUJIB :Maha Pengkabul - Ianya pengkabul bagi segala keperluan manusia .
Fadhilatnya :Sesiapa memohon kepadaNya , insyaALLAH niatnya akan dikabulkan .

AL-WASI’ :Yang Menyeluruh - Ia mempunyai kuasa yang tiada terbatas.
Fadhilatnya :Andainya seseorang mengalami kesukaran mencari mata pencarian , sebutlah nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH ia akan menerimanya bagi keperluan hidupnya yang lebih baik .

AL-HAKIM :Yang Bijaksana - Ia mempunyai kebijaksanaan dalam segala masalah .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya terus menerus (dari masa ke masa),insyaALLAH ia tidak akan menemui kesukaran dalam pekerjaannya .

AL-WADUD :Yang Maha Penyayang - Ia menyayangi mereka yang berbuat baik dan akan menganugerahkan belas kasihan-Nya kelak .
Fadhilatnya :Andainya dua orang bergaduh , sementara seorang daripadanya menyebut nama-Nya 1,000 kali di atas makanan
yang telah tersedia dan dimakan pula oleh temannya itu , insyaALLAH pertikaian antara mereka akan selesai .

AL-MAJID :Yang Maha Mulia - Ianya sangat mulia .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan menerima kebahagiaan .

AL-BA’ITH :P embangkit Semula - Dialah yang memberi penghidupan kepada semua makhluk dihari pengadilan .
Fadhilatnya :Sesiapa yang mengulangi nama-Nya akan mempunyai perasaan takut dan hormat terhadap ALLAH .

ASH-SHAHID :Saksi - Dia yang berada dimana-mana dan mengawasi segala-galanya.
Fadhilatnya :Sesiapa yang mempunyai anak yang degil dan mengulangi nama-Nya kepada anak itu , insyaALLAH anak itu
akan menurut perintah .

AL-HAQQA :Kebenaran - KeujudanNya tiada perubahan .
Fadhilatnya :Jika seseorang hilang sesuatu dan mengulang nama-Nya insyaALLAH dia akan jumpa apa yang telah hilang .

AL-WAKIL :Wali - Dia menyediakan segala-galanya untuk mengatasi segala masalah dengan cara baik .
Fadhilatnya :Sesiapa yang takutkan mati lemas , hangus dalam api atau bahaya yang serupa dan mengulangi nama-Nya berterus-terusan ,dari masa kesemasa , insyaALLAH akan berada dibawah perlindungan ALLAH .

AL-QAWI :P aling Kuat - Dia yang terkuat .
Fadhilatnya :Sesiapa yang tidak boleh mengalahkan musuhnya , tetapi mengulangi nama-Nya dengan niat tidak mahu dicederakan,
insyaALLAH akan bebas dari kecederaan musuhnya .

AL-MATIN :Teguh - Dia berkuasa dan teguh , tidak ada kuasa yang boleh menghumbankanNya .
Fadhilatnya :Jika seseorang mempunyai kesusahan dan mengulangi nama-Nya , insyaALLAH kesusahannya akan lenyap .

AL-WALI :P elindung - Dia adalah sahabat hamba-hambaNya yang adil .
Fadhilatnya :Sesiapa yang mengulangi nama-Nya,insyaALLAH mungkin menjadi seorang waliullah .

AL-HAMID :P ujian - Hanya dia seorang yang patut dipuji dan dimuliakan serta diberi penghargaan oleh semua makhluk .
Fadhilatnya :Sesiapa yang mengulangi nama-Nya ,insyaALLAH akan disayangi dan dipuji .

AL-MUHSI :P enghitung - Dia mengetahui angka segala benda walaupun tidak boleh dikira dan dia mengetahui tiap-tiap satu
darinya .
Fadhilatnya :Sesiapa yang takut di soal di hari pengadilan , dan mengulangi nama-Nya 1,000 kali , insyaALLAH akan mempunyai kemudahan .

AL-MUBDI :P engasal - Dia yang telah mencipta semua makhluk untuk pertama kali bukan dari apa-apa dan tanpa sebarang contoh .
Fadhilatnya :Sesiapa yang menyebut nama-Nya berulang-ulang dan dihembuskan ibu yang mengandung yang takutkan keguguran , insyaALLAH ibu itu akan bebas dari bahaya .

AL-MU’ID :P emulih - Dialah yang menghidupkan semula semua makhluk.
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya 70 kali berulang-ulang untuk seseorang yang jauh dari keluarganya , insyaALLAH orang
itu akan pulang dengan selamat .

AL-MUHYI :P emberi Kehidupan - Dialah yang memberi kehidupan dan kesihatan

Fadhilatnya : Jika seseorang mempunyai satu bebanan yang berat dan mengulangi nama-Nya 7 kali setiap hari , insyaALLAH bebanannya akan dikurangkan .

AL-MIMUT :P encipta Kematian - Dialah yang mencipta kematian .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan memusnahkan niat musuhnya .

AL-HAYY :Hidup - Dialah yang mengetahui segala-galanya dan kekuatannya .
Fadhilatnya : Sesiapa yang mengulangi nama-Nya , insyaALLAH akan mempunyai umur yang panjang .

AL-QAYYUM :Hidup Sendiri -Dialah yang memegang seluruh alam semesta .
Fadhilatnya : Sesiapa yang mengulangi nama-Nya , insyaALLAH tidak akan tewas dalam kelalaian .

AL-WAJID :P enemu - Dialah yang dapat apa jua yang dikehendaki dalam keinginannya.
Fadhilatnya :Sesiapa yang mengulangi nama-Nya , insyaALLAH akan memiliki kemuliaan hati .

AL-MAJID :Berhati Mulia - Dialah yang mulia hatinya , yang membuat kebajikan dan dermawan .
Fadhilatnya :Sesiapa yang mengulangi nama-Nya , insyaALLAH akan diterangkan hatinya .

AL-WAHID :Yang Maha Istimewa - Ianya tunggal dalam segala tindakanNya , tidak ada berteman atau bersifat yang sama
dengan sesiapa pun , bahkan perawakan dan perintah .

Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang seorang diri ditempat sunyi , insyaALLAH akan bebas daripada
ketakutan serta kebingunan .

AL-AHAD : Yang Tunggal .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang kali , insyaALLAH Allah akan memberi kehendaknya yang mana ia tidak akan perlukan bantuan orang lain .

AS-SAMAD : Yang Berkekalan - Ianya adalah tunggal bagi sesiapa memohon sesuatu yang penting diselesaikan ataupun sebarang masalah yang harus dihapuskan.
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH Allah akan memberi kehendaknya dan yang mana ia tidak mahukan bantuan orang lain .

AL-QADIR :Sentiasa Sanggup - Ia sentiasa sanggup melakukan apa sahaja kehendakNya .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH harus sedar akan kebenaran .

AL-MUQTADIR :Berkuasa - Dialah yang lebih berkuasa dari segala makhlukNya .
Fadhilatnya :Sesiapa yang mengulangi nama-Nya , insyaALLAH ia menyedari kebenarannya .

AL-MUQADDIM : Maha Penyelenggaran .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya di medan perang mahupun didalam ketakutan kerana bersendirian oleh sebab ganjilnya keadaan sekeliling , insyaALLAH bahaya tidak akan menimpa dirinya .

AL-MU’AKHKHIR : Maha Penagguh - Ianya menangguhkan apa sahaja yang dikehendakiNya .
Fadilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya 100 kali di dalam hati setiap hari , insyaALLAH hanya ketaatan kepada Allah sentiasa kekal . Ketaatan kepada yang lain tidak mempengaruhinya .

AL-AWWAL : Pengawal .
Fadhilatnya : Sesiapa sahaja berkehendakkan anak ataupun mahu bersama-sama dengan seseorang dalam perjalanan , ia harus menyebut nama-Nya 1,000 kali dalam masa 40 jumaat .

AL-AKHIR : Yang Akhir .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan mengalami hidup yang sempurna dan matinya pun sedemikian pula.

AZ-ZAHIR : Penzahir .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya 15 kali selepas sembahyang jumaat , insyaALLAH nur atau cahaya akan menyinari hatinya .

AL-BATIN : Pembatin .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya 3 kali setiap hari , insyaALLAH akan dapat mengetahui kebenaran segala-galanya .

AL-WALI : Wali atau Pemerintah .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , kemudian menghembuskan nafasnya ke dalam rumahnya , insyaALLAH keselamatan rumahnya akan terpelihara .

AL-MUTA’ALI : Yang Teramat Mulia - Ianya yang termulia dalam sebarang tindakan ,cara atau keadaan , bahkan fikiran seorang manusia . Ianya adalah yang paling tinggi.

AL-BARRA : Sumber Segala Kebaikan - Sesiapa yang penyabar terhadap hambaNya, haiwan dan segala binatang-binatang , tentulah baik kepada semuanya .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya kepada anak-anaknya, insyaALLAH ia akan dijauhkan daripada kemalangan .

AT-TAWWAB : Penerima Ketaubatan .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH taubatnya akan diterima .

AL-MUNTAQIM : Penghukum - Ia menghukum mereka yang bersalah.
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan menakluki musuh-musuhnya .

AL-’AFUW :P engampun - Ia sangat pengampun kepada mereka yang taubat , seolah-olah mereka tidak berdosa .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH segala dosanya akan diampunkan .

AR-RA’UF : Maha Pengasih dan Penyayang - Ianya sungguh pengasih dan penyayang.
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan dikasihi Allah .

MALIK-UL-MULK : Pemilik Kedaulatan Yang Kekal .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan dihormati Allah .

DHUL-JALAL-WAL-IKRAM : Pengusaha Keagungan Serta Kedaulatan .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH dengan kerajinan bekerja serta tekun akan bertemu dengan kejayaan .

AL-MUQSIT :Maha Pengadil - Ianya tetap maha adil dalam segala-galanya .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , InsyaALLAH akan terjauh dari godaan syaitan .

AL-JAME’ :P engumpul - Ia mengumpulkan segala-galanya pada sebarang waktu .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan menemui benda-benda yang hilang .

AL-GHANI :Serba Lengkap .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyALLAH akan bersyukur dan tidak akan ada hasrat dengki .

AL-MUGHNI :P engmakmur .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya 10 kali Jumaat , insyaALLAH tidak akan mengalami kekurangan sesuatu apapun .

AL-MANI’ :P encegah .
Fadhilatnya :Mereka yang menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan mengalami penghidupan keluarga yang berbahagia .

AD-DARR :P engganggu - Ia menjadikan sesuatu yang menyebabkan seseorang bersifat rendah .
Fadhilatnya :Jika sesiapa yang berketurunan sifat rendah menyebut nama-Nya berulang-ulang setiap malam Jumaat , insyaALLAH taraf mereka akan dinaikkan .

AN-NAFI’ :Makmur - Ia menjadikan segala-galanya untuk kebahagiaan manusia .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang dalam masa empat hari ,insyaALLAH ia akan jauh dari aniaya atau bahaya .

AN-NUR :Cahaya - Ia memberikan cahaya mulia keseluruh alam , wajah , fikiran serta hati makhluknya .
Fadhilatnya :Sesiapa yang menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH hatinya akan lebih terang .

AL-HADI :P enuntun - Ia memimpin hamba-hambaNya menuju kejayaan serta mengarahnya berbakti kepada manusia .
Fadhilatnya :Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan memperoleh pengetahuan ruhani .

AL-BADI :Tiada BandinganNya - Ia membentuk segala-galanya dalam dunia ini tanpa rekaan .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya 70 kali berulang-ulang , insyaALLAH kesusahannya akan hilang . ( Ya , ALLAH , Engkaulah yang menjadikan segala-galanya di dunia ini . )

AL-BAQI : Yang Kekal .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya 100 kali sebelum matahari terbit , insyaALLAH akan terpelihara daripada malapetaka seumur hidupnya dan insyaALLAH dosanya akan diampunkan .

AL-WARITH : Waris Agung - Ialah menguasai segala-galanya .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya berulang-ulang , insyaALLAH akan hidup lama .

AR-RASHID : Pemimpin Ke Arah Kebenaran - Ialah pemimpin yang bijaksana bagi membimbing makhlukNya kearah kebenaran .
Fadhilatnya : Sesiapa menyebut nama-Nya 1,000 kali di antara Maghrib dan isya , insyaALLAH kesusahannya akan hilang .

AS-SABUR : Penyabar .
Fadhilatnya : Sesiapa ditimpa kesusahan ataupun dukacita hendaklah menyebut nama-Nya 3,000 kali , insyaALLAH ia akan terselamat

30 Kiat mendidik anak

Filed under: Asih Asuh

Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka
selayaknya dia mendapatkan perhatian serius dan pengawasan yang
cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap
menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-
hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga
orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya,
jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan
keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa
karenanya.

Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan
tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik
dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya.
Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai
berikut:

1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca
basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak
mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red).
Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang
makan.

2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya
mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam
mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan
jangan sampai mengotori pakaian.

3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus
pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan
kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu
banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini
untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut
saja.

4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal
makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu
cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia
melepaskannya.

5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan
warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu
hanya untuk kaumwanita.

6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya
mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya
hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal-
hal ini.

7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa
bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka
bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang
jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia
memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras
kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang
salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan
memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.

8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur’an dan buku-
buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur’an dengan tafsirnya,
hadits-hadits Nabi n dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia
juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah
orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa
mencintai dan menela-dani mereka.

Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy’ariyah,
Mu’tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid’ah lainnya agar
tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang
banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat
kemampuan anak.

9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya
sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan
jiwa.

10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair-
syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan
kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.

11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan
segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagia-
kannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan
disebar-kan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang
dilakukannya tidak baik.

12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi
di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan
kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci
dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi,
sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh
lagi dengan kemarahan.

13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam ber-komunikasi
dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali
pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan
perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak
bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan
dari ayah.

14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan
rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari
jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan
dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan
dan melemahnya kondisi badan.

15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk
karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam
kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena
terlalu lama tidur dan kurang gerak.

16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi,
sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan
bahwa itu tidak baik.

17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu
pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah
(atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa
menyi-bukkan diri dengan kegiatan itu.

18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak
(berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.

19. Melarangnya dari membangga-kan apa yang dimiliki orang tuanya,
pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia
ber-sikap tawadhu’, lemah lembut dan menghormati temannya.

20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu
mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan
rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan,
melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.

21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari
keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan
menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap
tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu
adalah perbuatan mulia dan terhormat.

22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat
umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama
muslim dan banyak menguap.

23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan
menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan
memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak.
Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah
Shallallaahu alaihi wa sallam.

24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau
dzikir kepada Allah.

25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau
dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.

26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti
melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang-
orang yang suka melakukan hal itu.

27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam
kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan
mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.

28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk
melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar,
membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.

29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus
diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan
bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan
berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-
perintah.

30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru,
pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua.
Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa
mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).

31. Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa
tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah
ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di
antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi
pendidikan anak perempuan.

Wallahu a’lam.

Dari mathwiyat Darul Qasim “tsalasun wasilah li ta’dib al abna'’”
asy Syaikh Muhammad bin shalih al Utsaimin rahimahullah .
Diterjemahkan oleh, Ubaidillah Masyhadi

Sumber: Melasayang.com

Manajemen Qalbu

Filed under: Psikology, Syariah

Lima Kiat Praktis Menghadapi Persoalan Hidup (1)

Penulis: KH Abdullah Gymnastiar

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Suatu hal yang pasti tidak akan luput dari keseharian kita adalah yang disebut masalah atau persoalan hidup, dimanapun, kapanpun, apapun dan dengan siapapun, semuanya adalah potensi masalah. Namun andaikata kita cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap orangpun berbeda-beda, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya.

Berarti masalah atau persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan tersebut. Oleh karena itu siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik, benar, indah dan bahagia adalah mutlak harus terus-menerus meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya dalam menghadapi aneka persoalan yang pasti akan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya seiring dengan pertambahan umur, tuntutan, harapan, kebutuhan, cita-cita dan tanggung jawab.

Kelalaian kita dalam menyadari pentingnya bersungguh-sungguh mencari ilmu tentang cara menghadapi hidup ini dan kemalasan kita dalam melatih dan mengevaluasi ketrampilan kita dalam menghadapi persoalan hidup berarti akan membuat hidup ini hanya perpindahan kesengsaraan, penderitaan, kepahitan dan tentu saja kehinaan yang bertubi-tubi. Na’udzubillah.

1. Siap

Siap apa? Siap menghadapi yang cocok dengan yang diinginkan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keiinginan.

Kita memang diharuskan memiliki keiinginan, cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah Swt berikan kepada kita.

Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar-sesadarnya bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki sangat banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita.

Dan pula dalam hidup ini ternyata sering sekali atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita, yang di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk mencegahnya, andaikata kita selalu terbenam tindakan yang salah dalam mensikapinya maka betapa terbayangkan hari-hari akan berlalu penuh kekecewaaan, penyesalan, keluh kesah, kedongkolan, hati yang galau, sungguh rugi padahal hidup ini hanya satu kali dan kejadian yang tak didugapun pasti akan terjadi lagi.

Ketahuilah kita punya rencana, Allah Swt pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah Swt.

Yang lebih lucu serta menarik, yaitu kita sering marah dan kecewa dengan suatu kejadian namun setelah waktu berlalu ternyata “kejadian” tersebut begitu menguntungkan dan membawa hikmah yang sangat besar dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan sebelumnya.

Alkisah ada dua orang kakak beradik penjual tape, yang berangkat dari rumahnya di sebuah dusun pada pagi hari seusai shalat shubuh, di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulan sang kakak berderak patah, pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat sial, jualan belum, untung belum bahkan modalpun habis terbenam, dengan penuh kemurungan mereka kembali ke rumah. Tapi dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan yang biasa ditumpangi para pedagang tape terkena musibah sehingga seluruh penumpangnya cedera bahkan diantaranya ada yang cedera berat, satu-satunya diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang selamat hanyala dirinya, yang tidak jadi berjualan karena pikulannya patah. Subhanalloh, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap kesialan besar, dua jam kemudian patah pikulan dianggap keberuntungan luar biasa.

Oleh karena itu “fa idzaa azamta fa tawaqqal alalloh” bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar namun hati harus tetap menyerahkan segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah Swt. Dan siapkan mental kita untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu Allah Swt.

Allah Swt, berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal bagi Allah Swt lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal buruk dalam pandangan Allah Swt.”

Maka jikalau dilamar seseorang, bersiaplah untuk menikah dan bersiap pula kalau tidak jadi nikah, karena yang melamar kita belumlah tentu jodoh terbaik seperti yang senantiasa diminta oleh dirinya maupun orang tuanya. Kalau mau mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, berjuanglah sungguh-sungguh untuk diterima di tempat yang dicita-citakan, namun siapkan pula diri ini andaikata Allah Yang MahaTahu bakat, karakter dan kemampuan kita sebenarnya akan menempatkan di tempat yang lebih cocok, walaupun tidak sesuai dengan rencana sebelumnya.

Melamar kerja, lamarlah dengan penuh kesungguhan, namun hati harus siap andaikata Allah Swt, tidak mengijinkan karena Allah Swt, tahu tempat jalan rizki yang lebih berkah.

Berbisnis ria, jadilah seorang profesional yang handal, namun ingat bahwa keuntungan yang besar yang kita rindukan belumlah tentu membawa maslahat bagi dunia akhirat kita, maka bersiaplah menerima untung terbaik menurut perhitungan Allah Swt. Demikianlah dalam segala urusan apapun yang kita hadapi.

2.Ridha

Siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, dan bila terjadi, satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati kita agar ridha/rela akan kenyataan yang ada. Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan dan kecewa berat, tetap saja kenyataan itu sudah terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak, kejadian itu tetap sudah terjadi. Maka, lebih baik hati kita ridha saja menerimanya.

Misalnya, kita memasak nasi, tetapi gagal dan malah menjadi bubur. Andaikata kita muntahkan kemarahan, tetap saja nasi telah menjadi bubur, dan tidak marah pun tetap bubur. Maka, daripada marah menzalimi orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat hati mendidih, lebih baik pikiran dan tubuh kita disibukkan pada hal yang lain, seperti mencari bawang goreng, ayam, cakweh, seledri, keripik, dan kecap supaya bubur tersebut bisa dibuat bubur ayam spesial. Dengan demikian, selain perasaan kita tidak jadi sengsara, nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.

Kalau kita sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada batu kecil nyasar entah dari mana dan mendarat tepat di kening kita, hati kita harus ridha, karena tidak ridha pun tetap benjol. Tentu saja, ridha atau rela terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah total sehingga tidak bertindak apa pun. Itu adalah pengertian yang keliru. Pasrah/ridha hanya amalan, hati kita menerima kenyataan yang ada, tetapi pikiran dan tubuh wajib ikhtiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah Swt. Kondisi hati yang tenang atau ridha ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal, dan bermutu.

Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental untuk menerima kenyataan yang ada. Selalu saja pikirannya tidak realistis, tidak sesuai dengan kenyataan, sibuk menyesali dan mengandai - andai sesuatu yang sudah tidak ada atau tidak mungkin terjadi. Sungguh suatu kesengsaraan yang dibuat sendiri.

Misalkan tanah warisan telah dijual tahun yang lalu dan saat ini ternyata harga tanah tersebut melonjak berlipat ganda. Orang-orang yang malang selalu saja menyesali mengapa dahulu tergesa-gesa menjual tanah. Kalau saja mau ditangguhkan, niscaya akan lebih beruntung. Biasanya, hal ini dilanjutkan dengan bertengkar saling menyalahkan sehingga semakin lengkap saja penderitaan dan kerugian karena memikirkan tanah yang nyata-nyata telah menjadi milik orang lain.

Yang berbadan pendek, sibuk menyesali diri mengapa tidak jangkung. Setiap melihat tubuhnya ia kecewa, apalagi melihat yang lebih tinggi dari dirinya. Sayangnya, penyesalan ini tidak menambah satu senti pun jua. Yang memiliki orang tua kurang mampu atau telah bercerai, atau sudah meninggal sibuk menyalahkan dan menyesali keadaan, bahkan terkadang menjadi tidak mengenal sopan santun kepada keduanya, mempersatukan, atau menghidupkannya kembali. Sungguh banyak sekali kita temukan kesalahan berpikir, yang tidak menambah apa pun selain menyengsarakan diri.

Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Ini adalah kenyataan hidup, kenanglah perjalanan hidup kita yang telah lalu dan kita harus benar-benar arif menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin, dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan keluh kesah karena semua itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi memperparah masalah.

Dengan demikian, hati harus ridha menerima apa pun kenyataan yang terjadi sambil ikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan yang diridhai Allah swt. *** (bersambung, bagian 1 dari 2 tulisan)

Lima Kiat Praktis Menghadapi Persoalan Hidup (2)

Penulis: KH Abdullah Gymnastiar

3. Jangan Mempersulit Diri

Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat masalah akan menjadi lebih besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan yang aslinya, Tentu pada akhirnya kita akan merasa jauh lebih nelangsa, lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya.

Orang yang menghadapi masa pensiun, terkadang jauh sebelumnya sudah merasa sengsara. Terbayang di benaknya saat gaji yang kecil, yang pasti tidak akan mencukupi kebutuhannya. Padahal, saat masih bekerja pun gajinya sudah pas-pasan. Ditambah lagi kebutuhan anak-anak yang kian membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah yang belum lunas dan utang yang belum terbayar. Belum lagi sakit, tak ada anggaran untuk pengobatan, sementara umur makin menua, fisik kian melemah, semakin panjang derita kita buat, semakin panik menghadapi pensiun. Tentu saja sangat boleh kita memperkirakan kenyataan yang akan terjadi, namun seharusnya terkendali dengan baik. Jangan sampai perkiraan itu membuat kita putus asa dan sengsara sebelum waktunya.

Begitu banyak orang yang sudah pensiun ternyata tidak segawat yang diperkirakan atau bahkan jauh lebih tercukupi dan berbahagia daripada sebelumnya. Apakah Allah SWT. yang Mahakaya akan menjadi kikir terhadap para pensiunan, atau terhadap kakek-kakek dan nenek-nenek? Padahal, pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus dijalani, yang tidak mempengaruhi janji dan kasih sayang Allah.

Maka, di dalam menghadapi persoalan apa pun jangan hanyut tenggelam dalam pikiran yang salah. Kita harus tenang, menguasai diri seraya merenungkan janji dan jaminan pertolongan Allah Swt. Bukankah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata pada akhirnya bisa lolos?

Yakinlah bahwa Allah yang Mahatahu segalanya pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan dosis yang tepat dengan keadaan dan kemampuan kita. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan” (QS Al-Insyirah [94]:5-6). Sampai dua kali Allah Swt menegaskan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus mendapatkan kesulitan karena dunia bukanlah neraka. Demikian juga tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus memperoleh kelapangan dan kemudahan karena dunia bukanlah surga. Segalanya pasti akan ada akhirnya dan dipergilirkan dengan keadilan Allah Swt.

4. Evaluasi Diri

Ketahuilah, hidup ini bagaikan gaung di pegunungan: apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali kepada kita. Artinya, segala yang terjadi pada kita adalah buah dari apa yang kita lakukan. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS Al-ZalZalah [99]: 7-8)

Allah Swt Maha Peka terhadap apapun yang kita lakukan. Dengan keadilan-Nya tidak akan ada yang meleset, siapa pun yang berbuat, sekecil dan setersembunyi apapun kebaikan, niscaya Allah Swt, akan membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yang terbaik menurut-Nya. Sebaliknya, kezaliman sehalus apapun yang kita lakukan yang tampaknya seperti menzalimi orang lain, padahal sesungguhnya menzalimi diri sendiri, akan mengundang bencana balasan dari Allah Swt, yang pasti lebih getir dan gawat. Naudzubillah.

Andaikata ada batu yang menghantam kening kita, selain hati harus ridha, kita pun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu ini tepat ke kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepala ini begitu kecil? Bisa jadi semua ini adalah peringatan bahwa kita sangat sering lalai bersujud, atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, pasti segalanya ada hikmahnya.

Dompet hilang? Mengapa dari satu bus, hanya kita yang ditakdirkan hilang dompet? Jangan sibuk menyalahkan pencopet karena memang sudah jelas ia salah dan memang begitu pekerjaannya. Renungkankah: boleh jadi kita ini termasuk si kikir, si pelit, dan Allah Mahatahu jumlah zakat dan sedekah yang dikeluarkan. Tidak ada kesulitan bagi-Nya untuk mengambil apapun yang dititipkan kepada hamba-hamba-Nya.

Anak nakal, suami kurang betah di rumah dan kurang mesra, rezeki seret dan sulit, bibir sariawan terus menerus, atau apa saja kejadian yang menimpa dan dalam bentuk apapun adalah sarana yang paling tepat untuk mengevaluasi segala yang terjadi. Pasti ada hikmah tersendiri yang sangat bermanfaat, andaikata kita mau bersungguh-sungguh merenunginya dengan benar.

Jangan terjebak pada sikap yang hanya menyalahkan orang lain karena tindakan emosional seperti ini hanya sedikit sekali memberi nilai tambah bagi kepribadian kita. Bahkan, apabila tidak tepat dan berlebihan, akan menimbulkan kebencian dan masalah baru.

Ketahuilah dengan sungguh-sungguh, dengan mengubah diri, berarti pula kita mengubah orang lain. Camkan bahwa orang lain tidak hanya punya telinga, tetapi mereka pun memiliki mata, perasaan, pikiran yang dapat menilai siapa diri kita yang sebenarnya.

Jadikanlah setiap masalah sebagai sarana efektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri karena hal itulah yang menjadi keuntungan bagi diri dan dapat mengundang pertolongan Allah Swt.

5. Hanya Allah-lah Satu satunya Penolong

Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan izin Allah Swt. Baik berupa musibah maupun nikmat. Walaupun bergabung jin dan manusia seluruhnya untuk mencelakakan kita, demi Allah tidak akan jatuh satu helai rambut pun tanpa izin-Nya. Begitu pun sebaliknya, walaupun bergabung jin dan manusia menjanjikan akan menolong atau memberi sesuatu, tidak pernah akan datang satu sen pun tanpa izin-Nya.

Mati-matian kita ikhtiar dan meminta bantuan siapapun, tanpa izin-Nya tak akan pernah terjadi yang kita harapkan. Maka, sebodoh-bodoh kita adalah orang yang paling berharap dan takut kepada selain Allah Swt. Itulah biang kesengsaraan dan biang menjauhnya pertolongan Allah Swt.

Ketahuilah, makhluk itu “La haula wala quwata illa billahil’ aliyyil ‘ azhim” tiada daya dan tiada upaya kecuali pertolongan Allah Yang MahaAgung. Asal kita hanyalah dari setetes sperma, ujungnya jadi bangkai, ke mana-mana membawa kotoran.

Allah menjanjikan dalam Surah Al-Thalaq ayat 2 dan 3, “Barang siapa yang bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa), niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal hanya kepada Allah, niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya.”

Jika kita menyadari dan meyakininya, kita memiliki bekal yang sangat kukuh untuk mengarungi hidup ini, tidak pernah gentar menghadapi persoalan apapun karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita yang sebenarnya berikut segala jalan keluar terbaik hanyalah Allah Swt Yang Mahasempurna. Dia sendiri berjanji akan memberi jalan keluar dari segala masalah, sepelik dan seberat apapun karena bagi Dia tidak ada yang rumit dan pelik, semuanya serba mudah dalam genggaman kekuasaan-Nya.

Pendek kata, jangan takut menghadapi masalah, tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa pertolongan-Nya, kita akan terus berkelana dalam kesusahan, dari satu persoalan ke persoalan lain, tanpa nilai tambah bagi dunia dan akhirat kita・benar-benar suatu kerugian yang nyata.

Terimalah ucapan selamat berbahagia, bagi saudara-saudaraku yang taat kepada Allah dan semakin taat lagi ketika diberi kesusahan dan kesenangan, shalatnya terjaga, akhlaknya mulia, dermawan, hati bersih, dan larut dalam amal-amal yang disukai Allah.

InsyaAllah, masalah yang ada akan menjadi jalan pendidikan dan Allah yang akan semakin mematangkan diri, mendewasakan, menambah ilmu, meluaskan pengalaman, melipatgandakan ganjaran, dan menjadikan hidup ini jauh lebih bermutu, mulia, dan terhormat di dunia akhirat.

Semoga, dengan izin Allah, uraian ini ada manfaatnya. *** (Bagian terakhir dari 2 tulisan)

Indahnya Hidup Merdeka (2)

Penulis: Aa Gym

3. Tidak Diperbudak Asmara

Salah satu yang memperindah dan menghiasi hidup kita adalah cinta. Tapi kita lihat ada orang yang dikutuk orang tuanya, bahkan terjerumus ke lembah nista dalam perbuatan-perbuatan yang hina justru karena cinta –tentu cinta buta– yang membuat tidak bisa melihat kebenaran.

Waspadalah saudaraku, jatuh cinta ibarat memasuki sebuah pusaran air, kalau tidak hati-hati semakin cinta semakin membelenggu, semakin hanyut, berkurang rasa malu, dan membara nafsu yang akhirnya menyengsarakan dunia akhirat, kecuali cinta di jalan Allah.

Jatuh cinta ibarat memasukkan ayam kampung ke kamar, akan sulit mengusirnya. Kalaupun susah payah mengusir, maka kamar akan berantakan. Begitulah orang-orang yang dilanda asmara dan tidak sungguh-sungguh menjaga diri.

Oleh karena itu jauhilah percintaan yang tidak disukai dan tidak di jalan Allah. Milikilah cinta yang asli karena Allah yang caranya betul-betul menegakkan apapun yang diaturkan dalam agama. Percayalah, rambu-rambu yang diberikan oleh Allah akan membuat diri kita tidak diperdaya oleh cinta yang tampaknya indah padahal bisa jadi menjerumuskan, na置zubillahi mindzalik. Berlindunglah kepada Allah supaya kita tidak diperbudak oleh asmara buta.

泥an, adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (Q.S An-Nazi誕t [79] : 40-41)

4. Orang yang Jujur

Saudaraku, setiap kali berbohong maka bohong itu akan menjadi penjara bagi kita. Kita akan selalu was-was, takut diketahui kebohongan (kedustaan) kita yang mengharuskan kita berbuat bohong lanjutannya. Dan bohong itu pun tentu akan menjadi penjara baru. Demikianlah kurang lebih bagi orang-orang yang berdusta, berbohong atau tidak jujur dalam hal apapun.

Tidak akan merdeka orang-orang yang tidak menjaga dirinya dari kedustaan dan ketidakjujuran. Rasulullah bersabda, 典idak ada akhlak yang paling dibenci Rasulullah, lebih dari bohong. Apabila beliau melihat seseorang bohong dari segi apa saja, maka orang itu tidak keluar dari perasaan hati Rasulullah sehingga beliau tahu bahwa orang itu telah bertaubat.・/i> (H. R. Ahmad)

Pastikanlah kita menjadi orang yang menikmati hidup jujur. Semakin sedikit rahasia semakin merdeka hidup ini. Semakin tidak mengenal dusta, semakin tidak terancam diri ini. Tak ada yang membuat kita takut harus diketahui aib dan kebohongan oleh orang lain karena memang kita tidak menyembunyikan sesuatu.

Lebih baik kita disisihkan karena kita jujur daripada kita diterima karena berdusta, berarti sepanjang waktu kita akan penuh ketegangan. Selamat berbahagi bagi saudara yang berjuang menjadi pribadi yang jujur terpercaya karena itulah milik orang-orang yang merdeka dan jujur.

5. Orang yang Tawadhu

Rendah hati adalah kunci kebahagiaan. Semakin kita ingin dihargai, semakin ingin dihormati, semakin ingin dipuji, semakin ingin diperlakukan lebih, maka semakin sengsara hidup ini, karena kita semakin butuh kepada orang lain. Padahal orang lain belum tentu sesuai keinginannya dengan kita.

Orang yang rendah hati, pikirannya adalah justru ingin melihat orang lain lebih berhak untuk dihargai, lebih berhak untuk dihormati, dan tidak melihat orang lain lebih rendah dari dirinya.

Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah, 泥an hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik・ (Q.S. Al Furqaan [25] : 28). Ketawadhuan tidak akan pernah menghinakan, bahkan sebaliknya akan mengangkat derajat seseorang.

Adalah mimpi kita bahagia jikalau kita menjadi orang yang sombong dan takabur. Sabda Rasulullah, 典iada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.・/i> (H.R Muslim). Kebahagiaan dan kemerdekaan adalah milik orang-orang yang rendah hati.

6. Orang yang Ikhlas

Ikhlas adalah kunci kemerdekaan hati. Orang-orang yang ria yang hidupnya tamak akan pujian akan menjadi korban mode dan korban jaman. Tetapi orang-orang yang ikhlas tidak pusing dengan penilaian manusia. Yang dia pikirkan adalah selalu memikirkan yang terbaik, dan puas dengan penilaian Allah Yang Maha Dekat serta ganjaran dari Allah yang melimpah dan tidak mengecewakan.

Rasulullah bersabda, 鄭llah tidak menerima amalan, melainkan amalan yang ikhlas dan yang karena untuk mencari keridhaan Allah.・/i> (H. R. Ibnu Majah)

Wahai saudaraku yang baik, marilah kita nikmati menjadi orang yang tidak terpengaruh oleh kerinduan dipuji orang lain. Pujian orang hanyalah tipu daya bagi kita, cobaan yang membuat kita sering menipu diri padahal kita tidak layak dipuji.

Tapi pujian dari Allah akan menyelamatkan kita dunia akhirat. Karena Allah yang menggenggam setiap rezeki, kedudukan, kemuliaan, bahkan nikmat dunia akhirat. Untuk apa kita dipuji makhluk yang pasti binasa. Lebih baik puaskan diri ingin dipuji Allah, itulah yang membuat kita merdeka dalam hidup ini.

7. Orang yang Tawakal

Semakin banyak bergantung kepada sesuatu maka kita akan takut kehilangan sesuatu. Seperti orang yang bersandar di kursi akan takut kursinya diambil. Tetapi bergantung kepada Allah, itulah yang akan memuaskan karena Allah menggenggam segala yang kita butuhkan. Allah Maha Tahu masalah kita, Allah Maha Tahu segala jalan keluar dari kesulitan kita, dan Allah-lah yang kuasa atas segala-galanya.

Dan orang yang bertawakal, dicukupi kebutuhannya oleh Allah Yang Maha Tahu kebutuhan kita. Allah berfirman, ・..Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.・ (Q.S Ath Thalaaq [65] : 3)

Sahabat-sahabatku yang budiman, untuk apa kita bergantung kepada manusia. Makhluk adalah lemah tiada daya dan tidak bisa memberi manfaat bagi kita tanpa izin Allah dan juga tidak bisa memberikan mudharat.

Marilah kita puaskan diri kita, ikhtiar kita, dan ketawakalan kita. Gigihnya ikhtiar jangan mencuri hati dari tawakkal kepada Allah. Yakinnya kepada Allah jangan pernah mengurangi ikhtiar kita, itulah orang-orang yang akan menikmati kemerdekaan dalam hidup ini. Akhlaknya jadi mulia dan indah kalau setiap perilakunya bisa menjadi amal shaleh yang menjadi bekal kebahagiaan dunia dan menjadi bekal perjumpaan dengan Allah Azzawajalla.

Sekali merdeka tetap merdeka. Sekali menjadi hamba Allah selama-lamanya hanyalah untuk mengabdi kepada Allah. Wallahua値am.***(bagian terakhir dari 2 tulisan)

Rangkuman Pengajian Majeis Manajemen Qolbu, Masjid Istiqlal 15 September 2002

Rendah Hati

Sumber: Abdullah Gymnastiar

Bismillahirrahmanirrahiim

Kajian Kitab Al-Hikam (Karya Syekh Ahmad bin Muhammad Atailah)

Bab: Rendah Hati
Andaikata kita benar-benar bisa menempatkan diri secara tepat sekali dalam hidup ini, niscaya hidup akan lebih ringan, lebih indah, dan lebih barokah. Sayang kita kadang tidak cukup waktu untuk mengenal diri sehingga kita merasa lebih dari kenyataan atau merasa lebih rendah dari karunia yang Allah berikan. Setidaknya inilah hikmah yang akan kita simak dalam kajian kitab Hikam kali ini.

“Tanamlah dirimu dalam tanah kerendahan. Sebab tiap sesuatu yang tumbuh tetapi tidak di tanam, maka tidak sempurna hasil buahnya.”

Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang merendah diri, maka Allah akan memuliakannya. Dan siapa yang sombong, besar diri, Allah akan menghinanya.”

Saudaraku, akar yang menghujam ke dalam tanah membuat pohon kian kokoh. Tapi pohon yang akarnya jauh dari tanah, disiram air, pohon bisa rontok. Makin kokoh menghujam, dihempas badai, diterjang topan, ditiup angin, tidak goyah. Tampaknya, orang-orang yang benar-benar menikmati hidup buah dari amal adalah orang yang tawadhu; orang-orang yang rendah hati.

Saudara-saudaraku, banyak beramal tidak berarti langsung selamat. Sebelum amal terlaksana, tipu dayanya adalah enggan beramal dan niat yang salah yaitu ingin dipuji amal-amalnya sebagai kebaikan. Ketika sedang beramal, cobaannya adalah enggan menyempurnakan amal. Dan ketika selesai beramal, ada lagi cobaannya, yaitu menjadi ujub, merasa diri paling beramal dan merasa diri lebih dari orang lain. Semua ini benar-benar butuh perjuangan. Imam Ibnu Atailah menganjurkan agar kita tawadhu dengan menanam di bumi kerendahan hati agar sempurna amal-amal kita. Jika kita benar-benar ingin menikmati tawadhu, beberapa rahasianya adalah, pertama : kita harus selalu sadar bahwa yang membuat kita beramal bukan kita tapi taufik Allah. Kita bisa bersodaqoh, uangnya dari mana kalau tidak dititipi rejeki dari Allah. Andai kita punya uang, tapi Allah tidak memberikan jalan bagi kita karena orang-orang di sekitar kita tidak butuh, tidak akan keluar itu uang. Setelah ada rejeki, oleh Allah digerakkan untuk bertemu dengan orang yang perlu pembangunan masjid, ada yang perlu dilunasi hutang, itu Allah yang mengatur. Setelah kita bisa bersodaqoh, diringankan hati kita. Kan ada yang sodaqoh tapi hati jadi kesal. Oleh karena itu kita harus tahu rangkaian semua amal ini hanya Allah-lah yang berbuat. Tidak usah diingat-ingat, tidak usah di sebut-sebut amal kita karena Allah-lah sebetulnya yang membuat kita bisa beramal. Seperti mutiara hikmah dari Syekh Ibrahim bin Asyam, “Tidak benar-benar bertujuan kepada Allah siapa yang ingin masyhur atau terkenal.” Bahkan Syekh Ayyub Asy Syahtiani berkata, “Demi Allah, tiada seorang hamba yang sungguh-sungguh ikhlas kepada Allah, melainkan ia merasa senang, gembira, jika ia tidak mengetahui kedudukan dirinya.”

Ciri-ciri kita kurang ikhlas adalah, andaikata kita sudah merasa beramal. Apalagi kita merasa ikhlas. Orang yang merasa ikhlas, dia ingin diketahui oleh orang lain keikhlasannya, berarti belum ikhlas. Karena dia masih membutuhkan orang lain agar tahu bahwa dirinya ikhlas dan dia senang ketika dia diketahui ikhlas. Berarti dia belum ikhlas. Oleh karena itu orang-orang yang ingin menikmati ketawadhuan, lupakan siapa diri kita. Kalau kita seorang sarjana, jangan diingat-ingat kesarjanaan kita. Disisi Allah bukan kesarjanaan yang penting, tapi amal yang ikhlas. Kalau kita seorang yang sudah pernah bersodaqoh sebanyak apapun, lupakan! Kalau kita ingat-ingat, kita menjadi butuh diakui, butuh ditulis, butuh disebut-sebut, itu bisa merusak. Inilah cara yang kedua, yakni dengan melupakan jasa diri sendiri. Makin kita mengingat-ingat otoritas kita, kedudukan kita, amal kita, makin kita ingat makin kita butuh diakui oleh makhluk, makin tidak ikhlas. Sesuatu yang layak kita ingat agar kita tawadhu, adalah ingat akan dosa-dosa kita. Berlatihlah untuk tawadhu dengan mengingat kekurangan kita. Cara lainnya supaya kita tawadhu, sesudah yakin semua milik Allah dan tidak mengingat kebaikan jasa diri sendiri, maka cara yang ketiga adalah tidak melihat orang lain lebih rendah dari diri kita. Setiap melihat orang, cari titik kelebihannya.

Ketika melihat anak-anak, subhanallah mereka dosanya masih sedikit. Melihat ibunya, ingatlah tetesan darah, keringat, pengorbanan dan air mata, mungkin inilah yang akan mengangkat derajat seorang ibu walaupun amalnya masih terbatas. Melihat orang yang lebih tua, subhanallah, bapak-bapak ini tentu amalnya lebih banyak dari kita. Melihat orang yang baru belajar baca Quran, siapa tahu baru belajar tapi lebih takut kepada Allah daripada perasaan takut kita kepada Allah. Melihat pedagang kecil, siapa tahu dalam pandangan Allah dia mulia karena kejujurannya walaupun dagangannya sederhana. Melihat seorang guru, mungkin dia mengajar dengan ikhlas, sehingga boleh jadi muridnyalah yang kelak akan menjadi benteng bagi agama dan bangsa ini. Pendek kata, ketika melihat orang lain, lihatlah kelebihan dan kebaikannya. Makin senang melihat kelebihan dan jasa orang lain, kita akan makin senang menghormat orang dan jauh dari kesombongan. InsyaAllah makin tawadhu. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang memiliki puncak kemuliaan, puncak kedudukan. Beliau adalah seorang nabi dan rasul terakhir. Beliau adalah seorang pemimpin yang tangguh, tapi beliau adalah seorang yang sangat rendah hati. Beliau menyapa dengan ramah dan lembut kepada siapa pun penuh dengan rasa hormat. Tiada seorang pun yang berjumpa kepada beliau kecuali beliau menatap dengan wajah penuh senyuman dan cerah bagai purnama. Subhanallah! Beliau tidak membeda-bedakan tamu kaya dan miskin. Beliau menerima undangan walau hanya makanan yang amat sederhana. Beliau berjalan dengan suka cita walaupun diundang oleh sekedar hamba sahaya. Beliau tidak menjadi bangga dengan naik unta yang bagus dan tidak pernah malu dan minder dengan menunggang keledai walaupun hanya dibonceng. Di rumah nabi Muhammad yang amat sederhana, beliau menjahit sendiri terompahnya, merapikan kamarnya, memeras susu tanpa ingin menjadi beban. Jikalau beliau ke pasar, beliau lebih menyukai jika beliau membawa sendiri belanjaannya. Jika beliau datang ke sebuah majelis, beliau tidak menyukai andaikata orang-orang berdiri untuk menyambutnya. Beliau ingin diperlakukan sama. Jikalau beliau berjalan, beliau tidak ingin dikawal agar kelihatan menjadi berwibawa. Nabi Muhammad tidak mengharapkannya. Jika mau masuk ke sebuah masjid dan beliau tidak kebagian tempat duduk, beliau tidak menginginkan duduk yang utama. Beliau duduk di mana saja. Bahkan beliau jika menyapa seseorang berusaha mendahului sapaannya. Menjawab dengan sempurna. Mengantar tamu sampai ke depan rumahnya. Beliau adalah orang yang setiap siapapun yang berjumpa dengannya selalu merasa puas akan sikapnya yang penuh kemuliaan dan rendah hati. Tidak ada jalan bagi kesombongan untuk menjadi mulia. Kemuliaan, ketinggian hanyalah milik orang yang tawadhu.

Semoga Allah yang Maha Agung menjauhkan kita dari segala kesombongan yang amat hina dan memalukan. Tidak ada contoh kesombongan kecuali kesombongan yang dicontohkan oleh iblis yang akhirnya terkutuk. Oleh Firaun yang akhirnya terlaknat. Abu Jahal dan Abu Lahab yang akhirnya menjadi orang yang dihinakan dunia wal akhirat.

Laa ilaaha illa anta, subhaanaka innii kuntu minadz dzoolimiin.

Duhai yang Maha Mendengar, ampuni jikalau selama ini kami termasuk amat sombong dalam pandangan-Mu. Ampuni jikalau kami sering menbesar-besarkan diri kami dan meremehkan keagungan-Mu. Ampuni jika kami sering mendustakan kebenaranMu. Ampuni jikalau kami meremehkan agama-Mu ya Allah. Ampuni jikalau Engkau saksikan kami enggan menerima nasehat.

Saudara-saudaraku, alangkah indahnya jikalau kita termasuk orang yang ditatap oleh Allah. Apa yang harus kita sombongkan pada diri kita? Mudah-mudahan kerendahan hati kita memacu amal kebajikan yang kita lakukan. Menjadi amal yang diterima oleh Allah dan memperkokoh kehidupan kita. Selamat menikmati hidup dengan rendah hati. ***

——————————————————————————–
Sumber: Melasayang.com disadur dari
Rangkuman Kajian Kitab Al-Hikam TRANS TV, tanggal 7 Ramadhan 1423 H/12 November 2002

Children Learn What They Live (Terjemahan Buku) 5

Filed under: Asih Asuh

Bab 5. Jika Anak-Anak Dibesarkan Dengan Olok-Olok,
Ia Belajar Menjadi Pemalu
Mengolok-olok orang itu kejam. Tetapi orang malah menganggapnya menyenangkan. “Ah, ayo dong, kan aku cuma bercanda. Masa kamu gak bisa diajak bercanda?” Melumrahkan olok-olok seperti ini menyalahkan korban atas reaksi apa pun yang akan dia perlihatkan. Orang yang diolok-olok ditempatkan pada posisi pasti kalah. Jika ia bersikap tidak senang, ia mungkin lebih diejek lagi. Jika ia menerima ejekan itu, rasa percaya dirinya runtuh.

Seorang anak yang diolok-olok sering tidak mengetahui apakah paling baik mengalah saja atau menghindari orang yang mempermainkannya. Kebingungan ini menghasilkan pertentangan perasaan, kemacetan, seperti menginjak rem dan gas mobil sekaligus. Terjebak dalam konflik ini, anak itu mungkin menjadi malu dan menarik diri, mengambil pelajaran dari pengalaman tidak enak itu, dan menghindari menarik perhatian pada dirinya.

Jenis anak pemalu sebagai akibat olok-olok berbeda dengan sifat pendiam bawaan alami yang ditunjukkan sementara anak. Anak-anak introvert tampak membutuhkan waktu lebih lama untuk berhubungan dengan orang-orang dalam situasi baru dan kita perlu menerima bagian kepribadian ini. Tetapi, anak-anak yang menjadi pemalu dan menarik diri sebagai upaya menghindari olok-olok membutuhkan pertolongan kita. Tugas kitalah untuk mendengarkan, mengetahui apa yang terjadi, dan membantu mereka mencari jalan keluar situasi tersebut.

Sorakan atau Olokan?
Olok-olok dan gelak tawa sering muncul bersamaan, tetapi kedua hal ini bukan kawan yang alami. Sesungguhnya, olok-olok bisa merusak gelak tawa. Gelak tawa bersama yang sehat dan murni, dapat mengalirkan perasaan senang dan santai melalui tubuh kita dan membantu mengikat persahabatan. Sementara, olok-olok berarti mempermainkan orang lain. Gelak tawa dari olok-olok mengorbankan seseorang. Menarik perbedaan antara tertawa yang sehat dan menertawakan orang yang diolok-olok, membingungkan bagi anak-anak, terutama karena kita tertawa kalau melihat kesialan orang dalam film kartun, komik, atau film. Jika seorang badut berjalan menabrak tembok, kita cekikikan. Kita perlu menjelaskan pada anak-anak bahwa komedi berbeda dengan kehidupan nyata, dan bahwa dalam kehidupan nyata kita tidak tertawa ketika orang lain jatuh atau gagal, tetapi malahan kita harus menolongnya. Kalau tidak, anak mungkin tidak mengerti bahwa salah menertawakan kesulitan orang, dan ketika ada orang-orang yang senang pada kesialan orang lain, anak-anak kita akan ikut tertawa pula.

Supri, 10 tahun, yang tidak berbakat olahraga, sedang mendapat giliran memukul dalam permainan kasti. Anak-anak tim lawan mulai memanggil-manggil namanya seolah memberikan semangat. “Supri, Supri, Supri,” kata mereka. Irama sorakan semakin bersemangat.

Awalnya Supri senang dengan perhatian itu. Tetapi begitu ia mengayunkan tongkat dan gagal memukul satu bola, kemudian dua, ia menyadari anak-anak itu sedang mengolok-oloknya. Ia menjadi bingung, lalu geram. Ia memukul lagi dan gagal. Ejekan itu mengikutinya begitu timnya bergerak keluar ke lapangan. Sekarang Supri merah padam dan merasa dipermalukan. Ia tidak tahu apakah harus berhenti main atau mengacuhkan anak-anak itu dan terus bermain.

Mengolok-olok menodai gelak tawa dengan penghinaan. Ini dapat membingungkan bagi anak-anak, baik kecil atau besar. Supri tidak langsung menyadari ia sedang diejek. Anak-anak cenderung untuk ikutan dalam peristiwa menyenangkan yang dilakukan orang-orang lain. Ketika ia menyadari mereka menertawakannya, muncul rasa malu. Hinaan pada awalnya, terlalu halus bagi Supri untuk dipahami, sehingga ia merasa bingung dan tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.

Jika hinaan semacam ini diarahkan padanya berulang kali, Supri dapat dengan mudah patah semangat dan menarik diri dari permainan anak-anak di lingkungannya. Hanya rasa takut diolok-olok sudah cukup mendorong anak menyendiri di pojok, dan bisa saja akhirnya ia menjadi selalu pemalu dan pendiam. Ketika seorang anak menjadi penakut berlebihan, muncullah lingkaran destruktif. Anak-anak lain mencium kerapuhan si anak tadi dan mungkin semakin mengejeknya. Ini peran berat yang dijalankan anak sekaligus harga mahal supaya ia tetap dimasukkan dalam pergaulan. Namun, kadang pilihan lainnya adalah kesepian dan pengasingan dari teman-temannya.

Anak-anak mungkin tidak selalu bisa menceritakan pengalaman semacam ini kepada kita. Mereka bisa saja merasa malu mengakui mereka menjadi bulan-bulanan olokan. Atau mereka merasa kita tidak bisa menolong mereka. Dan memang benar, kita tidak bisa melindungi anak-anak dari intimidasi anak-anak lain karena campur tangan orang tua cenderung akan memperburuk keadaan. Tetapi kita bisa mendukung anak-anak dengan memberikan semangat untuk menemukan kekuatan mengatasi ejekan dan mencari teman-teman lain.

Kadang-kadang kita harus mengenali bahwa anak-anak kita mengolok-olok temannya. Tidak selalu mudah bersikap jujur pada diri kita sendiri dan menghadapi kenyataan bahwa anak-anak kita juga bisa bertindak kejam. Peringatan mudah, “Jangan bilang begitu,” atau “Nggak sopan ah” — tidak cukup memberikan penekanan pentingnya masalah ini. Anak mungkin hanya akan lebih hati-hati memastikan bahwa kita tidak mendengarkan komentar buruknya lain kali. Kita dapat meningkatkan kepekaannya terhadap perasaan orang, dengan mengatakan, “Bayangkan bagaimana perasaanmu jika temanmu mengatakan begitu kepadamu.” atau “Kamu lihat wajahnya ketika kamu bilang begitu nggak? Bagaimana ya perasaaannya.” Kita perlu mengajarkan kepada anak-anak kita kepekaan terhadap perasaan orang dan kebaikan hati. Cara terbaik adalah berada di pihak mereka, memberi tahu bahwa kita bersama mereka dan kita memahami. Jika anak-anak mengalami empati dalam hidup mereka, lebih mudah untuk memahami kebutuhan orang lain dan memperlakukan orang lain dengan baik.

Dukungan dari Lingkungan
Meskipun kita tidak bisa mengendalikan bagaimana anak-anak lain memperlakukan anak kita, kita bisa menolong dalam cara lain. Kita bisa peka terhadap tanda-tanda bahwa anak mungkin menjadi korban olok-olok dengan memperhatikan jika ia tiba-tiba menjadi pendiam, menarik diri, atau tidak nyaman. Jika ia mengatakan bahwa anak-anak lain mengejeknya, menghina, atau mengancamnya, anggaplah serius. Mengatakan, “Ah, itu sih nggak pa-pa,” “Nggak usah dipikirin.,” “Mereka cuma main-main” tidaklah menolong. Langkah pertama anda haruslah mendengarkan dan menyemangati anak untuk membahas rasa bingung dan sakit hatinya. Jika anak bersekolah di TK atau SD, Anda mungkin ingin membicarakan hal ini pada guru, guna mencari sumber pertolongan lain. Tujuan percakapan ini bukanlah menyalahkan anak-anak lain, atau untuk mencari perlindungan untuk anak Anda, melainkan untuk merencanakan suatu kerja sama untuk menolongnya.

Clare, 9 tahun, diejek dan ditolak masuk kelompok anak-anak perempuan di kelas empat. Gurunya memperhatikan bahwa ia menjadi pemalu dan menarik diri, yang malahan tambah membuatnya menjadi sasaran olok-olok. Ibu Claire menelepon gurunya karena Clare menangis setiap malam di tempat tidur dan tidak mau pergi sekolah di pagi harinya. Orang tua dan guru bertemu untuk mendiskusikan bagaimana Claire dapat menangani situasi ini dengan lebih baik.

Bersama-sama mereka membuat rencana terkoordinir. Ketika Clare dan anak-anak yang mengejeknya terlihat berada dalam jarak yang dekat, guru akan pelan-pelan datang dan sehalus mungkin mengajak Clare menjauh dari mereka menuju kelompok anak yang lebih terbuka. Di rumah, orang tua Clare membicarakan dengannya tentang bagaimana cara pergaulan teman-teman yang sejati, dan juga tentang bagaimana Claire bisa mencari lingkungan pergaulan yang baru. Dengan bantuan dari guru dan orang tuanya, Clare belajar bagaimana mencari teman yang sungguh-sungguh bersahabat, dan bagaimana bertindak jika ada anak yang tidak baik padanya.

Ketika Kitalah Yang Bersalah
Kadang-kadang, sering tanpa berpikir, kitalah yang mengejek orang lain. Kita mungkin membuat komentar buruk tentang seorang yang lewat atau kenalan atau bercanda dengan niat menjelek-jelekkan teman. Kita tidak merasa berbuat salah karena kita membicarakan orang asing atau seseorang yang sedang tidak ada, tetapi jika anak-anak kita mendengarkan, mereka akan berpikir bahwa boleh saja membicarakan keburukan orang.

Seorang ibu bercerita, “Di pusat perbelanjaan dekat rumah kami, ada seorang wanita yang kadang-kadang berdiri di pinggir jalan dan melambai ke arah-arah mobil yang lewat. Ia selalu tersenyum atau bernyanyi ketika ia lewat. Suatu hari, ia terlihat keluar dari pasar. Seorang wanita di depan saya mengatakan kepada putrinya, yang sekitar tujuh tahun, “Itu tuh ada ibu-ibu sinting.”

“Bu, nggak baik bilang begitu,” kata anak kecil tadi, jelas sekali ia tidak senang. “Bagaimana rasanya jika ada orang bilang Ibu sinting?”

“Saya ikut bicara sambil melewati mereka, ‘Kalau saya sih menyebutnya wanita yang bahagia.’ Anak tadi kelihatan lega.

Ibu itu tersenyum malu dan mengatakan, ‘Ibu rasa memang dia kelihatan bahagia.’”

Kadang-kadang anak memberikan pelajaran berharga buat kita.

Olok-olok Dalam Keluarga
Sebagai orang tua, kita terkadang terperangkap mengolok-olok atau menggoda anak-anak kita, dengan maksud untuk menguatkan mental mereka. Sudah jelas sekali, olok-olok bukan metode baik guna mengembangkan kekuatan karakter anak. Paling-paling, anak akan belajar berpura-pura berani, sebagai upaya melindungi dirinya. Jangan salah anggap bahwa inilah kekuatan mental sejati.

Ayah Pete, 12 tahun, pernah menjadi pemain sepak bola unggulan pada masanya, dan sekarang Pete masuk anggota tim lokal yang tengah bersiap bertanding dalam musim kejuaraan. Ayah merasa Pete tidak cukup agresif di lapangan, jadi Ayah mencoba memotivasi Pete. Malang bagi Pete, motivasi itu dilakukan Ayah dalam bentuk mengolok-oloknya selama latihan di depan teman-temannya.

“Ngapain sih kamu pelanga-pelongo di situ? Nunggu dikasih duit? Ayo cepat! Sana kejar bola!” Demikian teriakan Ayah dari sisi lapangan. Pete akan mengangguk dan lari ke lapangan dengan perasaan marah, mengeraskan gerahamnya, terlalu kesal dan frustrasi untuk berkonsentrasi pada permainan.

Ayah Pete bermaksud baik. Ia mungkin tidak menyadari bahwa kata-katanya kejam dan mempermalukan. Ia hanya mengulangi kata-kata yang dilontarkan padanya ketika ia dulu bermain sepak bola. Tetapi sayang sekali, ia sama sekali tidak menolong Pete dalam permainan bola, tetapi ia telah merusak hubungan baik dengan anaknya.

Pola lebih keji dari olok-olok sering ditemukan antara saudara kandung, yang bisa jadi ahli menyakiti hati saudaranya melalui sarkasme, nama ejekan, dan taktik kejam lainnya. Saudara kandung mengetahui kelemahan masing-masing dan pandai menjadikannya target.

Jill tahu adik laki-lakinya ingin menjadi teman dengan anak baru di sebelah rumah. Kedua anak laki-laki itu sama-sama senang bermain skateboard dan berumur setara. Jadi, setiap Jill melihat keduanya bermain, ia akan naik sepeda dan meneriakkan, “Hai, Tukang Ngompol. Apakah kamu pipis di celana tadi malam?”

Ini bukanlah olokan tidak berbahaya, ejekan begini kejam dan berakibat buruk. Jika anak terpaksa selalu menghadapi olok-olok dalam keluarga, ia akan terluka, menjadi ragu-ragu dan pemalu untuk berpartisipasi dalam hidupnya sendiri. Orang tua perlu sadar tentang apa yang sedang berlangsung di antara kakak adik, terutama ketika orang tua tidak ada. Orang tua perlu masuk dan menentukan batasan jelas dan konsekuensi yang konsisten, sehingga semua anak dalam keluarga bisa merasa aman dan nyaman dalam rumah mereka sendiri.

Kenyamanan Dalam Rumah
Setiap orang kadang menjadi bahan candaan atau cercaan orang lain, dan tidak ada cara bagi kita untuk 100 % melindungi anak dari porsi tertentu pengalaman tidak enak semacam ini. Tetapi jika kita menciptakan suasana rumah tangga yang aman, anak-anak dapat percaya bahwa di rumah mereka bisa menjadi diri sendiri, dengan tekanan seminimal mungkin. Tambahan, orang tua yang menerima bahwa mereka sendiri juga tidak bebas dari kesalahan dan secara aktif mencoba belajar dari kesalahan, akan menciptakan lingkungan yang lebih hangat, lebih santai bagi pertumbuhan anak-anak. Anak-anak akan belajar melalui contoh bahwa dunia tidak berakhir ketika mereka berbuat salah. Orang dewasa juga dalam proses belajar, dan bahkan bisa menertawakan diri sendiri. Ketika anggota keluarga dapat tertawa bersama-sama, dan bukannya saling menertawakan, sifat malu akan mencair pergi.

Sumber ; Millist Fahima Juni 2005

Children Learn What They Live

Filed under: Asih Asuh

Bab 4. Jika Anak-Anak Dibesarkan Dengan Rasa Kasihan, Mereka Belajar Mengasihani Diri

Mengasihani diri ibarat terjerumus dalam rawa-rawa penghisap. Kekuatan misterius menarikmu ke bawah sampai kamu merasa kewalahan dan tidak berdaya. Harapan satu-satunya adalah jika seseorang datang dan menolongmu.

Ini bukanlah resep untuk berhasil. Jika kita merasa kasihan pada anak-anak atau kita selalu mengasihani diri sendiri, kita mengajari mereka bahwa boleh saja mengasihani diri. Ini tidak mengajari mereka berinisiatif, kuat hati, atau bersikap antusias. Sebaliknya, merasa kasihan pada diri sendiri merontokkan semangat dan sering kali mencerminkan ketidakberdayaan dan ketidakmampuan.

Kita ingin anak-anak kita tumbuh berpotensi, mampu menemukan kekuatan dalam diri mereka sendiri, dan dapat meminta pertolongan pada orang lain ketika dibutuhkan. Untuk memberikan contoh baik pada mereka, kita perlu mempraktekkannya dalam hidup kita sendiri. Mungkin kita tidak bisa sempurna dan tidak bisa setiap saat, tetapi cukup sehingga anak-anak kita belajar menggali kekuatan dalam diri guna tantangan yang mereka hadapi. Ini berarti kita harus menemukan kekuatan dalam diri kita untuk menghadapi tantangan di depan mata dalam hidup kita. Kita juga harus memiliki keyakinan pada anak-anak kita. Kita yakin anak-anak mampu menyelesaikan masalah ketika menemukan halangan dalam hidup mereka.

Memanfaatkan Imajinasi
Kita semua mengalami saat-saat ketika kita ingin mengasihani diri. Kita merasa bekerja terlalu keras, tidak cukup dihargai, seolah hidup tidak sesuai keinginan kita. “Mengapa hal ini menimpa aku?” begitulah kita mengeluh. Jika kita tidak hati-hati, mengasihani diri dapat berubah menjadi pola berpikir, yang mengarah dari menangis sesekali menjadi rasa tidak berdaya yang parah. Persepsi kita menyempit menjadi hanya menerima informasi yang mendukung asumsi “kasihan aku”, dan kita terjebak dalam pemikiran memutar yang berulang menjadi lingkaran setan mengasihani diri dan tidak berdaya.

Jika kita menemukan diri dalam situasi semacam ini, berhentilah berpikir tentang masalah kita dan lakukan sesuatu - apa saja! Naik sepeda di gym, berjalan kaki, atau membayangkan tamasya ke tempat favorit. Murid saya Kate, bercerita tentang kegiatan yang menyelesaikan masalahnya. “Saya merasa seperti keset tua, rombengan dan tidak dihargai, “katanya. “Ketiga anak saya melelahkan saya, suami bekerja sepanjang waktu dan kelelahan ketika ia pulang. Saya merasa amrah dan sedih, tetapi saya juga tidak suka merasa seperti itu. Jadi saya memutuskan untuk mencoba membayangkan seperti pelajaran kita di kelas. Saya menutup mata dan hal pertama yang muncul adalah bahwa saya butuh tepukan tangan. Jadi saya membayangkan diri saya berdiri di sebuah stadium yang penuh dengan orang. Orang-orang itu berteriak dan bertepuk tangan.”Kate Hebat!” Kemudian saya mulai bertepuk tangan. Saya berteriak pada tembok-tembok dapur.”

“Saya menyadari saya butuh kedekatan lebih dengan suami dan saya ingin anak-anak menghargai apa yang saya lakukan untuk mereka. Saya ingin perhatian. Jadi saya memanggang kue pencuci mulut kesukaan keluarga, dan meletakkannya di rak perabotan dengan tulisan besar: ‘Ibu hebat. Jika kamu setuju, peluklah aku.’ Tentu saja ini langsung menjadi topik pembicaraan kami. Saya mendapatkan pelukan yang saya butuhkan, dan suami saya membuat rencana menitipkan anak-anak pada tante saya untuk kencan berdua saja akhir pekan itu. Saya tidak bilang hidup saya berubah, tetapi saya berhasil keluar dari lingkaran mengasihani diri.”

Tidak saja Kate telah mampu memanfaatkan daya kreatifnya, ia juga menunjukkan pada anak-anaknya bagaimana bertindak kreatif untuk menyelesaikan masalah. Tambahan, ia mendapatkan waktu berdua dengan suami yang ia butuhkan. Penting sekali bagi suami istri untuk memperkaya dan menggairahkan kembali hubungan mereka. Semua anggota keluarga mengambil manfaat dari penghargaan terhadap sesama.

Kamu Tidak Tahu Betapa Beruntungnya Kamu
Di antara salah satu tema paling umum bagi orang tua yang terjebak dalam pola “kasihan aku” misalnya membanding-bandingkan kehidupan anak dengan kenangan tentang masa kanak-kanak orang tua. Judith langsung tahu jika ibunya mulai bicara ke arah ini karena ibu akan mulai bercerita tentang masa kecilnya ketika seumur Judit, lalu berlanjut ke bagaimana beruntungnya Judith punya banyak barang, dan bahwa ia tidak menyadari betapa giatnya orang tua bekerja untuknya. Percakapan ini biasanya terjadi di dalam mobil sehingga Judith tidak bisa melarikan diri.

Ibu akan mulai dengan komentar seperti, “Anak-anak zaman sekarang berpikir sepatu ratusan ribu rupiah tumbuh dari pohon.”

Judith tidak tahu harus bilang apa, jadi dia cuma menggumam, “He-eh,” merosotkan badannya di kursi mobil. Tetapi ibu baru mulai, yang tadi belum apa-apa.

“Kamu nggak tahu bahwa ketika ibu seumurmu, ibu harus bekerja menjaga anak orang 3 hari seminggu dan hari Minggu. Ibu nggak terus-terusan keluyuran sama teman-teman.”

Pada saat ini, Judith akan memutar bola matanya dan mengeluh, tetapi ia sudah tidak sabar, “Bu, aku nggak terus-terusan keluyuran kok. Dan aku juga mengerjakan banyak PR dari sekolah.” Ia berhenti sejenak. “Mungkin lebih banyak dari yang ibu kerjakan dulu.”

Keadaan ini menciptakan kontes mengasihani diri antara ibu dan anak. Ibu tidak bermaksud memulai kompetisi semacam ini, atau pun mengekspresikan kasihan pada diri sendiri. Maksudnya adalah mengajari Judith untuk lebih bersyukur dan berterima kasih atas apa yang dimilikinya. Tetapi pesan yang ditekankannya malahan, “Ibu iri dan kecewa bahwa ibu tidak seberuntung kamu” sekaligus pesan yang lebih halus, “Kamu berhutang segalanya pada ibu.” Tidak heran Judith menghela napas sebal setiap kali ibu mulai dengan kebiasaan ini.

Tidak salah menyatakan kebutuhan kita untuk dihargai secara terang-terangan. Ketika menjemputnya di sekolah, ibu Judith dapat mengatakan, “Ibu senang menjemput kamu, dan Ibu akan lebih senang kalau tahu kamu berterima kasih.” Ibu tidak perlu terjatuh pada tindakan mengasihani diri sebagai ganti permintaan yang jelas akan penghargaan. Tentu saja, kita tidak bisa menjamin bagaimana tanggapan anak, tetapi kita lebih mungkin mendapatkan keinginan kita dari mereka jika pesan kita jelas, langsung, dan bebas dari “kenangan buruk masa lalu.”

“Perutku sakit”
Anak-anak dapat menjadi ahli mengasihani diri sendiri dan memanfaatkan rasa kasihan dari orang tua serta semua keuntungan tambahannya, seperti diperhatikan, dipeluk, dan dibujuk-bujuk.

“Perutku sakit,” Tracy mengeluh ketika ibunya mencoba menyiapkannya pergi ke TK. “Aku nggak mau pergi sekolah.” Ia memegangi perutnya dengan wajah kesakitan.

Tidak ada orang tua yang terlepas dari dilema ini. Apakah Tracy benar-benar sakit? Haruskah ia istirahat di rumah? Apakah ia membutuhkan lebih banyak perhatian dari orang tua? Atau apakah ia membutuhkan liburan sehari untuk tinggal di rumah bersama ibu dan ayah?

Ibu Tracy harus menilai keadaan ini dan menebak sebaik mungkin. Yang paling penting adalah Tracy tidak belajar bahwa rasa kasihan pada dirinya tidak akan membuat kebutuhannya terpenuhi.

Jika ibu menduga bahwa sakit perut itu hanya alasan untuk menghindari pergi sekolah, ia dapat menanyai Tracy pertanyaan seperti, “Kalau kamu sekolah apa ada hal buruk yang bisa terjadi?” “Kalau kamu libur, apa yang ingin kamu kerjakan?” atau “Apa yang bisa kamu lakukan untuk membuat hari ini seperti yang kamu inginkan?”

Jawaban Tracy dapat membantunya menyadari apa yang ia butuhkan, tanpa mendorong tindakan mengasihani dirinya. Ibu juga jadi tahu tentang pikiran dan hidup Tracy. Kadang-kadang anak-anak pura-pura sakit sebagai ungkapan minta perhatian. Kita perlu bertanya pada diri sendiri jika kita akhir-akhir ini sibuk dan terburu-buru. Kita mungkin perlu berhenti sejenak, berpikir serius, dan menghabiskan waktu ekstra dengan anak-anak kita.

Anak-anak bisa juga mengasihani diri sendiri dengan mengatakan, “Aku tidak bisa.” Ucapan ini bisa menjadi alasan dan pertahanan ampuh terhadap penguasaan keahlian baru. Anak mengatakan, “Ibu tidak bisa mengharapkan aku melakukannya. Aku nggak bisa.” Tetapi sebenarnya yang ia maksud adalah, “Aku tidak mau.” atau lebih keras lagi,”Aku tidak akan melakukannya.”

Jika kita menyerah pada strategi ini kita pada dasarnya menyetujui bahwa anak kita tidak mampu. Kita tidak ingin memberikan pesan semacam ini pada anak. Meskipun memang sulit, ada saat-saat kita perlu menantang anak kita, tidak mengindahkan alasan mereka dan tetap mempertahankan harapan positif kita terhadap mereka. Pada saat bersamaan, kita harus menolong mereka mendefinisikan dan mengakui perasaan tidak aman mereka.

Ben, 8 tahun, frustrasi dengan pe-er matematikanya. “Aku tidak bisa,” keluhnya. “Terlalu sulit untukku.”

Ayah menganggap serius perasaan Ben, tetapi mengabaikan permintaannya agar dikasihani. Ayah mendorongnya untuk tetap mencoba. “Ingat nggak tahun lalu, ketika kamu kesulitan dengan matematika?” kata ayah. “Kamu minta tolong ke guru dan kita mengerjakan beberapa soal bersama-sama kan? Kamu berhasil mengerjakannya waktu itu, dan pasti sekarang juga bisa. Mari kita lihat lagi bersama-sama.”

Kita sering tergoda untuk memberikan simpati ketika anak merasa tidak mampu, tetapi sebenarnya hal ini hanya mendorong mereka untuk mengasihani diri padahal saat itu mereka perlu mengembangkan sifat pantang menyerah. Jika ayahnya menjawab dengan, “OK, Ben. Ayah tahu matematika sulit. Kenapa kamu tidak istirahat saja malam ini?” Ben akan mulai berpikir ia memang tidak bisa matematika. Kita ingin mendorong anak-anak kita untuk tetap menjaga cakrawala mereka terbuka dengan menolong mereka mencapai kemampuan dalam berbagai disiplin dan kegiatan. Terutama penting sekali untuk tidak membiarkan kekurangan kita sendiri mengaburkan perspektif terhadap anak. Jika ayah Ben sendiri kesulitan dengan matematika, ia mungkin lunak terhadap masalah Ben. Tetapi ini bukan hal yang terbaik bagi anaknya.

Sangat sulit bagi orang tua kapan harus menolong anak mereka dan kapan harus mundur. Acap kali, pertolongan malah menjadi hambatan. Anak-anak perlu menyelesaikan proyek sendiri guna membangun rasa percaya diri. Tetapi pada situasi berbeda, anak akan terluka jika tidak ditolong. ketika anak sedang bermasalah dan kewalahan, orang tua perlu masuk, menolong dengan cara yang meningkatkan percaya diri anak, dan bukan meremehkannya. Kadang-kadang hal terbaik untuk dilakukan adalah menolong anak untuk mulai, dan membiarkannya, sambil memberinya semangat guna menemukan caranya sendiri.

Sebagai orang tua, keputusan tentang bagaimana, kapan, dan apakah harus menawarkan bantuan atau menahan diri haruslah selalu dinilai ulang setiap kali. Kebutuhan dan kemampuan anak berubah dengan dewasanya mereka -bantuan bagi anak 3 tahun bisa menghambat bagi anak 5 tahun. Kita perlu pandai-pandai menilai kapan harus ikut campur dan kapan harus minggir, sambil senantiasa memberikan semangat dan dorongan. Penting sekali mengingat bahwa sejumlah perjuangan tidak dapat dielakkan dan menolong sekali dalam proses pembelajaran.

Saat-saat Terburuk
Bahkan ketika tragedi menimpa, rasa kasihan tidak menolong. Rasa kasihan merupakan emosi yang memberikan jarak. Kita merasa kasihan pada korban, sementara pada saat yang sama bersyukur, bahkan merasa tinggi karena kita tidak mengalaminya. Empati, di lain pihak, merupakan perasaan kedekatan, mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi korban. Empati melibatkan kasih sayang, dan mengarah secara alami pada pertanyaan: bagaimana saya bisa menolong?

Salah satu hal-hal yang luar biasa tentang tragedi adalah caranya memunculkan kualitas terbaik dari manusia. Korban malapetaka sering kali bangkit dengan kekuatan dan keberanian yang menakjubkan. Anak-anak cacat sering kali mengajari orang tua mereka tentang bagaimana cara menjalani hidup daripada yang orang tua mereka dapat ajarkan. Bahkan anak-anak dengan penyakit mematikan seringkali mampu bangkit melampaui perasaan mengasihani diri. Mereka mungkin merasa lemah sesekali, tetapi mereka tidak terjebak di sana.

Sue, 10 tahun, menderita kanker. Ia sering bolak-balik antara ruangan kelas limanya dan ruangan anak untuk kanker di rumah sakit. Semua rambutnya yang panjang dan pirang rontok. Ia bisa saja menghabiskan waktu mengurung diri dan mengasihani diri sendiri. Namun, dengan bantuan keluarganya, ia sedapat mungkin mempertahankan gaya hidup yang normal seperti layaknya anak 10 tahun. Ia mengikatkan syal di kepala dan terus pergi ke sekolah, mengerjakan pe-er, dan bertemu teman-teman. Ketika ia masih memiliki energi untuk menikmati hidupnya, ia mengadakan pesta untuk teman-teman sekelasnya. Anak-anak bersenang-senang di pesta itu, demikian juga Sue.

Jika teman-teman tenggelam dalam rasa kasihan pada Sue, mereka tidak mungkin bisa bermain kejar-kejaran dengannya seperti dengan anak sehat. Bukannya mereka tidak sadar dengan penyakit Sue, dan mereka sama sekali tidak berkurang simpati padanya. Mereka membicarakan situasi itu dengan guru dan membayangkan bagaimana perasaan Sue. Karena mereka telah membahas penyakitnya secara terbuka, mereka mampu memahami akibatnya. Mereka mampu bersikap mendukung, dan mengajaknya ikut dalam kegiatan mereka ketimbang mengasingkannya dalam upaya yang salah untuk melindunginya.

Solusi, Bukan Simpati
Janice, 10 tahun, membantingkan tubuh ke atas sofa di sebelah Ibu dan mengeluh, “Aku satu-satunya yang nggak diundang ke pesta Melisa.”

Ibu segera tahu ke mana percakapan ini mengarah. Ia menggandeng bahu Janice yang sedih dan bertanya, “Satu-satunya yang nggak diundang?”

“Hmm…,” Janice mengaku,”beberapa anak lain juga ada sih.”

“Kamu ingin melakukan apa hari itu?” tanya Ibu.

“Aku bisa tinggal di rumah dan bersedih, ” Janice menjawab, setengah serius, tetapi sambil melirik ibunya dengan penuh minat.

“Ya, itu satu,” jawab ibunya., tidak terjebak dalam perasaan kasihan pada putrinya.

“Bolehkah aku mengajak teman-teman yang juga tidak diundang untuk menginap?”tanya Janice.

“Kedengarannya asyik,”jawab Ibu. “Kamu juga bisa bikin kue brownies yang kamu suka.”

Kita memiliki kesempatan untuk membantu anak-anak kita membuat pilihan yang baik ketika kita berbicara kepada mereka tentang krisis-krisis kecil seperti ini. Dengan mendengarkan perasaan mereka dan menyarankan solusi yang mungkin, atau lebih baik, mengarahkan mereka untuk menciptakan solusi mereka sendiri, kita menjauhkan mereka dari mengasihani diri sendiri dan menuju penentuan jati diri. Keyakinan kita pada kekuatan dalam anak-anak kita akan membantu memberikan keyakinan yang mereka butuhkan untuk percaya dan mengandalkan diri sendiri. Itu lebih penting daripada “simpati” ekstra di saat bagaimana pun!

Sumber : Millist Fahima

Modul HS Kelompok Usia : 6 tahun ke atas

Filed under: Asih Asuh

Periode : Juni 2005

Program Rutin Harian Untuk Anak usia 6 tahun ke atas :

1. Ajaklah dan ingatkan selalu anak sholat setiap saat

2. Membacakan surat surat pendek baik menjelang tidur ataupun pada saat aktivitas lain.

3. Ajaklah anak berwudhu menjelang sholat. (Poster cara berwudhu yg ada di modul sebelumnya, di tempel ditempat yang mudah terlihat, agar cepat hapal). Dan melakukan sholat fardhu.

4. Biasakan anak membaca basmalah, hamdalah, dan do’a sebelum memulai kegiatan.

5. Membiasakan belajar baca Al-Qur’an setiap hari atau bila belum masuk Al-Qur’an, membiasakan balajar iqra/qira’ati setiap hari.

6. Membiasakan diri dengan adab-adab islami seperti mengucapkan salam, berkasih sayang, mau berbagi, saling memaafkan, sopan santun terhadap yang lebih tua,dll.

SENIN

Kegiatan : Hapalan surat-surat pendek

Materi :

1. Surat Al-Maa’un (Barang-barang yang berguna)

2. Kandungan surat Al-Maa’un adalah :

a. Isinya menjelaskan tentang sifat-sifat buruk manusia yang akan membawa manusia kepada kesengsaraan

b. Ancaman Allah bagi orang-orang yang melakukan shalat dengan lalai dan riya (tidak ikhlas karena Allah).

SELASA
Kegiatan : Menghapal hadits

Tema : Aku Meniru Rasulullah SAW (Attabi’u rasulullah) Gambar. 1

Petunjuk pengajar :

Materi :

1. Almuslimu akhul muslim

Artinya : Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain (HR. Bukhari-Muslim)

2. Rasulullah senantiasa mengucapkan salam kepada sesame muslim. Salam berisi do’a keselamatan. Mengucapkan salam kepada sesame muslim adalah tanda kasih sayang.

3. Rasulullah selalu menjadi orang yang mudah memaafkan.

4. Rasulullah selalu menolong kesusahan orang lain.

5. Rasulullah selalu menjenguk orang yang sakit.

RABU

Kegiatan : Menulis hijaiyah dan ayat Al-qur’an

Petunjuk :

1. Berikan contoh pada kertas tulis tiap-tiap huruf hijaiyah.

2. biasakan anak mencontoh menulis dibawahnya.

3. Cara menulisnya bisa seperti cara belajar menulis hiragana atau katana.

4. Semakin sering menuliskannya, akan semakin lentur dan halus hasil tulisannya.

5. Beri nilai dan pujian setiap kali selesai mengerjakan tulisannya.

Materi :

1. Huruf alif s/d ya

2. Tulis tiap huruf sebanyak dua baris.

3. Bila sudah bisa menulis huruf hijaiyah (lancar dan baik). Silahkan menulis ‘bismillaahirrohmaanirrohim’ sebanyak satu halaman buku.

KAMIS
Kegiatan : Adab sebelum dan sesudah tidur

Petunjuk pengajar :

1. Berilah penjelasan tentang adab sebelum dan sesudah tidur.

2. Bantulah anak-anak dalam menghapalkan do’a sebelum dan sesudah tidur.

3. Biasakanlah anak-anak untuk selalu memperhatikan adab sebelum dan sesudah tidur.

Materi :

1. Adab sebelum tidur :

Sebelum tidur Ani mencuci tangan dan kaki.

Tidak lupa ani menggosok gigi dan membersihkan tempat tidur.

Setelah itu ani memakai pakaian tidur yang bersih.

Allah sayang kepada orang yang tidur dalam keadaan bersih.

Bersih itu sebagian dari iman.

Marilah bersama ani membacado’a sebelum tidur :

Bismillahirrohmaanirrohim

Bismika Allaahumma ahyaa wa bismika wa amuut

Kita harus tidur denga teratur

Tidurlah sebelum jam sembilan malam

Agar besok pagi ketika bangun badan menjadi segar dan sehat

Nabi Muhammad membiasakan diri tidur terbaring

Menghadap ke kanan dan bagian kanan ada di bawah

2. Adab sesudah tidur

Ali bangun jam lima pagi

Tak lupa membaca do’a bangun tidur

Marilah bersama Alimembaca do’a bangun tidur

Bismillahirrohmaanirrohiim

Alhamdulillahilladzi ahyanaa ba’damaa amaa tanaa wa ilaihiin nusyuur

Bangun pagi sebaiknya sebelum shubuh

Karena udara pagi segar dan menyehatkan

Ali tak lupa membersihkan dan merapihkan tempat tidur sendiri

Merapikan bantal dan guling pada tempatnya

Melipat selimut dengan rapih

Sesudah itu ali segera ke kamar mandi

Ali mengambil air wudhu

Setelah itu ali shalat subuh 2 rakaat

Ali tak lupa membantu ibu dan ayah menyapu lantai rumahnya

Setelah itu Ali mandi dan berpakaian

lalu sarapan dan pergi ke sekolah

abababababababababababababab

JUM’AT

Kegiatan : Mewarnai dan menghapal kalimat toyyibah

Petunjuk pengajar:

a. Ajak anak mewarnai gambar kalimat toyyibah di bawah ini.

b. Terangkan artinya dan ajak anak menghapalkannya.

c. Biasakan anak membacanya (berdzikir) dengan kalimat toyyibah tersebut setiap habis sholat.

d. Beri pengertian, bila dengan berdzikir maka hati akan selalu teringat pada Allah dan menjadi tenang.

Materi :

1. Gb.1 kalimat toyyibah = Laa ilaaha illallah (Tiada Tuhan Selain Allah)–à gambar 3

2. Gb.2 kalimat toyyibah = Astaghfirullah (Aku mohon ampun kepada Allah)–à gambar 2






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here