DIARE
Oleh: dr Purnamawati Sp A (K), MM Ped
Diare merupakan gangguan pencernaan yang sering dialami oleh semua orang, termasuk anak-anak. Namun pada anak-anak, diare dapat menjadi keadaan yang mengancam jiwa karena mereka lebih rentan mengalami
dehidrasi dibandingkan orang dewasa. Selain itu diare juga merupakan penyebab utama terjadinya malanutrisi pada anak-anak.
Keadan-keadaan yang menjadi penyebab utama terjadinya diare adalah higiene yang buruk, sumber air yang tidak bersih dan sehat, lingkungan tempat tinggal yang padat, dan kecenderungan orang tua untuk
memberikan susu formula daripada ASI. Padahal anak yang mendapat ASI eksklusif jarang menderita diare.
Diare adalah gangguan usus yang ditandai dengan abnormalitas kandungan air dan konsistensi feses yang dikeluarkan. Diare juga berarti buang air besar dengan feses yang cair, minimal 3 kali dalam 24 jam. Diare
dapat disebabkan infeksi oleh mikroorganisme seperti virus, bakteri, ataupun parasit. Penyebab lainnya adalah konsumsi obat-obatan, terutama antibiotika, dan pemakaian pemanis buatan.
Diare biasanya akan berlangsung dalam 1 minggu (3 sampai 6 hari) dan kemudian akan sembuh dengan sendirinya. Diare kronis berlangsung lebih lama dari diare akut, dan biasanya merupakan petanda terdapat gangguan kesehatan yang lebih serius seperti infeksi kronis, gangguan absorpsi makanan/nutrien (malaabsorpsi) ataupun disebabkan oleh penyakit yang disebut sebagai Irritable Bowel Syndrome.
A. Macam - macam diare
secara klinis diare dibagi menjadi 4 tipe. Pembagian tersebut dengan
mudah dapat dilakukan pada saat melakukan pemeriksaan fisis dan tidak
diperlukan pemerksaan laboratorium. Selain itu tiap tipe diare
merefleksikan proses patologi dan perubahan fisiologis yang terjadi. 4
tipe tersebuat adalah:
1. Diare Berair Akut
Termasuk dalam kelompok ini adalah kolera. Berlangsung selama beberapa
jam hingga beberapa hari. Dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan
berat badan.
2. Diare Berdarah Akut
Selain menyebabkan dehidrasi, juga menyebabkan kerusakan usus,sepsis,
dan malnutrisi.
3. Diare Persisten
Berlangsung selama 14 hari atau lebih. Selain dehidrasi, dapat juga
terjadi malanutrisi dan infeksi non-usus.
4. Diare Dengan Malanutrisi Berat (marasmus dan kwashiorkor)
Selain dehidrasi, keadaan ini dapat menyebabkan infeksi sitemik yang
berat, gagal jantung, serta defisiensi mineral dan vitamin.
Tata laksana setiap tipe diare terutama bertujuan untuk mencegah dan
mengatasi komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi
Diare yang disebabkan oleh infeksi biasanya ditandai dengan gejala
awal berupa demam dan muntah, setelah itu baru timbul diare. Biasanya
anak akan merasa “tidak nyaman” tap! tidak merasa sakit. Infeksi oleh
bakteri ataupun parasit biasanya menyebabkan fesesnya bercampur darah.
Penyebab Diare
Penyebab paling sering diare antara lain:
• Virus.
Penyebab paling sering pada anak adalah Rotavirus dan Adenovirus.
Biasanya tertular akibat kontak langsung. Misalnya tangan kita
menyentuh anak yang sedang sakit diare, lalu tanpa mencuci tangan kita
memegang makanan atau minuman, sehingga makanan atau minuman tersebut
telah mengandung virus yang jika termakan dapat menimbulkan penyakit.
• Bakteri.
Penyebab paling sering antara Iain Campylobacter, Salmonella,
Shigella, dan Escherichia coli. Biasanya tertular dari makanan ataupun
minuman yang terkontaminasi bakteri. Beberapa bakteri menghasilkan zat
toksin yang menyebabkan sel usus halus memproduksi cairan melebihi
kemampuan usus besar untuk menyerap cairan, keadaaan tersebut yang
menyebabkan terjadinya diare.
• Parasit.
Antara Iain Giardia lamblia dan Cryptosporidium. Biasanya tertular
dari makanan ataupun minuman yang terkontaminasi parasit.
Laktosa, salah satu jenis gula yang terdapat dalam susu atupun produk
yang terbuat dari susu juga dapat menyebabkan diare pada beberapa
orang (Intoleransi laktosa).
Diare juga dapat terjadi akibat efek samping obat-obatan yang
dikonsumsi, terutama antibiotika. Penggunaan antibiotika yang tidak
rasional (misalnya pemberian antibiotika pada infeksi virus) justru
dapat mematikan kuman “baik” yang terdapat di dalam usus yang
berfungsi dalam proses pencernaan dan menyebabkan suatu keadaan yang
disebut sebagai Kolitis Pseudomembranosa, keadaan di mana lapisan
mukosa usus besar dilapisi oleh suatu selaput yang menghalangi fungsi
usus besar untuk mengabsorpsi cairan.
C. Diagnosis Diare
Dokter akan menanyakan beberapa hal mengenai gejala-gejala yang
terjadi dan menentukan apakah telah terjadi dehidrasi. Beritahu dokter
obat-obatan yang sedang dikonsumsi, termasuk obat yang dibeli bebas.
Dokter kemudian akan melakukan pemeriksaan perut untuk melokalisasi
nyeri yang dirasakan, mendengarkan suara perut (bising usus) dengan
menggunakan stetoskop, dan melakukan pemeriksaan melalui anus jika
diperlukan. ]ika diarenya berat ataupun telah kronik, biasanya akan
dilakukan pemeriksaan feses.
D. Tata Laksana Diare
Untuk anak yang menderita diare dengan dehidrasi ringan, pemberian
makanan maupun susu dapat diteruskan seperti biasa, tapi mungkin
dengan jumlah yang lebih sedikit namun dengan frekuensi yang lebih
sering. Pemberian ASI harus diteruskan. Jika anak terlihat kembung
ataupun sering flatus setelah minum susu sapi ataupun susu formula,
segera berkonsultasi dengan dokter untuk mengubah pola makan sementara
waktu.
Untuk anak dengan diare sedang masih dapat dirawat di rumah dengan
observasi ketat, pemberian cairan khusus, dan konsultasi dokter.
Dokter akan merekomendasikan jumlah dan lamanya penggunaan cairan
khusus yang diperlukan. Nantinya anak dapat kembali memulai pola
makannya seperti biasa lagi. Beberapa anak yang sedang menderita diare
tidak dapta mentoleransi susu sapi sehingga dokter menganjurkan untuk
menghentikan sementara pemberiannya. Pemberian AS! terus diberikan.
Berbagai CRO telah dibuat oleh pabrik obat untuk mengganti kehilangan
cairan dan elektrolit selama terjadinya diare. Cairan tersebut sangat
membantu dalam tata laksana diare. Utamakan menggunakan yang generik,
karena selain lebih murah, efektivitasnya sama dengan yang paten.
Selain itu orang tua dapat membuat sendiri CRO dengan cara
mencampurkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok teh gula kedalam 1 liter
air matang.
Cara Menyiapkan Cairan Rehidrasi Oral
1. Cuci tangan sebelum mambuat CRO.
2. Campurkan 1 sendok teh garam dan 8 sendok teh gula atau 1
paket CRO dengan air matang.
3. Cuci tangan anda dan anak anda sebelum memberikan CRO.
4. Berikan anak CRO sesuai kebutuhan, sedikit-sedikit namun sering.
5. Berikan juga cairan pengganti lainnya, seperti ASI dan jus buah.
6. CRO tidak menghentikan diare, tapi mencegah terjadinya
dehidrasi. Diare akan berhenti sesuai perjalanan penyakitnya.
7. Jika anak muntah, tunggu 10 menit baru berikan CRO, biasanya
muntah akan berhenti.
Jika anak tidak muntah, pemberian CRO dapat diberikan hingga frekuensi
buang air kecil anak normal kembali.
Jika anak mengalarni diare dengan dehidrasi berat, cairan pengganti
mungkin diberikan melalui selang infus di ruang gawat darurat selama
beberpa jam untuk memperbaiki keadaan dehidrasi. Biasanya tidak
diperlukan perawatan di rumah sakit.
Pemberian antibiotika tidak akan menyembuhkan diare yang disebabkan
oleh virus yang merupakan penyebab tersering terjadinya diare.
Pemberian anti diare sebaiknya tidak digunakan karena justru
menyebabkan perjalanan penyakit berlangsung lebih lama dan pasien
menjadi carier yang dapat menularkan ke orang lain.
Selama penyakit ini berjalan secara alamiah berikut beberapa hal yang
harus dan yang tidak boleh dilakukan.
Harus dilakukan:
• Memperhatikan apakah terdapat tanda-tanda dehidrasi seperti,
berkurangnya frekuensi buang air kecil, tidak ada air mata saat
menangis, demam tinggi, mulut kering, berat badan turun, anak terlihat
sangat kehausan, lesu tidak bergairah, kelopak mata cekung.
• Laporkan dokter jika terdapat darah pada fesesnya ataupun
demam tinggi (> 39°C).
• Teruskan pemberian makan seperti biasa jika anak tidak
muntah. Namun berikanlah dalam jumlah yang lebih sedikit ataupun
berikan makanan yang tidak membuat perut anak merasa tidak enak.
• Berikan cairan pengganti khusus jika anak haus.
Tidak boleh dilakukan:
• Membuat sendiri cairan pengganti di rumah tanpa panduan yang
benar.
• Tidak memberikan anak makan saat lapar.
• Memberikan susu yang direbus, ataupun kaldu daging maupun
sup yang asin.
• Memberikan obat-obat “anti-diare”.
E. Konsultasi Dokter
Orang tua harus segera berkonsultasi dengan dokter apabila anak
berusia kurang dari 6 bulan atau memiliki gejala-gejala:
• Diare berlangsung lebih dari 1 minggu.
• Terdapat darah pada fesesnya.
• Muntah yang sering.
• Nyeri perut.
• Demam tinggi.
• Terlihat sangat lemah.
• Tanda-tanda dehidrasi, seperti:
* Frekuensi buang air kecil berkurang (kurang dari 6 popok/hari).
* Tidak ada air mata ketika menangis.
* Tidak mau minum.
* Mulut kering.
* Berat badan turun.
* Terlihat sangat kehausan.
* Terlihat mengantuk dan tidak responsif.
Sedangkan orang tua tidak perlu terburu-buru berkonsultasi dengan
DOKTER jika anak terlihat baik-baik saja meskipun disertai dengan
gejala-gejala:
• Frekuensi buang air besar yang sering ddan dengan feses yang
banyak.
• Sering flatus.
• Feses berwarna kuning ataupun hijau.
F. Pencegahan Diare
Beberapa hal dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya diare, antara lain:
• ASI eksklusif selama 6 bulan
• Sumber air bersih dan sanitasi yang baik.
• Imunisasi campak
• Mencuci tangan,. terutama sebelum menyentuh makanan
« Buang air besar di kakus.
• Gunakan produk terbuat dari susu yang telah dipasteurisasi
untuk membunuh bakteri.
• Jangan biarkan makanan pada suhu ruangan oleh karena dapat
merangsang pertumbuhan bakteri.
• Masaklah makanan dan air minuman hingga matang.
Sumber: Millist Ayah Bunda
