Mom & Baby Room

June 21, 2005

10 MITOS POLA MAKAN ANAK

Filed under: Asih Asuh

Apa iya, makanan bayi buatan pabrik lebih bagus dibanding buatansendiri? Apa
iya, lebih bagus mengenalkan sayuran dulu dibanding buah? Apa iya, anak cuma
suka makanan yang itu-itu saja? Bingung deh. Apalagi jika orangtua, teman, atau
tetangga, memberi saran berbeda-beda. Yuk,

Teliti mana yang mitos dan mana yang fakta!

1. Mitos : Jika bayi mengalami sembelit saat disususi susu formula, ganti susu
itu dengan yang rendah zat besi.
Fakta : Jumlah zat besi dalam susu formula tidak mempengaruhi fungsi
pencernaan usus bayi. Bahkan memberi susu formula rendah zat besi bisa
menyebabkan bayi anemia, yang bisa menurunkan kemampuan bayi belajar.
Meski ASI mengandung lebih sedikit zat besi, namun zat besi ini lebih
mudah diserap dalam saluran pencernaan bayi. Sebaliknya, zat besi susu
formula tak mudah diserap, sehingga mesti ditambahkan lebih banyak agar
bayi memperoleh cukup zat besi. Jika bayi mengalami sembelit,
diskusikan dengan dokter untuk menambahkan sedikit jus buah ke dalam
menu makannya.

2. Mitos : Kalau mau mengenalkan makanan padat, gunakan makanan botolan,
karena lebih sehat.
Fakta : Makanan bayi yang dikemas dalam botol gelas memang lebih praktis
dan sehat. Namun ini tidak mengandung zat-zat gizi yang lebih istimewa
dibanding makanan buatan sendiri. Meski membuat makanan sendiri lebih
butuh banyak waktu dan tenaga, namun ini lebih bagus sebab bayi akan
kenal dengan citarasa baru yang nantinya akan sering makin familiar
saat ia bertambah besar. Awalnya, cobalah sajikan pure apel yang
dimasak matang. Bisa juga pure buah pir, wortel, jagung, kentang,
kacang hijau, atau kacang polong. Kita juga bisa mengenalkan pisang
atau avokad yang masak.
Bayam, bit, labu, sebaiknya baru diberikan setelah bayi berusia 8
bulan, karena mengandung senyawa nitrat, yang bisa mengganggu suplai
oksigen oleh darah ke dalam sel-sel tubuh. Saat usia bayi 9 bulan, ia
bisa mulai makan daging ayam, ikan, daging sapi, dan makanan dari
kedelai seperti tempe atau tahu, yang sudah dicincang. Jangan sajikan
sup kalengan, daging proses (kornet, sosis, sarden) atau makanan beku
seperti nugget kepada anak di bawah 1 tahun. Kandungan garam dan
zat-zat aditif yang tinggi dalam makanan ini susah dicerna bayi.

3. Mitos : Tidak baik jika anak makan daging atau telur secara teratur.
Fakta : Bagi orang dewasa, memang sebaiknya mengurangi makan daging atau
telur. Namun tidak demikian untuk anak. Daging dan telur adalah sumber
protein yang sangat bagus dan memberi banyak zat besi serta mineral
seng, yang penting bagi tumbuh kembang anak. Namun hindari daging
fastfood, misalnya burger. Lebih baik, buat daging panggang atau bakso
sendiri di rumah. Jika hendak menyajikan telur, berikan yang kuning
telurnya sudah matang dan padat, bukan setengah matang. Untuk
mengurangi alergi, tunda pemberian putih telur sampai usia si kecil 1
tahun.

4. Mitos : Jika anak menolak makanan, jangan sajikan makanan itu lagi!
Fakta : Beberapa penelitian menunjukkan, batita bisa saja perlu disajikan
makanan yang sama sampai 15 kali sebelum ia mau memakannya. Jika batita
menolak makanan yang kita sajikan, jangan diambil hati. Reaksinya bisa
jadi lebih karena terkejut, bukan karena tidak menyukai. Dan biasanya
batita menolak makanan baru karena tekstur atau aromanya, bukan
rasanya.
Cobalah sajikan lagi. Bagus juga jika ibu menyajikan makanan baru yang
berbeda selama beberapa kali. Untuk mengurangi penolakan, sajikan
makanan baru bersama makanan lama yang jadi favoritnya.

5. Mitos : Anak suka makan makanan yang sama lagi dan lagi.
Fakta : Jika batita menyukai makanan tertentu selama berhari-hari atau
berminggu-minggu, mungkin kita bepikir mitos itu benar. Anak memang
suka mengulang makan makanan yang sama. Namun anak juga punya naluri
yang kuat untuk mencoba citarasa baru. Makin banyak anak ditawari jenis
makanan, makin suka pula ia dengan makanan-makanan itu.Jadi, sajikan
sayur-sayuran, buah, atau jenis daging yang baru kepadanya, dengan cara
yang agak beda. Misal, taburkan daging ayam yang disuwir-suwir ke dalam
salad buah. Taburkan keju atau saus dressing ke atas brokoli kukus.
Atau tambahkan wortel pada saus spaghetti. Ajaklah anak ke supermarket
dan biar ia memilih sayuran mana yang disukainya, lalu masaklah
bersama-sama. Anak pasti akan menghargai dan menyukai sayur yang
dipilihnya sendiri. Bisa juga, tanamlah sayur-sayuran di halaman rumah
bersama anak, sehingga saat nantinya dipetik dan dimasak, anak
menyukainya.

6. Mitos : Lebih baik mengenalkan sayur lebih dulu, bukan buah. Kalau tidak,
rasa manis buah akan membuat anak tak suka sayur.
Fakta : Tak ada bukti kalau memberikan buah lebih dulu akan menurunkan
minat anak makan sayuran. Namun apapaun yang ibu kenalkan lebih dulu,
kenalkan makanan baru secara bertahap. Cobalah makanan yang berbeda
setiap 3-4 hari, lalu monitor si kecil untuk memastikan ia tidak
mengalami ruam atau sakit perut, yang merupakan tanda-tanda alergi.

7. Mitos : Anak-anak tidak memerlukan suplemen.
Fakta : Umumnya orang beranggapan, pola makan yang sehat akan menyuplai
anak semua zat gizi yang ia perlukan. Namun menurut studi di AS saja,
50% anak di sana kekurangan minimal satu jenis vitamin atau mineral,
dan 11% anak malah agak anemia. Cobalah diskusikan dengan dokter
mengenai suplemen multivitamin dan mineral yang cocok untuk anak. Jika
anak memang membutuhkan, belilah suplemen yang memberikan kandungan
vitamin atau mineral antara 50-150% RDA (kecukupan harian yang
dianjurkan).

8. Mitos : Batasi jumlah makan anak supaya ia tidak kegemukan.
Fakta : Anak-anak umumnya bagus dalam mengontrol pemasukan makan mereka.
Membatasi porsi makan anak malah justru berdampak negatif. Jika anak
terbiasa lapar secara rutin, mereka pun akan belajar untuk
mengenyangkan diri kapan saja saat tersedia banyak. Ini malah bisa
menjadi kebiasaan yang menimbulkan problem berat badan. Bagi anak yang
memang kelebihan berat badan, tetap sajikan makanan yang tinggi kalori
seperti makaroni, keju, cake, namun batasi jumlahnya saat makan besar.
Tambahkan lebih banyak buah dan sayuran, sehingga anak tetap merasa
kenyang. Selalu ajak juga anak untuk berolah raga bersama.

9. Mitos :Jangan memaniskan sayuran (misal dengan menambahkan gula). Nanti anak
tidak mau makan sayuran yang tawar.
Fakta : Sayuran membantu melindungi anak dari sembelit, kanker, dan
penyakit jantung, dan kita sebaiknya mendorong anak untuk
mengonsumsinya, dengan berbagai cara yang kita bisa. Jika anak terbiasa
makan sayuran secara teratur, ia nantinya akan menyukai sayuran, meski
rasanya tak manis. Jadi, tak perlu merasa bersalah untuk menambahkan
sedikit gula pada kacang-kacangan atau polong-polongan, susu pada
brokoli, atau madu pada labu atau buncis. Kita juga bisa menggunakan
taktik yang sama pada buah. Irislah kiwi atau nanas dan tutupi dengan
gula berwarna atau madu. Sejumlah kecil gula ini tak akan menimbulkan
karies gigi, jika diberikan bersama makanan yang sehat dan bukan
sebagai cake.

10. Mitos : Supaya anak tak mengalami karies gigi, sebaiknya jangan mengenalkan
makanan manis sejak kecil.
Fakta : Melarang anak makan yang manis-manis justru tindakan yang salah.
Ini hanya membuat anak makin ingin makan makanan manis itu. Lebih
bagus, ajarkan kepada anak bahwa sesekali makan makanan bergula seperti
cookie atau permen bisa menjadi bagian dari pola makan sehat secara
keseluruhan. Namun jangan menyetok makanan-makanan itu dalam kulkas
atau lemari makan. Lebih baik sediakan kismis, buah segar, yogurt buah,
jeruk, pir, melon, cracker yang tidak manis, roti tawar dari biji
gandum utuh, susu pasteurisasi, dan semacamnya. Berikan sebagai cemilan
atau dessert (pencuci mulut). Jika anak terbiasa makan cookie, donat,
atau permen, anak mungkin akan menolak cemilan-cemilan ini, namun
tetapkah sajikan dengan konsiten. (TG)

Sumber : Millist Funkymom

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://achiza.blogsome.com/2005/06/21/10-mitos-pola-makan-anak/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome | Theme designs available here